Semester 2 | Periode 2 | MK Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia (Sosial) | Sesi 2 | Modul 6

Infeksi Menular Seksual pada Remaja dan Lansia: Epidemiologi, Stigma, dan Respons Sistem

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Pasien Pertama: Dimas, 17 tahun

Siswa SMA, datang dengan keluhan keluaran dari uretra sejak lima hari. Ia masuk dengan terburu-buru, memakai topi diturunkan rendah, duduk di kursi paling jauh dari pintu. Ketika Dr. Wulan bertanya riwayat seksual, Dimas menjawab setengah berbisik dan menghindari kontak mata. "Dokter, tolong jangan bilang siapa-siapa. Apalagi orang tua saya."

Remaja | Gonore
Pasien Kedua: Pak Rustam, 71 tahun

Pensiunan guru, datang diantar istrinya yang tampak cemas. Keluhan: luka di area genital yang tidak sembuh dua minggu. Istrinya bertanya kepada Dr. Wulan di luar ruangan: "Dok, itu penyakit apa? Bisa menular tidak?" Ketika Dr. Wulan melakukan anamnesis lengkap, Pak Rustam mengakui dengan malu bahwa ia pernah berhubungan seksual dengan perempuan lain tiga bulan lalu saat perjalanan dinas.

Lansia | Sifilis Primer
Benang Merah: Dua kasus dengan diagnosis yang berbeda, namun dengan satu benang merah: keduanya adalah kelompok yang sistem kesehatan tidak pernah benar-benar siapkan untuk dilayani dalam konteks IMS. Remaja karena asumsi bahwa mereka "seharusnya belum aktif secara seksual." Lansia karena asumsi bahwa mereka "sudah tidak aktif secara seksual." Kedua asumsi itu salah — dan biayanya dibayar oleh pasien dalam wujud keterlambatan diagnosis, rasa malu, dan komplikasi yang seharusnya dapat dicegah.

Modul ini membangun pemahaman komprehensif tentang IMS pada remaja dan lansia — dari epidemiologi yang sering tidak terlihat, mekanisme stigma yang menghalangi layanan, hingga respons sistem yang seharusnya ada namun sering tidak ada.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa mampu:

  1. 1 Menganalisis epidemiologi IMS pada kelompok remaja dan lansia di Indonesia beserta faktor risiko spesifik masing-masing kelompok
  2. 2 Menjelaskan mekanisme biologis dan sosial yang meningkatkan kerentanan remaja dan lansia terhadap IMS
  3. 3 Mengidentifikasi hambatan akses layanan IMS yang spesifik untuk remaja dan lansia — termasuk hambatan stigma, kerahasiaan, dan kapasitas sistem
  4. 4 Menerapkan pendekatan konseling dan penatalaksanaan IMS yang sensitif usia dan tidak menghakimi untuk kedua kelompok
  5. 5 Merancang strategi peningkatan deteksi dan penanganan IMS pada remaja dan lansia dalam konteks sistem kesehatan primer Indonesia

MATERI INTI

1. Epidemiologi IMS pada Remaja di Indonesia

20–35%
Kontribusi usia 15–24 tahun terhadap total kasus IMS terdeteksi
Data klinik kota besar
15–20%
Proporsi kasus HIV baru pada kelompok 15–24 tahun
Kemenkes
3–5 tahun
Rata-rata keterlambatan diagnosis HIV pada remaja

Skala masalah yang tersembunyi: Data IMS pada remaja Indonesia secara konsisten underreported — akibat kombinasi hambatan akses, stigma, dan keterbatasan surveilans. Namun data yang tersedia menggambarkan beban yang signifikan.

HPV (Human Papillomavirus)

  • IMS paling umum secara global dan pada remaja — ditransmisikan melalui kontak kulit-ke-kulit genital
  • Sebagian besar infeksi bersifat transien, diselesaikan sistem imun dalam 1–2 tahun
  • Infeksi persisten tipe onkogenik (HPV 16 & 18) = penyebab utama kanker serviks
  • Vaksinasi HPV pada remaja sebelum onset aktivitas seksual = intervensi pencegahan paling cost-effective

Klamidia (Chlamydia trachomatis)

  • IMS bakterial paling umum di banyak negara, prevalensi tertinggi pada usia 15–24 tahun
  • Data prevalensi pada remaja Indonesia sangat terbatas karena minimnya skrining rutin
  • Sering asimtomatik — terutama pada perempuan — menyebabkan PID dan infertilitas tuba

Gonore (Neisseria gonorrhoeae)

