Semester 2 | Periode 2 | MK Komunikasi, Advokasi & Negosiasi Kebijakan Kesehatan (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 2

Advokasi Kesehatan: Strategi, Aktor, dan Kekuasaan

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Maret 2023. Dr. Fajar, SpOG., Subsp.Obginsos.

sudah enam bulan bertugas sebagai staf ahli di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia menghadapi sebuah masalah yang terasa sederhana secara teknis tetapi sangat kompleks secara politis.

Selama ini, ambulans rujukan obstetri dari Puskesmas ke RSUD di kabupaten-kabupaten terpencil menggunakan sistem "bayar dulu, klaim kemudian" — keluarga pasien membayar biaya perjalanan, lalu mengklaim ke JKN atau pemerintah daerah. Dalam praktiknya, klaim sering tidak berhasil karena prosedur administrasi yang rumit, dan keluarga pasien akhirnya menanggung biaya sendiri. Akibatnya, banyak ibu hamil berisiko tinggi tidak dirujuk tepat waktu karena keluarga tidak punya uang untuk membayar ambulans di muka.

Solusinya jelas secara teknis: ubah sistem menjadi "ambulans gratis, tidak perlu bayar di muka." Ini bukan ide baru — sudah ada di beberapa kabupaten lain sebagai program PONED-PONEK yang didanai APBD.

Tetapi setelah enam bulan advokasi, tidak ada yang berubah. Dr. Fajar sudah bertemu Kepala Dinas dua kali. Sudah menulis proposal tiga puluh halaman. Sudah mempresentasikan data kematian ibu yang terkait dengan keterlambatan rujukan. Hasilnya: "Masukkan dalam perencanaan tahun depan."

"Frustrasi, ia bertanya kepada seorang kolega senior yang sudah dua puluh tahun bekerja di sistem: 'Data saya sudah jelas. Proposalnya sudah lengkap. Kenapa tidak berhasil?'"
"Kolega itu tersenyum. 'Karena advokasi bukan tentang proposal yang lengkap, Fajar. Advokasi adalah tentang kekuasaan — siapa yang punya, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana kita memposisikan diri dalam permainan itu.'"

Pelajaran dari kolega Dr. Fajar adalah inti dari modul ini: advokasi adalah seni dan ilmu bekerja dalam medan kekuasaan. Ia memerlukan pemahaman tentang siapa yang mengambil keputusan, apa yang menggerakkan mereka, bagaimana sistem kekuasaan bekerja, dan di mana titik-titik leverage yang paling efektif untuk mendorong perubahan.

Modul ini membangun kompetensi advokasi yang strategis — melampaui kemampuan membuat proposal yang baik, menuju kemampuan membaca lanskap kekuasaan dan bergerak di dalamnya dengan cermat.

Advokasi Kesehatan: Data × Strategi × Kekuasaan = Perubahan Kebijakan
Proposal yang lengkap tidak cukup — yang menggerakkan kebijakan adalah pemahaman tentang siapa yang berkuasa dan apa yang menggerakkan mereka

CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1 Menjelaskan definisi advokasi kesehatan dan membedakannya dari komunikasi informasional dan lobbying
  2. 2 Menganalisis lanskap kekuasaan dan pemangku kepentingan dalam konteks kebijakan kesehatan reproduksi
  3. 3 Menggunakan kerangka stakeholder analysis untuk memetakan aktor, kepentingan, dan strategi engagement yang tepat
  4. 4 Mengidentifikasi titik-titik leverage yang paling efektif dalam siklus kebijakan
  5. 5 Merancang strategi advokasi yang berbasis pada analisis kekuasaan yang realistis

MATERI INTI

C.1. Advokasi Kesehatan: Definisi dan Prinsip

C.1.1. Apa Itu Advokasi Kesehatan

Definisi WHO (1984): "Advokasi adalah kombinasi dari tindakan sosial dan politik yang dirancang untuk mendapatkan komitmen politis, dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan sistem yang kondusif untuk tujuan atau program kesehatan."

