DESKRIPSI MODUL
sudah enam bulan bertugas sebagai staf ahli di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia menghadapi sebuah masalah yang terasa sederhana secara teknis tetapi sangat kompleks secara politis.
Selama ini, ambulans rujukan obstetri dari Puskesmas ke RSUD di kabupaten-kabupaten terpencil menggunakan sistem "bayar dulu, klaim kemudian" — keluarga pasien membayar biaya perjalanan, lalu mengklaim ke JKN atau pemerintah daerah. Dalam praktiknya, klaim sering tidak berhasil karena prosedur administrasi yang rumit, dan keluarga pasien akhirnya menanggung biaya sendiri. Akibatnya, banyak ibu hamil berisiko tinggi tidak dirujuk tepat waktu karena keluarga tidak punya uang untuk membayar ambulans di muka.
Solusinya jelas secara teknis: ubah sistem menjadi "ambulans gratis, tidak perlu bayar di muka." Ini bukan ide baru — sudah ada di beberapa kabupaten lain sebagai program PONED-PONEK yang didanai APBD.
Tetapi setelah enam bulan advokasi, tidak ada yang berubah. Dr. Fajar sudah bertemu Kepala Dinas dua kali. Sudah menulis proposal tiga puluh halaman. Sudah mempresentasikan data kematian ibu yang terkait dengan keterlambatan rujukan. Hasilnya: "Masukkan dalam perencanaan tahun depan."
Pelajaran dari kolega Dr. Fajar adalah inti dari modul ini: advokasi adalah seni dan ilmu bekerja dalam medan kekuasaan. Ia memerlukan pemahaman tentang siapa yang mengambil keputusan, apa yang menggerakkan mereka, bagaimana sistem kekuasaan bekerja, dan di mana titik-titik leverage yang paling efektif untuk mendorong perubahan.
Modul ini membangun kompetensi advokasi yang strategis — melampaui kemampuan membuat proposal yang baik, menuju kemampuan membaca lanskap kekuasaan dan bergerak di dalamnya dengan cermat.
Advokasi Kesehatan: Data × Strategi × Kekuasaan = Perubahan Kebijakan
Proposal yang lengkap tidak cukup — yang menggerakkan kebijakan adalah pemahaman tentang siapa yang berkuasa dan apa yang menggerakkan mereka
CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- 1 Menjelaskan definisi advokasi kesehatan dan membedakannya dari komunikasi informasional dan lobbying
- 2 Menganalisis lanskap kekuasaan dan pemangku kepentingan dalam konteks kebijakan kesehatan reproduksi
- 3 Menggunakan kerangka stakeholder analysis untuk memetakan aktor, kepentingan, dan strategi engagement yang tepat
- 4 Mengidentifikasi titik-titik leverage yang paling efektif dalam siklus kebijakan
- 5 Merancang strategi advokasi yang berbasis pada analisis kekuasaan yang realistis
MATERI INTI
C.1. Advokasi Kesehatan: Definisi dan Prinsip
C.1.1. Apa Itu Advokasi Kesehatan
Definisi WHO (1984): "Advokasi adalah kombinasi dari tindakan sosial dan politik yang dirancang untuk mendapatkan komitmen politis, dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan sistem yang kondusif untuk tujuan atau program kesehatan."
Tiga Komponen Kunci
Political Commitment
Kesediaan pemimpin politik untuk memprioritaskan isu tersebut
- Bukan hanya "setuju secara verbal" tetapi komitmen yang diwujudkan dalam anggaran, kebijakan, dan tindakan nyata
- Political commitment tanpa sumber daya = lip service
Policy Support
Kebijakan yang secara eksplisit mendukung tujuan yang diadvokasi
- Regulasi, peraturan daerah, pedoman nasional yang konkret
- Tanpa policy support, program bergantung pada individu dan tidak berkelanjutan
Advokasi ≠ Lobbying ≠ Edukasi
Advokasi vs Lobbying
Lobbying: Biasanya dilakukan oleh kelompok kepentingan tertentu; sering melibatkan insentif (uang, jabatan, akses); cenderung tertutup dan tidak transparan
Advokasi: Berbasis pada argumen publik yang dapat dipertanggungjawabkan; menggunakan data, bukti, dan cerita yang dapat diverifikasi; dilakukan secara terbuka dan transparan; tidak melibatkan imbalan personal
Garis abu-abu di Indonesia: Praktik advokasi dan lobbying sering bercampur. Konsultan Obginsos perlu menjaga integritas dengan berbasis pada argumen publik, bukan transaksi pribadi.
