Sebuah RCT yang dilakukan di Ghana membuktikan bahwa protokol "delayed cord clamping" mengurangi anemia neonatal secara signifikan. Cochrane review mengkonfirmasi efektivitasnya dengan bukti berkualitas tinggi. WHO mengeluarkan rekomendasi global. Kemenkes memasukkannya ke dalam pedoman nasional.
Lima tahun kemudian, survei di 120 Puskesmas Indonesia menunjukkan bahwa hanya 23% bidan menerapkan delayed cord clamping secara konsisten.
Ini bukan kegagalan bukti. Ini bukan kegagalan kebijakan. Ini adalah kegagalan implementasi — dan ia adalah masalah yang sistematis, bukan pengecualian. Studi memperkirakan bahwa hanya 14% dari temuan penelitian kesehatan berhasil diimplementasikan dalam praktik klinis rutin, dengan rata-rata waktu 17 tahun dari penelitian hingga implementasi.
Penelitian implementasi lahir dari pengakuan bahwa pertanyaan "apakah intervensi ini efektif dalam kondisi ideal?" harus selalu diikuti dengan pertanyaan "apakah intervensi ini dapat diterapkan secara efektif dalam kondisi nyata — dan bagaimana?" Tanpa pertanyaan kedua, penelitian klinis yang paling brilian sekalipun berakhir sebagai pengetahuan yang tidak digunakan.
Bagi konsultan Obginsos yang beroperasi di persimpangan antara klinis, sistem kesehatan, dan kebijakan, penelitian implementasi adalah kompetensi yang memungkinkan transformasi nyata — bukan hanya produksi pengetahuan yang kemudian menunggu untuk diterapkan oleh orang lain.
B. Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
Membedakan penelitian efektivitas (efficacy/effectiveness research) dari penelitian implementasi — beserta pertanyaan, desain, dan metrik yang berbeda
Menjelaskan kerangka CFIR, RE-AIM, dan EPIS sebagai panduan untuk merancang dan mengevaluasi penelitian implementasi
Merancang penelitian implementasi yang mengidentifikasi dan mengatasi hambatan implementasi di konteks fasilitas kesehatan Indonesia
Menerapkan prinsip co-production dalam penelitian implementasi — melibatkan pelaksana, pengguna, dan pembuat kebijakan sebagai mitra penelitian
Menjelaskan prinsip scale-up dan sustainability sebagai dimensi kritis penelitian implementasi
C. Materi Inti
C.1. Penelitian Implementasi: Definisi dan Posisi dalam Hierarki Penelitian
C.1.1. Spektrum Penelitian dari Efficacy ke Implementasi
BASIC RESEARCH: "Apakah mekanisme biologis ini masuk akal?" Setting: Laboratorium Populasi: Sangat terkontrol Pertanyaan: Mekanisme
▼
EFFICACY RESEARCH (Phase III RCT): "Apakah intervensi ini bekerja dalam kondisi ideal?" Setting: Terkontrol ketat Populasi: Sangat selektif Pertanyaan: Efficacy
▼
EFFECTIVENESS RESEARCH: "Apakah intervensi ini bekerja dalam kondisi nyata biasa?" Setting: Nyata tetapi terstruktur Populasi: Lebih representatif Pertanyaan: Effectiveness
▼
IMPLEMENTATION RESEARCH: "Bagaimana intervensi yang terbukti efektif dapat diterapkan secara konsisten dalam sistem yang ada?" Setting: Dunia nyata sepenuhnya Populasi: Semua yang relevan Pertanyaan: Implementasi, hambatan, facilitators, fidelity, scale-up
▼
SCALE-UP RESEARCH: "Bagaimana intervensi yang berhasil diimplementasikan di satu tempat dapat direplikasi di banyak tempat?" Setting: Multiple sistem Pertanyaan: Skalabilitas, adaptasi, sustainability
C.1.2. Pertanyaan Khas Penelitian Implementasi
TENTANG HAMBATAN DAN FASILITATOR: "Faktor apa yang menghambat atau memfasilitasi penerapan protokol PONEK oleh bidan di Puskesmas terpencil?"
TENTANG FIDELITY: "Sejauh mana protokol ANC terpadu diterapkan sesuai dengan yang dimaksudkan dalam pedoman nasional?"
TENTANG ADAPTASI: "Bagaimana protokol manajemen PPH yang dikembangkan di RS tersier dapat diadaptasi untuk Puskesmas tanpa dokter tetap?"
TENTANG MEKANISME PERUBAHAN: "Melalui komponen mana dari program pelatihan bidan ini perubahan praktik klinis sesungguhnya terjadi?"