Tiga Komponen Kunci

Political Commitment

Kesediaan pemimpin politik untuk memprioritaskan isu tersebut

  • Bukan hanya "setuju secara verbal" tetapi komitmen yang diwujudkan dalam anggaran, kebijakan, dan tindakan nyata
  • Political commitment tanpa sumber daya = lip service

Policy Support

Kebijakan yang secara eksplisit mendukung tujuan yang diadvokasi

  • Regulasi, peraturan daerah, pedoman nasional yang konkret
  • Tanpa policy support, program bergantung pada individu dan tidak berkelanjutan

Advokasi ≠ Lobbying ≠ Edukasi

Advokasi vs Lobbying

Lobbying: Biasanya dilakukan oleh kelompok kepentingan tertentu; sering melibatkan insentif (uang, jabatan, akses); cenderung tertutup dan tidak transparan

Advokasi: Berbasis pada argumen publik yang dapat dipertanggungjawabkan; menggunakan data, bukti, dan cerita yang dapat diverifikasi; dilakukan secara terbuka dan transparan; tidak melibatkan imbalan personal

Garis abu-abu di Indonesia: Praktik advokasi dan lobbying sering bercampur. Konsultan Obginsos perlu menjaga integritas dengan berbasis pada argumen publik, bukan transaksi pribadi.

Advokasi vs Edukasi

Edukasi kesehatan: Menargetkan pengetahuan dan perilaku individu; mengasumikan bahwa jika orang tahu, mereka akan berubah

Advokasi: Menargetkan kebijakan dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi kesehatan; mengasumikan bahwa perubahan individual tidak cukup jika sistem tidak berubah

"Perempuan tidak bisa berperilaku sehat dalam lingkungan yang tidak sehat"

C.1.2. Spektrum Strategi Advokasi

Dari yang Paling Kooperatif ke Paling Konfrontatif

1
Inside Advocacy

Bekerja dari dalam sistem; berpartisipasi dalam proses kebijakan resmi; memberikan masukan teknis

2
Coalition Building

Membangun aliansi yang lebih luas; memperluas suara advokasi; memberikan legitimasi yang lebih kuat

3
Media Advocacy

Menggunakan media untuk menciptakan tekanan publik; framing isu sebagai masalah publik

4
Community Mobilization

Menggerakkan komunitas yang terdampak; suara dari "bawah" yang memberi legitimasi moral

5
Litigasi Strategis

Menggunakan jalur hukum; menuntut pemenuhan hak melalui pengadilan

Prinsip Pemilihan Strategi: Tidak ada strategi tunggal yang selalu tepat. Strategi yang terlalu kooperatif saat pembuat kebijakan tidak responsif: tidak efektif. Strategi yang terlalu konfrontatif sebelum waktunya: menutup akses dan memperburuk hubungan. Kunci: membaca konteks dan menyesuaikan strategi secara dinamis.


C.2. Analisis Kekuasaan dan Pemangku Kepentingan

C.2.1. Memahami Kekuasaan dalam Konteks Kebijakan

Dimensi 1 — Visible Power

Kekuasaan yang terlihat

  • Pengambilan keputusan formal: siapa yang memiliki otoritas untuk menyetujui anggaran, mengeluarkan regulasi, memutuskan kebijakan?
  • Pertanyaan: siapa yang ada di meja pengambilan keputusan?

Dimensi 2 — Hidden Power

Kekuasaan yang tersembunyi

  • Kontrol atas agenda: siapa yang menentukan isu apa yang dibahas dan mana yang tidak pernah dibahas?
  • Pertanyaan: mengapa beberapa isu tidak pernah masuk ke agenda kebijakan meskipun relevan?
  • Contoh: isu kekerasan obstetri jarang masuk agenda kebijakan formal meskipun data menunjukkan prevalensi tinggi

Dimensi 3 — Invisible Power

Kekuasaan yang tidak terlihat

  • Pembentukan keyakinan, nilai, dan persepsi tentang apa yang "normal" dan "mungkin"
  • Pertanyaan: siapa yang membentuk pandangan dunia yang menentukan apa yang dianggap masalah dan apa yang dianggap solusi?
  • Contoh: normalisasi kematian ibu sebagai "takdir" mencegah mobilisasi; framing kesehatan reproduksi sebagai "isu perempuan" bukan "isu pembangunan" membatasi anggaran

