Modul Pembelajaran

Analisis Biaya Pelayanan Obstetri: Dari Unit Cost hingga Efisiensi Fasilitas

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Semester 2 | Periode 1 MK Ekonomi Kesehatan dalam Pelayanan Obginsos Sesi 2 | Modul 6
DESKRIPSI MODUL

Sembilan bulan setelah dilantik, Dr. Hendra dipanggil ke ruang Kepala Dinas untuk pertemuan yang tidak ia antisipasi. Di meja, terdapat laporan audit keuangan RSUD Praya: biaya operasional per persalinan normal meningkat 34% dalam dua tahun terakhir, sementara volume persalinan hanya naik 8%. Kepala Dinas mengetukkan jari ke meja: "Hendra, BPJS membayar kita Rp 1,8 juta per persalinan normal. Tapi laporan ini menunjukkan kita menghabiskan rata-rata Rp 2,4 juta per kasus. Kita rugi Rp 600.000 setiap kali membantu ibu melahirkan. Ini tidak berkelanjutan."

Dr. Hendra terdiam. Ia tidak pernah memikirkan bahwa menolong persalinan bisa menghasilkan angka merah di neraca keuangan. Namun pertanyaan berikutnya lebih mengganggu: apakah kerugian ini terjadi karena tarif INA-CBG yang tidak adekuat, atau karena ketidakefisienan internal RS? Atau keduanya? Dan bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan itu tanpa data biaya yang akurat?

Dua minggu kemudian, dalam kunjungan ke Puskesmas Jonggat, pertanyaan yang berbeda muncul dari arah berlawanan. Kepala Puskesmas memperlihatkan proposal pengajuan anggaran: ia ingin menambah satu bidan terlatih BEmONC dan mengadakan peralatan resusitasi neonatal. Total anggaran: Rp 185 juta per tahun. "Pak Dokter, bagaimana saya membuktikan ke Bappeda bahwa investasi ini worth it? Mereka minta analisis biaya, bukan hanya argumen klinis."

Dalam satu minggu, Dr. Hendra menghadapi dua sisi dari pertanyaan yang sama: berapa biaya sebenarnya dari pelayanan obstetri, dan bagaimana informasi biaya tersebut digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik? Modul ini memberikan jawaban metodologis dan praktis untuk pertanyaan tersebut.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan konsep dan metode perhitungan unit cost pelayanan obstetri di berbagai level fasilitas kesehatan
  2. Membedakan biaya tetap, variabel, dan semi-variabel dalam konteks pelayanan maternal-neonatal
  3. Menerapkan pendekatan step-down costing dan activity-based costing untuk menganalisis biaya pelayanan obstetri
  4. Menganalisis hubungan antara volume layanan, kapasitas, dan biaya per unit (economies of scale)
  5. Menggunakan informasi unit cost untuk mengevaluasi kecukupan tarif INA-CBG dan mengidentifikasi peluang efisiensi
MATERI INTI

1. Mengapa Analisis Biaya Pelayanan Obstetri Penting

Analisis biaya (cost analysis) berbeda dari evaluasi ekonomi: ia tidak membandingkan alternatif atau menilai value for money — melainkan mendokumentasikan secara sistematis berapa sumber daya yang dikonsumsi untuk menghasilkan suatu layanan. Informasi ini adalah fondasi untuk:

  • Penetapan tarif yang adekuat: tarif INA-CBG dan tarif Puskesmas hanya bermakna jika dibandingkan dengan biaya aktual penyediaan layanan. Tanpa data unit cost yang akurat, tidak mungkin menilai apakah tarif yang berlaku menyebabkan subsidi silang, kerugian institusi, atau kelebihan pembayaran.
  • Identifikasi peluang efisiensi: membandingkan unit cost antar fasilitas dengan output serupa mengidentifikasi fasilitas yang lebih atau kurang efisien — dan membuka pertanyaan tentang apa yang berbeda dalam proses produksi mereka.
  • Perencanaan anggaran berbasis kebutuhan: menghitung kebutuhan anggaran untuk target cakupan tertentu membutuhkan estimasi unit cost yang akurat. "Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai 90% persalinan nakes di kabupaten ini?" adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab tanpa unit cost.
  • Negosiasi tarif dengan BPJS: Dinas Kesehatan dan RS yang memiliki data unit cost yang solid berada pada posisi negosiasi yang lebih kuat dalam advokasi penyesuaian tarif.