TENTANG SCALE-UP: "Apa yang diperlukan untuk mengreplikasi keberhasilan program kemitraan bidan-dukun di 12 kabupaten lain dengan konteks yang serupa?"
TENTANG SUSTAINABILITY: "Bagaimana memastikan perubahan praktik yang dicapai selama periode intervensi bertahan setelah proyek selesai?"
C.2. Kerangka Penelitian Implementasi
C.2.1. CFIR — Consolidated Framework for Implementation Research
CFIR (Damschroder et al., 2009) adalah kerangka komprehensif yang mengorganisasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi dalam lima domain:
Cosmopolitanism: Seberapa terhubung organisasi dengan jaringan eksternal yang dapat mendukung?
Peer pressure: Apakah ada tekanan dari fasilitas/daerah lain yang sudah mengimplementasikan?
External policy & incentives: Regulasi, kebijakan, insentif finansial dari luar
DOMAIN 3 — INNER SETTING (Konteks Internal)
Structural characteristics: Ukuran, kompleksitas, dan sumber daya organisasi
Networks & communication: Kualitas komunikasi internal
Culture: Norma, nilai, dan asumsi yang mendasari perilaku organisasi
Implementation climate: Apakah ada iklim yang mendukung perubahan dan inovasi?
Readiness for implementation: Kepemimpinan, sumber daya, dan motivasi yang tersedia
DOMAIN 4 — CHARACTERISTICS OF INDIVIDUALS
Knowledge & beliefs: Pemahaman dan keyakinan tentang intervensi
Self-efficacy: Keyakinan kemampuan diri untuk melaksanakan
Individual identification with organization: Seberapa kuat identifikasi dengan misi organisasi
Other personal attributes: Toleransi ambiguitas, intelektual, kemampuan adaptasi
DOMAIN 5 — PROCESS
Planning: Kualitas perencanaan implementasi
Engaging: Siapa terlibat dan bagaimana?
Executing: Bagaimana implementasi dilaksanakan dalam praktik?
Reflecting & evaluating: Apakah ada mekanisme umpan balik dan perbaikan?
C.2.2. RE-AIM — Evaluasi Implementasi yang Komprehensif
RE-AIM (Glasgow et al., 1999) adalah kerangka evaluasi yang melampaui efektivitas klinis untuk mencakup dimensi implementasi yang sering diabaikan:
R — REACH (Jangkauan):
Siapa yang dijangkau oleh intervensi ini?
→ Proporsi populasi target yang berpartisipasi
→ Representativitas peserta
→ Alasan non-partisipasi
Pertanyaan kunci:
"Apakah 78% cakupan ANC mencerminkan 78% ibu hamil atau hanya yang paling mudah dijangkau?"
E — EFFECTIVENESS (Efektivitas):
Seberapa efektif intervensi dalam setting nyata?
→ Outcome primer dan sekunder
→ Efek yang tidak diinginkan
→ Kualitas hidup dan kepuasan pasien
A — ADOPTION (Adopsi):
Berapa proporsi setting/staf yang mengadopsi intervensi?
→ Proporsi Puskesmas yang mengimplementasikan
→ Representativitas adopter
→ Alasan non-adopsi
Pertanyaan kunci:
"Jika hanya Puskesmas terbaik yang mengadopsi, apa dampak riil di populasi?"
I — IMPLEMENTATION (Implementasi):
Seberapa konsisten intervensi diterapkan sesuai protokol?
→ Fidelity: kepatuhan terhadap protokol
→ Adaptasi: modifikasi yang dilakukan
→ Cost/waktu pelaksanaan
M — MAINTENANCE (Pemeliharaan):
Apakah efek dan implementasi bertahan dalam jangka panjang?
→ Keberlanjutan pada level individu (>6 bulan)
→ Institutionalisasi pada level organisasi
→ Sustainability setelah proyek selesai
EPIS (Aarons et al., 2011) menggambarkan implementasi sebagai proses yang berlangsung dalam fase-fase yang berbeda:
EXPLORATION:
Organisasi mengidentifikasi kebutuhan dan menilai intervensi yang mungkin
→ Apakah ada masalah yang memerlukan solusi baru?
→ Intervensi apa yang tersedia dan tampak menjanjikan?
