Semester 2 | Periode 2 | MK Komunikasi, Advokasi & Negosiasi Kebijakan Kesehatan (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 9

Komunikasi dan Advokasi dalam Sistem Kesehatan yang Kompleks

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Juli 2024. Dr. Andri, SpOG., Subsp.Obginsos.

baru menyelesaikan analisis yang membuatnya pusing kepala.

Ia sudah dua tahun bekerja untuk menurunkan AKI di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Programnya komprehensif: pelatihan klinis, penguatan sistem rujukan, kampanye komunitas, advokasi anggaran. Setiap komponen berjalan sesuai rencana. Tetapi ketika ia memetakan semua yang sudah dilakukan di atas satu lembar kertas, ia melihat sesuatu yang mengganggunya:

Semua intervensinya bekerja secara linear — A menyebabkan B, B menyebabkan C. Pelatihan bidan → bidan lebih kompeten → persalinan lebih aman. Kampanye komunitas → ibu lebih sadar → lebih banyak yang ke fasilitas. Advokasi anggaran → lebih banyak dana → lebih banyak program.

Tetapi kenyataan di lapangan tidak bekerja secara linear. Bidan yang lebih kompeten ternyata membuat keluarga lebih berani memilih persalinan di rumah ("bidannya sudah bagus, aman kok di rumah"). Kampanye komunitas yang berhasil meningkatkan jumlah ibu ke Puskesmas ternyata membebani Puskesmas yang tidak siap menangani lonjakan kunjungan, menurunkan kualitas pelayanan, dan akhirnya meningkatkan ketidakpuasan. Anggaran yang bertambah ternyata menciptakan persaingan antar program yang justru melemahkan koordinasi.

"Sistem ini tidak berperilaku seperti yang saya prediksi," pikir Dr. Andri. "Saya mengubah satu hal dan hal-hal lain yang tidak saya antisipasi juga berubah — kadang ke arah yang berlawanan."

Sistem kesehatan adalah sistem yang kompleks, bukan sistem yang rumit. Perbedaan ini fundamental: sistem yang rumit (complicated) dapat dipahami dengan menganalisis bagian-bagiannya; sistem yang kompleks (complex) menghasilkan perilaku yang tidak dapat diprediksi dari bagian-bagiannya karena interaksi non-linear antar komponen.

Komunikasi dan advokasi dalam sistem yang kompleks memerlukan pendekatan yang berbeda — bukan hanya lebih baik dalam teknik yang sudah ada, tetapi secara fundamental berbeda dalam cara berpikir tentang perubahan.

Modul ini membangun pemahaman tentang kompleksitas sistem kesehatan dan implikasinya terhadap strategi komunikasi dan advokasi yang lebih adaptif dan efektif.

Sistem Kompleks: Probe × Sense × Respond = Perubahan yang Adaptif
Dalam sistem yang kompleks, perubahan kecil dapat menghasilkan dampak besar — dan perubahan besar dapat tidak menghasilkan dampak sama sekali

CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1 Menjelaskan perbedaan antara sistem kompleks dan sistem rumit serta implikasinya untuk strategi perubahan
  2. 2 Mengidentifikasi leverage points dalam sistem kesehatan reproduksi yang paling efektif untuk intervensi komunikasi dan advokasi
  3. 3 Merancang strategi komunikasi adaptif yang dapat merespons umpan balik dari sistem secara dinamis
  4. 4 Menerapkan pendekatan systems thinking dalam analisis hambatan dan peluang perubahan kebijakan kesehatan
  5. 5 Mengevaluasi unintended consequences dari intervensi komunikasi dan advokasi dalam sistem yang kompleks

MATERI INTI

C.1. Memahami Kompleksitas Sistem Kesehatan

C.1.1. Complicated vs. Complex: Perbedaan yang Fundamental

Sistem yang Rumit (Complicated)

Karakteristik: Banyak bagian tetapi hubungan antar bagian dapat diprediksi; Keahlian teknis dapat memahami dan mengontrolnya; Sebab-akibat linear dan dapat diidentifikasi