2. Klasifikasi Biaya: Tetap, Variabel, dan Semi-Variabel

Pemahaman tentang perilaku biaya terhadap volume layanan adalah prasyarat analisis efisiensi:

Biaya Tetap (Fixed Costs)

  • Gaji bidan PNS (tetap terlepas dari volume persalinan)
  • Sewa/depresiasi gedung kamar bersalin
  • Depresiasi peralatan (CTG, meja obstetri)
  • Biaya utilitas dasar (listrik minimum, air)
Perilaku: Biaya tetap per unit menurun seiring meningkatnya volume — inilah yang disebut economies of scale.

Biaya Variabel (Variable Costs)

  • Obat-obatan per persalinan (oksitosin, misoprostol, antibiotik)
  • Bahan habis pakai (sarung tangan, kasa, benang jahit)
  • Makanan pasien
  • Biaya darah transfusi
Perilaku: Berubah proporsional dengan volume layanan — semakin banyak persalinan, semakin tinggi total biaya variabel.

Biaya Semi-Variabel

  • Tagihan listrik (biaya minimum + komponen penggunaan)
  • Tenaga honorer yang dibayar per shift dengan minimum jam tertentu
  • Biaya pemeliharaan peralatan (terjadwal + perbaikan darurat)
Perilaku: Memiliki komponen tetap dan komponen variabel — analisis memerlukan pemisahan kedua komponen.

Relevansi praktis: Ketika membuat keputusan tentang ekspansi kapasitas atau efisiensi, memahami struktur biaya ini kritis. Menutup kamar bersalin Puskesmas dengan volume rendah mungkin menghemat biaya variabel, namun biaya tetap (gaji bidan PNS, depresiasi gedung) tetap harus dibayar — penghematan aktual jauh lebih kecil dari yang terlihat.

3. Metode Perhitungan Unit Cost

Gross Costing (Top-Down)

Mekanisme: Total pengeluaran fasilitas dibagi dengan total output.

Contoh: Total pengeluaran kamar bersalin Rp 1,2 miliar ÷ 500 persalinan = Rp 2,4 juta/persalinan

+ Keunggulan: Mudah dan cepat dengan data yang tersedia di laporan keuangan.
⚠ Kelemahan: Tidak dapat membedakan biaya antar jenis layanan; tidak mengidentifikasi driver biaya spesifik.
Step-Down Costing

Mekanisme: Mengalokasikan biaya unit penunjang (administrasi, dapur, laundry) ke unit pelayanan langsung menggunakan allocation keys (luas lantai, jumlah SDM, volume transaksi).

Contoh: Biaya administrasi dialokasikan ke kamar bersalin berdasarkan proporsi luas lantai, kemudian total biaya kamar bersalin dibagi volume persalinan.

+ Keunggulan: Standar WHO & Kemenkes; lebih akurat dari gross costing; digunakan untuk penyusunan tarif INA-CBG.
⚠ Kelemahan: Membutuhkan data alokasi yang detail; asumsi allocation keys dapat mempengaruhi hasil.
Activity-Based Costing (ABC)

Mekanisme: Mengidentifikasi setiap aktivitas untuk menghasilkan layanan, mengukur sumber daya yang dikonsumsi setiap aktivitas, dan menjumlahkannya.

Contoh persalinan normal: Penerimaan (15 menit bidan) + Pemantauan kala I (2 jam) + Pertolongan kala II (30 menit) + Manajemen kala III (15 menit) + Pemantauan kala IV (2 jam) + Dokumentasi (30 menit) = total biaya.

+ Keunggulan: Paling detail dan akurat; mengidentifikasi aktivitas cost-intensive; dasar terbaik untuk efisiensi.
⚠ Kelemahan: Membutuhkan data waktu & aktivitas yang detail; investasi metodologis signifikan.

