Semester 2 | Periode 2 | MK Komunikasi, Advokasi & Negosiasi Kebijakan Kesehatan (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 7

Advokasi Berbasis Bukti: Membangun Kasus yang Tidak Dapat Diabaikan

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Mei 2024. Dr. Laila, SpOG., Subsp.Obginsos.

duduk di depan layar laptopnya dengan perasaan campur aduk. Di tangannya ada data yang — ia yakin — seharusnya mengubah kebijakan secara dramatis.

Selama delapan bulan terakhir, ia telah mengumpulkan data dari 14 kabupaten di Sulawesi Selatan. Temuannya konsisten dan meyakinkan: dari 89 kematian ibu yang dianalisis, 71% dapat dikategorikan sebagai "kematian yang dapat dicegah" — bukan karena tidak ada fasilitas, bukan karena tidak ada tenaga kesehatan, tetapi karena satu faktor tunggal yang berulang: tidak ada mekanisme pendanaan komunitas untuk transportasi darurat. Keluarga menunggu mengumpulkan uang sementara kondisi ibu memburuk.

Solusinya juga jelas: dana sosial desa berbasis APBDes untuk transportasi rujukan maternal, dengan mekanisme yang sudah Dr. Laila desain secara rinci berdasarkan model yang berhasil di empat kabupaten percontohan.

Dua bulan yang lalu, ia mempresentasikan temuan ini kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Hasilnya: "Datanya bagus, Dr. Laila. Kita masukkan sebagai bahan pertimbangan."

Sebulan yang lalu, ia mengirimkan laporan lengkap 87 halaman kepada Biro Kesehatan Sekretariat Daerah Provinsi. Tidak ada respons.

Seminggu yang lalu, ia bertemu dengan anggota Komisi IV DPRD Provinsi yang membidangi kesehatan. Anggota DPRD itu mengangguk-angguk selama 30 menit, lalu berkata: "Nanti kita koordinasikan dengan fraksi."

"Data yang kuat. Solusi yang jelas. Dan tidak ada yang bergerak."
Dr. Laila akhirnya memahami: masalahnya bukan pada kualitas data atau kualitas solusi. Masalahnya adalah ia belum membangun kasus advokasi — sesuatu yang berbeda secara fundamental dari laporan ilmiah yang baik.

Data adalah bahan baku advokasi, tetapi bukan advokasi itu sendiri. Kasus advokasi yang efektif adalah konstruksi yang strategis: ia memilih, memframing, dan menyajikan bukti dengan cara yang menjawab pertanyaan yang benar-benar diajukan oleh pengambil keputusan — bukan pertanyaan yang menurut kita seharusnya mereka tanyakan.

Modul ini membangun kompetensi membangun kasus advokasi berbasis bukti yang tidak sekadar akurat secara ilmiah, tetapi strategis secara politis dan persuasif secara komunikatif.

Advokasi Berbasis Bukti: Data × Strategi × Narasi = Tindakan yang Terjadi
Kasus yang tidak dapat diabaikan bukan yang paling lengkap, tetapi yang paling menjawab pertanyaan pengambil keputusan

CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1 Membedakan laporan ilmiah dari kasus advokasi dan menjelaskan elemen-elemen yang membuat sebuah kasus advokasi efektif
  2. 2 Memilih dan mengolah berbagai jenis bukti secara strategis untuk membangun argumen advokasi yang kuat
  3. 3 Menerapkan prinsip-prinsip analisis ekonomi sederhana untuk memperkuat argumen advokasi di hadapan pembuat kebijakan
  4. 4 Merancang strategi penyajian kasus advokasi yang disesuaikan dengan karakteristik audience dan konteks pengambilan keputusan
  5. 5 Mengintegrasikan narasi dan data dalam presentasi advokasi yang kohesif dan persuasif

MATERI INTI

C.1. Dari Laporan Ilmiah ke Kasus Advokasi

C.1.1. Perbedaan Fundamental

Laporan Ilmiah

Tujuan: Mendokumentasikan temuan secara akurat dan lengkap; Berkontribusi pada pengetahuan ilmiah; Dapat direplikasi dan diverifikasi

Audience: Sejawat akademisi dan peneliti; Yang sudah termotivasi untuk membaca dan memahami