Contoh: Pesawat terbang; Protokol klinis; Manajemen rantai pasokan obat

Pendekatan yang tepat: Analisis bagian per bagian; Solusi teknis yang presisi; Expert-driven

Sistem yang Kompleks (Complex)

Karakteristik: Banyak aktor yang berinteraksi dan beradaptasi; Perilaku sistem MUNCUL dari interaksi (emergent properties); Non-linear: perubahan kecil dapat menghasilkan dampak besar; Path dependent: sejarah dan konteks menentukan respons

Contoh: Perilaku masyarakat merespons program kesehatan; Dinamika kepercayaan komunitas; Negosiasi kebijakan; Sistem rujukan maternal

Pendekatan yang tepat: Probe-sense-respond (bukan plan-do-evaluate); Iterative learning; Distributed leadership

Mengapa Ini Penting untuk Komunikasi dan Advokasi

Kesalahan yang sering terjadi:

  • Merancang kampanye komunikasi seolah sistem adalah complicated: "jika kita sampaikan pesan X dengan cara Y, hasilnya akan Z"
  • Mengabaikan feedback loops dan unintended consequences
  • Tidak beradaptasi ketika respons sistem berbeda dari yang diprediksi

Pendekatan yang lebih sesuai: Rancang untuk learning, bukan hanya untuk delivery; Bangun mekanisme untuk mendeteksi respons sistem yang tidak terduga; Siapkan diri untuk mengubah strategi berdasarkan umpan balik

C.1.2. Konsep Kunci Systems Thinking

Unintended Consequences

Definisi: Dampak yang tidak diinginkan dan tidak diantisipasi dari intervensi yang dirancang dengan baik

Tipe utama:

  • Unexpected benefit: Dampak positif yang tidak direncanakan — Program kunjungan rumah untuk ANC ternyata juga mendeteksi KDRT dan kasus gizi buruk
  • Unexpected drawback: Dampak negatif yang tidak direncanakan — Bidan lebih kompeten → keluarga lebih berani pilih persalinan di rumah
  • Perverse incentive: Sistem memberikan insentif untuk perilaku yang berlawanan dengan tujuan — Target cakupan ANC mendorong bidan mencatat kunjungan yang tidak pernah terjadi

Leverage Points (Meadows, 1999)

Titik-titik dalam sistem di mana intervensi kecil menghasilkan perubahan besar

H
High Leverage
  • Mengubah tujuan sistem
  • Mengubah paradigma atau mental model
  • Mengubah aturan sistem (siapa yang berkuasa?)
M
Medium Leverage
  • Mengubah struktur feedback loops
  • Mengubah panjang delay dalam sistem
  • Mengubah ukuran stock dan flow
L
Low Leverage
  • Mengubah angka dan parameter (lebih banyak anggaran)
  • Mengubah ukuran subsidi dan pajak
  • (Paling sering diintervensi, dampak terendah)

Implikasi untuk Advokasi: Advokasi yang paling transformatif menyasar HIGH LEVERAGE: mengubah mental model tentang kematian ibu (bukan "takdir" tetapi "kegagalan sistem"), mengubah aturan tentang siapa berwenang mengambil keputusan rujukan, mengubah tujuan sistem dari "memenuhi target cakupan" menjadi "memastikan tidak ada ibu yang meninggal karena sistem gagal"


C.2. Komunikasi Adaptif dalam Sistem yang Kompleks

C.2.1. Dari Perencanaan Linear ke Pembelajaran Iteratif

Model Adaptive: Probe → Sense → Respond

(Snowden & Boone, 2007) — Lebih sesuai untuk sistem kompleks dibanding model linear

P
PROBE

Lakukan intervensi kecil untuk menghasilkan informasi tentang respons sistem

S
SENSE

Monitor respons sistem secara aktif dan cepat

R
RESPOND

Sesuaikan strategi berdasarkan apa yang dipelajari

Contoh Aplikasi: Dr. Andri dan Unintended Consequence

Probe yang seharusnya: Sebelum scaling up pelatihan, uji di 3 desa dengan monitoring ketat tentang bagaimana keluarga merespons peningkatan kompetensi bidan