4. Komponen Biaya dalam Unit Cost Obstetri

Analisis unit cost pelayanan obstetri yang komprehensif mencakup:

  • Biaya SDM (40–65% dari total): (gaji + tunjangan + benefit) × proporsi waktu untuk layanan tersebut. Tantangan: bidan yang melayani ANC, persalinan, nifas, dan KB memerlukan time-motion study untuk distribusi akurat.
  • Biaya obat dan bahan habis pakai: Relatif mudah dihitung per episode berdasarkan protokol standar. Variabilitas muncul dari perbedaan protokol antar fasilitas dan tingkat kepatuhan.
  • Biaya peralatan (depresiasi): Depresiasi tahunan = (nilai aset − nilai sisa) ÷ masa manfaat. Depresiasi per episode = depresiasi tahunan ÷ jumlah episode per tahun. Sering diabaikan namun merepresentasikan investasi kapital nyata.
  • Biaya gedung: Depresiasi atau nilai sewa setara untuk ruang yang digunakan, dialokasikan berdasarkan proporsi luas lantai atau waktu penggunaan.
  • Biaya overhead: Listrik, air, komunikasi, administrasi umum — dialokasikan ke unit pelayanan menggunakan allocation key yang sesuai.

5. Economies of Scale dan Implikasinya untuk Perencanaan

Economies of scale terjadi ketika biaya per unit menurun seiring meningkatnya volume produksi — karena biaya tetap tersebar ke lebih banyak unit output. Dalam pelayanan obstetri, fenomena ini memiliki implikasi kebijakan yang penting:

Hubungan Volume Layanan vs. Unit Cost per Persalinan
Rp 3,8jt
Rp 2,4jt
Rp 1,6jt
Unit Cost Tinggi
Unit Cost Sedang
Unit Cost Rendah

Implikasi untuk tarif INA-CBG: Tarif nasional yang seragam tidak memperhitungkan perbedaan volume dan struktur biaya antar fasilitas. RS di daerah terpencil dengan volume rendah dan biaya overhead tinggi menghadapi tarif INA-CBG yang sama dengan RS perkotaan bervolume tinggi — menyebabkan kerugian sistematis pada fasilitas yang justru melayani populasi paling rentan.

6. Membandingkan Unit Cost dengan Tarif: Analisis Gap

Perbandingan unit cost aktual dengan tarif resmi (INA-CBG, kapitasi) menghasilkan informasi kritis:

Underpayment (Unit Cost > Tarif)
Unit Cost Aktual
Rp 2,4 juta
vs
Tarif INA-CBG
Rp 1,8 juta
Kerugian: Rp 600.000/kasus

Konsekuensi jangka panjang: Cross-subsidization dari layanan lain, penurunan kualitas, informal charging kepada pasien, atau pengurangan layanan yang tidak menguntungkan.

Overpayment (Unit Cost < Tarif)
Unit Cost Aktual
Rp 1,4 juta
vs
Tarif INA-CBG
Rp 1,8 juta
Surplus: Rp 400.000/kasus

Dalam sistem non-profit publik: Surplus seharusnya direinvestasikan untuk kualitas. Dalam sistem terdistorsi: Overpayment menciptakan insentif untuk over-provision (melakukan lebih banyak prosedur dari yang dibutuhkan).

7. Analisis Biaya untuk Advokasi Kebijakan

Data unit cost yang solid adalah alat advokasi yang kuat dalam beberapa konteks:

  • Advokasi penyesuaian tarif INA-CBG: RS yang dapat menunjukkan dengan data bahwa tarif INA-CBG untuk persalinan normal secara konsisten di bawah unit cost aktual memiliki argumen yang jauh lebih kuat untuk negosiasi tarif daripada RS yang hanya mengeluh tanpa data.
  • Justifikasi anggaran program: Kepala Puskesmas Jonggat yang ingin menambah bidan BEmONC perlu menunjukkan: (a) unit cost persalinan dengan BEmONC vs. tanpa BEmONC, (b) penurunan komplikasi yang diharapkan, (c) biaya komplikasi yang dapat dihindari. Argumen ini jauh lebih persuasif bagi Bappeda daripada argumen klinis semata.
  • Identifikasi fasilitas bermasalah: Analisis unit cost komparatif dapat mengidentifikasi fasilitas dengan unit cost outlier yang membutuhkan investigasi lebih lanjut — apakah karena inefisiensi yang perlu diperbaiki, atau karena kondisi yang memerlukan penyesuaian tarif khusus.
PERTANYAAN DISKUSI

1. RSUD Praya menghabiskan Rp 2,4 juta per persalinan normal sementara tarif INA-CBG hanya Rp 1,8 juta. Sebelum mengadvokasi kenaikan tarif, Dr. Hendra perlu menentukan apakah gap ini disebabkan oleh tarif yang tidak adekuat atau oleh inefisiensi internal. Metodologi apa yang akan Anda gunakan untuk menjawab pertanyaan ini, dan data apa yang diperlukan?