Implikasi untuk Advokasi

  • Advokasi yang hanya bekerja pada Dimensi 1 (melobi pengambil keputusan formal) sering gagal karena mengabaikan Dimensi 2 dan 3
  • Mengubah agenda (Dimensi 2) memerlukan media advocacy dan coalition building
  • Mengubah keyakinan yang mendasar (Dimensi 3) memerlukan narrative change yang jangka panjang — tetapi dampaknya paling berkelanjutan

C.2.2. Stakeholder Analysis: Kerangka dan Aplikasi

Definisi: Stakeholder analysis adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi semua pihak yang terdampak oleh atau memiliki kepentingan dalam isu yang diadvokasi, serta memahami posisi, kepentingan, dan pengaruh masing-masing.

Tiga Langkah Stakeholder Analysis

Langkah 1 — Identifikasi Stakeholder

Pertanyaan panduan:

  • Siapa yang membuat keputusan?
  • Siapa yang mengimplementasikan?
  • Siapa yang terdampak positif/negatif?
  • Siapa yang memiliki pengaruh informal yang signifikan?

Kategori dalam konteks KIA: Pemerintah, Sistem kesehatan, Komunitas, Masyarakat sipil, Donor/mitra

Langkah 2 — Analisis Posisi dan Kepentingan

Untuk setiap stakeholder, petakan:

  • Posisi terhadap isu: Mendukung kuat / Mendukung lemah / Netral / Menolak
  • Kepentingan dan motivasi: Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka takuti?
  • Pengaruh dan kekuasaan: Seberapa besar pengaruh mereka terhadap keputusan?

Matriks Power-Interest Visual

Pengaruh Tinggi × Kepentingan Tinggi
KEY PLAYERS
  • Investasi waktu dan energi terbesar
  • Harus dipahami secara mendalam
  • Strategi: engagement intensif, argumen sesuai kepentingan mereka
Pengaruh Tinggi × Kepentingan Rendah
KEEP SATISFIED
  • Potensial menjadi blocker jika merasa tidak dihargai
  • Strategi: jaga hubungan baik, informasikan perkembangan, hindari membuat mereka merasa dilewati
Pengaruh Rendah × Kepentingan Tinggi
KEEP INFORMED
  • Sering merupakan kelompok yang paling terdampak (ibu hamil, komunitas miskin)
  • Strategi: libatkan secara bermakna, jadikan suara mereka visible di hadapan key players
Pengaruh Rendah × Kepentingan Rendah
MONITOR
  • Jangan habiskan sumber daya untuk kelompok ini di tahap awal

C.2.3. Analisis Hambatan Advokasi

Hambatan Teknis

  • Kurang data atau bukti
  • Solusi tidak jelas atau tidak terbukti berhasil
  • Kapasitas implementasi yang terbatas
Respons: Perkuat basis bukti, tunjukkan contoh keberhasilan, bangun kapasitas

Hambatan Politik

  • Tidak ada political will
  • Kepentingan yang berkonflik
  • Tidak ada momentum politis
Respons: Bangun political will melalui advocacy dan coalition, ciptakan atau tunggu windows of opportunity

Hambatan Finansial

  • Tidak ada anggaran
  • Kompetisi dengan prioritas yang lain
  • Siklus anggaran yang tidak selaras dengan timing advokasi
Respons: Tunjukkan cost-benefit, masukkan dalam perencanaan anggaran yang tepat, cari alternatif sumber pembiayaan

Hambatan yang Sering Tidak Terlihat

  • Institutional Inertia: "Kita selalu melakukan ini dengan cara ini" — Perubahan mengganggu rutinitas dan keseimbangan kekuasaan yang sudah ada. Respons: bangun koalisi dari dalam birokrasi; jadikan perubahan sebagai "kelanjutan" bukan "penggantian"
  • Fear of Accountability: Program baru berarti target baru dan risiko gagal — Pejabat cenderung menghindari komitmen yang dapat menjadi bukti kegagalan. Respons: bingkai sebagai "uji coba" atau "pilot project" yang memberikan ruang untuk belajar
  • Distribusi Kepentingan yang Tidak Merata: Kematian ibu berdampak pada komunitas yang paling miskin dan paling tidak bersuara — Mereka yang terdampak paling sedikit memiliki kekuasaan paling besar. Respons: buat dampak visible; mobilisasi suara yang sebelumnya tidak terdengar