  • Pada remaja: gejala lebih simtomatik pada laki-laki (keluaran uretra, disuria), asimtomatik/minimal pada perempuan
  • Resistensi antibiotik meningkat secara global = tantangan tatalaksana kritis
  • Membutuhkan surveilans resistensi dan pembaruan panduan tatalaksana berkala

Sifilis

  • Meski lebih umum pada populasi dewasa berisiko tinggi, tetap terjadi pada remaja dalam konteks eksploitasi seksual
  • Sifilis kongenital — ketika ibu hamil (termasuk ibu remaja) tidak ditangani — sepenuhnya dapat dicegah namun masih terjadi di Indonesia

HIV

  • Indonesia menghadapi epidemi HIV terkonsentrasi pada populasi kunci, termasuk kelompok muda berisiko
  • Kelompok usia 15–24 tahun menyumbang ~15–20% kasus HIV baru yang dilaporkan
  • Keterlambatan diagnosis rata-rata 3–5 tahun antara infeksi dan diagnosis = masalah besar pada remaja yang tidak merasa berisiko atau tidak dapat mengakses VCT

Faktor Risiko Biologis Remaja

  • Imaturitas biologis serviks: area ektopi lebih luas pada remaja perempuan = lebih rentan terhadap infeksi klamidia dan HPV
  • Faktor risiko murni usia-spesifik yang tidak dapat dimodifikasi

Faktor Risiko Sosial-Perilaku

  • Jaringan seksual terkonsentrasi: probabilitas terhubung dengan seseorang yang terinfeksi lebih tinggi dalam jaringan remaja
  • Konsistensi kondom rendah: akibat kurangnya pengetahuan, hambatan akses, rasa malu, dan dinamika kekuasaan dalam hubungan

2. Epidemiologi IMS pada Lansia: Data yang Hampir Tidak Ada

>100%
Peningkatan insidensi sifilis, gonore, klamidia pada usia ≥65 tahun di AS (2010–2020)
Tren global
0
Laporan surveilans IMS Indonesia untuk kelompok usia ≥60 tahun
Kesenjangan data

Tren global yang mengejutkan: Bertentangan dengan asumsi umum, data dari berbagai negara menunjukkan peningkatan IMS pada kelompok lansia dalam dua dekade terakhir.

Faktor Peningkatan IMS pada Lansia

  • Peningkatan harapan hidup & kesehatan: lansia sehat tetap aktif secara seksual lebih lama — namun tanpa pengetahuan risiko IMS yang diperbarui
  • Persepsi risiko salah: tidak menganggap diri berisiko IMS; motivasi kondom hilang karena risiko kehamilan tidak relevan
  • Perubahan status pernikahan: perceraian/perkawinan ulang pada lansia meningkat; kembali aktif seksual tanpa kebiasaan kondom
  • Perubahan biologis: atrofi urogenital pasca-menopause meningkatkan kerentanan mukosa vagina; imunosenesen meningkatkan kerentanan infeksi

Kesenjangan Data Indonesia

  • Sistem surveilans IMS Indonesia tidak secara rutin melaporkan data berdasarkan kelompok usia ≥60 tahun
  • Klinik IMS tidak memiliki protokol skrining untuk lansia
  • "Ini bukan berarti IMS pada lansia tidak ada — ini berarti kita tidak melihat karena tidak mencari."

3. Stigma sebagai Hambatan Sistemik

Stigma adalah hambatan terbesar dalam akses layanan IMS untuk remaja dan lansia — dan mekanismenya berbeda untuk kedua kelompok:

Stigma terhadap Remaja dengan IMS

  • Stigma berlapis: aktivitas seksual remaja ("seharusnya belum"), IMS sebagai "penyakit kotor", perilaku seksual di luar norma
  • Tenaga kesehatan tidak terlatih sering mentransmisikan stigma melalui ekspresi wajah, nada suara, pertanyaan menghakimi
  • Konsekuensi: menghindari fasilitas kesehatan formal, pengobatan sendiri, keterlambatan diagnosis, pengalaman traumatik

Stigma terhadap Lansia dengan IMS

  • Stigma berlapis berbeda: malu aktivitas seksual di usia tua ("tidak pantas"), bersalah terhadap pasangan, takut memalukan keluarga
  • Tenaga kesehatan yang mengasumsikan lansia tidak aktif secara seksual sering melewatkan diagnosis IMS
  • Kasus Pak Rustam: kombinasi stigma personal & asumsi tenaga kesehatan → keterlambatan diagnosis 2 minggu

