Deskripsi Modul
Ruang rapat Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Senin pagi.
Di atas meja: tumpukan laporan bulanan dari 24 Puskesmas, data SIKDA yang sebagian tidak lengkap, hasil survei cepat yang dilakukan mahasiswa PKL tiga bulan lalu, dan satu lembar kertas yang ditulis tangan oleh Kepala Bidang KIA:
"AKI kita tahun ini sudah 7 kasus. Target kita 4. Apa yang harus kita lakukan?"
Dr. Amir, SpOG., Subsp.Obginsos., yang baru dua bulan menjabat sebagai Ketua Tim KIA Kabupaten, menatap lembar kertas itu. Angka 7 versus 4 adalah kesenjangan yang jelas. Tetapi pertanyaan yang lebih penting β dan yang lebih sulit dijawab β adalah: mengapa 7? Di mana tepatnya sistem gagal? Intervensi mana yang akan mengubah angka ini tahun depan?
Di tangan Dr. Amir ada data. Tetapi data mentah bukan jawaban. Data harus dianalisis, diinterpretasi, dan diterjemahkan menjadi rencana tindakan yang konkret β dengan prioritas yang jelas, sumber daya yang realistis, dan indikator yang dapat diukur.
Modul ini membangun kompetensi inti dalam perencanaan program KIA: bagaimana membaca dan menginterpretasi data dengan tepat, bagaimana mengidentifikasi prioritas berdasarkan bukti, bagaimana menyusun rencana operasional yang dapat diimplementasikan, dan bagaimana membangun sistem monitoring yang memastikan rencana bukan hanya dokumen yang disimpan di laci.
Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- Mengidentifikasi dan menginterpretasi sumber data utama untuk perencanaan program KIA di tingkat kabupaten/kota
- Menggunakan analisis situasi berbasis data untuk mengidentifikasi prioritas masalah KIA secara sistematis
- Menyusun rencana operasional program KIA yang mencakup tujuan, indikator, target, intervensi, dan sumber daya
- Merancang sistem monitoring dan evaluasi yang realistis untuk program KIA di tingkat kabupaten
- Mengkomunikasikan hasil analisis dan rencana program kepada berbagai pemangku kepentingan secara efektif
Materi Inti
C.1. Sumber Data untuk Perencanaan KIA
C.1.1. Peta Sumber Data di Indonesia
π SIKDA
Sistem Informasi Kesehatan Daerah
- Laporan bulanan Puskesmas
- Data cakupan: K1, K4, persalinan nakes, KF3, KN
- Data kematian ibu dan bayi
π₯ SIRS
Sistem Informasi Rumah Sakit
- Data morbiditas & mortalitas RS
- Data persalinan dan komplikasi obstetri
- Data rujukan yang diterima
π SDKI
Survei Demografi & Kesehatan Indonesia
- Data AKI, AKB, AKBA
- Data cakupan layanan KIA
- Data perilaku kesehatan
π Audit Maternal Perinatal
Data Primer Lokal
- Data paling kaya tentang kematian ibu
- Apa yang terjadi, di mana, mengapa
- Tersedia di kabupaten yang AMP-nya berfungsi
C.1.2. Membaca Data dengan Kritis
β 1. Apakah Data Ini VALID?
- Siapa yang mengumpulkan dan bagaimana?
- Apakah ada insentif untuk under/over-reporting?
- Apakah definisi konsisten antar fasilitas?
β 2. Apakah Data Ini LENGKAP?
- Berapa persen fasilitas melapor?
- Apakah ada kelompok populasi yang tidak tercakup?
- Apa yang tidak ada dalam data yang seharusnya ada?
β 3. Apakah Data Ini CUKUP?
- Data apa yang ada vs. data apa yang dibutuhkan?
- Apa gap informasi yang paling kritis?
- Apakah perlu data tambahan?
β Kematian ibu dilaporkan sebagai "kematian umum" untuk menghindari audit
β Cakupan K4 tinggi tetapi kualitas ANC sebenarnya rendah
β Perbedaan definisi "persalinan nakes" antar Puskesmas
C.1.3. Triangulasi Data
7 kematian ibu dilaporkan
9 kematian ditemukan (2 tidak dilaporkan)
11 kematian perempuan usia reproduksi
Angka sebenarnya: 9β11
Ada masalah pelaporan
β Satu sumber data hampir selalu memiliki bias atau keterbatasan
β Keputusan kebijakan berdasarkan satu sumber yang tidak valid dapat menghasilkan intervensi yang salah sasaran
β Triangulasi meningkatkan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan tanpa harus menunggu data yang "sempurna"
C.2. Analisis Situasi Berbasis Data
C.2.1. Kerangka Analisis Situasi
1οΈβ£ Beban Masalah
- Angka absolut dan rate per 100.000 KH
- Tren: membaik, memburuk, stagnasi?
