Semester 2 | Periode 2 | MK Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia (Sosial) | Sesi 1 | Modul 5

Kekerasan Berbasis Gender: Dari Pengakuan Klinis ke Respons Sistem

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Rabu siang, Puskesmas Campalagian

Seorang perempuan masuk dengan tergesa, jilbab sedikit miring, mata merah. Bidan Hasna mengenal wajahnya — Ibu Wati, 58 tahun, sudah tiga kali datang bulan ini dengan keluhan yang berbeda-beda: minggu pertama nyeri kepala, minggu kedua nyeri punggung, minggu ini "tidak enak badan." Setiap kali, pemeriksaan fisik tidak menemukan kelainan organik yang signifikan.

Percakapan yang Membuka Ruang

Bidan Hasna menutup pintu. Duduk lebih dekat. "Ibu Wati, boleh saya tanya sesuatu yang mungkin tidak enak didengar? Ibu baik-baik saja di rumah?"

Ibu Wati terdiam lama. Lalu matanya penuh air. "Suami saya sudah tiga tahun ini. Kadang pukul, kadang dorong. Anak-anak sudah besar, sudah pergi. Saya tidak tahu harus lapor ke mana. Saya pikir mungkin saya yang salah."

Dr. Wulan: "Kita mulai dari mana yang ada. Tapi kita juga perlu membangun apa yang seharusnya ada."

Di sore hari, Bidan Hasna menemui Dr. Wulan: "Dok, saya tidak tahu harus apa. Tidak ada protokol di sini. Tidak ada formulir. Saya tidak tahu harus rujuk ke mana."

Modul ini membangun kemampuan konsultan Obginsos untuk mengenali, merespons, dan mengadvokasi sistem yang melindungi korban kekerasan berbasis gender — di semua kelompok usia, termasuk remaja dan lansia yang paling sering diabaikan.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa mampu:

  1. 1 Menjelaskan spektrum kekerasan berbasis gender dan manifestasinya yang spesifik pada kelompok remaja dan lansia
  2. 2 Mengidentifikasi tanda klinis dan presentasi tersembunyi kekerasan berbasis gender dalam praktik pelayanan kesehatan reproduksi
  3. 3 Menerapkan pendekatan skrining yang sensitif trauma dan berbasis bukti dalam konteks pelayanan Obginsos
  4. 4 Menganalisis hambatan sistemik dalam respons sektor kesehatan terhadap kekerasan berbasis gender di Indonesia
  5. 5 Merancang alur respons klinis dan rujukan yang komprehensif untuk korban kekerasan berbasis gender di tingkat fasilitas kesehatan primer dan rujukan

MATERI INTI

1. Spektrum Kekerasan Berbasis Gender: Definisi dan Tipologi

Kekerasan berbasis gender (gender-based violence/GBV) adalah kekerasan yang diarahkan kepada seseorang berdasarkan jenis kelamin atau gender mereka — atau yang secara tidak proporsional menimpa jenis kelamin atau gender tertentu. Meskipun laki-laki dan anak laki-laki juga dapat menjadi korban, perempuan dan anak perempuan menanggung beban terbesar GBV secara global dan di Indonesia.

1 dari 3
Perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik/seksual oleh pasangan intim
SPHPN 2016
58 tahun
Bukan batas usia kekerasan berhenti — GBV terjadi sepanjang hayat

KDRT / Intimate Partner Violence

  • Kekerasan fisik, seksual, atau psikologis oleh pasangan intim
  • Bentuk GBV paling umum dalam pelayanan kesehatan reproduksi
  • Di Indonesia: 1 dari 3 perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami

Kekerasan Seksual

  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual
  • Termasuk pemaksaan hubungan seksual dalam pernikahan (marital rape)
  • Perlindungan hukum di Indonesia masih tidak memadai

Pernikahan Paksa & Dini

  • Pernikahan tanpa persetujuan bebas = bentuk GBV
  • Dampak langsung pada kesehatan reproduksi
  • Terkait erat dengan kehamilan remaja dan putus sekolah

Praktik Berbahaya

  • Mutilasi genitalia perempuan (FGM) — masih dilaporkan di beberapa komunitas Indonesia
  • Seleksi jenis kelamin prenatal dan fetisida perempuan