Advokasi vs Edukasi
Edukasi kesehatan: Menargetkan pengetahuan dan perilaku individu; mengasumikan bahwa jika orang tahu, mereka akan berubah
Advokasi: Menargetkan kebijakan dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi kesehatan; mengasumikan bahwa perubahan individual tidak cukup jika sistem tidak berubah
"Perempuan tidak bisa berperilaku sehat dalam lingkungan yang tidak sehat"
C.1.2. Spektrum Strategi Advokasi
Dari yang Paling Kooperatif ke Paling Konfrontatif
Inside Advocacy
Bekerja dari dalam sistem; berpartisipasi dalam proses kebijakan resmi; memberikan masukan teknis
Coalition Building
Membangun aliansi yang lebih luas; memperluas suara advokasi; memberikan legitimasi yang lebih kuat
Media Advocacy
Menggunakan media untuk menciptakan tekanan publik; framing isu sebagai masalah publik
Community Mobilization
Menggerakkan komunitas yang terdampak; suara dari "bawah" yang memberi legitimasi moral
Litigasi Strategis
Menggunakan jalur hukum; menuntut pemenuhan hak melalui pengadilan
Prinsip Pemilihan Strategi: Tidak ada strategi tunggal yang selalu tepat. Strategi yang terlalu kooperatif saat pembuat kebijakan tidak responsif: tidak efektif. Strategi yang terlalu konfrontatif sebelum waktunya: menutup akses dan memperburuk hubungan. Kunci: membaca konteks dan menyesuaikan strategi secara dinamis.
C.2. Analisis Kekuasaan dan Pemangku Kepentingan
C.2.1. Memahami Kekuasaan dalam Konteks Kebijakan
Dimensi 1 — Visible Power
Kekuasaan yang terlihat
- Pengambilan keputusan formal: siapa yang memiliki otoritas untuk menyetujui anggaran, mengeluarkan regulasi, memutuskan kebijakan?
- Pertanyaan: siapa yang ada di meja pengambilan keputusan?
Dimensi 2 — Hidden Power
Kekuasaan yang tersembunyi
- Kontrol atas agenda: siapa yang menentukan isu apa yang dibahas dan mana yang tidak pernah dibahas?
- Pertanyaan: mengapa beberapa isu tidak pernah masuk ke agenda kebijakan meskipun relevan?
- Contoh: isu kekerasan obstetri jarang masuk agenda kebijakan formal meskipun data menunjukkan prevalensi tinggi
Dimensi 3 — Invisible Power
Kekuasaan yang tidak terlihat
- Pembentukan keyakinan, nilai, dan persepsi tentang apa yang "normal" dan "mungkin"
- Pertanyaan: siapa yang membentuk pandangan dunia yang menentukan apa yang dianggap masalah dan apa yang dianggap solusi?
- Contoh: normalisasi kematian ibu sebagai "takdir" mencegah mobilisasi; framing kesehatan reproduksi sebagai "isu perempuan" bukan "isu pembangunan" membatasi anggaran
Implikasi untuk Advokasi
- Advokasi yang hanya bekerja pada Dimensi 1 (melobi pengambil keputusan formal) sering gagal karena mengabaikan Dimensi 2 dan 3
- Mengubah agenda (Dimensi 2) memerlukan media advocacy dan coalition building
- Mengubah keyakinan yang mendasar (Dimensi 3) memerlukan narrative change yang jangka panjang — tetapi dampaknya paling berkelanjutan
C.2.2. Stakeholder Analysis: Kerangka dan Aplikasi
Definisi: Stakeholder analysis adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi semua pihak yang terdampak oleh atau memiliki kepentingan dalam isu yang diadvokasi, serta memahami posisi, kepentingan, dan pengaruh masing-masing.
Tiga Langkah Stakeholder Analysis
Langkah 1 — Identifikasi Stakeholder
Pertanyaan panduan:
- Siapa yang membuat keputusan?
- Siapa yang mengimplementasikan?
- Siapa yang terdampak positif/negatif?
- Siapa yang memiliki pengaruh informal yang signifikan?