▼
PREPARATION:
Adaptasi intervensi dan persiapan organisasi
→ Pilot testing
→ Pelatihan staf
→ Adaptasi protokol
→ Persiapan infrastruktur
▼
IMPLEMENTATION:
Pelaksanaan penuh dengan dukungan aktif
→ Monitoring fidelity
→ Penyelesaian masalah real-time
→ Coaching dan supervisi
▼
SUSTAINMENT:
Intervensi menjadi bagian rutin dari praktik
→ Institutionalisasi
→ Tanpa proyek dan dukungan eksternal khusus
→ Adaptasi yang berkelanjutan
C.3. Desain Penelitian Implementasi
C.3.1. Hybrid Effectiveness-Implementation Trials
Penelitian implementasi tidak selalu terpisah dari penelitian efektivitas — hybrid trials menguji keduanya secara simultan:
→ Ketika efektivitas sudah terbukti kuat
→ Pertanyaan: bagaimana mengimplementasikan secara optimal?
CONTOH UNTUK KIA:
MgSO₄ untuk eklampsia (Type 3):
Efektivitas sudah tidak dipertanyakan — pertanyaannya adalah bagaimana memastikan pemberian yang tepat dan tepat waktu di semua level fasilitas
C.3.2. Metode Pengumpulan Data dalam Penelitian Implementasi
Penelitian implementasi secara inheren mixed methods — kuantitatif mengukur apa yang terjadi, kualitatif menjelaskan mengapa:
📊 KUANTITATIF
→ Audit rekam medis: Seberapa sering protokol diikuti? (fidelity measure)
→ Survei staf: Pengetahuan, sikap, self-efficacy
→ Interrupted time series: Perubahan outcome sebelum dan sesudah implementasi
→ Administrative data: Cakupan, utilisasi layanan
🗣️ KUALITATIF
→ Wawancara mendalam dengan pelaksana (bidan, dokter, kepala Puskesmas): Hambatan dan fasilitator yang mereka alami
→ Observasi langsung: Apa yang benar-benar terjadi (vs. apa yang dilaporkan)
→ FGD dengan komunitas: Perspektif pengguna layanan
→ Analisis dokumen: Kebijakan, protokol, catatan pertemuan
INTEGRASI:
→ Kuantitatif mengidentifikasi di mana ada gap fidelity
→ Kualitatif menjelaskan mengapa gap itu ada
→ Bersama: panduan yang spesifik untuk perbaikan
C.3.3. Fidelity Monitoring
Fidelity adalah sejauh mana intervensi diterapkan sesuai dengan yang dimaksudkan — pengukurannya adalah komponen kritis penelitian implementasi:
DIMENSI FIDELITY (Carroll et al., 2007):
ADHERENCE:
Apakah semua komponen protokol dilakukan?
→ Checklist komponen
QUALITY:
Seberapa baik komponen dilaksanakan?
→ Observasi, penilaian kualitas
PARTICIPANT RESPONSIVENESS:
Seberapa terlibat penerima intervensi?
→ Engagement, partisipasi
PROGRAM DIFFERENTIATION:
Apakah intervensi berbeda dari kondisi pembanding?
→ Integritas komparatif
✓ ADAPTASI YANG SAH
Modifikasi yang disengaja untuk konteks lokal
→ Didokumentasikan
→ Tidak mengubah komponen aktif (active ingredients)
✗ DRIFT YANG TIDAK SENGAJA
Penyimpangan tidak sengaja dari protokol
→ Sering terjadi setelah periode proyek awal
→ Perlu monitoring aktif
C.4. Co-Production dalam Penelitian Implementasi
C.4.1. Mengapa Co-Production
Co-production adalah pendekatan di mana peneliti, pelaksana, pengguna layanan, dan pembuat kebijakan bekerja bersama sebagai mitra yang setara — bukan peneliti yang meneliti orang lain:
ARGUMEN UNTUK CO-PRODUCTION:
RELEVANSI:
Penelitian yang dirancang bersama dengan pelaksana lebih mungkin menjawab pertanyaan yang relevan untuk praktik nyata
FEASIBILITY:
Pelaksana yang terlibat sejak awal dapat mengidentifikasi hambatan implementasi yang tidak terlihat dari luar
LEGITIMACY:
Temuan yang dihasilkan bersama lebih mungkin dipercaya dan diadopsi oleh komunitas yang terlibat
SUSTAINABILITY:
Kapasitas yang dibangun selama penelitian bertahan setelah penelitian selesai
ETIKA:
Komunitas yang menanggung beban masalah penelitian berhak memiliki suara dalam bagaimana masalah itu diteliti
C.4.2. Spektrum Keterlibatan
KONSULTASI:
Peneliti meminta pendapat pemangku kepentingan tentang rancangan yang sudah dibuat
→ Input terbatas
→ Kontrol tetap di peneliti
▼
KOLABORASI:
Peneliti dan pemangku kepentingan bekerja bersama dalam aspek tertentu
