Modul 1 | Sesi 1

Filsafat Ilmu dan Paradigma Penelitian dalam Kesehatan Reproduksi

Semester 1 | Periode 2 | MK Metodologi Penelitian & Penulisan Ilmiah (4 SKS)
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Unduh PDF

A. Deskripsi Modul

Seorang peneliti di Jakarta mempublikasikan studi kohort yang menunjukkan bahwa persalinan di fasilitas kesehatan mengurangi risiko kematian ibu sebesar 67% dibanding persalinan di rumah. Datanya kuat secara statistik, sampelnya besar, metodologinya ketat. Studi ini kemudian dijadikan dasar kebijakan nasional yang mendorong semua ibu untuk bersalin di fasilitas.

Di sebuah desa di Flores, seorang antropolog menghabiskan delapan bulan mendokumentasikan mengapa ibu-ibu di komunitas tersebut tetap memilih bersalin bersama dukun meskipun Puskesmas tersedia. Temuannya: pengalaman ibu-ibu di Puskesmas setempat — diperlakukan dengan kasar, dilarang didampingi suami, diposisikan terlentang sementara budaya mereka mengharuskan posisi jongkok — membuat Puskesmas terasa lebih berbahaya dari rumah sendiri, bukan lebih aman.

Kedua penelitian ini menghasilkan "kebenaran" yang berbeda tentang pertanyaan yang sama. Bukan karena salah satu salah — tetapi karena keduanya menggunakan paradigma yang berbeda, mengajukan pertanyaan yang berbeda, dan menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda. Memahami perbedaan ini bukan sekadar urusan akademis. Ia menentukan jenis pertanyaan apa yang dapat Anda ajukan, metode apa yang boleh Anda gunakan, dan jenis jawaban apa yang dapat Anda klaim.

Modul pembuka Mata Kuliah Metodologi Penelitian & Penulisan Ilmiah ini membangun fondasi epistemologis yang menopang seluruh mata kuliah: memahami mengapa paradigma penelitian yang berbeda menghasilkan pengetahuan yang berbeda, dan bagaimana seorang konsultan Obginsos memilih paradigma yang tepat untuk pertanyaan yang tepat.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan tiga komponen filsafat ilmu — ontologi, epistemologi, dan metodologi — dan hubungannya dalam penelitian kesehatan
  2. Membedakan paradigma penelitian utama — positivisme, interpretivisme, dan kritis — beserta asumsi dasar dan implikasinya
  3. Menganalisis kelebihan dan keterbatasan masing-masing paradigma dalam konteks penelitian kesehatan reproduksi
  4. Mengidentifikasi paradigma yang paling sesuai untuk berbagai jenis pertanyaan penelitian dalam obstetri ginekologi sosial
  5. Menjelaskan konsep evidence-based medicine dan posisinya dalam hierarki bukti penelitian kesehatan

C. Materi Inti

C.1. Mengapa Filsafat Ilmu Penting untuk Klinisi?

C.1.1. Penelitian sebagai Cara Mengetahui

Setiap klinisi sudah menjadi "peneliti informal" sejak hari pertama praktik: mengamati pola, membuat hipotesis, menguji asumsi berdasarkan pengalaman, dan merevisi praktik berdasarkan umpan balik. Yang membedakan penelitian formal dari pengalaman klinis informal adalah struktur yang sistematis, transparansi metodologi, dan kemampuan untuk dikritisi dan direplikasi oleh orang lain.

Tetapi bahkan penelitian formal tidak berdiri di atas fondasi yang bebas asumsi. Setiap penelitian — disadari atau tidak — bertumpu pada asumsi tentang:

  • Apa yang ada di dunia (ontologi)
  • Bagaimana kita dapat mengetahui apa yang ada (epistemologi)
  • Metode apa yang tepat untuk menghasilkan pengetahuan (metodologi)

Asumsi-asumsi ini membentuk paradigma penelitian — dan memahaminya adalah kunci untuk menilai validitas penelitian orang lain dan merancang penelitian Anda sendiri yang berkualitas.

C.1.2. Tiga Komponen Filsafat Ilmu

Ontologi

Pertanyaan tentang realitas: Apa yang sesungguhnya ada? Apakah realitas itu tunggal dan objektif — ada di luar sana, menunggu untuk ditemukan? Ataukah realitas adalah konstruksi sosial yang berbeda-beda tergantung siapa yang mengamatinya dan dalam konteks apa?