C.3. Siklus Kebijakan dan Titik Masuk Advokasi

C.3.1. Memahami Siklus Kebijakan

Model Siklus Kebijakan (Howlett & Ramesh, 1995)

1
Agenda Setting

Isu masuk ke radar pembuat kebijakan. Titik masuk: framing isu sebagai masalah publik

2
Policy Formulation

Opsi kebijakan dikembangkan. Titik masuk: berpartisipasi dalam konsultasi, sediakan data teknis

3
Decision Making

Keputusan kebijakan dibuat. Titik masuk: pastikan suara yang tepat ada di ruangan

4
Implementation

Kebijakan dijalankan. Titik masuk: pantau implementasi, dukung kapasitas pelaksana

5
Evaluation

Kebijakan dievaluasi. Titik masuk: pastikan evaluasi berbasis bukti

Prinsip Penting: Advokasi yang efektif bekerja di semua tahap siklus, bukan hanya di tahap pengambilan keputusan. Agenda setting yang gagal: isu tidak pernah dibahas. Policy formulation tanpa advokasi: kebijakan kurang tepat sasaran. Implementation tanpa monitoring: kebijakan tidak terlaksana. Evaluation yang lemah: pembelajaran tidak diintegrasikan.

C.3.2. Windows of Opportunity

Konsep "Windows of Opportunity" (Kingdon, 1984): Kebijakan berubah ketika tiga arus bertemu secara bersamaan:

  • Arus 1 — Problems: Isu diakui sebagai masalah yang memerlukan perhatian (indikator: data, peristiwa dramatis, umpan balik program)
  • Arus 2 — Policies: Solusi yang feasible tersedia (solusi yang sudah siap, sudah teruji, dan sudah dapat diimplementasikan)
  • Arus 3 — Politics: Kondisi politik mendukung (pergantian kepemimpinan, momentum elektoral, tekanan publik, dukungan koalisi)

Ketika ketiga arus ini bertemu: "Policy window" terbuka — Inilah saat yang paling tepat untuk mendorong perubahan. Windows sering tidak berlangsung lama.

Implikasi untuk Advokasi

  • Advokasi yang efektif mempersiapkan diri di semua tiga arus secara bersamaan: mendokumentasikan masalah, mengembangkan solusi yang siap pakai, dan membangun dukungan politik
  • Saat window terbuka, semua elemen sudah siap
  • "Luck favors the prepared advocate"

Windows of Opportunity yang Umum Terjadi: Pergantian Bupati/Wali Kota atau Kepala Dinas; Kejadian kematian ibu yang mendapat perhatian media; Kunjungan pejabat dari pusat atau evaluasi program nasional; Siklus perencanaan dan penganggaran daerah (Musrenbang); Hari peringatan: Hari Ibu, Hari Kesehatan Nasional, Safe Motherhood Day


C.4. Membangun Koalisi dan Aliansi

C.4.1. Mengapa Koalisi Penting

Legitimasi

  • Satu suara bisa diabaikan; suara banyak pihak lebih sulit diabaikan
  • Koalisi yang beragam (akademisi + komunitas + tenaga kesehatan) memberikan legitimasi yang lebih kuat

Kapasitas

  • Setiap anggota membawa sumber daya yang berbeda: data, akses, jaringan, media, suara komunitas
  • Bersama lebih mampu dari sendiri

Prinsip Membangun Koalisi

  1. Mulai dari yang sudah allied: Jangan habiskan energi awal untuk meyakinkan yang menolak. Konsolidasi dan perkuat yang sudah mendukung terlebih dahulu
  2. Cari common ground: Mitra koalisi tidak harus memiliki motivasi yang sama. Yang dibutuhkan: kepentingan yang cukup overlap untuk bekerja sama pada isu spesifik ini. Koalisi pragmatis lebih stabil dari koalisi ideologis
  3. Kelola perbedaan internal: Koalisi yang kuat bukan koalisi yang tidak punya perbedaan — tetapi yang punya mekanisme untuk mengelola perbedaan secara produktif
  4. Tentukan kepemimpinan yang jelas: Siapa yang berbicara mewakili koalisi? Bagaimana keputusan dibuat? Bagaimana kredit dibagi?