→ Input substansial
→ Kontrol dibagi sebagian
▼
CO-PRODUCTION PENUH:
Semua aspek penelitian — pertanyaan, desain, pengumpulan data, analisis, diseminasi — dirancang dan dilaksanakan bersama
→ Kontrol setara
→ Paling transformatif
→ Paling menantang
PARTICIPATORY ACTION RESEARCH (PAR) adalah bentuk ekstrem co-production di mana komunitas yang memiliki masalah menjadi peneliti utama
C.4.3. Praktik Co-Production dalam Konteks KIA Indonesia
SIAPA YANG DILIBATKAN:
Bidan dan perawat yang melaksanakan intervensi
Kepala Puskesmas / direktur RS
Ibu dan keluarga sebagai pengguna layanan
Kader kesehatan komunitas
Kepala Dinas Kesehatan sebagai pembuat kebijakan
BAGAIMANA MELIBATKAN:
Advisory group yang bertemu reguler selama penelitian
Workshop co-design sebelum finalisasi protokol
Community reference group yang merepresentasikan pengguna layanan
Interpreter budaya dari komunitas lokal
TANTANGAN NYATA:
Perbedaan kekuasaan antara peneliti (dokter, akademisi) dan partisipan (bidan, kader, ibu)
Bahasa dan literasi yang berbeda
Waktu dan sumber daya
Ekspektasi yang tidak realistis tentang kecepatan perubahan
C.5. Scale-Up dan Sustainability
C.5.1. Mengapa Scale-Up Sering Gagal
PILOT SUCCESS TRAP:
Program yang berhasil di satu setting dengan dukungan proyek intensif sering gagal ketika direplikasi karena:
→ Efek peneliti / Hawthorne effect: Staf bekerja lebih baik karena sedang diteliti
→ Cherry picking: Lokasi pilot dipilih karena lebih siap, bukan representatif
→ Resources yang tidak realistis: Anggaran pilot yang tidak dapat direplikasi di scale
→ Champion dependency: Keberhasilan bergantung pada satu individu yang bersemangat
→ Context specificity: Faktor keberhasilan terlalu spesifik untuk konteks yang sangat unik
C.5.2. Prinsip Scale-Up yang Efektif
EXPANDABILITY:
Apakah dapat diterapkan di setting yang lebih banyak dengan sumber daya yang ada?
→ Biaya per unit harus wajar
→ Tidak bergantung pada teknologi yang langka
ADAPTABILITY:
Apakah dapat diadaptasi untuk konteks yang berbeda tanpa kehilangan komponen aktif yang esensial?
→ Dokumentasikan komponen aktif vs. komponen yang dapat dimodifikasi
SUSTAINABILITY:
Apakah dapat berjalan tanpa dukungan proyek eksternal?
→ Harus ter-embedded dalam sistem rutin (JKN, Puskesmas, pelatihan bidan)
→ Bukan program paralel yang bergantung pada donor
EQUITY:
Apakah scale-up menjangkau yang paling membutuhkan?
→ Atau hanya memperlebar kesenjangan?
C.5.3. Frameworks Scale-Up
🌍 WHO EXPANDNET
Sembilan faktor yang mempengaruhi keberhasilan scale-up:
1. Innovation (karakteristik intervensi yang di-scale-up)
2. User organization (yang mengadopsi inovasi)
3. Resource team (yang mendukung proses scale-up)
4. Environment (konteks yang lebih luas)
5. Scale-up strategy (pendekatan yang digunakan)
Delivery → Institutionalization → Self-sustaining system change
C.6. Implementasi dalam Konteks Sistem Kesehatan Indonesia
C.6.1. Karakteristik Sistem yang Mempengaruhi Implementasi
🏛️ DESENTRALISASI
Kabupaten/kota memiliki otonomi luas dalam kebijakan kesehatan
Implementasi nasional harus menavigasi 514 kabupaten/kota dengan kapasitas yang berbeda
Implikasi: tidak ada "one size fits all" — strategi implementasi harus konteks-spesifik
💳 JKN SEBAGAI LEVER
Persyaratan JKN dapat mendorong implementasi (kredensialing, akreditasi)
Insentif finansial melalui sistem kapitasi dan klaim dapat mendukung atau menghambat
📋 AKREDITASI PUSKESMAS DAN RS
Standar akreditasi adalah mekanisme implementasi yang kuat
Tetapi akreditasi yang tidak diikuti supervisi bermakna sering menjadi compliance theatre
👥 KOMUNITAS TENAGA KESEHATAN
POGI, IBI, IDAI memiliki pengaruh besar terhadap praktik klinis
Clinical practice guideline organisasi profesi lebih cepat diikuti dibanding peraturan kementerian
🤝 KADER KESEHATAN