- Distribusi: di mana masalah terkonsentrasi?
2οΈβ£ Determinan
- Faktor proksimal: komplikasi penyebab
- Faktor intermediate: akses & kualitas
- Faktor distal: kemiskinan, pendidikan, gender
3οΈβ£ Cakupan Layanan
- K1, K4, persalinan nakes, KF, KN
- Kesenjangan cakupan: siapa tidak terjangkau?
4οΈβ£ Kualitas Layanan
- Kepatuhan terhadap standar klinis
- Kompetensi tenaga
- Ketersediaan obat & peralatan
5οΈβ£ Kapasitas Sistem
- SDM: jumlah dan distribusi
- Infrastruktur: fasilitas & peralatan
- Sistem informasi & manajemen
6οΈβ£ Pemangku Kepentingan
- Pemerintah: Dinkes, lintas sektor
- Fasilitas kesehatan
- Komunitas, donor, mitra
C.2.2. Prioritisasi Masalah
π MAGNITUDE
Seberapa besar masalahnya? Berapa banyak terdampak? Apakah tren memburuk?
β οΈ SEVERITY
Seberapa serius konsekuensinya? Kematian vs. morbiditas? Dampak jangka panjang?
β FEASIBILITY
Seberapa mudah diintervensi? Apakah solusi terbukti efektif? Kapasitas tersedia?
βοΈ EQUITY
Apakah ada kelompok yang tidak proporsional terdampak? Kelompok miskin, terpencil, etnis tertentu?
β Matriks Prioritas: Nilai setiap masalah skala 1β5 untuk setiap kriteria; hitung skor total; urutkan
β Root Cause Analysis: Diagram tulang ikan untuk identifikasi determinan paling hulu
β Prinsip Pareto: 20% intervensi yang tepat dapat mengatasi 80% masalah
C.2.3. Aplikasi: Analisis Situasi Kabupaten Bima
β 7 kematian ibu tahun ini (target 4) β +75% dari target
β Penyebab: PPH 3 kasus, eklamsia 2, sepsis 1, tidak langsung 1
β Lokasi: 4 di RSUD, 2 dalam perjalanan, 1 di rumah
β Cakupan K4: 78% (target 90%) β’ Persalinan nakes: 85%
β PONEK berfungsi: Ya, tetapi SpOG hanya 1
β Masalah ganda: kualitas layanan DAN akses/rujukan
β PPH yang dapat dicegah dengan AMTSL adalah prioritas intervensi klinis
β 2 kematian dalam perjalanan menunjukkan sistem rujukan memerlukan perbaikan
β οΈ Cakupan K4 rendah (78%) mengindikasikan banyak ibu tidak teridentifikasi risiko tinggi sejak awal
C.3. Penyusunan Rencana Operasional KIA
C.3.1. Komponen Rencana Operasional
π― ENAM PERTANYAAN KRITIS
- APA TUJUANNYA? Goals & Objectives SMART
- APA INDIKATORNYA? Proses, Output, Outcome, Impact
- BERAPA TARGETNYA? Baseline, target realistis, milestone
- APA INTERVENSINYA? Kegiatan spesifik, penanggung jawab, timeline
- APA SUMBER DAYANYA? Anggaran, SDM, infrastruktur, waktu
- BAGAIMANA MENGETAHUI BERHASIL? M&E: siapa, seberapa sering, bagaimana
C.3.2. Matriks Perencanaan Logis (Logframe)
| Level | Deskripsi | Indikator & Target | Sumber Verifikasi & Asumsi |
|---|---|---|---|
| IMPACT | Perubahan jangka panjang pada populasi "Penurunan AKI Kabupaten Bima" |
β’ AKI per 100.000 KH β’ Target: β€4/tahun dalam 2 tahun |
β’ Laporan AMP, data RSUD β’ Asumsi: tidak ada bencana/krisis |
| OUTCOME | Perubahan perilaku/kapasitas "Meningkatnya kualitas ANC" |
β’ % ibu ANC berkualitas: 78%β90% β’ % bidan AMTSL kompeten: 40%β80% |
β’ Observasi ANC, supervisi klinis β’ Asumsi: pelatihan tersedia |
| OUTPUT | Produk langsung kegiatan "Bidan terlatih AMTSL" |
β’ 140 bidan dilatih & lulus uji β’ 14 Puskesmas dengan stok oksitosin lengkap |
β’ Daftar hadir, sertifikat, hasil uji β’ Asumsi: anggaran tersedia |
| ACTIVITIES | Kegiatan yang menghasilkan output "Pelatihan AMTSL" |
β’ 5 sesi pelatihan kabupaten β’ Supervisi klinis bulanan |
β’ Laporan kegiatan, daftar hadir β’ Asumsi: fasilitator tersedia |
C.3.3. Perencanaan Berbasis Equity
π― SIAPA PALING TIDAK TERJANGKAU?