Kekerasan Berbasis Teknologi

  • Revenge porn, pelecehan online, pengancaman dengan konten seksual
  • Semakin relevan terutama untuk remaja pengguna media sosial

GBV pada Lansia

  • Kekerasan fisik, psikologis, finansial, seksual oleh pasangan, anak, menantu, atau pengasuh
  • Sering tidak dilaporkan karena ketergantungan ekonomi & isolasi sosial

2. GBV pada Remaja: Kerentanan Spesifik

Kekerasan dalam Pacaran

  • Sering diabaikan sebagai "bukan urusan orang tua"
  • Prevalensi 15–30% pada remaja SMA di beberapa kota Indonesia
  • Pola IPV dewasa sering berakar dari dinamika kekerasan remaja

Kekerasan oleh Kenalan/Keluarga

  • Sebagian besar kekerasan seksual remaja oleh orang dikenal
  • Hambatan pelaporan tinggi: takut tidak dipercaya, ancaman pelaku, rasa malu

Eksploitasi Seksual & Perdagangan Manusia

  • Remaja dari keluarga miskin, putus sekolah, riwayat kekerasan: risiko tinggi
  • Hubungan dua arah: kehamilan = konsekuensi eksploitasi; kehamilan tidak direncanakan = meningkatkan kerentanan

Online Sexual Exploitation

  • Grooming, sexting dipaksakan, penyebaran konten tanpa persetujuan
  • Literasi digital rendah & ketidaktahuan hak privasi digital = peningkatan kerentanan

3. GBV pada Lansia: Yang Paling Tidak Terlihat

IPV yang Berlanjut

  • Kekerasan tidak berhenti saat korban mencapai usia tertentu
  • Usia & ketergantungan ekonomi memperburuk posisi tawar
  • Tekanan "menjaga keutuhan keluarga" semakin kuat

Kekerasan oleh Anak/Menantu

  • Lansia bergantung pada anak untuk perawatan: rentan kekerasan fisik, psikologis, finansial
  • Tidak melapor karena tidak ingin menyakiti anak atau takut ditempatkan di panti jompo

Kekerasan Seksual pada Lansia

  • Oleh pasangan intim (pemaksaan hubungan seksual) atau pengasuh
  • Atrofi urogenital pasca-menopause membuat pemaksaan sangat menyakitkan & berpotensi cedera fisik

Penelantaran sebagai GBV

  • Tidak memberikan makanan adekuat, akses layanan kesehatan, atau perawatan dasar
  • Lansia perempuan: aset & otonomi finansial lebih kecil = sangat rentan

4. Presentasi Klinis GBV: Tanda yang Sering Terlewat

GBV jarang datang dengan label yang jelas di rekam medis. Tenaga kesehatan yang tidak terlatih akan melewatkan diagnosis yang kritis.

Presentasi Fisik

  • Cedera tidak konsisten dengan mekanisme yang dilaporkan
  • Kunjungan berulang dengan keluhan somatik berganti-ganti tanpa temuan organik jelas
  • Keterlambatan mencari pengobatan yang tidak dapat dijelaskan
  • Cedera dalam berbagai tahap penyembuhan (paparan berulang)

Presentasi OB/GYN

  • IMS berulang tanpa pengakuan multipel partner
  • Kehamilan tidak direncanakan berulang
  • Dispareunia tanpa penjelasan anatomi/hormonal memadai
  • Perdarahan vaginal tidak dapat dijelaskan
  • Riwayat terminasi kehamilan berulang (terutama remaja)

Presentasi Psikologis

  • Kecemasan, depresi, PTSD tanpa pemicu jelas
  • Gangguan tidur & mimpi buruk
  • Penarikan sosial & isolasi progresif
  • Rasa bersalah berlebihan tentang kondisi kesehatan sendiri

Tanda Perilaku Konsultasi

  • Pasangan tidak meninggalkan ruangan, menjawab pertanyaan untuk pasien
  • Pasien tampak takut, menghindari kontak mata, mengecilkan keluhan
  • Inkonsistensi cerita antar kunjungan
  • Menolak pemeriksaan tertentu tanpa penjelasan jelas

5. Pendekatan Skrining yang Sensitif Trauma

Prinsip Dasar Skrining GBV (WHO)

Skrining GBV (routine inquiry) direkomendasikan dalam konteks klinis tertentu — terutama ANC, layanan kesehatan remaja, dan layanan kesehatan jiwa. Namun skrining yang tidak dilakukan dengan benar dapat membahayakan.