Jaringan kader Posyandu yang sangat luas adalah aset implementasi yang underutilized untuk KIA
Penelitian implementasi yang melibatkan kader memiliki potensi besar
C.6.2. Learning Health Systems
KONSEP LEARNING HEALTH SYSTEM:
Sistem di mana data klinis rutin secara otomatis menghasilkan pengetahuan yang digunakan untuk memperbaiki sistem itu sendiri
SIKLUS:
Data klinis rutin → Analisis yang terus-menerus → Pengetahuan yang dapat ditindaklanjuti → Perubahan kebijakan/protokol → Data klinis rutin yang baru
CONTOH DALAM KONTEKS KIA:
→ Sistem AMP yang berfungsi baik adalah learning health system dalam bentuk paling sederhana
→ Tantangan: data harus cukup berkualitas untuk analisis yang bermakna
IMPLIKASI UNTUK PENELITIAN:
→ Penelitian implementasi yang menggunakan data rutin fasilitas kesehatan adalah kontribusi ganda: menjawab pertanyaan penelitian DAN membangun infrastruktur data yang berkelanjutan
D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen – Minggu 9)
Pertanyaan 1:
Audit maternal di RSUD tipe C Anda menunjukkan bahwa meskipun protokol pemberian oksitosin 10 IU IM segera setelah bahu anterior lahir (AMTSL — Active Management of Third Stage of Labour) sudah tercantum dalam SPO sejak 4 tahun lalu, observasi langsung menunjukkan hanya 41% persalinan yang menerapkannya dengan benar. Wawancara dengan bidan menunjukkan tiga tema: (1) "Saya tahu protokolnya tapi di tengah malam dan sendirian, urutannya sering tertukar"; (2) "Oksitosin sering tidak ada di kamar bersalin — harus ambil dulu ke gudang"; (3) "Kepala ruangan tidak pernah menegur kalau tidak pakai protokol, jadi tidak ada yang benar-benar memperhatikan." Gunakan kerangka CFIR untuk menganalisis situasi ini: (a) identifikasi faktor hambatan dari setiap domain CFIR yang relevan — dengan kutipan atau referensi spesifik ke tema yang muncul dari wawancara; (b) berdasarkan analisis CFIR, rancang paket intervensi implementasi yang menargetkan hambatan yang paling dapat dimodifikasi — dengan justifikasi mengapa komponen-komponen tersebut dipilih; (c) gunakan kerangka RE-AIM untuk merancang evaluasi paket intervensi tersebut — untuk setiap dimensi RE-AIM, identifikasi indikator spesifik yang akan diukur dan metode pengukurannya; (d) bagaimana Anda akan memastikan bahwa perbaikan yang dicapai selama proyek penelitian berlanjut setelah proyek selesai — dengan mempertimbangkan konteks RSUD tipe C yang memiliki sumber daya terbatas?
Pertanyaan 2:
Sebuah program pelatihan bidan komunitas dalam manajemen awal kegawatan obstetri (MAKO) telah berhasil diimplementasikan di 8 Puskesmas di Kabupaten Morowali selama 2 tahun dengan hasil yang menjanjikan: kematian ibu turun 38%, waktu respons kegawatan memendek dari rata-rata 67 menit menjadi 31 menit. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah ingin mereplikasi program ini di 47 Puskesmas lain di 8 kabupaten yang berbeda. Anda ditugaskan memimpin penelitian scale-up: (a) identifikasi tiga ancaman terbesar terhadap keberhasilan scale-up ini berdasarkan literatur implementasi dan konteks yang diberikan — dengan penjelasan mekanisme mengapa setiap ancaman dapat menyebabkan kegagalan; (b) rancang penelitian scale-up menggunakan Type 3 Hybrid Effectiveness-Implementation design — jelaskan pertanyaan penelitian, desain, outcome yang diukur, dan bagaimana komponen kuantitatif dan kualitatif akan diintegrasikan; (c) rancang strategi co-production yang spesifik untuk penelitian ini — siapa yang dilibatkan, pada tahap mana, dengan peran apa, dan bagaimana Anda akan mengatasi perbedaan kekuasaan antara peneliti dan bidan komunitas sebagai mitra penelitian; (d) bagaimana Anda akan mengidentifikasi dan mendokumentasikan "active ingredients" dari program MAKO — komponen mana yang tidak boleh dimodifikasi dalam adaptasi lokal, dan komponen mana yang dapat disesuaikan?