C.4.2. Tipe-Tipe Mitra Advokasi

Mitra dari Komunitas Kesehatan

Organisasi profesi (POGI, IBI):

  • Kekuatan: legitimasi teknis dan klinis yang kuat; jaringan nasional
  • Tantangan: cenderung konservatif; proses internal yang lambat; kepentingan profesional yang tidak selalu selaras

Akademisi dan peneliti:

  • Kekuatan: legitimasi berdasarkan bukti; independen dari kepentingan politik
  • Tantangan: komunikasi yang sering terlalu teknis; proses riset yang lambat dibanding kebutuhan advokasi

Mitra dari Masyarakat Sipil

LSM kesehatan:

  • Kekuatan: akar rumput dan kedekatan dengan komunitas terdampak; pengalaman advokasi
  • Tantangan: kapasitas bervariasi; kepentingan donor yang kadang mempengaruhi agenda

Kelompok perempuan:

  • Kekuatan: legitimasi moral; suara langsung dari yang terdampak
  • Tantangan: sering tidak memiliki akses ke ruang kebijakan formal

Media:

  • Kekuatan: amplifikasi pesan; menciptakan tekanan publik; akuntabilitas
  • Tantangan: agenda media tidak selalu sejalan; berita buruk lebih "menarik" dari pencapaian

Mitra yang Tidak Terduga

Sektor swasta: Rumah sakit swasta, apotek, industri farmasi kadang memiliki kepentingan yang sejalan. Hati-hati: kepentingan bisnis dapat mengkontaminasi agenda advokasi kesehatan publik

Tokoh agama: Otoritas moral yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Dapat menjadi penggerak perubahan norma yang paling efektif di komunitas tertentu. Harus diajak berdialog, bukan hanya direkrut sebagai endorser


C.5. Membangun Argumen Advokasi yang Kuat

C.5.1. Anatomi Argumen Advokasi

1. Problem Framing

Mendefinisikan masalah dengan cara yang menuntut respons

2. Evidence

Data dan bukti yang mendukung problem framing dan solusi

3. Solution Proposition

Tindakan konkret yang diusulkan: spesifik, feasible, proven, time-bound

4. Call to Action

Permintaan yang jelas kepada audience untuk melakukan sesuatu yang spesifik

Contoh Problem Framing yang Efektif

Framing teknis: "Angka kematian ibu kabupaten ini 312 per 100.000 KH, di atas rata-rata nasional 189." → Memerlukan audience yang sudah memahami konteks dan termotivasi untuk bertindak

Framing moral: "Di kabupaten ini, seorang ibu meninggal setiap 10 hari — bukan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tetapi karena tidak ada ambulans yang tersedia saat ia membutuhkan." → Membuat masalah personal dan menuntut respons moral

Framing kepentingan publik: "Kabupaten kita tertinggal dari rata-rata nasional. Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan — ini juga berpengaruh pada indeks pembangunan manusia dan reputasi kita sebagai daerah yang peduli warga." → Menyentuh kepentingan reputasi dan prestasi

C.5.2. Framing dan Narrative

Mengapa Framing Penting: Fakta yang sama dapat dibingkai berbeda dengan dampak persuasif yang sangat berbeda.

Kekuatan Narasi (Storytelling)

Mengapa cerita lebih efektif dari data:

  • Otak manusia diprogram untuk merespons cerita, bukan statistik
  • Cerita menciptakan empati dan koneksi emosional
  • Cerita mudah diingat dan disebarkan
  • Cerita membuat masalah abstrak menjadi konkret

Prinsip cerita yang efektif untuk advokasi:

  • Satu karakter yang spesifik (bukan "perempuan Indonesia")
  • Hambatan yang jelas (sistem yang gagal, bukan nasib yang tidak bisa diubah)
  • Outcome yang terhubung dengan tindakan yang diusulkan
  • Narasi perubahan yang mungkin (ini bisa berubah jika...)