- Ibu dari keluarga miskin
- Ibu di daerah terpencil & kepulauan
- Ibu dari komunitas adat dengan tradisi tertentu
- Ibu yang tidak berbicara Bahasa Indonesia
π MENGAPA MEREKA TIDAK TERJANGKAU?
- Hambatan geografis (jarak, transportasi)
- Hambatan finansial (biaya langsung/tidak langsung)
- Hambatan budaya & kepercayaan
- Hambatan bahasa & pengalaman buruk sebelumnya
β¨ INTERVENSI EQUITY-FOCUSED
- Kelas ibu hamil di lokasi/waktu sesuai komunitas terpencil
- Bidan yang berbicara bahasa daerah untuk komunitas tertentu
- Voucher transportasi untuk ibu miskin risiko tinggi
- Outreach ANC ke daerah jauh dari fasilitas
TETAPI:
- Identifikasi kelompok paling tidak terjangkau
- Desain intervensi yang secara khusus menjangkau mereka
- Alokasi sumber daya lebih besar untuk kelompok dengan kebutuhan lebih besar
- Monitor apakah kesenjangan cakupan menyempit atau melebar
C.4. Sistem Monitoring dan Evaluasi
C.4.1. Prinsip Monitoring yang Efektif
Monitoring yang Efektif:
- Menggunakan data yang sudah ada semaksimal mungkin sebelum membuat sistem baru
- Fokus pada indikator yang benar-benar akan digunakan β bukan daftar panjang yang tidak dipakai
- Frekuensi sesuai dengan kecepatan perubahan yang diharapkan
- Menghasilkan tindakan β bukan hanya laporan
C.4.2. Dashboard KIA Kabupaten
π PANEL 1: STATUS KEMATIAN
- Kematian ibu: YTD vs. target vs. tahun lalu
- Kematian neonatal: YTD vs. target
- πΊοΈ Peta distribusi kematian per kecamatan
π PANEL 2: CAKUPAN LAYANAN
- K1, K4 per Puskesmas vs. target
- Persalinan nakes
- KF3 dan KN lengkap
β PANEL 3: KUALITAS LAYANAN
- Jumlah kasus komplikasi ditangani
- Kasus dirujuk tepat waktu
- Ketersediaan obat emergensi obstetri
βοΈ PANEL 4: KAPASITAS SISTEM
- % Puskesmas melapor tepat waktu
- Status ambulans kabupaten
- Stok darah di RSUD
β Dapat dibaca dalam 5 menit: kepala Dinas yang sibuk harus langsung memahami status KIA kabupaten
β Menggunakan visualisasi: grafik, peta, traffic light β bukan hanya tabel angka
β Menunjukkan tren: bukan hanya snapshot satu waktu
β Tersedia digital DAN dapat dicetak untuk daerah dengan koneksi tidak stabil
C.4.3. Evaluasi Program
π MONITORING
- Berkelanjutan (bulanan/triwulanan)
- Fokus pada implementasi: apakah kegiatan berjalan?
- Menghasilkan tindakan korektif cepat
π EVALUASI
- Periodik (umumnya tahunan/akhir program)
- Fokus pada dampak: apakah tujuan tercapai?
- Menghasilkan pembelajaran untuk program berikutnya
β EFEKTIVITAS
Apakah program mencapai tujuannya? Bandingkan outcome dengan baseline dan target. Gunakan kelompok pembanding jika memungkinkan.
π° EFISIENSI
Apakah sumber daya digunakan dengan optimal? Biaya per output/outcome. Apakah ada pendekatan lebih efisien dengan hasil sama?