Sense yang seharusnya: Wawancara bulanan dengan kader tentang persepsi komunitas; Monitoring tidak hanya cakupan persalinan faskes, tetapi juga alasan keluarga untuk pilihan persalinan

Respond yang seharusnya: Ketika terdeteksi bahwa peningkatan kompetensi justru meningkatkan kepercayaan diri keluarga untuk persalinan di rumah: tambahkan komponen komunikasi yang mengklarifikasi bahwa kompeten ≠ aman di rumah untuk semua situasi

C.2.2. Komunikasi untuk Mengubah Mental Model

Di Tingkat Masyarakat

  • "Kematian ibu adalah takdir yang tidak bisa dihindari"
  • "Melahirkan di rumah lebih aman karena lebih familiar"
  • "Pergi ke faskes berarti kondisinya serius/berbahaya"

Di Tingkat Tenaga Kesehatan

  • "Ini tugas klinis saya — bukan tugas saya untuk mengubah perilaku masyarakat"
  • "Masyarakat tidak akan mengerti penjelasan medis"
  • "Program komunikasi adalah tugas promkes, bukan tugas saya"

Di Tingkat Pembuat Kebijakan

  • "Masalah AKI adalah masalah teknis klinis yang diselesaikan dengan lebih banyak dokter dan alat"
  • "Program yang sudah ada cukup — masalahnya ada pada masyarakat yang tidak kooperatif"

Strategi Mengubah Mental Model

Mental model tidak berubah dengan data dan argumen saja — ia berubah melalui:

  • Pengalaman langsung: Kunjungan lapangan yang melihat langsung dampak kematian ibu pada keluarga; Simulasi peran (role play); Pertemuan dengan survivor atau keluarga yang kehilangan ibu
  • Narrative change: Cerita-cerita yang secara konsisten menyajikan kematian ibu sebagai kegagalan sistem, bukan takdir; Cerita keberhasilan yang menunjukkan bahwa perubahan adalah mungkin
  • Peer influence: Perubahan yang diamati pada orang-orang yang dihormati lebih kuat dari persuasi langsung; Kepala Dinas yang mengubah cara berpikirnya lebih efektif mengubah staf dari pelatihan
  • Reframing institutions: Ketika institusi mengubah cara mereka berbicara tentang isu (misalnya: dari "target cakupan" ke "hak atas persalinan yang aman"), mental model individu dalam institusi juga mulai berubah

C.3. Advokasi dalam Sistem Politik yang Kompleks

C.3.1. Politik sebagai Sistem Kompleks

Sistem politik adalah salah satu sistem kompleks yang paling sulit diprediksi:

  • Multiple veto players: Perubahan kebijakan memerlukan persetujuan dari banyak pihak; Setiap veto player dapat memblokir perubahan
  • Window timing: Windows of opportunity muncul dan menutup secara tidak terduga; Advokat yang tidak siap saat window terbuka dapat menunggu bertahun-tahun
  • Issue salience: Tingkat kepentingan relatif sebuah isu dalam agenda publik berfluktuasi; Isu yang "panas" hari ini bisa terlupakan bulan depan
  • Coalition dynamics: Koalisi yang mendukung kebijakan dapat berubah seiring waktu; Aktor yang semula allied dapat menjadi opponent jika kepentingannya berubah

Implikasi untuk Strategi Advokasi

  • Prepare across all streams (Kingdon): Selalu perbarui problem documentation; Selalu siapkan solusi yang sudah siap pakai; Selalu bangun political support yang siap diaktifkan
  • Maintain relationships, not just campaigns: Hubungan dengan pembuat kebijakan dibangun dalam kondisi tenang, bukan hanya saat kampanye advokasi aktif; Regular briefings, memberikan informasi yang berguna tanpa agenda advokasi spesifik
  • Monitor and adapt: Political landscape berubah — strategi yang tepat enam bulan lalu mungkin tidak tepat hari ini; Siapa yang baru naik dan siapa yang turun? Isu apa yang sekarang "hot" dan dapat digunakan untuk membingkai isu kesehatan?