Etika penggunaan cerita: Mendapat persetujuan dari orang yang ceritanya digunakan; Tidak mengeksploitasi penderitaan untuk efek dramatis; Representasi yang bermartabat; Akurasi: jangan distorsi fakta demi dampak emosional

PERTANYAAN DISKUSI

Pertanyaan 1: Analisis Kekuasaan dalam Kasus Dr. Fajar Kembali ke kasus Dr. Fajar dan masalah ambulans rujukan yang tidak kunjung berhasil diadvokasi. Menggunakan kerangka analisis kekuasaan tiga dimensi (Lukes), analisis mengapa proposal teknis yang lengkap dan data yang kuat tidak cukup untuk menggerakkan perubahan kebijakan ini. Identifikasikan secara spesifik: di dimensi mana kekuasaan yang paling beroperasi untuk menghambat perubahan ini, dan apa yang perlu dilakukan Dr. Fajar untuk bekerja di dimensi tersebut.
Pertanyaan 2: Stakeholder Analysis untuk Lombok Timur Anda baru ditunjuk sebagai koordinator advokasi untuk menurunkan AKI di Kabupaten Lombok Timur, NTB. Data menunjukkan bahwa hambatan utama adalah keputusan suami dan mertua yang terlambat mengizinkan rujukan. Petakan stakeholder yang relevan menggunakan matriks power-interest, dan rancang strategi engagement yang berbeda untuk minimal tiga kelompok stakeholder yang paling kritis. Sertakan argumen mengapa strategi yang Anda pilih untuk masing-masing kelompok lebih tepat dari alternatifnya.

RANGKUMAN

  1. Advokasi kesehatan adalah proses sistematis untuk mendapatkan komitmen politis, dukungan kebijakan, dan penerimaan sosial — ia berbeda dari edukasi (yang menyasar individu) dan lobbying (yang bergantung pada transaksi); konsultan Obginsos yang efektif harus mampu bergerak dalam spektrum strategi advokasi dari inside advocacy hingga mobilisasi komunitas, dengan pemilihan strategi yang didasarkan pada pembacaan konteks yang cermat
  2. Kekuasaan bekerja dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi — kekuasaan yang terlihat (pengambilan keputusan formal), kekuasaan yang tersembunyi (kontrol atas agenda), dan kekuasaan yang tidak terlihat (pembentukan keyakinan dan persepsi) — dan advokasi yang hanya bekerja pada dimensi pertama hampir selalu gagal menghasilkan perubahan yang berkelanjutan
  3. Stakeholder analysis yang sistematis adalah fondasi dari strategi advokasi yang efektif: memetakan siapa yang memiliki pengaruh, apa kepentingan mereka, dan di mana posisi mereka terhadap isu yang diadvokasi memungkinkan pengalokasian sumber daya advokasi pada titik yang paling strategis dan pengembangan pesan yang beresonansi dengan masing-masing kelompok
  4. Siklus kebijakan memiliki beberapa titik masuk yang berbeda, dan windows of opportunity — ketika arus masalah, solusi, dan politik bertemu — adalah momen yang harus dimanfaatkan oleh advokat yang sudah mempersiapkan diri; advokasi yang efektif bekerja di semua tahap siklus dan mempersiapkan semua elemen sebelum window terbuka
  5. Argumen advokasi yang kuat menggabungkan problem framing yang tepat, bukti yang kuat, solusi yang spesifik dan feasible, serta call to action yang jelas — dan narasi yang menghidupkan angka dengan cerita yang konkret dan bermartabat sering lebih efektif dari data statistik yang paling akurat, karena manusia merespons cerita dengan cara yang berbeda dari cara mereka merespons angka
TUGAS PERSONAL 1 — SESI 1 (MINGGU 2)
Jenis TugasTugas Personal Pertama — Sesi 1
MingguMinggu ke-2
MateriModul 1 (Komunikasi Kesehatan) + Modul 2 (Advokasi Kesehatan)
Bobot Nilai10% dari nilai akhir mata kuliah
SifatIndividual — dikerjakan sendiri
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-2 (7 hari sejak tugas dibuka)
FormatEsai analitik dan produk komunikasi — Word/PDF
Panjang900–1.400 kata (tidak termasuk referensi)
ReferensiMinimal 4 referensi dalam format Vancouver