βοΈ EQUITY
Apakah manfaat program terdistribusi secara adil? Apakah kelompok paling membutuhkan paling banyak mendapat manfaat?
β Pertanyaan Diskusi
Thread Dosen β Minggu 3 | Modul 3
Pertanyaan 1: Analisis Situasi & Prioritas Kabupaten Bima
Dr. Amir memiliki data 7 kematian ibu dengan rincian penyebab dan lokasi. Ia juga mengetahui bahwa cakupan K4 kabupaten adalah 78% tetapi data per Puskesmas menunjukkan variasi sangat besar: tiga Puskesmas di kecamatan terpencil memiliki cakupan K4 di bawah 50%, sementara Puskesmas di ibukota kabupaten mencapai 95%.
- (a) Lakukan analisis situasi singkat berdasarkan data yang tersedia β identifikasikan tiga masalah prioritas menggunakan kriteria magnitude, severity, dan feasibility to intervene; justifikasikan urutan prioritas Anda
- (b) Untuk masalah prioritas pertama yang Anda identifikasikan, lakukan root cause analysis menggunakan diagram tulang ikan atau pohon masalah β identifikasikan minimal tiga determinan berbeda di level yang berbeda (proksimal, intermediate, distal)
- (c) Rancang satu objective SMART dan dua kegiatan konkret untuk mengatasi masalah prioritas pertama tersebut, lengkap dengan indikator dan sumber verifikasinya
Pertanyaan 2: Dashboard & Equity dalam Kondisi Data Tidak Ideal
Anda diminta menyusun dashboard KIA untuk Kabupaten yang baru saja Anda masuki sebagai konsultan Obginsos. Setelah mengumpulkan data selama sebulan, Anda menemukan bahwa: sistem informasi rutin berjalan tetapi kualitasnya buruk (hanya 70% Puskesmas melapor tepat waktu); tidak ada AMP yang berfungsi dalam dua tahun terakhir; tidak ada mekanisme umpan balik dari RSUD ke Puskesmas tentang kasus yang dirujuk.
- (a) Dalam kondisi data yang tidak ideal ini, bagaimana Anda tetap dapat melakukan analisis situasi yang bermakna? Identifikasikan strategi triangulasi data yang dapat Anda gunakan dengan sumber yang tersedia
- (b) Rancang dashboard KIA kabupaten yang sederhana dan dapat diimplementasikan dalam kondisi kapasitas terbatas β fokus pada 5β7 indikator yang paling kritikal; jelaskan mengapa Anda memilih indikator tersebut dan bukan yang lain
- (c) Salah satu temuan Anda adalah bahwa tiga kecamatan di ujung kabupaten secara konsisten memiliki cakupan dan outcome yang lebih buruk dari rata-rata kabupaten. Rancang pendekatan equity-focused untuk menjangkau tiga kecamatan tersebut β konkret, realistis, dan berbasis bukti
Rangkuman
- Perencanaan program KIA yang efektif dimulai dari pemahaman mendalam tentang data yang tersedia β sumbernya, kualitasnya, dan keterbatasannya; triangulasi dari beberapa sumber data adalah praktik yang wajib karena tidak ada satu pun sumber data KIA di Indonesia yang sempurna, dan interpretasi berdasarkan satu sumber yang bias dapat menghasilkan intervensi yang salah sasaran
- Analisis situasi yang komprehensif mencakup enam komponen yang saling melengkapi: beban masalah, determinan, cakupan layanan, kualitas layanan, kapasitas sistem, dan pemangku kepentingan β melewatkan salah satu komponen berisiko menghasilkan solusi yang mengatasi gejala tanpa menyentuh akar masalah
- Prioritisasi masalah berdasarkan magnitude, severity, feasibility, dan equity adalah langkah yang tidak dapat dilewati dalam konteks sumber daya yang selalu terbatas β rencana yang mencoba mengatasi semua masalah sekaligus sering tidak mengatasi satu pun secara efektif; fokus pada intervensi yang dapat mengubah sebagian besar masalah adalah prinsip Pareto yang sangat relevan dalam perencanaan kesehatan