Struktur: Pendahuluan → Metode → Hasil → Diskusi → Kesimpulan; Nuansa dan keterbatasan dipaparkan secara eksplisit; "Penelitian lebih lanjut diperlukan"

Ukuran keberhasilan: Akurasi, kelengkapan, rigor metodologis; Diterima oleh peer reviewer

Kasus Advokasi

Tujuan: Menggerakkan tindakan spesifik dari audience yang spesifik; Mengubah kebijakan, anggaran, atau perilaku yang konkret

Audience: Pengambil keputusan yang tidak selalu termotivasi untuk mendengarkan; Yang memiliki banyak prioritas bersaing

Struktur: Problem → Solusi → Bukti → Call to Action; Ketidakpastian diakui tetapi tidak menjadi fokus utama; "Inilah yang perlu dilakukan sekarang"

Ukuran keberhasilan: Apakah audience mengambil tindakan yang diminta? Apakah kebijakan berubah?

Yang Sering Terjadi: Kesalahan Dokter/Peneliti dalam Advokasi

  • Menyajikan semua data tanpa seleksi strategis ("ini semua penting!")
  • Menghabiskan banyak waktu pada metodologi dan keterbatasan penelitian
  • Menghindari rekomendasi yang tegas karena "data belum 100% konklusif"
  • Menggunakan bahasa teknis yang tidak dipahami audience non-klinis
  • Tidak ada call to action yang jelas

Akibat: Laporan yang sangat baik secara ilmiah yang tidak menghasilkan tindakan apapun — seperti yang dialami Dr. Laila

C.1.2. Anatomi Kasus Advokasi yang Efektif

Enam Komponen Kasus Advokasi yang Kuat:

1. Problem Statement

Definisi masalah yang tajam dan menuntut respons

  • Spesifik: bukan "AKI tinggi" tetapi "71 ibu meninggal tahun lalu di Sulsel karena tidak ada uang transportasi saat darurat — padahal fasilitas tersedia"
  • Visible: membuat masalah terasa nyata dan dekat, bukan abstrak
  • Urgent: mengapa sekarang, bukan nanti
  • Solvable: implisit bahwa masalah ini DAPAT diselesaikan

2. Solution Brief

Intervensi konkret yang diusulkan

  • Spesifik: bukan "perbaiki sistem rujukan" tetapi "alokasikan Rp 5 juta/desa/tahun dari APBDes untuk dana sosial transportasi rujukan maternal"
  • Proven: sudah berhasil di tempat lain
  • Feasible: dapat dilakukan dengan sumber daya yang ada
  • Affordable: dengan analisis biaya yang konkret

3. Evidence Package

Bukti yang dipilih secara strategis

  • Bukan semua data yang ada, tetapi data yang paling relevan untuk audience
  • Kombinasi kuantitatif (angka yang menunjukkan skala masalah) dan kualitatif (cerita yang menghidupkan angka)
  • Bukti bahwa solusi berhasil di tempat lain

4. Cost-Benefit

Argumen ekonomi yang sederhana dan meyakinkan

  • Berapa biaya solusi?
  • Berapa "biaya" jika tidak bertindak? (kematian, kehilangan produktivitas, dampak keluarga)
  • Return on investment yang konkret

5. Call to Action

Permintaan yang sangat spesifik

  • Siapa yang diminta melakukan apa?
  • Kapan?
  • Melalui mekanisme apa?
  • Bukan: "kami mohon perhatian Bapak/Ibu" tetapi "kami meminta Gubernur mengeluarkan Pergub yang mewajibkan 10% Dana Desa untuk kesehatan maternal"

6. Messenger Strategy

Siapa yang menyampaikan dan kapan

  • Sumber yang paling kredibel untuk audience ini
  • Waktu penyampaian yang paling strategis
  • Format penyampaian yang paling efektif

C.2. Membangun Evidence Package yang Strategis

C.2.1. Memilih dan Mengolah Bukti

Prinsip Pemilihan Bukti: Bukan semua bukti diciptakan sama untuk tujuan advokasi.