2. Kebijakan "konsolidasi PONED" — mengurangi jumlah Puskesmas PONED dari 12 menjadi 5 dengan volume lebih tinggi — secara teoritis akan menurunkan unit cost per persalinan melalui economies of scale. Namun kebijakan ini memiliki implikasi aksesibilitas yang serius dalam konteks kabupaten kepulauan. Bagaimana Anda menimbang efisiensi versus aksesibilitas dalam keputusan ini?

RANGKUMAN

Analisis biaya pelayanan obstetri adalah fondasi dari pengambilan keputusan manajerial yang berbasis bukti — mulai dari penilaian kecukupan tarif, identifikasi peluang efisiensi, hingga justifikasi investasi program. Klasifikasi biaya tetap, variabel, dan semi-variabel memberikan kerangka untuk memahami perilaku biaya terhadap volume layanan. Metode step-down costing adalah standar yang direkomendasikan untuk fasilitas kesehatan, sementara activity-based costing memberikan detail yang lebih kaya untuk analisis efisiensi operasional.

Economies of scale menjelaskan mengapa fasilitas bervolume rendah — terutama PONED terpencil — memiliki unit cost yang lebih tinggi dan menghadapi tekanan finansial lebih besar dalam sistem tarif nasional yang seragam. Gap antara unit cost aktual dan tarif resmi adalah sinyal penting yang harus dianalisis secara kritis sebelum digunakan sebagai dasar advokasi atau keputusan manajemen.

Bagi konsultan Obginsos, kemampuan melakukan dan menginterpretasikan analisis biaya adalah kompetensi yang memungkinkan mereka berbicara dalam "bahasa" yang dipahami oleh pembuat kebijakan fiskal — dan menjadikan argumen klinis mereka tidak hanya benar secara medis, tetapi juga meyakinkan secara ekonomis.

REFERENSI
  1. Adam, T., Watts, C., & Evans, D.B. (2003). Cost-Effectiveness Analysis of Strategies for Maternal and Neonatal Health in Developing Countries. WHO. Kunjungi WHO
  2. Conteh, L., & Walker, D. (2004). Cost and unit cost calculations using step-down accounting. Health Policy and Planning, 19(2), 127–135. https://doi.org/10.1093/heapol/czh015
  3. Drummond, M.F., Sculpher, M.J., Claxton, K., Stoddart, G.L., & Torrance, G.W. (2015). Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes (4th ed.). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780198529460.001.0001
  4. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Kemenkes RI.
  5. Marseille, E., Larson, B., Kazi, D.S., Kahn, J.G., & Rosen, S. (2015). Thresholds for the cost-effectiveness of interventions: alternative approaches. Bulletin of the World Health Organization, 93(2), 118–124. https://doi.org/10.2471/BLT.14.138206
  6. Prinja, S., Gupta, N., Verma, R., & Kumar, R. (2016). Costliness of facility-based childbirth for essential newborn care in India. PLOS ONE, 11(7), e0159170. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159170
  7. Sicuri, E., Vieta, A., Lindner, L., Constenla, D., & Sauboin, C. (2013). The economic costs of malaria in children in three sub-Saharan African countries. Malaria Journal, 12, 307. https://doi.org/10.1186/1475-2875-12-307
  8. Stenberg, K., Axelson, H., Sheehan, P., Anderson, I., Gülmezoglu, A.M., Temmerman, M., … & Bhutta, Z.A. (2014). Advancing social and economic development by investing in women's and children's health. The Lancet, 383(9925), 1333–1354. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)62231-X
  9. WHO. (2011). Health System Efficiency: How to Make Measurement Matter for Policy and Management. WHO/Europe. Kunjungi WHO
  10. World Bank. (2010). Unit Costs of Health Care Inputs in Low and Middle Income Regions. Disease Control Priorities. Kunjungi DCP-3