C.3.2. Bekerja dengan Kompleksitas, Bukan Melawan

Prinsip 1: Embrace Uncertainty

Ketidakpastian bukan kegagalan perencanaan — ia adalah karakteristik sistem yang kompleks

  • Rancang strategi yang robust terhadap berbagai skenario
  • "Plan B thinking": jika A tidak berhasil dalam 3 bulan, apa yang akan kita lakukan?
  • Hindari over-commitment pada satu jalur ketika ada banyak ketidakpastian

Prinsip 2: Work with the Grain

Bergerak searah dengan arus yang sudah ada dalam sistem, bukan melawan

  • Identifikasi momentum yang sudah ada dan perkuat
  • Frame perubahan sebagai "kelanjutan" dari yang sudah ada
  • Gunakan struktur yang sudah ada (Posyandu, PKK, arisan)

Prinsip 3: Diversify Interventions

Jangan bergantung pada satu intervensi tunggal

  • Beberapa intervensi kecil yang bekerja di berbagai leverage points lebih efektif
  • "Portfolio approach": sebagian investasi pada yang sudah terbukti; sebagian pada yang inovatif

Prinsip 4: Build Coalitions That Can Survive Complexity

Koalisi yang kuat dalam sistem kompleks bukan koalisi yang semua anggotanya setuju pada segalanya

  • Shared purpose, not shared methods
  • Koalisi yang loose tetapi luas sering lebih bertahan
  • Invest dalam komunikasi internal koalisi

Prinsip 5: Learn from Failure Systematically

Kegagalan dalam sistem kompleks adalah informasi berharga tentang bagaimana sistem bekerja

  • After action review untuk setiap intervensi, bukan hanya yang berhasil
  • Dokumentasikan apa yang tidak berhasil dan mengapa
  • Share learning dengan sistem yang lebih luas

C.4. Komunikasi sebagai Intervensi Sistem

C.4.1. Komunikasi yang Mengubah Sistem

Komunikasi bukan hanya sarana menyampaikan pesan — ia adalah intervensi sistem yang mengubah cara sistem berpikir dan berorganisasi:

Komunikasi yang Mengubah Narrative

Ketika narasi dominan tentang kematian ibu berubah dari "takdir" ke "kegagalan sistem", seluruh sistem mulai berperilaku berbeda:

  • Keluarga mulai mengklaim hak atas pertolongan
  • Tenaga kesehatan mulai memandang kematian sebagai near-miss yang perlu dianalisis
  • Pembuat kebijakan mulai merasa accountable

Ini adalah high leverage point yang jarang disasar secara eksplisit oleh program KIA

Komunikasi yang Membangun Kapasitas Kolektif

Bukan hanya mengubah pengetahuan individu tetapi membangun kemampuan komunitas untuk menganalisis dan merespons masalah sendiri

Dialog komunitas yang membangun collective efficacy — keyakinan bersama bahwa komunitas DAPAT mengubah situasinya

Komunikasi yang Mengubah Relasi Kekuasaan

Ketika ibu hamil tahu hak mereka dan berani mengklaim hak tersebut, relasi mereka dengan sistem kesehatan berubah

Ketika komunitas dapat mengajukan pertanyaan kritis kepada pejabat kesehatan dan mendapat jawaban yang akuntabel, akuntabilitas sistem meningkat

Indikator Perubahan Sistem

Bukan hanya: Berapa banyak orang yang menerima pesan? Berapa banyak yang mengubah perilaku?

Tetapi juga:

  • Apakah narasi tentang kematian ibu berubah di komunitas ini?
  • Apakah komunitas semakin aktif menuntut akuntabilitas sistem?
  • Apakah tenaga kesehatan memandang kematian ibu secara berbeda dari sebelumnya?
  • Apakah ada tanda-tanda bahwa sistem sedang self-organizing menuju keseimbangan baru yang lebih baik?