- Rencana operasional yang efektif menjawab enam pertanyaan kritis: apa tujuannya, apa indikatornya, berapa targetnya, apa intervensinya, apa sumber dayanya, dan bagaimana mengetahui keberhasilan; Logical Framework (Logframe) menyediakan struktur yang memastikan koherensi antara semua komponen dari level impact hingga activities
- Monitoring dan evaluasi bukan aktivitas administratif tetapi mekanisme pembelajaran organisasi β sistem monitoring yang efektif menghasilkan keputusan, bukan hanya laporan; dashboard KIA yang sederhana dengan 5β7 indikator kritikal yang benar-benar digunakan lebih berharga dari sistem pelaporan yang kompleks yang tidak pernah mengubah tindakan
Referensi
- WHO. Monitoring, Evaluation and Review of National Health Strategies: A Country-Led Platform for Information and Accountability. Geneva: WHO; 2011. URL: who.int/publications/i/item/9789241564021
- Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Penggunaan Buku KIA. Jakarta: Kemenkes; 2020. URL: kemkes.go.id
- Victora CG, Barros AJ, Axelson H, et al. How changes in coverage affect equity in maternal and child health interventions. The Lancet. 2012;380(9845):1149-1156. DOI: 10.1016/S0140-6736(12)61427-5
- Badan Pusat Statistik. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: BPS; 2018. URL: bps.go.id
- Rohde J, Cousens S, Chopra M, et al. 30 years after Alma-Ata: has primary health care worked in countries? The Lancet. 2008;372(9642):950-961. DOI: 10.1016/S0140-6736(08)61405-1
- Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 43 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Jakarta: Kemenkes; 2016. URL: peraturan.bpk.go.id
- Tanahashi T. Health service coverage and its evaluation. Bulletin of the World Health Organization. 1978;56(2):295-303.
- Lawn JE, Kinney MV, Black RE, et al. Newborn survival: a multi-country analysis of a decade of change. Health Policy and Planning. 2012;27(Suppl 3):iii6-iii28. DOI: 10.1093/heapol/czs053
- Renmans D, Holvoet N, Orach CG, Criel B. Opening the 'black box' of performance-based financing. Health Policy and Planning. 2016;31(9):1297-1309. DOI: 10.1093/heapol/czw049
- Dinas Kesehatan Kabupaten Bima. Profil Kesehatan Kabupaten Bima 2022. Bima: Dinkes Bima; 2023. URL: dinkes.bimakab.go.id
π TUGAS KELOMPOK 1 β SESI 1 (MINGGU 3)
Mata Kuliah: Manajemen Kesehatan Ibu & Anak Terpadu (6 SKS)
π Petunjuk Pengerjaan
- Tugas ini mengintegrasikan tiga modul pertama MK6 β fondasi manajemen KIA, sistem rujukan, dan perencanaan berbasis data β dalam satu analisis kasus yang berkesinambungan
- Setiap bagian menghasilkan produk konkret yang dapat digunakan dalam praktik nyata β bukan analisis akademis semata
- Gunakan data dan kerangka yang dipelajari secara eksplisit β sebutkan kerangka, terapkan, dan justifikasikan pilihan Anda
- Cantumkan nama, NIM, dan pembagian peran yang jelas di halaman pertama
πΊοΈ Kabupaten Sumba Barat Daya: Tantangan di Ujung Barat NTT
Profil: Luas: 1.445 kmΒ² β’ Penduduk: 320.000 β’ Kecamatan: 11 β’ Puskesmas: 14 (9 rawat inap, 5 non-rawat inap) β’ RSUD Tambolaka: 1 SpOG
| Indikator | Angka | Target Nasional |
|---|---|---|
| AKI | 9 kasus (~281/100.000 KH) | 183/100.000 KH |
| AKB | 38 kasus (~19/1.000 KH) | 16/1.000 KH |
| Cakupan K4 | 64% | 95% |
| Persalinan nakes | 71% | 90% |
| KF3 | 58% | 90% |
Data Tambahan AMP & Laporan Bulanan:
- Dari 9 kematian ibu: PPH 4 kasus, eklamsia 3, sepsis 2
- 5 dari 9 kematian terjadi di luar fasilitas (3 dalam perjalanan, 2 di rumah)
- Rata-rata waktu rujukan Puskesmas ke RSUD: 3,8 jam
- 6 dari 14 Puskesmas melaporkan pernah kehabisan oksitosin dalam 6 bulan terakhir
- 4 dari 14 Puskesmas tidak memiliki ambulans yang berfungsi
- Hanya 40% bidan di Puskesmas yang pernah mendapat pelatihan AMTSL dalam 3 tahun terakhir
- Tiga kecamatan paling terpencil (Loura, Wewewa Timur, Kodi Utara) memiliki cakupan K4 di bawah 45%