Contoh dalam kesehatan reproduksi: Apakah "nyeri persalinan" adalah fenomena fisiologis yang objektif — dapat diukur dengan skala VAS dan dijelaskan dengan mekanisme nosiseptif? Atau apakah ia adalah pengalaman yang dikonstruksi oleh budaya, harapan, hubungan kekuasaan dalam ruang bersalin, dan sejarah tubuh perempuan? Atau keduanya sekaligus?

Epistemologi

Pertanyaan tentang pengetahuan: Bagaimana kita dapat mengetahui apa yang kita klaim ketahui? Apakah pengetahuan yang valid hanya yang dapat diukur secara objektif dan direplikasi? Atau apakah pemahaman mendalam tentang pengalaman subjektif juga merupakan bentuk pengetahuan yang valid?

Metodologi

Pertanyaan tentang metode: Metode apa yang tepat untuk menghasilkan pengetahuan yang valid? Bagaimana kita memilih desain penelitian, teknik pengumpulan data, dan cara analisis yang sesuai dengan pertanyaan yang ingin kita jawab?


C.2. Tiga Paradigma Penelitian Utama

C.2.1. Positivisme dan Post-Positivisme

POSITIVISME & POST-POSITIVISME

Asumsi Ontologis: Realitas ada secara objektif dan independen dari pengamat. Ada "kebenaran" tunggal yang dapat ditemukan melalui pengamatan yang teliti.

Asumsi Epistemologis: Pengetahuan yang valid adalah yang dapat diverifikasi secara empiris, bebas dari bias subjektif pengamat, dan dapat direplikasi oleh peneliti lain dalam kondisi yang sama.

Implikasi Metodologis: Penelitian kuantitatif — eksperimen terkontrol acak (RCT), studi kohort, survei dengan sampel besar, analisis statistik. Peneliti berusaha memisahkan diri dari objek yang diteliti untuk menjaga objektivitas.

Post-positivisme adalah versi yang lebih moderat: mengakui bahwa pengamatan sempurna tanpa bias tidak mungkin, tetapi tetap berupaya mendekatinya melalui kontrol metodologis yang ketat.

CONTOH DALAM OBSTETRI:

PERTANYAAN POSITIVIS:
"Apakah pemberian MgSO4 IV mengurangi risiko eklamsia pada ibu dengan preeklampsia berat?"

→ RCT dengan kelompok kontrol
→ Randomisasi dan blinding
→ Outcome terukur: kejadian eklamsia
→ Analisis statistik: RR, NNT, confidence interval
→ Menghasilkan: rekomendasi klinis berbasis bukti (evidence-based medicine)
Kelebihan
  • Menghasilkan bukti yang dapat digunakan untuk rekomendasi klinis
  • Dapat membandingkan intervensi secara objektif
  • Dapat digeneralisasikan (dengan syarat tertentu) ke populasi yang lebih luas
  • Menjadi dasar kebijakan kesehatan berbasis bukti
Keterbatasan
  • Tidak dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana dari perspektif subjek
  • Variabel yang paling penting sering tidak dapat dikuantifikasi
  • Konteks sosial dan budaya sering diabaikan atau direduksi menjadi variabel perancu
  • Populasi yang diteliti sering tidak representatif (bias sampel)

C.2.2. Interpretivisme

INTERPRETIVISME

Asumsi Ontologis: Realitas sosial adalah konstruksi — ia dibentuk oleh makna yang diberikan manusia terhadap pengalaman mereka. Tidak ada realitas tunggal yang objektif; ada banyak realitas yang dikonstruksi secara sosial.

Asumsi Epistemologis: Pengetahuan yang valid tentang fenomena sosial memerlukan pemahaman tentang makna yang diberikan oleh pelaku — bukan hanya perilaku yang dapat diamati dari luar. Peneliti tidak terpisah dari yang diteliti; interaksi antara keduanya adalah sumber data.

Implikasi Metodologis: Penelitian kualitatif — etnografi, fenomenologi, grounded theory, studi kasus. Wawancara mendalam, observasi partisipan, analisis teks.

CONTOH DALAM OBSTETRI:

PERTANYAAN INTERPRETIVIS:
"Bagaimana perempuan di komunitas adat Flores Timur memaknai persalinan — dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi keputusan mereka tentang tempat dan penolong persalinan?"