L
Listen

Dengarkan dengan empati, tanpa menghakimi

I
Inquire

Tanyakan kebutuhan & kekhawatiran pasien

V
Validate

Validasi pengalaman & perasaan korban

E
Enhance Safety

Bantu rencana keselamatan (safety planning)

S
Support

Dukung akses ke layanan & sumber daya

Prasyarat Mutlak: Privasi

Tidak ada skrining GBV yang boleh dilakukan di hadapan pasangan, anggota keluarga, atau orang lain. Jika pasien tidak dapat ditemui sendiri, lebih baik tidak bertanya daripada bertanya dalam kondisi tidak aman.

Pertanyaan yang Membuka, Bukan Menghakimi

❌ Salah:
"Apakah suami Ibu pernah memukul Ibu?"
✅ Benar:
"Kadang perempuan mengalami kekerasan dari orang-orang di sekitarnya — itu bisa mempengaruhi kesehatan. Apakah Ibu pernah mengalami sesuatu seperti itu?"

Respons yang Validatif

  • "Terima kasih sudah mempercayai saya."
  • "Ini bukan salah Ibu."
  • "Ibu tidak sendirian — banyak perempuan mengalami ini."
  • "Ada beberapa pilihan yang bisa kita bicarakan."

Instrumen Skrining Tersedia

HITS
Hurt, Insulted, Threatened, Screamed
4 pertanyaan, tervalidasi untuk IPV
AAS
Abuse Assessment Screen
3 pertanyaan, dirancang untuk ANC
WAST
Woman Abuse Screening Tool
8 pertanyaan, konteks primer

Instrumen ini adalah alat bantu, bukan pengganti hubungan terapeutik. Jawaban "tidak" tidak berarti tidak ada GBV — banyak korban tidak akan mengakui pada kunjungan pertama.


6. Respons Sistem dan Alur Rujukan

Prinsip Respons Klinis yang Aman

  • Keselamatan pasien prioritas utama: rencana keselamatan (safety planning) dibuat bersama korban — bukan diputuskan tenaga kesehatan
  • Dokumentasi teliti: rekam medis sebagai dokumen medikolegal — deskripsi cedera objektif, foto dengan persetujuan, kutipan langsung pasien
  • Informed consent & kerahasiaan: pasien berhak memutuskan langkah selanjutnya; tidak melaporkan ke polisi/keluarga tanpa persetujuan (kecuali risiko kematian segera atau korban anak)

Alur Rujukan GBV di Indonesia

Puskesmas

Titik masuk pertama: skrining, pertolongan pertama psikologis, dokumentasi awal, rujukan

Rumah Sakit

Penanganan medis komprehensif, VeR, post-rape care, rawat inap

P2TP2A

Pendampingan hukum, konseling psikologis, shelter (kapasitas bervariasi)

SIMFONI PPA

Platform pelaporan online Kementerian PPPA

Hotline

Kemensos 1500-454 / PPPA 129

Level Kebijakan

  • Banyak Puskesmas tidak memiliki protokol GBV tertulis
  • Panduan klinis tidak mengintegrasikan skrining GBV secara rutin

Level Tenaga Kesehatan

  • Tidak terlatih untuk skrining, dokumentasi, rujukan GBV
  • Stigma: tidak sengaja menyalahkan korban atau meremehkan pengalaman

Level Fasilitas

  • Ketiadaan privasi di fasilitas padat membuat skrining hampir tidak mungkin
  • P2TP2A di banyak kabupaten tidak beroperasi efektif (anggaran & SDM terbatas)

Level Pasien/Komunitas

  • Stigma & rasa malu menghalangi pelaporan
  • Ketergantungan ekonomi & isolasi sosial memperburuk kerentanan