C.4.2. Membangun Sistem Pembelajaran

Learning System dalam Program Kesehatan

Bukan hanya evaluasi di akhir program — tetapi kapasitas yang tertanam dalam sistem untuk terus belajar dan beradaptasi

R
Real-Time Feedback

Kader sebagai "listening posts"; Dashboard sederhana; Mekanisme "sinyal bahaya"

R
Regular Reflection

Review bulanan tentang "apa yang kita pelajari"; After action review setelah kejadian kritis

K
Knowledge Management

Dokumentasi pembelajaran; Platform berbagi pengalaman; Koneksi dengan komunitas praktisi

Membangun Learning Culture

Learning system tidak dapat berfungsi tanpa budaya yang menghargai pembelajaran:

  • Psychological safety: Orang harus merasa aman untuk melaporkan kegagalan dan masalah tanpa takut dihukum
  • Curiosity over blame: Respons terhadap masalah adalah "apa yang bisa kita pelajari?" bukan "siapa yang salah?"
  • Leadership modeling: Pemimpin yang terbuka tentang ketidakpastian dan kegagalannya sendiri menciptakan ruang yang aman bagi seluruh tim

PERTANYAAN DISKUSI

Pertanyaan 1: Analisis Feedback Loops dan Leverage Points Dr. Andri menghadapi sebuah unintended consequence yang serius: pelatihan bidan yang meningkatkan kompetensi justru memperkuat keputusan keluarga untuk persalinan di rumah. Menggunakan konsep feedback loops dan systems thinking: (a) gambarkan (secara verbal, tidak perlu diagram) minimal dua feedback loops yang terlibat dalam situasi ini — identifikasikan apakah masing-masing adalah reinforcing atau balancing loop; (b) identifikasikan leverage point yang paling tinggi dalam situasi ini yang belum disasar oleh Dr. Andri; (c) rancang satu intervensi komunikasi yang spesifik yang menyasar leverage point tersebut, dan jelaskan mengapa intervensi ini lebih mungkin menghasilkan perubahan yang berkelanjutan dibanding menambah intensitas pelatihan bidan.
Pertanyaan 2: Komunikasi sebagai Intervensi Sistem Konsep "komunikasi sebagai intervensi sistem" menyatakan bahwa komunikasi yang paling transformatif adalah yang mengubah narrative, membangun kapasitas kolektif, atau mengubah relasi kekuasaan — bukan hanya menyampaikan informasi. Berdasarkan pengalaman atau pengetahuan Anda tentang program KIA di daerah yang Anda kenal: identifikasikan satu contoh di mana komunikasi berhasil atau gagal pada level yang lebih dalam dari sekadar penyampaian informasi. Analisis: apa yang berhasil atau gagal diubah, mengapa, dan apa pelajaran yang dapat diambil untuk program komunikasi yang lebih transformatif?