Relevansi

Apakah bukti ini langsung menjawab pertanyaan yang paling mungkin diajukan audience? Data dari kabupaten yang sama JAUH lebih persuasif dari data nasional untuk audience lokal

Credibility

Apakah sumber data ini akan dipercaya oleh audience? Data pemerintah (BPS, Kemenkes) lebih sulit disangkal dari data LSM untuk audience birokrasi

Recency

Data yang lebih baru lebih persuasif. Data dari 10 tahun lalu dapat mudah dibantah dengan "situasinya sudah berbeda sekarang"

Specificity

Angka yang spesifik lebih meyakinkan dari angka yang dibulatkan. "71 dari 89 kematian ibu dapat dicegah" lebih kuat dari "sekitar 80%"

Jenis Bukti dan Fungsinya

Epidemiological Data

Fungsi: menunjukkan SKALA dan DISTRIBUSI masalah

Angka kematian, cakupan, tren temporal; Perbandingan antar wilayah

Causal Evidence

Fungsi: menunjukkan MENGAPA masalah terjadi

Analisis faktor risiko; Verbal autopsy; "71% kematian melibatkan keterlambatan transportasi"

Solution Evidence

Fungsi: menunjukkan BAHWA solusi BEKERJA

Data dari program yang sudah berhasil di tempat lain; Systematic review

Economic Evidence

Fungsi: menunjukkan bahwa tindakan adalah INVESTASI yang menguntungkan

Cost-effectiveness analysis; Return on investment

Human Stories

Fungsi: membuat angka menjadi NYATA dan EMOSIONAL

Satu cerita yang spesifik dan autentik; Wajah yang dapat diingat

C.2.2. Analisis Ekonomi Sederhana untuk Advokasi

Mengapa Argumen Ekonomi Penting

  • Pembuat kebijakan selalu berhadapan dengan trade-off anggaran
  • Argumen moral saja sering tidak cukup untuk menggerakkan alokasi sumber daya
  • Menunjukkan bahwa investasi dalam kesehatan maternal adalah keputusan ekonomi yang rasional, bukan hanya keputusan etis

Cost of Inaction: Berapa "Harga" jika Tidak Bertindak?

Dimensi ekonomi kematian ibu:

  • Lost productivity: seorang ibu usia 28 tahun kehilangan rata-rata 35 tahun produktif
  • Human capital loss: dampak pada pengasuhan anak-anak yang ditinggalkan
  • Household economic impact: kehilangan pendapatan, biaya perawatan anak
  • Sistem kesehatan: biaya penanganan kasus komplikasi yang terlambat jauh lebih tinggi dari biaya pencegahan

Cara menyajikan: "Setiap kematian ibu di Kabupaten X rata-rata merugikan keluarga dan komunitas setara dengan Rp 450–900 juta dalam lost productivity... Program yang kita usulkan — seharga total Rp 2,4 miliar per tahun untuk seluruh provinsi — berpotensi mencegah 50–70 kematian per tahun. Ini berarti setiap Rp 1 yang diinvestasikan menghasilkan penghematan Rp 9–26."

Cost-Effectiveness Analysis Sederhana

1
Estimasi Biaya Program

Biaya program per tahun (A)

2
Estimasi Manfaat

Jumlah kematian yang dapat dicegah (B)

3
Hitung Cost per Benefit

Cost per death averted = A / B

4
Bandingkan dengan Threshold

WHO threshold: ~3x GDP per kapita/DALY

Contoh: Program dana sosial desa: Biaya Rp 2,5 miliar/tahun; Estimasi kematian dicegah: 40–60/tahun; Cost per death averted: Rp 42–62 juta; Sangat cost-effective dibandingkan threshold WHO ~Rp 150 juta/DALY

Catatan Penting untuk Analisis Ekonomi Advokasi

  • Analisis ekonomi untuk advokasi tidak harus sempurna secara akademis
  • Estimasi yang reasonable dan transparan lebih berguna dari ketepatan yang tidak dapat dikomunikasikan
  • Selalu nyatakan asumsi yang digunakan
  • Gunakan rentang (range) bukan angka tunggal untuk mencerminkan ketidakpastian
  • Data lokal lebih persuasif dari model global, meskipun lebih kasar

C.3. Presentasi Advokasi: Format dan Strategi

C.3.1. Format Penyajian untuk Berbagai Konteks

One-Pager (Policy Brief)

Untuk: pengambil keputusan yang tidak punya waktu

  • Satu halaman, maksimal
  • Problem statement: 2–3 kalimat
  • Solution: 2–3 kalimat
  • Key evidence: 3–5 bullet
  • Call to action: 1 kalimat
  • Contact: untuk follow-up