PERTANYAAN DISKUSI

1. Institusionalisasi Deteksi GBV Bidan Hasna berhasil mendeteksi GBV pada Ibu Wati karena ia mengajukan pertanyaan yang tepat pada momen yang tepat — sesuatu yang tidak ada dalam prosedur standar Puskesmas. Dari perspektif sistem, bagaimana "keberhasilan individual" seperti ini dapat diinstitusionalisasikan sehingga deteksi GBV tidak bergantung pada inisiatif personal tenaga kesehatan tertentu?
2. Mengubah Narasi "Salah Korban" Ibu Wati berkata "Saya pikir mungkin saya yang salah." Internalisasi rasa bersalah pada korban GBV adalah fenomena yang sangat umum dan sangat menghambat pencarian pertolongan. Dari perspektif kesehatan masyarakat, intervensi komunitas apa yang paling efektif untuk mengubah narasi "salah korban" ini di tingkat komunitas — dan bagaimana konsultan Obginsos dapat berkontribusi pada perubahan tersebut?

RANGKUMAN

Kekerasan berbasis gender adalah masalah kesehatan masyarakat yang pervasif, dengan konsekuensi kesehatan reproduksi yang serius dan berlangsung jangka panjang. GBV terjadi di semua kelompok usia — dari remaja yang menghadapi kekerasan dalam pacaran dan eksploitasi seksual, hingga lansia yang menanggung KDRT bertahun-tahun dalam diam. Presentasi klinis GBV sering tersembunyi di balik keluhan somatik berulang, keluhan ginekologis yang tidak dapat dijelaskan, atau pola perilaku yang mencurigakan dalam konsultasi.

Respons sistem yang efektif membutuhkan: skrining yang proaktif dan sensitif trauma, dokumentasi yang teliti dan berbasis hak, alur rujukan yang berfungsi, dan tenaga kesehatan yang terlatih untuk merespons tanpa menghakimi. Di Indonesia, kesenjangan antara sistem yang seharusnya ada dan yang benar-benar berfungsi masih sangat lebar — dan mengadvokasi penutupan kesenjangan ini adalah bagian dari tanggung jawab konsultan Obginsos sebagai pemimpin sistem kesehatan.

QUIZ 1 — MINGGU 5
CakupanModul 1–5, Sesi 1, MK Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia (Sosial)
Jumlah soal10 soal pilihan ganda (MCQ)
Bobot1 poin per soal (total 10 poin)
Waktu20 menit
SifatTutup buku (closed book)
PlatformLMS — jawaban dikirim otomatis saat waktu habis

Baca setiap soal dengan cermat. Pilih satu jawaban yang paling tepat.

Soal 1

Konferensi Kairo 1994 (ICPD) adalah titik balik dalam pemahaman kesehatan reproduksi karena untuk pertama kalinya secara internasional menegaskan bahwa:

  • A. Angka kelahiran harus dikendalikan melalui program keluarga berencana yang wajib
  • B. Kesehatan reproduksi mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial — serta hak individu untuk membuat keputusan reproduksi secara bebas
  • C. Pelayanan kesehatan reproduksi harus diprioritaskan untuk perempuan usia 15–49 tahun sebagai kelompok produktif
  • D. Negara berkembang harus mengurangi angka kelahiran sebagai syarat pembangunan ekonomi

Soal 2

Seorang remaja perempuan usia 15 tahun, hamil 22 minggu, datang dengan tekanan darah 148/96 mmHg dan Hb 8,8 g/dL. Dibandingkan perempuan hamil usia 25 tahun dengan kondisi serupa, risiko obstetri yang secara signifikan LEBIH TINGGI pada pasien remaja ini adalah:

  • A. Plasenta previa dan solusio plasenta akibat imaturitas uterus
  • B. Preeklampsia dan anemia — karena imaturitas vaskular dan kompetisi kebutuhan nutrisi antara ibu dan janin
  • C. Diabetes gestasional akibat resistensi insulin yang lebih tinggi pada remaja
  • D. Polihidramnion karena fungsi ginjal janin yang belum optimal pada kehamilan remaja

Soal 3

Di Kabupaten Sumbawa, prevalensi pernikahan dini mencapai 28,4% meskipun PKH sudah berjalan 5 tahun. Penjelasan yang paling tepat mengapa PKH belum berhasil menurunkan prevalensi secara signifikan adalah:

  • A. Besaran transfer tunai PKH terlalu kecil untuk mengubah keputusan ekonomi keluarga tentang pernikahan
  • B. PKH mengatasi hambatan finansial namun tidak menyentuh norma gender, tekanan budaya, dan mekanisme dispensasi yang memudahkan pernikahan dini tetap berlangsung
  • C. PKH tidak menjangkau desa-desa terpencil di Sumbawa karena keterbatasan infrastruktur
  • D. Pernikahan dini di Sumbawa terutama didorong oleh tradisi bakatoan yang tidak dapat dipengaruhi oleh program ekonomi

Soal 4

Enam dari dua belas perempuan lansia di Posyandu Tarailu melaporkan dispareunia yang belum pernah mereka sampaikan kepada tenaga kesehatan sebelumnya. Kondisi ini paling tepat dijelaskan oleh kombinasi dari:

  • A. Rendahnya prevalensi aktivitas seksual pada lansia sehingga keluhan tidak muncul sampai saat ini
  • B. Stigma sosial terhadap seksualitas lansia yang membuat mereka tidak berani melapor, dikombinasikan dengan tidak adanya pertanyaan proaktif dari tenaga kesehatan
  • C. Keterbatasan akses fisik ke Posyandu yang menghalangi mereka datang lebih awal
  • D. Dispareunia pada lansia adalah kondisi yang terlalu kompleks untuk ditangani di Posyandu sehingga tidak relevan untuk dikaji di sana

Soal 5

Ibu Wati, 58 tahun, datang ke Puskesmas tiga kali dalam satu bulan dengan keluhan berbeda-ganti tanpa temuan organik yang jelas. Pola ini dalam konteks deteksi GBV paling tepat diinterpretasikan sebagai:

  • A. Hipokondriasis — kecenderungan pasien untuk mengkhawatirkan penyakit yang tidak ada
  • B. Presentasi somatik GBV yang tersembunyi — korban kekerasan sering datang dengan keluhan fisik sebagai cara tidak langsung mencari bantuan
  • C. Perilaku pencarian perhatian yang tidak membutuhkan intervensi medis spesifik
  • D. Tanda depresi mayor yang membutuhkan rujukan langsung ke psikiater

Soal 6

Program Comprehensive Sexuality Education (CSE) terbukti lebih efektif dari program abstinence-only dalam mengurangi kehamilan remaja karena:

  • A. CSE mengajarkan teknik kontrasepsi secara eksplisit kepada semua remaja, sementara abstinence-only tidak memberikan informasi praktis
  • B. CSE menunda inisiasi seksual pada yang belum aktif, meningkatkan penggunaan kontrasepsi pada yang aktif, dan membangun keterampilan negosiasi dan pengambilan keputusan
  • C. CSE didukung oleh pemerintah dan mendapat dana lebih besar sehingga implementasinya lebih luas
  • D. Abstinence-only terbukti meningkatkan perilaku seksual berisiko karena menciptakan rasa ingin tahu yang tidak tersalurkan

Soal 7

Kanker serviks terdiagnosis pada stadium III–IV pada 83% kasus di Kabupaten Mamasa. Faktor yang paling langsung menjelaskan pola diagnosis terlambat ini adalah:

  • A. Kanker serviks di Kabupaten Mamasa memiliki karakteristik biologis yang lebih agresif dari rata-rata nasional
  • B. Cakupan skrining IVA yang hanya 7,3% — jauh di bawah target — menyebabkan sebagian besar kasus tidak terdeteksi pada stadium prakanker atau awal
  • C. Tenaga kesehatan di Mamasa tidak memiliki kompetensi untuk mendiagnosis kanker serviks stadium awal
  • D. Perempuan di Mamasa tidak mengeluhkan gejala karena toleransi nyeri yang tinggi

Soal 8

Seorang remaja perempuan 16 tahun datang ke IGD dengan luka memar di lengan dan wajah. Ia mengatakan "jatuh dari motor." Tenaga kesehatan memperhatikan bahwa pola memar tidak konsisten dengan mekanisme yang dilaporkan, dan pacarnya (18 tahun) tidak meninggalkan ruangan meskipun diminta. Langkah pertama yang PALING TEPAT dalam merespons situasi ini adalah:

  • A. Langsung bertanya kepada pacarnya apakah ia pernah memukul pasien
  • B. Memanggil polisi karena ada indikasi kekerasan yang jelas
  • C. Menciptakan kesempatan untuk berbicara dengan pasien secara privat tanpa pacarnya, baru kemudian mengkaji kemungkinan kekerasan
  • D. Mendokumentasikan luka dan melanjutkan penanganan medis tanpa mengangkat topik kekerasan untuk menghindari konfrontasi

Soal 9

Pendekatan life course dalam kesehatan reproduksi menyatakan bahwa kondisi di satu fase kehidupan mempengaruhi kondisi di fase berikutnya. Contoh yang paling tepat menggambarkan prinsip ini dalam konteks remaja dan lansia adalah:

  • A. Remaja yang rajin berolahraga akan memiliki kesehatan tulang yang lebih baik saat lansia
  • B. Perempuan yang mengalami kehamilan remaja berisiko lebih tinggi untuk kanker serviks di usia lanjut karena onset hubungan seksual lebih awal dan paparan HPV lebih lama
  • C. Lansia yang aktif secara seksual lebih berisiko terkena IMS karena sistem imunnya lebih lemah
  • D. Remaja yang mendapat pendidikan CSE akan memiliki kepuasan pernikahan lebih tinggi saat dewasa

Soal 10

Dalam skrining GBV di fasilitas kesehatan, prinsip yang PALING PENTING untuk memastikan keamanan pasien sebelum mengajukan pertanyaan tentang kekerasan adalah:

  • A. Menggunakan instrumen skrining yang tervalidasi seperti HITS atau WAST untuk memastikan hasil yang akurat
  • B. Memastikan privasi mutlak — tidak ada pasangan, anggota keluarga, atau orang lain yang hadir dalam ruangan
  • C. Mendapat pelatihan khusus tentang GBV sebelum berani mengajukan pertanyaan skrining
  • D. Memiliki jalur rujukan yang sudah tersedia sebelum melakukan skrining agar tidak menciptakan harapan yang tidak dapat dipenuhi

KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN

UNTUK DOSEN — TIDAK DIBAGIKAN KEPADA MAHASISWA

Soal 1 — Jawaban: B
ICPD 1994 adalah transformasi paradigmatis dari pendekatan demografis-kontrol ke pendekatan berbasis hak. Untuk pertama kalinya dalam forum internasional, kesehatan reproduksi didefinisikan secara holistik mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial — serta menegaskan hak individu untuk membuat keputusan reproduksi secara bebas.

Soal 2 — Jawaban: B
Preeklampsia dan anemia adalah risiko obstetri yang secara konsisten dan signifikan lebih tinggi pada remaja dibanding dewasa dalam literatur. Imaturitas vaskular meningkatkan risiko preeklampsia, sementara kompetisi kebutuhan nutrisi antara pertumbuhan ibu remaja yang masih berlangsung dengan kebutuhan janin meningkatkan risiko anemia.

Soal 3 — Jawaban: B
PKH adalah program transfer tunai yang mengatasi hambatan ekonomi — salah satu dari banyak determinan pernikahan dini. Namun pernikahan dini di Sumbawa juga sangat ditentukan oleh norma gender, tekanan budaya komunitas, dan kemudahan memperoleh dispensasi pengadilan. PKH tidak dirancang untuk mengubah norma sosial atau mereformasi sistem dispensasi.

Soal 4 — Jawaban: B
Situasi di Posyandu Tarailu adalah manifestasi klasik dari dua hambatan yang saling memperkuat: stigma sosial terhadap seksualitas lansia yang membuat mereka tidak berani melaporkan secara spontan, dan tidak adanya pertanyaan proaktif dari tenaga kesehatan yang seharusnya membuka ruang untuk pengungkapan.

Soal 5 — Jawaban: B
Presentasi somatik — keluhan fisik berulang yang berganti-ganti tanpa temuan organik yang jelas — adalah salah satu pola presentasi GBV yang paling umum dan paling sering terlewat. Korban kekerasan sering tidak dapat atau tidak berani secara langsung mengungkapkan situasi mereka, namun secara tidak sadar mencari bantuan melalui kunjungan berulang.