Kategori dalam konteks KIA: Pemerintah, Sistem kesehatan, Komunitas, Masyarakat sipil, Donor/mitra
Langkah 2 — Analisis Posisi dan Kepentingan
Untuk setiap stakeholder, petakan:
- Posisi terhadap isu: Mendukung kuat / Mendukung lemah / Netral / Menolak
- Kepentingan dan motivasi: Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka takuti?
- Pengaruh dan kekuasaan: Seberapa besar pengaruh mereka terhadap keputusan?
Matriks Power-Interest Visual
KEY PLAYERS
- Investasi waktu dan energi terbesar
- Harus dipahami secara mendalam
- Strategi: engagement intensif, argumen sesuai kepentingan mereka
KEEP SATISFIED
- Potensial menjadi blocker jika merasa tidak dihargai
- Strategi: jaga hubungan baik, informasikan perkembangan, hindari membuat mereka merasa dilewati
KEEP INFORMED
- Sering merupakan kelompok yang paling terdampak (ibu hamil, komunitas miskin)
- Strategi: libatkan secara bermakna, jadikan suara mereka visible di hadapan key players
MONITOR
- Jangan habiskan sumber daya untuk kelompok ini di tahap awal
C.2.3. Analisis Hambatan Advokasi
Hambatan yang Sering Tidak Terlihat
- Institutional Inertia: "Kita selalu melakukan ini dengan cara ini" — Perubahan mengganggu rutinitas dan keseimbangan kekuasaan yang sudah ada. Respons: bangun koalisi dari dalam birokrasi; jadikan perubahan sebagai "kelanjutan" bukan "penggantian"
- Fear of Accountability: Program baru berarti target baru dan risiko gagal — Pejabat cenderung menghindari komitmen yang dapat menjadi bukti kegagalan. Respons: bingkai sebagai "uji coba" atau "pilot project" yang memberikan ruang untuk belajar
- Distribusi Kepentingan yang Tidak Merata: Kematian ibu berdampak pada komunitas yang paling miskin dan paling tidak bersuara — Mereka yang terdampak paling sedikit memiliki kekuasaan paling besar. Respons: buat dampak visible; mobilisasi suara yang sebelumnya tidak terdengar
C.3. Siklus Kebijakan dan Titik Masuk Advokasi
C.3.1. Memahami Siklus Kebijakan
Model Siklus Kebijakan (Howlett & Ramesh, 1995)
Agenda Setting
Isu masuk ke radar pembuat kebijakan. Titik masuk: framing isu sebagai masalah publik
Policy Formulation
Opsi kebijakan dikembangkan. Titik masuk: berpartisipasi dalam konsultasi, sediakan data teknis
Decision Making
Keputusan kebijakan dibuat. Titik masuk: pastikan suara yang tepat ada di ruangan
Implementation
Kebijakan dijalankan. Titik masuk: pantau implementasi, dukung kapasitas pelaksana
Evaluation
Kebijakan dievaluasi. Titik masuk: pastikan evaluasi berbasis bukti
Prinsip Penting: Advokasi yang efektif bekerja di semua tahap siklus, bukan hanya di tahap pengambilan keputusan. Agenda setting yang gagal: isu tidak pernah dibahas. Policy formulation tanpa advokasi: kebijakan kurang tepat sasaran. Implementation tanpa monitoring: kebijakan tidak terlaksana. Evaluation yang lemah: pembelajaran tidak diintegrasikan.
C.3.2. Windows of Opportunity
Konsep "Windows of Opportunity" (Kingdon, 1984): Kebijakan berubah ketika tiga arus bertemu secara bersamaan:
- Arus 1 — Problems: Isu diakui sebagai masalah yang memerlukan perhatian (indikator: data, peristiwa dramatis, umpan balik program)
- Arus 2 — Policies: Solusi yang feasible tersedia (solusi yang sudah siap, sudah teruji, dan sudah dapat diimplementasikan)
- Arus 3 — Politics: Kondisi politik mendukung (pergantian kepemimpinan, momentum elektoral, tekanan publik, dukungan koalisi)
Ketika ketiga arus ini bertemu: "Policy window" terbuka — Inilah saat yang paling tepat untuk mendorong perubahan. Windows sering tidak berlangsung lama.