Stigma Institusional dalam Sistem Kesehatan Indonesia

  • Tidak adanya mekanisme kerahasiaan yang jelas untuk remaja yang belum menikah
  • Persyaratan pendamping atau persetujuan orang tua yang menghalangi remaja datang sendiri
  • Tidak adanya protokol skrining IMS rutin untuk lansia
  • Distribusi layanan IMS terkonsentrasi di "klinik penyakit kelamin" yang menstigma, bukan terintegrasi ke layanan primer umum

4. Pendekatan Konseling yang Sensitif Usia

Prinsip Umum Konseling IMS yang Tidak Menghakimi

Normalisasi

"IMS adalah kondisi medis seperti infeksi lainnya — bisa menimpa siapa saja yang aktif secara seksual, tanpa memandang usia atau latar belakang."

Kerahasiaan Eksplisit

Menyatakan secara jelas bahwa informasi bersifat rahasia — kecuali dalam kondisi tertentu yang dijelaskan dengan transparan.

Bahasa Netral

Menghindari kata-kata bernilai moral ("nakal," "tidak senonoh," "memalukan").

Fokus Kesehatan

Peran tenaga kesehatan: memberikan pelayanan kesehatan optimal — bukan mengevaluasi atau menghukum pilihan seksual pasien.

Konseling Spesifik untuk Remaja

  • Jaminan kerahasiaan eksplisit di awal: "Apapun yang kamu ceritakan di sini, saya tidak akan memberitahukan kepada orang tuamu kecuali kamu mengizinkan atau ada risiko keselamatan yang serius."
  • Informasi jelas tentang: pentingnya partner notification, cara menggunakan kondom, di mana mendapat kondom tanpa malu, kapan kembali kontrol
  • Remaja membutuhkan jaminan sebelum mereka akan terbuka — pernyataan kerahasiaan harus disampaikan di awal, bukan setelah informasi sensitif terungkap

Konseling Spesifik untuk Lansia

  • Validasi normalitas: aktivitas seksual di usia mereka adalah normal dan sah; tenaga kesehatan yang terlihat terkejut akan langsung menutup saluran komunikasi
  • Untuk partner notification: mempersiapkan pasien untuk percakapan sulit, menawarkan dukungan, memfasilitasi konseling pasangan jika perlu
  • Lansia dengan komplikasi kronis (neurosifilis, kanker HPV): pendekatan yang mengakui dampak psikologis diagnosis terlambat tanpa menambah beban rasa bersalah

5. Tatalaksana IMS: Prinsip dan Konteks Indonesia

Pendekatan Sindromik vs. Etiologik

Di banyak Puskesmas Indonesia, tatalaksana IMS masih menggunakan pendekatan sindromik — mengobati berdasarkan gambaran klinis (sindrom keluaran uretra, vaginal, ulkus genital) tanpa konfirmasi laboratorium.

✅ Kelebihan:
Pragmatis dalam konteks keterbatasan laboratorium; akses cepat ke pengobatan
⚠️ Keterbatasan:
Akurasi terbatas; berkontribusi pada penggunaan antibiotik tidak tepat; tidak mendeteksi infeksi asimtomatik

Prioritas advokasi: Pengembangan kapasitas laboratorium — minimal NAAT (Nucleic Acid Amplification Test) untuk klamidia dan gonore di fasilitas rujukan.

Resistensi Antimikroba

Gonore resistan terhadap sefalosporin generasi ketiga semakin dilaporkan di Indonesia — krisis kesehatan masyarakat yang membutuhkan surveilans resistensi sistematis

Manajemen Pasangan

Partner notification sering diabaikan; tanggung jawab dibebankan ke pasien tanpa dukungan sistematis; EPT (Expedited Partner Therapy) belum diregulasi di Indonesia

PEP untuk HIV

Remaja & lansia pasca-pajanan seksual berisiko perlu informasi PEP dalam 72 jam pertama; ketersediaan PEP di Puskesmas masih sangat terbatas

Pembaruan Panduan

Panduan tatalaksana IMS perlu diperbarui berkala mengikuti tren resistensi dan bukti baru


6. Membangun Sistem yang Responsif

Integrasi Layanan Primer

Memindahkan layanan IMS dari "klinik penyakit kelamin" yang menstigma ke layanan primer umum dengan protokol kerahasiaan jelas — berpotensi meningkatkan akses signifikan

Skrining Oportunistik

Setiap kunjungan remaja/lansia ke Puskesmas adalah kesempatan skrining IMS oportunistik yang sensitif — proaktif, bukan menunggu pasien melaporkan