E. Rangkuman
Penelitian implementasi menjawab pertanyaan berbeda dari penelitian efektivitas — bukan "apakah intervensi ini bekerja dalam kondisi ideal?" tetapi "bagaimana intervensi yang terbukti efektif dapat diterapkan secara konsisten dalam kondisi nyata?" — kesenjangan 17 tahun antara penelitian dan implementasi adalah bukti bahwa pertanyaan kedua tidak dapat diasumsikan terjawab sendiri
Kerangka CFIR mengorganisasi faktor implementasi dalam lima domain (karakteristik intervensi, outer setting, inner setting, karakteristik individu, dan proses) yang harus dinilai secara komprehensif sebelum merancang strategi implementasi — hambatan yang tidak teridentifikasi tidak dapat diatasi
RE-AIM memperluas evaluasi melampaui efficacy klinis untuk mencakup Reach, Effectiveness, Adoption, Implementation, dan Maintenance — dimensi yang secara kolektif menentukan dampak populasi yang sesungguhnya; intervensi yang sangat efektif tetapi hanya dijangkau oleh sebagian kecil populasi target memiliki dampak populasi yang kecil
Co-production melibatkan pelaksana, pengguna layanan, dan pembuat kebijakan sebagai mitra setara dalam semua tahap penelitian — bukan sebagai objek penelitian; pendekatan ini meningkatkan relevansi, feasibility, legitimasi, dan sustainability implementasi, meskipun menantang secara metodologis dan memerlukan komitmen waktu yang substansial
Scale-up yang berhasil memerlukan perhatian eksplisit terhadap expandability, adaptability, sustainability, dan equity — program yang berhasil di pilot sering gagal pada scale karena efek Hawthorne, cherry picking lokasi, resources yang tidak realistis, atau champion dependency; dokumentasi "active ingredients" versus komponen yang dapat diadaptasi adalah langkah kritis sebelum replikasi
F. Referensi
Damschroder LJ, Aron DC, Keith RE, et al. Fostering implementation of health services research findings into practice: a consolidated framework for advancing implementation science. Implementation Science. 2009;4:50.
Glasgow RE, Vogt TM, Boles SM. Evaluating the public health impact of health promotion interventions: the RE-AIM framework. American Journal of Public Health. 1999;89(9):1322-1327.
Aarons GA, Hurlburt M, Horwitz SM. Advancing a conceptual model of evidence-based practice implementation in public service sectors. Administration and Policy in Mental Health. 2011;38(1):4-23.
Curran GM, Bauer M, Mittman B, et al. Effectiveness-implementation hybrid designs: combining elements of clinical effectiveness and implementation research to enhance public health impact. Medical Care. 2012;50(3):217-226.
Greenhalgh T, Robert G, Macfarlane F, et al. Diffusion of innovations in service organizations: systematic review and recommendations. Milbank Quarterly. 2004;82(4):581-629.
Mata Kuliah: Metodologi Penelitian & Penulisan Ilmiah
Semester 1 | Periode 2 | Sesi 2
📋 Identitas Tugas
Jenis Tugas: Tugas Kelompok Keempat — Sesi 2
Minggu: Minggu ke-9
Materi: Modul 7 (Penulisan Ilmiah) + Modul 8 (Publikasi & Diseminasi) + Modul 9 (Penelitian Implementasi)
Bobot Nilai: 15% dari nilai akhir mata kuliah
Komposisi Kelompok: 3–4 orang (komposisi sama dengan tugas kelompok sebelumnya)
Batas Pengumpulan: Akhir Minggu ke-9 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Pengumpulan: Laporan Word/PDF + slide presentasi maksimal 15 slide
Panjang Laporan: 2.000–3.000 kata (tidak termasuk tabel, protokol, dan referensi)
Referensi: Minimal 6 referensi dalam format Vancouver
PETUNJUK PENGERJAAN
Tugas ini adalah puncak integrasi Sesi 2 — dari penulisan ilmiah, melalui publikasi dan diseminasi, hingga bagaimana penelitian ditranslasi menjadi perubahan praktik yang nyata
Bagian A menuntut perancangan penelitian implementasi yang methodologically sound — bukan hanya deskripsi umum tentang "akan melakukan penelitian implementasi"
Bagian B menuntut penulisan teks nyata yang dapat langsung digunakan, bukan deskripsi tentang apa yang akan ditulis
Bagian C menuntut integrasi seluruh kompetensi Sesi 2 dalam satu rencana yang kohesif dan realistis
Cantumkan nama, NIM, dan pembagian peran yang jelas di halaman pertama
SKENARIO
"Protokol yang Tahu Segalanya, Sistem yang Tidak Berubah"
Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. AKI: 341/100.000 KH. Dari 28 kematian ibu dalam 3 tahun terakhir, tim AMP mengidentifikasi pola yang konsisten:
19 kematian (68%) terjadi akibat PPH — dan dari 19 ini, 16 (84%) terjadi di fasilitas yang memiliki oksitosin tersedia
Waktu dari diagnosa PPH ke oksitosin pertama: median 38 menit (IQR: 22–71 menit)
Waktu dari diagnosa ke transfusi darah (jika diperlukan): median 94 menit — di atas threshold kritis 60 menit
Audit fidelity terhadap protokol AMTSL: hanya 29% persalinan menerapkan semua langkah dengan benar
Alasan yang didokumentasikan tim AMP: kelelahan tenaga (67% kematian terjadi antara pukul 22.00–06.00), kekurangan staf (satu bidan jaga sendirian di 71% kasus), dan "tidak terpikir karena tampak baik-baik saja" (retrospektif dalam 11 kasus)
Kepala Dinas Kesehatan sudah tiga kali mengeluarkan surat edaran tentang AMTSL. SPO sudah diperbarui dua kali. Pelatihan telah dilakukan setahun lalu dengan kehadiran 89% bidan. Namun tidak ada yang berubah secara bermakna dalam 18 bulan terakhir.