Prinsip desain: Headline yang kuat di atas; Visual jika memungkinkan; Font besar, mudah dibaca; Tidak ada jargon teknis

Executive Briefing (5–10 Menit)

Untuk: pertemuan formal dengan pejabat senior

  • Slide 1: Problem (1 menit)
  • Slide 2: Scale (1 menit)
  • Slide 3: Solution (2 menit)
  • Slide 4: Evidence (2 menit)
  • Slide 5: Cost (1 menit)
  • Slide 6: Ask (1 menit) + tanya jawab

Prinsip: Maksimal 6 slide; Satu ide per slide; Angka besar, visual kuat; Tidak ada tabel kompleks

Elevator Pitch (1–2 Menit)

Untuk: pertemuan tidak terduga dengan pengambil keputusan

  • Problem: 1 kalimat
  • Scale: 1 angka yang paling mengejutkan
  • Solution: 1 kalimat
  • Ask: 1 kalimat

Contoh: "Di Sulsel, 71 ibu meninggal tahun lalu bukan karena tidak ada dokter atau RS, tetapi karena tidak ada uang transportasi saat darurat. Solusinya sederhana: Rp 5 juta per desa per tahun untuk dana darurat. Di empat kabupaten yang sudah menerapkan ini, kematian terlambat-1 turun 62%. Kami meminta Bapak Gubernur mengeluarkan Pergub untuk mereplikasinya di seluruh Sulsel."

C.3.2. Menyesuaikan Kasus dengan Audience

Prinsip Audience Tailoring: Fakta yang sama, framing yang berbeda untuk audience yang berbeda.

Untuk Bupati/Gubernur (Politisi)

  • Fokus: reputasi dan legacy
  • Framing: "Kabupaten/Provinsi ini bisa menjadi yang pertama di Indonesia yang menyelesaikan masalah ini"
  • Bukti yang paling resonan: perbandingan dengan daerah lain, implikasi IPM, potensi penghargaan nasional
  • Call to action: keputusan atau instruksi yang dapat diumumkan secara publik

Untuk Kepala Bappeda (Perencana Anggaran)

  • Fokus: efisiensi dan kepatuhan perencanaan
  • Framing: "Ini adalah investasi dengan return tertinggi dalam portofolio kesehatan kita"
  • Bukti yang paling resonan: cost-benefit analysis, kesesuaian dengan RPJMD, potensi penghematan biaya sistem
  • Call to action: alokasi anggaran dalam RKPD

Untuk Anggota DPRD (Legislatif)

  • Fokus: akuntabilitas kepada konstituen
  • Framing: "Ini bukan hanya soal kesehatan — ini soal apakah warga yang memilih kita mendapat perlindungan yang mereka berhak terima"
  • Bukti yang paling resonan: cerita kasus yang terjadi di daerah pemilihan mereka, data survei kepuasan masyarakat
  • Call to action: pertanyaan dalam hearing anggaran, penguatan dalam Perda

Untuk Kepala Dinas Kesehatan (Birokrat Teknis)

  • Fokus: efektivitas program dan karir profesional
  • Framing: "Ini akan menjadi program unggulan Dinas yang dapat dipresentasikan di tingkat nasional"
  • Bukti yang paling resonan: evidence klinis, kesesuaian dengan pedoman nasional, feasibilitas implementasi
  • Call to action: SK atau Surat Edaran yang konkret

Menghadapi Objection yang Umum

  • "Tidak ada anggaran" → Pre-empt: tunjukkan sumber pendanaan alternatif yang sudah diidentifikasi (DAK, Dana Desa, BOK); Reframe: "Biaya tidak bertindak lebih besar dari biaya intervensi"
  • "Datanya belum cukup kuat" → Pre-empt: gunakan kombinasi data lokal dan evidence internasional; Reframe: "Kita tidak perlu RCT untuk mengambil tindakan — standar untuk kebijakan adalah 'preponderance of evidence', bukan 'beyond reasonable doubt'"
  • "Sudah ada program yang menangani ini" → Pre-empt: lakukan audit program yang ada dan tunjukkan gap yang spesifik; Reframe: "Proposal ini melengkapi, bukan menggantikan, yang sudah ada"
  • "Bukan prioritas saat ini" → Pre-empt: tunjukkan relevansi dengan prioritas yang sudah ada (RPJMD, SDGs); Reframe: "Justru karena kita sedang fokus pada X, menyelesaikan Y akan memperkuat hasil X"