Pelatihan Tenaga Kesehatan

Pelatihan yang membangun kompetensi teknis sekaligus mengatasi stigma personal; pendekatan role-play & refleksi nilai lebih efektif dari pelatihan klinis teknis semata

Protokol Kerahasiaan

Mekanisme kerahasiaan yang jelas untuk remaja; protokol skrining rutin untuk lansia; integrasi ke dalam sistem informasi kesehatan yang ada

PERTANYAAN DISKUSI

1. Strategi Komunikasi Mengurangi Stigma Dimas (remaja) dan Pak Rustam (lansia) keduanya terlambat mencari pengobatan IMS karena stigma — namun mekanisme stigmanya berbeda. Rancang dua strategi komunikasi kesehatan yang berbeda untuk mengurangi hambatan stigma pada masing-masing kelompok — dengan mempertimbangkan konteks sosial, kanal komunikasi, dan pesan yang paling resonan untuk setiap kelompok.
2. Mengisi Kekosongan Data Surveilans Lansia Sistem surveilans IMS Indonesia hampir tidak memiliki data untuk kelompok usia ≥60 tahun. Dari perspektif kesehatan masyarakat, apa konsekuensi dari kekosongan data ini — dan bagaimana sistem surveilans yang ada dapat dimodifikasi secara realistis untuk mengisi kekosongan tersebut tanpa membutuhkan pembangunan sistem baru dari awal?

RANGKUMAN

IMS pada remaja dan lansia adalah masalah kesehatan masyarakat yang secara sistematis tidak terlihat — tersembunyi di balik asumsi tentang siapa yang "seharusnya" aktif secara seksual dan siapa yang tidak. Remaja menghadapi risiko biologis yang nyata (imaturitas serviks, jaringan seksual yang terkonsentrasi) dan hambatan akses yang besar akibat stigma dan ketiadaan mekanisme kerahasiaan. Lansia menghadapi risiko biologis yang meningkat (atrofi urogenital, imunosenesen) namun hampir tidak pernah diskrining karena asumsi sistem bahwa mereka tidak berisiko.

Respons sistem yang efektif membutuhkan: integrasi layanan IMS ke dalam layanan primer dengan protokol kerahasiaan, konseling yang sensitif usia dan tidak menghakimi, sistem skrining oportunistik yang proaktif, dan pelatihan tenaga kesehatan yang mengatasi stigma personal sekaligus membangun kompetensi teknis.

REFERENSI

  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines 2021. CDC. https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/default.htm
  2. Fileborn, B., Lyons, A., Hinchliff, S., Brown, G., Heywood, W., & Minichiello, V. (2017). Talking to healthcare providers about sex in later life: findings from a qualitative study of older Australian men and women. Australasian Journal on Ageing, 36(4), E50–E56. https://doi.org/10.1111/ajag.12450
  3. Kementerian Kesehatan RI. (2019). Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2019. Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id
  4. Leichliter, J.S., Copen, C., & Dittus, P.J. (2017). Confidentiality issues and use of sexually transmitted disease services among sexually experienced persons aged 15–25 years — United States, 2013–2015. MMWR Morbidity and Mortality Weekly Report, 66(9), 237–241. https://doi.org/10.15585/mmwr.mm6609a1
  5. Low, N., & Broutet, N.J. (2017). Sexually transmitted infections — research priorities for new challenges. PLOS Medicine, 14(12), e1002481. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002481
  6. Minichiello, V., Plummer, D., & Loxton, D. (2004). Factors predicting sexual relationships in older people: an Australian study. Australasian Journal on Ageing, 23(3), 125–130. https://doi.org/10.1111/j.1741-6612.2004.00031.x
  7. Newman, L., Rowley, J., Vander Hoorn, S., Wijesooriya, N.S., Unemo, M., Low, N., … & Hawkes, S. (2015). Global estimates of the prevalence and incidence of four curable sexually transmitted infections in 2012 based on systematic review and global reporting. PLOS ONE, 10(12), e0143304. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0143304
  8. Swartzendruber, A., & Zenilman, J.M. (2010). A national strategy to improve sexual health. JAMA, 304(9), 1005–1006. https://doi.org/10.1001/jama.2010.1252
  9. WHO. (2019). Report on Global Sexually Transmitted Infection Surveillance 2018. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/report-on-global-sexually-transmitted-infection-surveillance-2018
  10. WHO. (2022). Sexually Transmitted Infections: Key Facts. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sexually-transmitted-infections-(stis)