RANGKUMAN

  1. Sistem kesehatan adalah sistem yang kompleks, bukan sekadar rumit — ia menghasilkan perilaku yang tidak dapat diprediksi dari analisis bagian-bagiannya karena interaksi non-linear, feedback loops, dan sifat adaptif para aktor di dalamnya; komunikasi dan advokasi yang dirancang seolah sistem adalah linear akan selalu menghadapi unintended consequences yang tidak diantisipasi
  2. Systems thinking memberikan kerangka untuk memahami feedback loops, unintended consequences, dan leverage points dalam sistem kesehatan — leverage points tertinggi (mengubah tujuan sistem, paradigma, dan aturan kekuasaan) menghasilkan perubahan yang paling transformatif tetapi paling jarang disasar, sementara intervensi yang paling sering dilakukan (menambah anggaran, menambah tenaga) berada di leverage points terendah
  3. Komunikasi adaptif yang menggunakan model probe-sense-respond — melakukan intervensi kecil, mendeteksi respons sistem secara aktif, dan menyesuaikan strategi berdasarkan umpan balik — lebih sesuai dengan realitas sistem yang kompleks dibanding model perencanaan linear yang mengasumsikan bahwa sistem akan merespons sesuai prediksi
  4. Advokasi dalam sistem politik yang kompleks memerlukan kesiapan di semua arus secara bersamaan (problem, policy, politics), pemeliharaan hubungan yang berkelanjutan bukan hanya saat kampanye aktif, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan political landscape yang tidak terduga — window of opportunity yang tidak diantisipasi mungkin adalah yang paling penting untuk dimanfaatkan
  5. Komunikasi yang paling transformatif bekerja di level sistem — mengubah narrative dominan tentang kematian ibu dari takdir menjadi kegagalan sistem yang dapat diperbaiki, membangun collective efficacy komunitas, dan menggeser relasi kekuasaan antara masyarakat dan sistem kesehatan; membangun learning system yang tertanam dalam program adalah investasi yang menghasilkan kapasitas adaptif jangka panjang yang melampaui satu siklus program
TUGAS KELOMPOK 4 — SESI 2 (MINGGU 9)
Jenis TugasTugas Kelompok Keempat — Sesi 2
MingguMinggu ke-9
MateriModul 6–9 (penekanan pada Modul 8 dan 9)
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
Komposisi Kelompok3–4 orang per kelompok (kelompok yang sama)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-9 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Luaran(1) Laporan analitik — Word/PDF; (2) Strategi komunikasi adaptif — dokumen terpisah; (3) Presentasi ringkas — 6–8 slide
Panjang Laporan1.800–2.600 kata (tidak termasuk strategi dan slide)
ReferensiMinimal 6 referensi dalam format Vancouver

Petunjuk Pengerjaan

Skenario: "Sistem yang Belajar"

Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara

AKI: 289 per 100.000 KH. Dr. Nanda, SpOG., Subsp.Obginsos., sudah 18 bulan menjadi staf teknis Dinkes dan baru saja menyelesaikan analisis mendalam tentang mengapa program penurunan AKI selama lima tahun terakhir tidak menghasilkan perubahan yang signifikan meskipun investasi cukup besar.

Intervensi yang sudah dilakukan (5 tahun):

  • 3 siklus pelatihan PONED untuk seluruh Puskesmas
  • Pengadaan ambulans desa di 60% kecamatan
  • Kampanye "Persalinan Aman" yang sudah 4 kali berjalan
  • Peningkatan jumlah bidan desa dari 45 menjadi 78 orang

Hasil yang diharapkan vs. aktual:

  • Cakupan persalinan faskes: target 80% → aktual 61% (naik dari 54% di awal — perbaikan kecil)
  • Waktu keputusan rujukan: tidak berubah signifikan
  • AKI: turun dari 312 ke 289 — perbaikan ada tetapi jauh dari target

Unintended Consequences yang Teridentifikasi

  • Ambulans desa sering tidak tersedia saat dibutuhkan karena dipakai untuk keperluan lain (antar pejabat, acara desa) — sistem tidak punya mekanisme prioritas
  • Penambahan bidan desa menciptakan "kompetisi wilayah" yang tidak sehat — bidan baru dan bidan lama saling bersaing mendapat pasien daripada berkoordinasi
  • Kampanye "Persalinan Aman" yang berulang tanpa perubahan pesan mulai diabaikan oleh komunitas — "kampanye seperti itu sudah biasa, tidak ada yang baru"

Hambatan Sistemik yang Teridentifikasi

  • Tidak ada feedback loop yang efektif antara komunitas dan sistem kesehatan — program dirancang tanpa data tentang mengapa komunitas memilih tidak ke faskes
  • Mental model yang dominan di tingkat Dinkes: "masalahnya di masyarakat yang belum sadar" — sehingga solusi selalu berupa edukasi dan sosialisasi, bukan perubahan sistem
  • Tidak ada mekanisme for shared learning antar Puskesmas — setiap Puskesmas "menemukan kembali roda" tanpa belajar dari pengalaman satu sama lain