Implikasi untuk Advokasi
- Advokasi yang efektif mempersiapkan diri di semua tiga arus secara bersamaan: mendokumentasikan masalah, mengembangkan solusi yang siap pakai, dan membangun dukungan politik
- Saat window terbuka, semua elemen sudah siap
- "Luck favors the prepared advocate"
Windows of Opportunity yang Umum Terjadi: Pergantian Bupati/Wali Kota atau Kepala Dinas; Kejadian kematian ibu yang mendapat perhatian media; Kunjungan pejabat dari pusat atau evaluasi program nasional; Siklus perencanaan dan penganggaran daerah (Musrenbang); Hari peringatan: Hari Ibu, Hari Kesehatan Nasional, Safe Motherhood Day
C.4. Membangun Koalisi dan Aliansi
C.4.1. Mengapa Koalisi Penting
Legitimasi
- Satu suara bisa diabaikan; suara banyak pihak lebih sulit diabaikan
- Koalisi yang beragam (akademisi + komunitas + tenaga kesehatan) memberikan legitimasi yang lebih kuat
Kapasitas
- Setiap anggota membawa sumber daya yang berbeda: data, akses, jaringan, media, suara komunitas
- Bersama lebih mampu dari sendiri
Prinsip Membangun Koalisi
- Mulai dari yang sudah allied: Jangan habiskan energi awal untuk meyakinkan yang menolak. Konsolidasi dan perkuat yang sudah mendukung terlebih dahulu
- Cari common ground: Mitra koalisi tidak harus memiliki motivasi yang sama. Yang dibutuhkan: kepentingan yang cukup overlap untuk bekerja sama pada isu spesifik ini. Koalisi pragmatis lebih stabil dari koalisi ideologis
- Kelola perbedaan internal: Koalisi yang kuat bukan koalisi yang tidak punya perbedaan — tetapi yang punya mekanisme untuk mengelola perbedaan secara produktif
- Tentukan kepemimpinan yang jelas: Siapa yang berbicara mewakili koalisi? Bagaimana keputusan dibuat? Bagaimana kredit dibagi?
C.4.2. Tipe-Tipe Mitra Advokasi
Mitra dari Komunitas Kesehatan
Organisasi profesi (POGI, IBI):
- Kekuatan: legitimasi teknis dan klinis yang kuat; jaringan nasional
- Tantangan: cenderung konservatif; proses internal yang lambat; kepentingan profesional yang tidak selalu selaras
Akademisi dan peneliti:
- Kekuatan: legitimasi berdasarkan bukti; independen dari kepentingan politik
- Tantangan: komunikasi yang sering terlalu teknis; proses riset yang lambat dibanding kebutuhan advokasi
Mitra dari Masyarakat Sipil
LSM kesehatan:
- Kekuatan: akar rumput dan kedekatan dengan komunitas terdampak; pengalaman advokasi
- Tantangan: kapasitas bervariasi; kepentingan donor yang kadang mempengaruhi agenda
Kelompok perempuan:
- Kekuatan: legitimasi moral; suara langsung dari yang terdampak
- Tantangan: sering tidak memiliki akses ke ruang kebijakan formal
Media:
- Kekuatan: amplifikasi pesan; menciptakan tekanan publik; akuntabilitas
- Tantangan: agenda media tidak selalu sejalan; berita buruk lebih "menarik" dari pencapaian
Mitra yang Tidak Terduga
Sektor swasta: Rumah sakit swasta, apotek, industri farmasi kadang memiliki kepentingan yang sejalan. Hati-hati: kepentingan bisnis dapat mengkontaminasi agenda advokasi kesehatan publik
Tokoh agama: Otoritas moral yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Dapat menjadi penggerak perubahan norma yang paling efektif di komunitas tertentu. Harus diajak berdialog, bukan hanya direkrut sebagai endorser
C.5. Membangun Argumen Advokasi yang Kuat
C.5.1. Anatomi Argumen Advokasi
1. Problem Framing
Mendefinisikan masalah dengan cara yang menuntut respons
2. Evidence
Data dan bukti yang mendukung problem framing dan solusi
3. Solution Proposition
Tindakan konkret yang diusulkan: spesifik, feasible, proven, time-bound
4. Call to Action
Permintaan yang jelas kepada audience untuk melakukan sesuatu yang spesifik
Contoh Problem Framing yang Efektif
Framing teknis: "Angka kematian ibu kabupaten ini 312 per 100.000 KH, di atas rata-rata nasional 189." → Memerlukan audience yang sudah memahami konteks dan termotivasi untuk bertindak
Framing moral: "Di kabupaten ini, seorang ibu meninggal setiap 10 hari — bukan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tetapi karena tidak ada ambulans yang tersedia saat ia membutuhkan." → Membuat masalah personal dan menuntut respons moral
Framing kepentingan publik: "Kabupaten kita tertinggal dari rata-rata nasional. Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan — ini juga berpengaruh pada indeks pembangunan manusia dan reputasi kita sebagai daerah yang peduli warga." → Menyentuh kepentingan reputasi dan prestasi
C.5.2. Framing dan Narrative
Mengapa Framing Penting: Fakta yang sama dapat dibingkai berbeda dengan dampak persuasif yang sangat berbeda.