Dr. Laila, SpOG., Subsp.Obginsos., yang baru bergabung di RSUD Halmahera Tengah, menolak menerima ini sebagai "masalah yang tidak bisa diselesaikan." Ia ingin merancang penelitian implementasi yang tidak hanya memahami masalah ini lebih dalam, tetapi secara bersamaan mulai mengintervensinya — dan menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan di kabupaten lain dengan pola serupa.
PERTANYAAN
BAGIAN A — Merancang Penelitian Implementasi (40%)
A1 — Analisis Hambatan Berbasis Kerangka (15%)
a. Gunakan kerangka CFIR untuk menganalisis situasi di Halmahera Tengah secara sistematis. Untuk setiap domain CFIR yang relevan, identifikasi hambatan implementasi yang spesifik — dengan bukti langsung dari data skenario. Tidak semua subdomain perlu dianalisis; fokus pada yang paling relevan dengan justifikasi pemilihan.
b. Dari analisis CFIR, identifikasi tiga hambatan yang paling dapat dimodifikasi — hambatan yang jika diatasi akan memberikan dampak paling besar terhadap fidelity AMTSL. Justifikasikan urutan prioritas berdasarkan: besarnya hambatan, modifiabilitas, dan kapasitas yang tersedia.
A2 — Protokol Penelitian Implementasi (25%)
Rancang protokol penelitian implementasi untuk Dr. Laila menggunakan Type 2 Hybrid Effectiveness-Implementation design:
a. Pertanyaan penelitian: Rumuskan dua pertanyaan penelitian — satu untuk komponen effectiveness, satu untuk komponen implementation — yang kohesif dan saling melengkapi
b. Intervensi implementasi: Rancang paket intervensi yang menargetkan tiga hambatan prioritas yang diidentifikasi di A1 — dengan deskripsi setiap komponen, justifikasi teoritis berdasarkan CFIR, dan mekanisme perubahan yang dihipotesiskan
c. Desain dan metode:
Desain keseluruhan dan justifikasi (mengapa Type 2 Hybrid dan bukan Type 1 atau 3?)
Komponen kuantitatif: outcome primer dan sekunder, desain pengukuran (pre-post? ITS? Kontrol?), besar sampel yang dibutuhkan
Komponen kualitatif: pertanyaan yang dijawab, metode pengumpulan data, sampling strategy, pendekatan analisis
Bagaimana kedua komponen akan diintegrasikan — pada tahap apa dan menggunakan pendekatan integrasi apa?
d. Rencana fidelity monitoring: Bagaimana Anda akan mengukur apakah paket intervensi diterapkan dengan benar? Identifikasi indikator fidelity spesifik untuk setiap komponen intervensi dan metode pengukurannya
BAGIAN B — Komunikasi Ilmiah Terintegrasi (35%)
B1 — Komponen Artikel Jurnal (20%)
Asumsikan penelitian implementasi Dr. Laila telah selesai dengan temuan kunci: paket intervensi yang terdiri dari bedside cognitive aid (kartu saku protokol AMTSL) + buddy system (bidan senior mendampingi bidan junior di malam hari) + daily briefing 5 menit meningkatkan fidelity AMTSL dari 29% menjadi 71% dalam 6 bulan (RR = 2,45; 95% CI: 1,87–3,21), dengan penurunan waktu ke oksitosin pertama dari median 38 menjadi 14 menit.