Soal 6 — Jawaban: B
Tinjauan sistematis secara konsisten menunjukkan bahwa CSE efektif karena bekerja di beberapa mekanisme sekaligus: menunda inisiasi seksual pada yang belum aktif, meningkatkan penggunaan kontrasepsi pada yang sudah aktif, dan — yang paling kritis — membangun keterampilan negosiasi dan pengambilan keputusan.

Soal 7 — Jawaban: B
Cakupan skrining IVA 7,3% berarti 92,7% perempuan tidak pernah diskrining — sehingga kanker yang sebenarnya dapat terdeteksi sebagai prakanker atau stadium awal justru baru terdeteksi ketika sudah simtomatik (biasanya stadium lanjut). Diagnosis terlambat adalah konsekuensi langsung dari kegagalan program skrining.

Soal 8 — Jawaban: C
Privasi adalah prasyarat mutlak untuk skrining GBV yang aman. Bertanya di hadapan pasangan berisiko memperburuk kekerasan — pelaku dapat mengancam korban setelah kunjungan. Memanggil polisi tanpa konfirmasi dan persetujuan korban melanggar otonomi pasien. Langkah paling tepat adalah menciptakan kesempatan privasi terlebih dahulu.

Soal 9 — Jawaban: B
Prinsip life course yang paling langsung relevan untuk konteks MK ini adalah hubungan antara onset hubungan seksual dini (yang berkorelasi dengan kehamilan remaja dan pernikahan dini) dengan risiko kanker serviks di usia lanjut — melalui paparan HPV yang lebih awal dan lebih lama.

Soal 10 — Jawaban: B
Dari semua prinsip skrining GBV, privasi mutlak adalah yang paling kritis untuk keamanan pasien. Bertanya tentang kekerasan di hadapan pasangan atau keluarga dapat langsung membahayakan korban — pelaku yang mendengar bahwa korban mengungkapkan kekerasan dapat mengancam atau meningkatkan kekerasan setelah kunjungan.

REFERENSI

  1. García-Moreno, C., Jansen, H.A.F.M., Ellsberg, M., Heise, L., & Watts, C.H. (2006). Prevalence of intimate partner violence: findings from the WHO multi-country study on women's health and domestic violence. The Lancet, 368(9543), 1260–1269. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69523-8
  2. Hegarty, K., O'Doherty, L., Taft, A., Chondros, P., Brown, S., Valpied, J., … & Gunn, J. (2013). Screening and counselling in the primary care setting for women who have experienced intimate partner violence (WEAVE): a cluster randomised controlled trial. The Lancet, 382(9888), 249–258. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60052-5
  3. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. (2016). Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016. KemenPPPA RI. https://www.kemenpppa.go.id
  4. Krug, E.G., Dahlberg, L.L., Mercy, J.A., Zwi, A.B., & Lozano, R. (Eds.). (2002). World Report on Violence and Health. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9241545615
  5. Palermo, T., Bleck, J., & Peterman, A. (2014). Tip of the iceberg: reporting and gender-based violence in developing countries. American Journal of Epidemiology, 179(5), 602–612. https://doi.org/10.1093/aje/kwt295
  6. Penhale, B. (2003). Older women, domestic violence, and elder abuse: a review of commonalities, differences, and shared approaches. Journal of Elder Abuse & Neglect, 15(3–4), 163–183. https://doi.org/10.1300/J084v15n03_10
  7. Stockman, J.K., Hayashi, H., & Campbell, J.C. (2015). Intimate partner violence and its health impact on ethnic minority women. Journal of Women's Health, 24(1), 62–79. https://doi.org/10.1089/jwh.2014.4879
  8. UNFPA. (2020). Gender-Based Violence in Humanitarian Settings. UNFPA. https://www.unfpa.org/gender-based-violence
  9. WHO. (2013). Responding to Intimate Partner Violence and Sexual Violence against Women: WHO Clinical and Policy Guidelines. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789241548595
  10. WHO. (2021). Violence against Women: Key Facts. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-women