Kekuatan Narasi (Storytelling)
Mengapa cerita lebih efektif dari data:
- Otak manusia diprogram untuk merespons cerita, bukan statistik
- Cerita menciptakan empati dan koneksi emosional
- Cerita mudah diingat dan disebarkan
- Cerita membuat masalah abstrak menjadi konkret
Prinsip cerita yang efektif untuk advokasi:
- Satu karakter yang spesifik (bukan "perempuan Indonesia")
- Hambatan yang jelas (sistem yang gagal, bukan nasib yang tidak bisa diubah)
- Outcome yang terhubung dengan tindakan yang diusulkan
- Narasi perubahan yang mungkin (ini bisa berubah jika...)
Etika penggunaan cerita: Mendapat persetujuan dari orang yang ceritanya digunakan; Tidak mengeksploitasi penderitaan untuk efek dramatis; Representasi yang bermartabat; Akurasi: jangan distorsi fakta demi dampak emosional
PERTANYAAN DISKUSI
RANGKUMAN
- Advokasi kesehatan adalah proses sistematis untuk mendapatkan komitmen politis, dukungan kebijakan, dan penerimaan sosial — ia berbeda dari edukasi (yang menyasar individu) dan lobbying (yang bergantung pada transaksi); konsultan Obginsos yang efektif harus mampu bergerak dalam spektrum strategi advokasi dari inside advocacy hingga mobilisasi komunitas, dengan pemilihan strategi yang didasarkan pada pembacaan konteks yang cermat
- Kekuasaan bekerja dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi — kekuasaan yang terlihat (pengambilan keputusan formal), kekuasaan yang tersembunyi (kontrol atas agenda), dan kekuasaan yang tidak terlihat (pembentukan keyakinan dan persepsi) — dan advokasi yang hanya bekerja pada dimensi pertama hampir selalu gagal menghasilkan perubahan yang berkelanjutan
- Stakeholder analysis yang sistematis adalah fondasi dari strategi advokasi yang efektif: memetakan siapa yang memiliki pengaruh, apa kepentingan mereka, dan di mana posisi mereka terhadap isu yang diadvokasi memungkinkan pengalokasian sumber daya advokasi pada titik yang paling strategis dan pengembangan pesan yang beresonansi dengan masing-masing kelompok
- Siklus kebijakan memiliki beberapa titik masuk yang berbeda, dan windows of opportunity — ketika arus masalah, solusi, dan politik bertemu — adalah momen yang harus dimanfaatkan oleh advokat yang sudah mempersiapkan diri; advokasi yang efektif bekerja di semua tahap siklus dan mempersiapkan semua elemen sebelum window terbuka
- Argumen advokasi yang kuat menggabungkan problem framing yang tepat, bukti yang kuat, solusi yang spesifik dan feasible, serta call to action yang jelas — dan narasi yang menghidupkan angka dengan cerita yang konkret dan bermartabat sering lebih efektif dari data statistik yang paling akurat, karena manusia merespons cerita dengan cara yang berbeda dari cara mereka merespons angka
| Jenis Tugas | Tugas Personal Pertama — Sesi 1 |
|---|---|
| Minggu | Minggu ke-2 |
| Materi | Modul 1 (Komunikasi Kesehatan) + Modul 2 (Advokasi Kesehatan) |
| Bobot Nilai | 10% dari nilai akhir mata kuliah |
| Sifat | Individual — dikerjakan sendiri |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-2 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format | Esai analitik dan produk komunikasi — Word/PDF |
| Panjang | 900–1.400 kata (tidak termasuk referensi) |
| Referensi | Minimal 4 referensi dalam format Vancouver |
Petunjuk Pengerjaan
- Tugas ini menggabungkan analisis komunikasi (Modul 1) dengan analisis advokasi (Modul 2) dalam satu skenario terpadu — kedua dimensi harus hadir dan terintegrasi
- Bagian 1 menuntut analisis yang menggunakan kerangka dari kedua modul secara eksplisit — sebutkan kerangka yang digunakan dan jelaskan cara penerapannya
- Bagian 2 menuntut produk komunikasi nyata — bukan deskripsi tentang apa yang seharusnya ditulis, tetapi teks yang dapat langsung digunakan
- Bagian 3 adalah refleksi personal yang jujur tentang konteks dan pengalaman Anda sendiri
Skenario: "Angka yang Tidak Bergerak"
Dr. Wulan, SpOG., Subsp.Obginsos.