- Tidak ada sistem komunikasi pra-rujukan yang berfungsi
- Kelengkapan pelaporan SIKDA: 68% (rata-rata bulanan 6 bulan terakhir)
π― BAGIAN A β Analisis Situasi Komprehensif (35%)
A1 β Pemetaan Masalah dan Determinan (20%)
- (a) Lakukan analisis situasi menggunakan minimal empat dari enam komponen yang dibahas dalam Modul 3; untuk setiap komponen, sajikan analisis yang spesifik berdasarkan data yang tersedia
- (b) Gunakan kerangka Tiga Terlambat (Modul 2) untuk menganalisis 5 kematian yang terjadi di luar fasilitas β identifikasikan secara spesifik di domain mana kegagalan terbesar terjadi
- (c) Buat matriks prioritisasi untuk minimal lima masalah yang Anda identifikasikan β menggunakan kriteria magnitude, severity, feasibility, dan equity; tentukan tiga masalah prioritas teratas
A2 β Analisis Sistem Rujukan Kabupaten (15%)
- (a) Berdasarkan data yang tersedia, identifikasikan titik-titik kritis kegagalan sistem rujukan β petakan menggunakan komponen fungsional sistem rujukan
- (b) Hitung dan interpretasikan: dengan rata-rata waktu rujukan 3,8 jam untuk kondisi geografis kabupaten ini, apakah ini indikasi kegagalan sistem atau keterbatasan yang tidak dapat dihindari?
- (c) Identifikasikan perbedaan beban dan kapasitas yang paling kritis β khususnya terkait satu SpOG untuk seluruh kabupaten
π― BAGIAN B β Rencana Operasional Program KIA (50%)
B1 β Logical Framework (20%)
Susun Logical Framework (Logframe) untuk program KIA Kabupaten Sumba Barat Daya periode 12 bulan ke depan yang mencakup minimal dua outcome, empat output, delapan activities, dengan indikator, target, sumber verifikasi, dan asumsi.
B2 β Rencana Perbaikan Sistem Rujukan (15%)
Rancang rencana perbaikan sistem rujukan yang dapat diimplementasikan dalam 6 bulan pertama β fokus pada intervensi yang tidak memerlukan perubahan kebijakan dari level provinsi atau pusat: sistem komunikasi pra-rujukan, tiga Puskesmas prioritas, paket stabilisasi pra-rujukan minimal.
B3 β Strategi Equity-Focused untuk Tiga Kecamatan Terpencil (15%)
Rancang strategi khusus untuk menjangkau tiga kecamatan dengan cakupan K4 di bawah 45%: analisis hambatan spesifik, paket intervensi disesuaikan, dua indikator monitoring spesifik.
π― BAGIAN C β Dashboard dan Sistem Monitoring (15%)
Rancang dashboard KIA Kabupaten Sumba Barat Daya yang dapat digunakan oleh Kepala Dinas Kesehatan untuk monitoring bulanan:
- (a) Tentukan 6β8 indikator yang masuk dalam dashboard β justifikasikan pilihan Anda; kategorikan ke dalam: kematian, cakupan, kualitas, dan kapasitas sistem
- (b) Untuk setiap indikator, tentukan: baseline saat ini, target 12 bulan, frekuensi pengumpulan, dan sumber data
- (c) Rancang mekanisme review data yang realistis: siapa yang menganalisis data, seberapa sering, dalam forum apa, dan bagaimana memastikan data digunakan untuk tindakan
π Rubrik Penilaian
| Bagian | Komponen Penilaian Utama | Bobot |
|---|---|---|
| A1 | Kedalaman analisis situasi; ketepatan aplikasi Tiga Terlambat; kualitas matriks prioritisasi dan justifikasi | 20% |
| A2 | Ketajaman identifikasi kegagalan rujukan; kualitas argumen tentang waktu 3,8 jam; analisis beban-kapasitas | 15% |
| B1 | Kelengkapan dan koherensi Logframe; SMART-nya indikator dan target; realisme sumber verifikasi | 20% |
| B2 | Concreteness sistem komunikasi; ketepatan pemilihan tiga Puskesmas prioritas; kelengkapan paket stabilisasi | 15% |
| B3 | Kualitas analisis hambatan; spesifisitas intervensi equity-focused; ketepatan indikator monitoring | 15% |
| C | Relevansi indikator dashboard; realisme target dan sumber data; concreteness mekanisme review | 15% |