→ Etnografi 6 bulan di komunitas
→ Wawancara mendalam dengan ibu, dukun, bidan, suami
→ Observasi proses persalinan dan ritual
→ Analisis tematik
→ Menghasilkan: pemahaman kontekstual yang menginformasikan program KIA yang lebih responsif budaya
Kelebihan
  • Menghasilkan pemahaman mendalam tentang pengalaman dan perspektif subjek
  • Mampu mengungkap faktor yang tidak terlihat dalam penelitian kuantitatif
  • Menghasilkan hipotesis untuk penelitian lebih lanjut
  • Relevan untuk merancang intervensi yang sensitif budaya
Keterbatasan
  • Temuan sulit digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas
  • Potensi bias peneliti yang lebih besar dan lebih sulit dikontrol
  • Proses intensif waktu dan sumber daya
  • Tidak menghasilkan rekomendasi klinis dalam format yang langsung dapat diterapkan

C.2.3. Paradigma Kritis

PARADIGMA KRITIS

Asumsi Ontologis: Realitas sosial dibentuk oleh hubungan kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu dan merugikan kelompok lain. Realitas yang ada adalah hasil dari proses historis dan sosial — bukan sesuatu yang natural atau netral.

Asumsi Epistemologis: Pengetahuan selalu diproduksi dalam konteks kekuasaan. Penelitian yang "netral" adalah mitos — setiap penelitian mencerminkan kepentingan tertentu. Pengetahuan yang valid adalah yang mengungkap hubungan kekuasaan dan berkontribusi pada transformasi sosial.

Implikasi Metodologis: Participatory Action Research (PAR), analisis wacana kritis, penelitian feminis. Penelitian dilakukan bersama subjek, bukan pada subjek.

CONTOH DALAM OBSTETRI:

PERTANYAAN KRITIS:
"Bagaimana hubungan kekuasaan dalam sistem kesehatan — antara dokter dan bidan, antara tenaga kesehatan dan perempuan miskin — menciptakan dan mereproduksi Disrespect and Abuse dalam persalinan?"

→ Analisis wacana rekam medis
→ PAR dengan kelompok ibu yang mengalami D&A
→ Menghasilkan: rekomendasi struktural untuk mengubah hubungan kekuasaan, bukan hanya pelatihan individu
Kelebihan
  • Mengungkap faktor struktural yang sering diabaikan paradigma lain
  • Memberikan suara kepada kelompok yang terpinggirkan
  • Menghasilkan pengetahuan yang berorientasi pada perubahan
  • Relevan untuk kesehatan reproduksi yang sangat dipengaruhi hubungan kekuasaan gender
Keterbatasan
  • Nilai-nilai peneliti secara eksplisit mempengaruhi penelitian — dapat dikritik sebagai tidak objektif
  • Lebih sulit diterima dalam jurnal mainstream biomedis
  • Risiko menjadi lebih aktivis daripada ilmiah jika tidak dikelola dengan cermat

C.3. Implikasi Paradigma dalam Pemilihan Metode

C.3.1. Pertanyaan Penelitian Menentukan Paradigma

Kesalahan yang paling umum dalam penelitian kesehatan adalah memilih metode sebelum memilih paradigma — atau bahkan memilih metode sebelum merumuskan pertanyaan dengan jelas. Urutan yang benar adalah:

PERTANYAAN PENELITIAN
(Apa yang ingin saya ketahui?)
PARADIGMA
(Asumsi ontologis dan epistemologis apa yang tepat?)
METODOLOGI
(Pendekatan umum apa yang sesuai?)
METODE
(Teknik spesifik apa yang paling tepat?)
ANALISIS
(Bagaimana data akan dianalisis?)

C.3.2. Matriks Paradigma-Pertanyaan-Metode

Jenis Pertanyaan Paradigma Tepat Contoh Metode
"Seberapa efektif intervensi X?" Positivisme RCT, meta-analisis
"Seberapa banyak/sering X terjadi?" Positivisme Survei, studi kohort
"Apa hubungan antara X dan Y?" Positivisme/Post-positivisme Studi kasus-kontrol, regresi
"Bagaimana pengalaman X dimaknai?" Interpretivisme Fenomenologi, etnografi
"Mengapa X terjadi dalam konteks ini?" Interpretivisme/Kritis Grounded theory, PAR
"Siapa yang diuntungkan/dirugikan oleh X?" Paradigma Kritis Analisis wacana kritis, PAR

C.3.3. Mixed Methods: Melampaui Dikotomi

Dalam penelitian kesehatan reproduksi yang kompleks, seringkali diperlukan kombinasi paradigma — yang dikenal sebagai mixed methods research:

Sequential Explanatory
Kuantitatif dulu → hasil yang tidak dapat dijelaskan → kualitatif untuk menjelaskan

Contoh: Survei menemukan bahwa kabupaten A memiliki cakupan ANC yang jauh lebih rendah dari kabupaten B meskipun jarak ke Puskesmas serupa → studi kualitatif untuk memahami mengapa.
Sequential Exploratory
Kualitatif dulu → membangun hipotesis → kuantitatif untuk menguji

Contoh: Etnografi mengidentifikasi bahwa "waktu tunggu yang lama" adalah hambatan utama ANC → survei kuantitatif untuk mengukur prevalensi dan dampaknya.
Convergent Parallel
Kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan → triangulasi temuan

Contoh: Studi kohort untuk mengukur efek program kemitraan bidan-dukun pada outcome obstetri + etnografi untuk memahami proses implementasi yang berhasil dan gagal.

C.4. Evidence-Based Medicine dan Hierarki Bukti

C.4.1. Konsep EBM dalam Konteks Paradigma

Evidence-Based Medicine (EBM) adalah pendekatan yang mengintegrasikan bukti penelitian terbaik yang tersedia, keahlian klinis, dan nilai-nilai pasien dalam pengambilan keputusan klinis. EBM secara implisit berakar pada paradigma positivisme/post-positivisme — ia mengutamakan bukti dari penelitian eksperimental yang terkontrol.

Tiga pilar EBM:

BUKTI PENELITIAN TERBAIK
Hasil penelitian yang valid, relevan, dan terkini — terutama dari RCT dan meta-analisis
KEAHLIAN KLINIS
Kompetensi dan penilaian yang berkembang melalui pengalaman klinis
NILAI DAN PREFERENSI PASIEN
Kekhawatiran, harapan, dan pilihan unik yang dibawa setiap pasien
KEPUTUSAN KLINIS TERBAIK

C.4.2. Hierarki Bukti

LEVEL 1 — TERTINGGI
Systematic Review dan Meta-Analisis dari RCT berkualitas tinggi
(Cochrane Reviews)
LEVEL 2
RCT (Randomized Controlled Trial) individual berkualitas tinggi
LEVEL 3
Studi Kohort Prospektif berkualitas tinggi
LEVEL 4
Studi Kasus-Kontrol
LEVEL 5
Studi Cross-Sectional
LEVEL 6
Laporan Kasus dan Serial Kasus
LEVEL 7 — TERENDAH
Opini Ahli dan Konsensus Pakar

C.4.3. Keterbatasan Hierarki Bukti dalam Kesehatan Reproduksi

Hierarki bukti EBM tidak bebas dari kritik — khususnya dalam konteks kesehatan reproduksi:

Kritik 1 — Masalah generalisasi: RCT sering dilakukan pada populasi yang tidak representatif (perempuan perkotaan, terdidik, dengan akses layanan yang baik). Penerapannya pada perempuan miskin di daerah terpencil memerlukan kehati-hatian.
Kritik 2 — Pertanyaan yang tidak dapat dijawab RCT: Mengapa sistem gagal, bagaimana konteks sosial mempengaruhi implementasi, apa pengalaman perempuan dalam persalinan — adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab RCT tetapi sangat relevan untuk kebijakan KIA.
Kritik 3 — Bias dalam produksi pengetahuan: Penelitian yang didanai industri atau yang dilakukan dari perspektif biomedis Barat mungkin tidak mengajukan pertanyaan yang paling relevan untuk konteks Indonesia.
Implikasi untuk konsultan Obginsos: EBM adalah standar emas untuk keputusan klinis individual — tetapi untuk memahami dan mengubah sistem KIA, bukti dari penelitian kualitatif, mixed methods, dan penelitian implementasi sama pentingnya. Literasi penelitian yang komprehensif mensyaratkan kemampuan mengevaluasi bukti dari berbagai paradigma.

C.5. Etika Penelitian sebagai Fondasi

C.5.1. Prinsip-Prinsip Etika Penelitian

Penelitian yang baik secara metodologis tetapi buruk secara etis tidak dapat diterima. Tiga prinsip dasar etika penelitian yang ditetapkan dalam Deklarasi Helsinki:

Respect for Persons

Menghormati orang: Setiap subjek penelitian harus diperlakukan sebagai agen otonom yang dapat membuat keputusan tentang partisipasinya. Informed consent untuk penelitian harus lebih ketat dari informed consent klinis — karena potensi konflik kepentingan antara kepentingan ilmu dan kepentingan subjek.