baru delapan bulan menjabat sebagai Kepala Seksi Kesehatan Keluarga di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah — salah satu kabupaten yang terdampak berat pascagempa 2018 dan masih dalam proses pemulihan sistem kesehatan.
AKI Kabupaten Sigi: 287 per 100.000 kelahiran hidup. Data Dr. Wulan menunjukkan bahwa 71% kematian ibu terjadi di desa-desa pegunungan yang jaraknya 2–5 jam dari RSUD, dan hampir semua kematian melibatkan keterlambatan pertama: keluarga tidak segera memutuskan mencari pertolongan karena tiga alasan utama yang berulang dalam Verbal Autopsy — "tidak tahu bahaya", "nunggu keputusan suami", dan "tidak ada uang untuk transportasi".
Dr. Wulan sudah memiliki data yang kuat. Ia sudah mengidentifikasi tiga intervensi yang terbukti efektif di kabupaten lain: (1) pelatihan kader deteksi dini tanda bahaya bagi 180 desa; (2) pembentukan Dasawisma Siaga yang memberdayakan kelompok 10 ibu per RT sebagai sistem deteksi komunitas; dan (3) dana sosial desa untuk transport rujukan darurat yang bersumber dari APBDes.
Tiga Audience dengan Kebutuhan Berbeda
- Audience A — Bupati Sigi: Pejabat karier yang baru terpilih, berlatar belakang birokrat, fokus pada pemulihan pascagempa dan infrastruktur. Selama ini belum pernah menyebut kesehatan ibu sebagai prioritas dalam pidato-pidato publiknya. Tersedia untuk pertemuan tidak lebih dari 30 menit, dan hanya jika ada janji sebelumnya melalui sekretaris.
- Audience B — Bidan Koordinator Kecamatan (12 orang): Tenaga lapangan yang sangat sibuk, sebagian besar sudah bekerja lebih dari 10 tahun di daerah tersebut. Mereka tahu masalahnya, tetapi sebagian merasa "sudah sering dilaporkan tetapi tidak ada yang berubah" — ada fatigue dan skeptisisme terhadap program baru dari Dinas. Mereka bertemu dalam koordinasi bulanan.
- Audience C — Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat: Kelompok heterogen: ada kepala desa yang aktif, ada yang pasif; ada tokoh agama yang berpengaruh, ada ketua adat. Sebagian tidak memahami bahasa statistik. Sebagian memiliki persepsi bahwa "kematian ibu adalah takdir" atau bahwa "bidan sudah cukup menangani."