C.4. Narasi dan Data: Integrasi yang Efektif

C.4.1. Kekuatan Storytelling dalam Advokasi

Mengapa Cerita Lebih Kuat dari Data:

  • Neuroscience of storytelling: Data mengaktifkan language processing area di otak; Cerita mengaktifkan SEMUA area otak termasuk sensory, motor, dan emotional processing; Oxytocin dirilis saat mendengar cerita yang membangun empati
  • The identifiable victim effect (Slovic, 2007): Satu individu yang teridentifikasi secara spesifik mendapat respons empati dan donasi yang jauh lebih besar dari ribuan korban anonim; "Satu kematian adalah tragedi; sejuta kematian adalah statistik"
  • Implikasi advokasi: satu cerita Ibu Rohani lebih efektif dari data 71 kematian anonim

Struktur Cerita yang Efektif untuk Advokasi

Karakter yang Spesifik

Nama, usia, desa, profesi; Satu atau dua detail yang membuatnya nyata: "ibu dari tiga anak, suaminya petani jagung"

Hambatan yang Jelas

Hambatan yang sederhana dan tidak misterius: "tidak ada Rp 150.000"; Hindari: hambatan yang terlalu kompleks yang membuat audience berpikir solusinya mustahil

Sistem sebagai Antagonis

Cerita yang paling efektif untuk advokasi kebijakan: sistem yang gagal, bukan orang jahat; Mengikuti sistem = normal; sistem gagal = dapat dan harus diperbaiki

Outcome Terhubung dengan Solusi

"Jika program ini ada saat itu, Ibu Rohani akan bisa dijangkau dalam waktu 45 menit"; Bukan: "Ibu Rohani meninggal karena sistem yang buruk" (tanpa menghubungkan ke solusi)

Etika Penggunaan Cerita dalam Advokasi

  • Selalu dapatkan persetujuan dari keluarga sebelum menggunakan nama dan detail yang mengidentifikasi
  • Berikan kontrol kepada keluarga untuk memilih detail yang boleh dibagi
  • Representasi bermartabat: bukan penderitaan sebagai "poverty porn"
  • Akurasi: jangan dramatisasi fakta untuk efek emosional
  • Jika keluarga tidak menyetujui: gunakan nama samaran dengan note eksplisit bahwa detail diubah untuk menjaga privasi

C.4.2. Mengintegrasikan Data dan Narasi

Dua Pola Struktur Integrasi yang Efektif

Pola 1 — Data First, Then Story

"Di Sulawesi Selatan, 71 ibu meninggal tahun lalu [DATA].
71 perempuan — dengan nama, dengan anak, dengan mimpi.
Ibu Rohani adalah salah satu dari mereka [TRANSISI].
Ia berusia 28 tahun, petani dari Desa Bungoro... [CERITA]
Kematian Ibu Rohani, seperti 71% dari 71 kematian yang kami analisis, terjadi bukan karena tidak ada fasilitas — tetapi karena tidak ada Rp 150.000 untuk transportasi [KEMBALI KE DATA DAN KAUSALITAS]."

Pola 2 — Story First, Then Data

"Bayangkan Anda adalah Pak Hamid, suami Ibu Rohani... [CERITA]
Situasi Pak Hamid bukan pengecualian.
Dalam analisis kami terhadap 89 kematian ibu di 14 kabupaten, 71% melibatkan keterlambatan transportasi sebagai faktor yang berkontribusi [DATA].
Ini bukan masalah satu keluarga — ini masalah sistem [SCALE UP]."

Prinsip Proporsi untuk Integrasi Cerita-Data

Untuk presentasi 10 menit:

  • 20% cerita yang membuka koneksi emosional
  • 60% data dan analisis yang membangun logika
  • 20% call to action dan penutup yang kuat

Untuk one-pager:

  • Satu quote atau satu kalimat cerita sebagai pembuka
  • Data sebagai badan
  • Satu kalimat cerita sebagai penutup yang membekas

Menghindari Jebakan Umum

  • Terlalu banyak cerita, kurang data: Terasa anekdotal dan mudah dibantah: "itu hanya satu kasus"; Kurang kredibel untuk audience teknis
  • Terlalu banyak data, tidak ada cerita: Terasa dingin dan abstrak; Tidak menciptakan motivasi untuk bertindak; Mudah dilupakan
  • Cerita yang tidak terhubung dengan data: Menimbulkan empati tetapi tidak mengarah ke solusi; "Ya, kasihan — tetapi apa yang bisa kita lakukan?"