Beneficence/Non-maleficence

Manfaat/Tidak merugikan: Penelitian harus dirancang untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko bagi subjek. Manfaat penelitian harus proporsional dengan risiko yang ditanggung.

Justice

Keadilan: Beban dan manfaat penelitian harus didistribusikan secara adil. Populasi yang menanggung beban penelitian harus juga mendapat manfaat dari pengetahuan yang dihasilkan.

C.5.2. Kelompok Rentan dalam Penelitian Obstetri

Perempuan hamil secara tradisional dikategorikan sebagai kelompok rentan dalam penelitian — yang ironisnya menyebabkan kurangnya bukti penelitian berkualitas tinggi tentang intervensi pada kehamilan. Konsultan Obginsos perlu memahami bagaimana merancang penelitian yang etis sekaligus menghasilkan bukti yang relevan untuk populasi ini.

Pertimbangan Khusus
  • Informed consent dalam persalinan aktif: apakah persetujuan yang diberikan dalam kondisi nyeri dan stres adalah persetujuan yang benar-benar otonom?
  • Hubungan kekuasaan antara peneliti/klinisi dan subjek: bagaimana memastikan partisipasi adalah sukarela?
  • Perlindungan data identitas: khususnya untuk penelitian tentang isu sensitif (KDRT, aborsi, HIV)

C.5.3. Komite Etik Penelitian

Setiap penelitian yang melibatkan manusia — termasuk review rekam medis — wajib mendapat persetujuan Komite Etik Penelitian (Institutional Review Board/IRB) sebelum dimulai. Di Indonesia, IRB beroperasi di institusi pendidikan kedokteran dan beberapa RS besar.

Dokumen yang diperlukan untuk pengajuan etik:
• Protokol penelitian lengkap
• Formulir informed consent untuk subjek
• Alat pengumpul data (kuesioner, panduan wawancara)
• CV peneliti utama
• Surat izin dari institusi tempat penelitian dilakukan

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen – Minggu 1)

Pertanyaan 1

Data nasional menunjukkan bahwa cakupan persalinan di fasilitas di Indonesia meningkat dari 55% (2010) menjadi 91% (2023) — capaian yang luar biasa secara statistik. Namun AKI hanya turun dari 359/100.000 (2012) menjadi 189/100.000 (2023) — jauh dari target yang diharapkan dari peningkatan cakupan yang dramatis. Seorang peneliti berparadigma positivis akan mengatakan "data menunjukkan cakupan meningkat, berarti kebijakan berhasil — masalahnya ada di tempat lain." Seorang peneliti berparadigma interpretivis akan mempertanyakan: "Apa makna 'persalinan di fasilitas' bagi perempuan yang mengalaminya — apakah semua fasilitas itu setara kualitasnya?" Seorang peneliti berparadigma kritis akan bertanya: "Kepentingan siapa yang dilayani oleh kebijakan yang menghitung cakupan formal tetapi tidak mengukur kualitas pengalaman?" Menggunakan pemahaman Anda tentang tiga paradigma penelitian dan implikasinya:

  1. apa yang masing-masing paradigma dapat dan tidak dapat ungkap tentang kesenjangan antara cakupan dan outcome ini;
  2. pertanyaan penelitian spesifik apa yang akan Anda rumuskan dari masing-masing paradigma untuk menginvestigasi kesenjangan ini;
  3. bagaimana temuan dari ketiga paradigma dapat saling melengkapi untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif;
  4. sebagai konsultan Obginsos yang akan mengadvokasikan kebijakan — jenis bukti dari paradigma mana yang paling persuasif untuk pembuat kebijakan, dan mengapa?
Pertanyaan 2

Anda sedang merencanakan penelitian tentang mengapa ibu-ibu di kabupaten Anda menolak ANC di Puskesmas meskipun layanan tersedia secara gratis melalui JKN. Tiga kolega Anda masing-masing mengusulkan pendekatan yang berbeda: Kolega A (spesialis epidemiologi) mengusulkan survei cross-sectional dengan 500 responden, kuesioner terstruktur tentang hambatan akses, dan analisis regresi logistik. Kolega B (antropolog medis) mengusulkan etnografi 6 bulan di komunitas, dengan observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan ibu, suami, bidan, dan dukun. Kolega C (aktivis kesehatan perempuan) mengusulkan Participatory Action Research di mana kelompok ibu sendiri yang mendefinisikan masalah dan merancang solusi. Analisis dari perspektif filsafat ilmu:

  1. paradigma apa yang mendasari masing-masing usulan — dan apa asumsi ontologis dan epistemologis yang implisit dalam masing-masing;
  2. jenis pertanyaan apa yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh masing-masing pendekatan;
  3. bagaimana Anda akan merancang sebuah penelitian mixed methods yang mengintegrasikan kelebihan ketiga pendekatan — termasuk: urutan fase, bagaimana temuan satu fase menginformasikan fase berikutnya, dan bagaimana triangulasi dilakukan;
  4. pertimbangan etis apa yang berbeda untuk masing-masing pendekatan — khususnya terkait hubungan kekuasaan antara peneliti dan komunitas yang diteliti?

E. Rangkuman

  1. Setiap penelitian bertumpu pada tiga komponen filsafat ilmu yang tidak dapat dihindari: ontologi (asumsi tentang realitas), epistemologi (asumsi tentang pengetahuan yang valid), dan metodologi (asumsi tentang metode yang tepat) — memilih metode tanpa mempertimbangkan paradigma adalah kesalahan fundamental yang menghasilkan ketidaksesuaian antara pertanyaan dan jawaban
  2. Tiga paradigma penelitian utama — positivisme (realitas objektif, metode kuantitatif), interpretivisme (realitas terkonstruksi, metode kualitatif), dan kritis (realitas dibentuk kekuasaan, PAR dan analisis kritis) — masing-masing menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda dan sama-sama valid untuk pertanyaan yang tepat; tidak ada paradigma yang superior secara universal
  3. Pemilihan paradigma harus dimulai dari pertanyaan penelitian — bukan dari preferensi metode; pertanyaan tentang efektivitas intervensi menuntut positivisme, pertanyaan tentang pengalaman dan makna menuntut interpretivisme, pertanyaan tentang hubungan kekuasaan dalam sistem menuntut paradigma kritis; mixed methods mengintegrasikan ketiganya untuk pertanyaan yang kompleks
  4. EBM menempatkan RCT dan meta-analisis di puncak hierarki bukti — standar yang tepat untuk keputusan klinis individual; tetapi untuk memahami dan mengubah sistem KIA yang kompleks, bukti dari penelitian kualitatif dan mixed methods sama pentingnya karena dapat menjawab pertanyaan tentang konteks, proses, dan pengalaman yang tidak dapat dijawab oleh RCT
  5. Etika penelitian adalah fondasi yang tidak dapat dikompromikan — prinsip menghormati otonomi subjek, manfaat proporsional dengan risiko, dan keadilan distribusi beban dan manfaat berlaku untuk semua paradigma; persetujuan komite etik penelitian adalah kewajiban hukum dan etis sebelum penelitian apapun yang melibatkan manusia dapat dimulai

F. Referensi

1. Creswell JW, Creswell JD. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. 5th ed. Thousand Oaks: SAGE Publications; 2018.
2. Kuhn TS. The Structure of Scientific Revolutions. 4th ed. Chicago: University of Chicago Press; 2012.
3. Guba EG, Lincoln YS. Competing paradigms in qualitative research. In: Denzin NK, Lincoln YS (eds). Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks: SAGE; 1994. p. 105-117.
4. Sackett DL, Rosenberg WM, Gray JA, Haynes RB, Richardson WS. Evidence based medicine: what it is and what it isn't. BMJ. 1996;312(7023):71-72. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.312.7023.71
5. World Medical Association. Declaration of Helsinki: Ethical Principles for Medical Research Involving Human Subjects. Fortaleza: WMA; 2013. URL: https://www.wma.net/policies-post/wma-declaration-of-helsinki
6. Mays N, Pope C. Qualitative research in health care: assessing quality in qualitative research. BMJ. 2000;320(7226):50-52. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.320.7226.50
7. Tashakkori A, Teddlie C (eds). Handbook of Mixed Methods in Social and Behavioral Research. 2nd ed. Thousand Oaks: SAGE; 2010.
8. Hesse-Biber SN (ed). Feminist Research Practice: A Primer. 2nd ed. Thousand Oaks: SAGE; 2014.
9. Liberati A, Altman DG, Tetzlaff J, et al. The PRISMA statement for reporting systematic reviews and meta-analyses of studies that evaluate health care interventions. BMJ. 2009;339:b2535. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.b2535
10. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2017. URL: https://www.kemkes.go.id