Petunjuk Pengerjaan

Skenario: "Angka yang Tidak Bergerak"

Dr. Wulan, SpOG., Subsp.Obginsos.

baru delapan bulan menjabat sebagai Kepala Seksi Kesehatan Keluarga di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah — salah satu kabupaten yang terdampak berat pascagempa 2018 dan masih dalam proses pemulihan sistem kesehatan.

AKI Kabupaten Sigi: 287 per 100.000 kelahiran hidup. Data Dr. Wulan menunjukkan bahwa 71% kematian ibu terjadi di desa-desa pegunungan yang jaraknya 2–5 jam dari RSUD, dan hampir semua kematian melibatkan keterlambatan pertama: keluarga tidak segera memutuskan mencari pertolongan karena tiga alasan utama yang berulang dalam Verbal Autopsy — "tidak tahu bahaya", "nunggu keputusan suami", dan "tidak ada uang untuk transportasi".

Dr. Wulan sudah memiliki data yang kuat. Ia sudah mengidentifikasi tiga intervensi yang terbukti efektif di kabupaten lain: (1) pelatihan kader deteksi dini tanda bahaya bagi 180 desa; (2) pembentukan Dasawisma Siaga yang memberdayakan kelompok 10 ibu per RT sebagai sistem deteksi komunitas; dan (3) dana sosial desa untuk transport rujukan darurat yang bersumber dari APBDes.

Tiga Audience dengan Kebutuhan Berbeda

  • Audience A — Bupati Sigi: Pejabat karier yang baru terpilih, berlatar belakang birokrat, fokus pada pemulihan pascagempa dan infrastruktur. Selama ini belum pernah menyebut kesehatan ibu sebagai prioritas dalam pidato-pidato publiknya. Tersedia untuk pertemuan tidak lebih dari 30 menit, dan hanya jika ada janji sebelumnya melalui sekretaris.
  • Audience B — Bidan Koordinator Kecamatan (12 orang): Tenaga lapangan yang sangat sibuk, sebagian besar sudah bekerja lebih dari 10 tahun di daerah tersebut. Mereka tahu masalahnya, tetapi sebagian merasa "sudah sering dilaporkan tetapi tidak ada yang berubah" — ada fatigue dan skeptisisme terhadap program baru dari Dinas. Mereka bertemu dalam koordinasi bulanan.
  • Audience C — Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat: Kelompok heterogen: ada kepala desa yang aktif, ada yang pasif; ada tokoh agama yang berpengaruh, ada ketua adat. Sebagian tidak memahami bahasa statistik. Sebagian memiliki persepsi bahwa "kematian ibu adalah takdir" atau bahwa "bidan sudah cukup menangani."

Pertanyaan

Bagian 1 — Analisis Komunikasi dan Advokasi Terpadu (50%)

  1. Gunakan model komunikasi ekologis (McLeroy) untuk memetakan di level mana hambatan utama penurunan AKI di Kabupaten Sigi berada — untuk setiap level (individual, interpersonal, komunitas/organisasi, kebijakan), identifikasikan hambatan spesifik yang dapat diinferensikan dari skenario; kemudian argumentasikan level mana yang paling kritis untuk disasar terlebih dahulu dan mengapa
  2. Lakukan stakeholder analysis untuk ketiga audience Dr. Wulan (Bupati, Bidan Koordinator, Kepala Desa/Tokoh Masyarakat) menggunakan matriks power-interest — tempatkan masing-masing dalam kuadran yang tepat dan justifikasikan; kemudian tentukan prioritas engagement berdasarkan analisis tersebut dan jelaskan logika di balik prioritas Anda
  3. Identifikasikan satu "window of opportunity" yang paling mungkin tersedia untuk Dr. Wulan dalam enam bulan ke depan (berdasarkan konteks skenario dan pengetahuan umum tentang siklus kebijakan daerah) — dan jelaskan bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk memanfaatkan window tersebut