Peluang yang Teridentifikasi

  • Ada tiga Puskesmas yang menunjukkan hasil di atas rata-rata meskipun kondisi geografis tidak lebih baik — apa yang mereka lakukan berbeda belum pernah dikaji secara sistematis
  • Kepala Dinas yang baru (6 bulan menjabat) tampak terbuka terhadap pendekatan baru — ia pernah berkata "kita tidak bisa terus melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda"
  • Ada jaringan PKK yang aktif di 8 dari 13 kecamatan yang belum pernah dilibatkan sebagai mitra strategis dalam program KIA

Situasi saat ini: Dr. Nanda perlu mempresentasikan temuannya kepada Kepala Dinas dan mengusulkan perubahan pendekatan yang fundamental — dari program yang "more of the same" ke program yang adaptif dan berbasis pembelajaran. Ia juga perlu menavigasikan resistensi yang ia antisipasi dari staf Dinkes yang sudah bekerja keras dengan program yang ada dan mungkin merasa temuan ini menyiratkan bahwa pekerjaan mereka selama ini tidak berguna.

Pertanyaan

Bagian 1 — Analisis Sistem (30%)

  1. Gunakan konsep feedback loops untuk menganalisis setidaknya dua dari tiga unintended consequences yang teridentifikasi. Untuk masing-masing: (i) deskripsikan secara verbal loop yang terlibat (reinforcing atau balancing); (ii) jelaskan mengapa loop ini tidak terlihat dalam desain program awal; (iii) identifikasikan di mana leverage point tertinggi untuk mengintervensi loop tersebut
  2. Analisis tiga hambatan sistemik yang diidentifikasi Dr. Nanda menggunakan kerangka leverage points (Meadows): tempatkan masing-masing hambatan pada level leverage yang tepat, dan justifikasikan mengapa perubahan di level tersebut lebih (atau kurang) efektif dari intervensi yang selama ini dilakukan
  3. Identifikasikan dua peluang berbasis systems thinking dari tiga peluang yang tercantum dalam skenario — pilih yang menurut kelompok memiliki potensi leverage tertinggi dan jelaskan logika sistemik di balik pilihan tersebut

Bagian 2 — Strategi Komunikasi Adaptif (35%)

Rancang Strategi Komunikasi Adaptif sebagai dokumen terpisah untuk program 12 bulan ke depan. Dokumen ini HARUS berbeda secara struktural dari perencanaan komunikasi linear — ia harus mencerminkan pendekatan probe-sense-respond:

2a. Portfolio Intervensi (bukan rencana tunggal): Rancang minimal empat intervensi komunikasi yang bekerja di leverage points yang berbeda — sertakan untuk masing-masing: Target leverage point (high/medium/low) dan justifikasi; Deskripsi intervensi yang konkret; Skala: apakah ini probe (kecil, untuk belajar) atau roll-out (lebih besar, karena sudah terbukti)?; Indikator yang akan menunjukkan apakah sistem merespons sesuai harapan atau tidak

2b. Listening System: Rancang mekanisme umpan balik yang akan digunakan untuk mendeteksi respons sistem secara real-time — termasuk: Siapa "listening posts" yang akan memberikan informasi informal?; Data apa yang akan dimonitor dan seberapa sering?; Bagaimana informasi ini akan sampai kepada pengambil keputusan program?

2c. Adaptation Protocol: Tetapkan aturan adaptasi yang jelas: Kondisi apa yang akan memicu review dan penyesuaian strategi?; Siapa yang memiliki otoritas untuk memutuskan penyesuaian?; Bagaimana keputusan adaptasi didokumentasikan agar dapat dipelajari?

Bagian 3 — Presentasi untuk Kepala Dinas (35%)

Buat 6–8 slide presentasi (format PowerPoint atau PDF) yang akan Dr. Nanda gunakan untuk mempresentasikan temuannya dan mengusulkan perubahan pendekatan kepada Kepala Dinas. Presentasi ini harus:

  • Slide 1: Headline yang mengakui upaya yang sudah dilakukan sambil membuka pintu untuk perubahan — hindari framing yang terasa seperti "semua yang sudah dilakukan salah"
  • Slide 2: Satu visual sederhana yang menunjukkan kesenjangan antara investasi dan hasil (5 tahun, banyak program, perubahan minimal)
  • Slide 3: Diagnosis yang jelas menggunakan satu atau dua konsep systems thinking yang paling relevan — dalam bahasa yang dapat dipahami non-akademisi
  • Slide 4: Tiga unintended consequences yang paling signifikan — singkat dan visual jika memungkinkan
  • Slide 5: Tiga peluang yang ada — framing positif: "inilah modal yang sudah kita punya"
  • Slide 6: Perubahan pendekatan yang diusulkan — bukan "program baru" tetapi "cara bekerja yang berbeda"
  • Slide 7: Dua atau tiga langkah konkret pertama yang dapat dimulai dalam 30 hari
  • Slide 8 (opsional): Call to action spesifik kepada Kepala Dinas

Sertakan catatan presenter (speaker notes) untuk setiap slide yang menjelaskan poin-poin kunci yang akan disampaikan secara verbal — termasuk bagaimana menangani resistensi yang mungkin muncul

Rubrik Penilaian

Bagian Komponen Penilaian Utama Bobot
1a Ketepatan identifikasi feedback loops; kejelasan penjelasan verbal; ketepatan leverage point 10%
1b Ketepatan penempatan hambatan di level leverage; koherensi justifikasi; koneksi ke intervensi 10%
1c Kualitas pemilihan peluang; kedalaman logika sistemik; realisme potensi impact 10%
2a Diversifikasi leverage points; kejelasan probe vs. roll-out; kualitas indikator respons 15%
2b Realisme listening system; kelengkapan mekanisme; operasionalisasi yang konkret 10%
2c Kejelasan aturan adaptasi; ketepatan alokasi otoritas; mekanisme dokumentasi 10%
3 — Slide Kualitas framing yang tidak defensive; kejelasan diagnosis; persuasivitas proposal perubahan 20%
3 — Speaker Notes Kedalaman konten verbal; kualitas strategi menangani resistensi 15%

Referensi Minimal yang Disarankan

  1. Meadows DH. Thinking in Systems. White River Junction: Chelsea Green; 2008.
  2. Plsek PE, Greenhalgh T. The challenge of complexity in health care. BMJ. 2001;323:625-628.
  3. Snowden DJ, Boone ME. A leader's framework for decision making. HBR. 2007;85(11):68-76.
  4. Senge PM. The Fifth Discipline. 2nd ed. New York: Doubleday; 2006.
  5. Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
  6. Adam T, de Savigny D. Systems thinking for health systems in LMICs. Health Policy Plan. 2012;27(S4):iv1-iv3.

REFERENSI

  1. Plsek PE, Greenhalgh T. The challenge of complexity in health care. BMJ. 2001;323(7313):625-628. https://doi.org/10.1136/bmj.323.7313.625
  2. Meadows DH. Thinking in Systems: A Primer. White River Junction: Chelsea Green Publishing; 2008.
  3. Snowden DJ, Boone ME. A leader's framework for decision making. Harvard Business Review. 2007;85(11):68-76. https://hbr.org/2007/11/a-leaders-framework-for-decision-making
  4. Sterman JD. Learning in and about complex systems. System Dynamics Review. 1994;10(2-3):291-330. https://doi.org/10.1002/sdr.4260100214
  5. Senge PM. The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. 2nd ed. New York: Doubleday; 2006.
  6. Adam T, de Savigny D. Systems thinking for strengthening health systems in LMICs: need for a paradigm shift. Health Policy and Planning. 2012;27(S4):iv1-iv3. https://doi.org/10.1093/heapol/czs084
  7. Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 2003.
  8. Westley F, Zimmerman B, Patton MQ. Getting to Maybe: How the World Is Changed. Toronto: Vintage Canada; 2006.
  9. WHO. Everybody's Business: Strengthening Health Systems to Improve Health Outcomes. Geneva: WHO; 2007. https://www.who.int/publications
  10. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Aksi Nasional Penurunan AKI dan AKB 2023–2026. Jakarta: Kemenkes; 2023. https://www.kemkes.go.id