PERTANYAAN DISKUSI

Pertanyaan 1: Analisis Kegagalan Strategi Advokasi Dr. Laila Dr. Laila di Sulawesi Selatan memiliki data yang sangat kuat tentang kematian ibu yang dapat dicegah — tetapi tiga upaya advokasi formalnya gagal menghasilkan tindakan. Menggunakan kerangka yang dipelajari dalam modul ini, analisis di mana kegagalan strategi advokasi Dr. Laila terjadi: apakah pada pemilihan bukti, framing, format penyajian, audience tailoring, atau call to action? Rancang ulang strategi advokasi Dr. Laila untuk satu audience spesifik (pilih salah satu: Gubernur, Kepala Bappeda, atau Ketua Komisi IV DPRD) secara lengkap — termasuk problem statement, solution brief, evidence package, argumen ekonomi, format presentasi, dan call to action yang spesifik.
Pertanyaan 2: Integrasi Cerita dan Data dalam Narasi Advokasi Salah satu elemen advokasi yang paling kuat tetapi paling jarang dilakukan dengan baik adalah integrasi cerita dan data. Berdasarkan pengalaman atau pengetahuan Anda tentang kasus nyata kematian ibu atau morbiditas maternal yang pernah Anda alami atau saksikan (dengan tetap menjaga anonimitas jika diperlukan), tulis sebuah narasi advokasi pendek (300–400 kata) yang mengintegrasikan cerita dan data secara efektif menggunakan salah satu dari dua pola struktur integrasi yang diajarkan. Kemudian tambahkan catatan reflektif (100–150 kata) yang menjelaskan pilihan struktural yang Anda buat dan mengapa.

RANGKUMAN

  1. Kasus advokasi yang efektif adalah konstruksi strategis yang berbeda secara fundamental dari laporan ilmiah — ia memilih dan memframing bukti untuk menjawab pertanyaan yang benar-benar diajukan oleh pengambil keputusan, memiliki call to action yang sangat spesifik, dan mengukur keberhasilan bukan dari kualitas ilmiahnya tetapi dari apakah tindakan yang diminta akhirnya diambil
  2. Evidence package yang kuat mengombinasikan empat jenis bukti secara strategis: data epidemiologi yang menunjukkan skala masalah, bukti kausal yang menghubungkan masalah dengan faktor yang dapat diintervensi, bukti solusi yang menunjukkan bahwa intervensi yang diusulkan terbukti berhasil di tempat lain, dan argumen ekonomi yang menunjukkan bahwa tindakan adalah investasi yang rasional — bukan pengeluaran
  3. Analisis ekonomi sederhana — terutama cost of inaction dan cost-effectiveness — adalah argumen yang sering paling efektif menggerakkan pembuat kebijakan karena ia mengubah keputusan dari domain moral ke domain rasionalitas ekonomi yang lebih mudah dipertahankan secara publik; data lokal yang kasar namun transparan lebih persuasif dari analisis global yang presisi tetapi tidak dapat dirasakan audience
  4. Format penyajian harus disesuaikan dengan konteks pengambilan keputusan dan kebiasaan audience: one-pager untuk pengambil keputusan senior yang waktu terbatas, executive briefing untuk pertemuan formal, dan elevator pitch untuk kesempatan tidak terduga — setiap format memiliki prinsip desain yang berbeda tetapi semua mengikuti logika yang sama: problem, solusi, bukti, call to action
  5. Integrasi cerita dan data adalah seni yang menentukan apakah advokasi menyentuh hati sekaligus pikiran audience — cerita satu orang yang teridentifikasi secara spesifik menciptakan koneksi emosional yang data tidak dapat hasilkan, tetapi tanpa data yang solid, cerita tersebut mudah dibantah sebagai anekdot; keduanya saling membutuhkan dan harus dirancang untuk saling memperkuat dalam proporsi yang tepat
TUGAS PERSONAL 2 — SESI 2 (MINGGU 7)
Jenis TugasTugas Personal Kedua — Sesi 2
MingguMinggu ke-7
MateriModul 6 (Perencanaan Komunikasi) + Modul 7 (Advokasi Berbasis Bukti)
Bobot Nilai10% dari nilai akhir mata kuliah
SifatIndividual — dikerjakan sendiri
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-7 (7 hari sejak tugas dibuka)
FormatPolicy brief + narasi advokasi — Word/PDF
Panjang1.000–1.500 kata total (tidak termasuk referensi)
ReferensiMinimal 5 referensi dalam format Vancouver