Bagian 2 — Produk Komunikasi untuk Dua Audience (35%)

Pilih dua dari tiga audience yang Anda nilai paling kritis berdasarkan analisis Bagian 1, dan buat produk komunikasi yang konkret untuk masing-masing:

  1. Untuk audience pertama yang Anda pilih: tulis pesan kunci beserta tiga supporting points (total 150–200 kata) — pesan yang dirancang khusus untuk apa yang audience ini pedulikan, menggunakan framing yang tepat; sertakan satu kalimat "call to action" yang spesifik
  2. Untuk audience kedua yang Anda pilih: tulis pembukaan percakapan atau pertemuan (150–200 kata narasi) — bukan presentasi formal, tetapi cara Dr. Wulan membuka dialog yang mengatasi skeptisisme atau kesalahpahaman yang ada, sambil membangun kepercayaan dan engagement yang genuine

Bagian 3 — Refleksi Personal (15%)

Dalam konteks pekerjaan atau pengalaman Anda sendiri — sebagai dokter, tenaga kesehatan, atau pemerhati sistem kesehatan di daerah Anda:

  1. Identifikasikan satu contoh kegagalan komunikasi atau advokasi kesehatan yang pernah Anda alami atau saksikan secara langsung — di mana data atau argumen yang baik tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan; apa yang Anda analisis sebagai penyebab utama kegagalan tersebut menggunakan kerangka dari modul ini?
  2. Berdasarkan pembelajaran dari kedua modul dan refleksi atas pengalaman tersebut, satu hal apa yang akan Anda lakukan berbeda dalam advokasi atau komunikasi kesehatan Anda ke depan — dan mengapa Anda yakin perubahan ini akan membuat perbedaan?

Rubrik Penilaian

Bagian Komponen Penilaian Utama Bobot
1a Ketepatan aplikasi model ekologis; kelengkapan identifikasi hambatan per level; koherensi argumen prioritas 15%
1b Ketepatan penempatan dalam matriks power-interest beserta justifikasi; logika prioritas engagement 20%
1c Identifikasi window yang realistis dan kontekstual; kelengkapan strategi persiapan 15%
2a Ketepatan framing untuk audience; relevansi supporting points; spesifisitas call to action 17%
2b Kemampuan membuka dialog yang mengatasi hambatan; kualitas narasi yang natural dan realistis 18%
3 Kejujuran dan kedalaman refleksi; ketepatan analisis kegagalan menggunakan kerangka modul; kekonkretan komitmen perubahan 15%

Referensi Minimal yang Disarankan

  1. McLeroy KR, et al. An ecological perspective on health promotion programs. Health Educ Q. 1988;15(4):351-377.
  2. Lukes S. Power: A Radical View. 2nd ed. London: Palgrave Macmillan; 2005.
  3. Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
  4. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.

REFERENSI

  1. Lukes S. Power: A Radical View. 2nd ed. London: Palgrave Macmillan; 2005.
  2. Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
  3. Howlett M, Ramesh M, Perl A. Studying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystems. 3rd ed. Toronto: Oxford University Press; 2009.
  4. Chapman S. Public Health Advocacy and Tobacco Control: Making Smoking History. Oxford: Blackwell; 2007.
  5. Buse K, Mays N, Walt G. Making Health Policy. 2nd ed. Maidenhead: Open University Press; 2012.
  6. Cohen D, de la Vega R, Watson G. Advocacy for Social Justice: A Global Action and Reflection Guide. Bloomfield: Kumarian Press; 2001.
  7. WHO. Advocacy, Communication and Social Mobilization for TB Control: A Guide to Developing Knowledge, Attitude and Practice Surveys. Geneva: WHO; 2008. https://www.who.int/publications
  8. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives: a framework and case study of maternal mortality. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61579-7
  9. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020–2024. Jakarta: Kemenkes; 2020. https://www.kemkes.go.id
  10. UNFPA Indonesia. Advocacy Brief: Maternal Mortality in Eastern Indonesia. Jakarta: UNFPA; 2022. https://indonesia.unfpa.org