Pertanyaan
Bagian 1 — Analisis Komunikasi dan Advokasi Terpadu (50%)
- Gunakan model komunikasi ekologis (McLeroy) untuk memetakan di level mana hambatan utama penurunan AKI di Kabupaten Sigi berada — untuk setiap level (individual, interpersonal, komunitas/organisasi, kebijakan), identifikasikan hambatan spesifik yang dapat diinferensikan dari skenario; kemudian argumentasikan level mana yang paling kritis untuk disasar terlebih dahulu dan mengapa
- Lakukan stakeholder analysis untuk ketiga audience Dr. Wulan (Bupati, Bidan Koordinator, Kepala Desa/Tokoh Masyarakat) menggunakan matriks power-interest — tempatkan masing-masing dalam kuadran yang tepat dan justifikasikan; kemudian tentukan prioritas engagement berdasarkan analisis tersebut dan jelaskan logika di balik prioritas Anda
- Identifikasikan satu "window of opportunity" yang paling mungkin tersedia untuk Dr. Wulan dalam enam bulan ke depan (berdasarkan konteks skenario dan pengetahuan umum tentang siklus kebijakan daerah) — dan jelaskan bagaimana ia harus mempersiapkan diri untuk memanfaatkan window tersebut
Bagian 2 — Produk Komunikasi untuk Dua Audience (35%)
Pilih dua dari tiga audience yang Anda nilai paling kritis berdasarkan analisis Bagian 1, dan buat produk komunikasi yang konkret untuk masing-masing:
- Untuk audience pertama yang Anda pilih: tulis pesan kunci beserta tiga supporting points (total 150–200 kata) — pesan yang dirancang khusus untuk apa yang audience ini pedulikan, menggunakan framing yang tepat; sertakan satu kalimat "call to action" yang spesifik
- Untuk audience kedua yang Anda pilih: tulis pembukaan percakapan atau pertemuan (150–200 kata narasi) — bukan presentasi formal, tetapi cara Dr. Wulan membuka dialog yang mengatasi skeptisisme atau kesalahpahaman yang ada, sambil membangun kepercayaan dan engagement yang genuine
Bagian 3 — Refleksi Personal (15%)
Dalam konteks pekerjaan atau pengalaman Anda sendiri — sebagai dokter, tenaga kesehatan, atau pemerhati sistem kesehatan di daerah Anda:
- Identifikasikan satu contoh kegagalan komunikasi atau advokasi kesehatan yang pernah Anda alami atau saksikan secara langsung — di mana data atau argumen yang baik tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan; apa yang Anda analisis sebagai penyebab utama kegagalan tersebut menggunakan kerangka dari modul ini?
- Berdasarkan pembelajaran dari kedua modul dan refleksi atas pengalaman tersebut, satu hal apa yang akan Anda lakukan berbeda dalam advokasi atau komunikasi kesehatan Anda ke depan — dan mengapa Anda yakin perubahan ini akan membuat perbedaan?
Rubrik Penilaian
| Bagian | Komponen Penilaian Utama | Bobot |
|---|---|---|
| 1a | Ketepatan aplikasi model ekologis; kelengkapan identifikasi hambatan per level; koherensi argumen prioritas | 15% |
| 1b | Ketepatan penempatan dalam matriks power-interest beserta justifikasi; logika prioritas engagement | 20% |
| 1c | Identifikasi window yang realistis dan kontekstual; kelengkapan strategi persiapan | 15% |
| 2a | Ketepatan framing untuk audience; relevansi supporting points; spesifisitas call to action | 17% |
| 2b | Kemampuan membuka dialog yang mengatasi hambatan; kualitas narasi yang natural dan realistis | 18% |
| 3 | Kejujuran dan kedalaman refleksi; ketepatan analisis kegagalan menggunakan kerangka modul; kekonkretan komitmen perubahan | 15% |
Referensi Minimal yang Disarankan
- McLeroy KR, et al. An ecological perspective on health promotion programs. Health Educ Q. 1988;15(4):351-377.
- Lukes S. Power: A Radical View. 2nd ed. London: Palgrave Macmillan; 2005.
- Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
- Shiffman J, Smith S. Generation of political priority. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
REFERENSI
- Lukes S. Power: A Radical View. 2nd ed. London: Palgrave Macmillan; 2005.
- Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
- Howlett M, Ramesh M, Perl A. Studying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystems. 3rd ed. Toronto: Oxford University Press; 2009.
- Chapman S. Public Health Advocacy and Tobacco Control: Making Smoking History. Oxford: Blackwell; 2007.
- Buse K, Mays N, Walt G. Making Health Policy. 2nd ed. Maidenhead: Open University Press; 2012.
- Cohen D, de la Vega R, Watson G. Advocacy for Social Justice: A Global Action and Reflection Guide. Bloomfield: Kumarian Press; 2001.
- WHO. Advocacy, Communication and Social Mobilization for TB Control: A Guide to Developing Knowledge, Attitude and Practice Surveys. Geneva: WHO; 2008. https://www.who.int/publications
- Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives: a framework and case study of maternal mortality. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61579-7
- Kementerian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020–2024. Jakarta: Kemenkes; 2020. https://www.kemkes.go.id
- UNFPA Indonesia. Advocacy Brief: Maternal Mortality in Eastern Indonesia. Jakarta: UNFPA; 2022. https://indonesia.unfpa.org