Petunjuk Pengerjaan

Skenario: "Dua Dokumen untuk Satu Tujuan"

Dr. Reza, SpOG., Subsp.Obginsos., Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan

Selama 14 bulan terakhir ia mengumpulkan dan menganalisis data komprehensif tentang kematian ibu di kabupaten ini.

Temuan utamanya:

  • Data epidemiologi: AKI Kabupaten Konawe Selatan: 264 per 100.000 KH (2023). Dari 31 kematian ibu yang dianalisis, 23 (74%) terjadi di luar fasilitas atau dalam perjalanan menuju fasilitas. Verbal autopsy terhadap 18 kasus yang berhasil diakses menunjukkan: 14 kasus (78%) melibatkan keterlambatan pertama (keterlambatan keputusan keluarga untuk mencari pertolongan), dengan faktor dominan: tidak mengenali tanda bahaya (11 kasus), menunggu keputusan suami atau mertua yang sedang bekerja di luar desa (9 kasus), dan kepercayaan bahwa gejala akan membaik sendiri (7 kasus).
  • Solusi yang diusulkan: Program "Dasawisma Siaga Maternal" — pemberdayaan 10 ibu per RT sebagai sistem deteksi dini komunitas, diintegrasikan dengan struktur PKK yang sudah ada, dengan pelatihan pengenalan tanda bahaya dan protokol kontak bidan desa dalam <30 menit. Biaya estimasi: Rp 350 juta untuk tahun pertama (pelatihan, modul, monitoring), kemudian Rp 120 juta/tahun untuk pemeliharaan. Program serupa di Kabupaten Kolaka Utara menurunkan kematian terlambat-1 sebesar 54% dalam 2 tahun.

Dua Audience yang Akan Dihadapi

  • Audience A: Bupati Konawe Selatan — pejabat dengan latar belakang politisi, baru 8 bulan menjabat, sedang aktif membangun citra sebagai pemimpin pembangunan yang modern dan peduli keluarga. Pertemuan dijadwalkan 15 menit.
  • Audience B: Forum bulanan Ketua PKK Kecamatan (12 ketua PKK dari 12 kecamatan) — perempuan yang aktif di komunitas, sangat mengenal kondisi lapangan, tetapi sering merasa program dari Dinas Kesehatan "tidak mendengar suara kami". Pertemuan dijadwalkan 90 menit.

Dr. Reza perlu menyiapkan dua dokumen yang berbeda untuk dua pertemuan ini — bukan karena datanya berbeda, tetapi karena audience, tujuan, dan format yang tepat untuk keduanya sangat berbeda.

Pertanyaan

Bagian 1 — Policy Brief untuk Bupati (55%)

Buat policy brief satu halaman (format boleh dua kolom atau satu kolom, tetapi tidak melebihi satu halaman A4) yang akan Dr. Reza serahkan kepada Bupati sebelum pertemuan 15 menit. Policy brief ini harus mencakup:

  • Headline yang kuat (satu kalimat yang merangkum isu dan urgensi)
  • Problem statement (2–3 kalimat: apa masalahnya, seberapa besar, mengapa sekarang)
  • Solusi yang diusulkan (2–3 kalimat: apa yang diusulkan, singkat, konkret)
  • Tiga poin bukti kunci (bullet points singkat: satu data epidemiologi lokal, satu bukti solusi dari daerah lain, satu argumen ekonomi atau relevansi dengan prioritas Bupati)
  • Biaya dan sumber dana (satu baris angka dan opsi pendanaan)
  • Call to action (satu kalimat yang sangat spesifik: apa yang diminta dari Bupati)
  • Kontak untuk follow-up

Setelah policy brief, tambahkan catatan desain (150–200 kata) yang menjelaskan: (a) keputusan framing yang Anda buat berdasarkan profil Bupati; (b) mengapa Anda memilih tiga poin bukti tersebut dan bukan yang lain; (c) bagaimana Anda merumuskan call to action yang spesifik tanpa terasa memaksa.