a. Tulis Discussion paragraph pertama (150–200 kata) yang merangkum temuan utama tanpa mengulang angka Results secara verbatim — dan memposisikan temuan dalam konteks literatur implementasi global
b. Tulis bagian Limitations (200–250 kata) yang mencakup minimal tiga keterbatasan spesifik dari penelitian implementasi ini — dengan analisis bagaimana masing-masing mempengaruhi interpretasi dan apa yang sudah dilakukan untuk mitigasi
c. Identifikasi dua jurnal target yang paling tepat untuk manuskrip ini — mempertimbangkan bahwa ini adalah penelitian implementasi (bukan RCT efektivitas klinis murni) dari LMIC; sertakan justifikasi dan estimasi APC serta kemungkinan waiver
B2 — Diseminasi untuk Multipel Audiens (15%)
a. Tulis abstrak terstruktur (250–300 kata) yang berdiri sendiri untuk manuskrip ini — menggunakan format Background/Methods/Results/Conclusions yang tepat untuk penelitian implementasi
b. Tulis satu tweet thread (5 tweet, masing-masing maksimal 280 karakter) yang mengkomunikasikan temuan utama kepada audiens luas termasuk non-akademisi — tanpa menyederhanakan secara menyesatkan; sertakan analisis singkat tentang pilihan bahasa dan framing yang Anda gunakan
BAGIAN C — Siklus Penuh: Dari Implementasi ke Scale-Up ke Sustainability (25%)
C1 — Rencana Scale-Up (15%)
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara tertarik mereplikasi paket intervensi Dr. Laila di 23 kabupaten lain di provinsi tersebut dalam 2 tahun.
a. Identifikasi tiga ancaman utama keberhasilan scale-up ini — dengan analisis mekanisme mengapa setiap ancaman dapat menyebabkan kegagalan dalam konteks spesifik Maluku Utara
b. Rancang strategi co-production untuk proses scale-up — siapa yang harus dilibatkan sejak tahap perencanaan scale-up, peran mereka, dan bagaimana memastikan keterlibatan yang bermakna (bukan sekadar konsultasi formalitas) dari bidan komunitas dan kepala Puskesmas di kabupaten baru
c. Identifikasi "active ingredients" dari paket intervensi Dr. Laila — komponen mana yang tidak boleh dimodifikasi karena merupakan mekanisme perubahan yang esensial, dan komponen mana yang dapat diadaptasi untuk konteks yang berbeda; justifikasikan pembedaan ini
C2 — Refleksi Integratif Tim (10%)
Setelah menyelesaikan seluruh bagian tugas ini, refleksikan secara kritis sebagai tim:
a. Apa satu asumsi dalam rancangan penelitian implementasi Anda (Bagian A) yang paling mungkin salah ketika berhadapan dengan realitas di lapangan — dan bagaimana Anda akan membangun fleksibilitas untuk mengatasi asumsi yang salah tersebut?
b. Dalam perjalanan dari penelitian efektivitas (apakah AMTSL berhasil?) ke penelitian implementasi (bagaimana memastikan AMTSL diterapkan?) ke scale-up (bagaimana mereplikasi ke 23 kabupaten?) — di titik mana pengetahuan yang dihasilkan paling berisiko hilang atau terdistorsi? Apa mekanisme yang dapat mencegah kehilangan pengetahuan tersebut?
RUBRIK PENILAIAN
Bagian
Komponen Penilaian Utama
Bobot
A1
Ketepatan aplikasi CFIR dengan bukti dari skenario; kualitas justifikasi prioritas hambatan
Kualitas Discussion dan Limitations; ketepatan pemilihan jurnal; kualitas abstrak
20%
B2
Kedalaman adaptasi bahasa tweet thread; ketepatan tanpa menyederhanakan secara menyesatkan
15%
C1
Realisme analisis ancaman scale-up; spesifisitas strategi co-production; kejelasan active ingredients
15%
C2
Kejujuran dan kedalaman refleksi; identifikasi titik kehilangan pengetahuan yang insightful
10%
PANDUAN REFERENSI MINIMAL
Damschroder LJ, Aron DC, Keith RE, et al. Fostering implementation of health services research findings into practice. Implementation Science. 2009;4:50.
Glasgow RE, Vogt TM, Boles SM. Evaluating the public health impact. Am J Public Health. 1999;89:1322-1327.
Curran GM, Bauer M, Mittman B, et al. Effectiveness-implementation hybrid designs. Medical Care. 2012;50:217-226.
Peters DH, Adam T, Alonge O, et al. Implementation research: what it is and how to do it. BMJ. 2013;347:f6753.
Carroll C, Patterson M, Wood S, et al. A conceptual framework for implementation fidelity. Implementation Science. 2007;2:40.
WHO ExpandNet. Nine Steps for Developing a Scaling-Up Strategy. Geneva: WHO; 2010.