Bagian 2 — Narasi Advokasi untuk Forum PKK (45%)

Buat narasi advokasi (400–500 kata) yang akan Dr. Reza gunakan sebagai pembuka pertemuan 90 menit dengan Ketua PKK Kecamatan. Narasi ini bukan presentasi formal — ia adalah cara Dr. Reza membuka dialog yang membangun koneksi, mengakui peran PKK, dan menggerakkan keterlibatan mereka sebagai mitra aktif dalam program.

Narasi ini harus:

  • Dimulai dengan cerita satu kasus yang spesifik dan bermartabat (nama dapat disamarkan; detail harus cukup konkret untuk terasa nyata)
  • Menyertakan transisi yang eksplisit dari cerita ke data yang lebih luas
  • Mengintegrasikan pengakuan terhadap peran dan pengetahuan PKK yang sudah ada — bukan program baru yang datang dari atas
  • Diakhiri dengan ajakan yang memberdayakan (bukan instruksi), yang membuka ruang dialog tentang bagaimana PKK ingin terlibat

Setelah narasi, tambahkan catatan reflektif (150–200 kata) yang menjelaskan: (a) pola integrasi cerita-data mana yang Anda gunakan dan mengapa; (b) bagaimana Anda menangani risiko bahwa cerita tentang kematian ibu dapat terasa menghakimi keluarga atau komunitas yang mengalaminya; (c) satu hal yang paling sulit Anda putuskan dalam menulis narasi ini.

Rubrik Penilaian

Bagian Komponen Penilaian Utama Bobot
1 — Policy Brief Kepatuhan format satu halaman; kekuatan headline; ketajaman problem statement; spesifisitas call to action; relevansi tiga poin bukti untuk audience Bupati 35%
1 — Catatan Desain Kedalaman justifikasi keputusan framing; kesadaran tentang audience tailoring; refleksi pada keputusan call to action 20%
2 — Narasi Kualitas cerita pembuka (spesifisitas, martabat, relevansi); kualitas transisi cerita-data; kualitas pengakuan peran PKK; kualitas ajakan yang memberdayakan 30%
2 — Catatan Reflektif Kesadaran pada pilihan struktural; kedalaman refleksi tentang etika penggunaan cerita; kejujuran tentang kesulitan dalam proses penulisan 15%

Referensi Minimal yang Disarankan

  1. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
  2. Young E, Quinn L. Writing Effective Public Policy Papers. Budapest: OSI; 2002.
  3. Slovic P. Psychic numbing and genocide. JDM. 2007;2(2):79-95.
  4. Brownson RC, et al. Understanding evidence-based public health policy. AJPH. 2009;99(9):1576-1583.
  5. WHO. Making Health Policy: A Guide to Using Evidence. Geneva: WHO; 2004.

REFERENSI

  1. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives: a framework and case study of maternal mortality. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61579-7
  2. Brownson RC, Chriqui JF, Stamatakis KA. Understanding evidence-based public health policy. American Journal of Public Health. 2009;99(9):1576-1583. https://doi.org/10.2105/AJPH.2008.156224
  3. Slovic P. "If I look at the mass I will never act": psychic numbing and genocide. Judgment and Decision Making. 2007;2(2):79-95. https://journal.sjdm.org/7303a/jdm7303a.htm
  4. Fisher R, Ury W, Patton B. Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In. 3rd ed. New York: Penguin; 2011.
  5. Zak PJ. The neuroscience of storytelling will make you rethink the way you create content. Fast Company. 2013. https://www.fastcompany.com
  6. Drummond MF, Sculpher MJ, Claxton K, et al. Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.
  7. Young E, Quinn L. Writing Effective Public Policy Papers: A Guide for Policy Advisers in Central and Eastern Europe. Budapest: Open Society Institute; 2002. https://www.opensocietyfoundations.org
  8. WHO. Making Health Policy: A Guide to Using Evidence. Geneva: WHO; 2004. https://www.who.int/publications
  9. Kementerian PPN/BAPPENAS. Pedoman Penyusunan Policy Brief. Jakarta: BAPPENAS; 2020. https://www.bappenas.go.id
  10. Victora CG, Requejo JH, Barros AJ, et al. Countdown to 2015: a decade of tracking progress for maternal, newborn, and child survival. Lancet. 2016;387(10032):2049-2059. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)00519-X