Semester 2 | Periode 2 | MK Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia (Sosial) | Sesi 2 | Modul 9

Pendekatan Komunitas dan Pemberdayaan dalam Kesehatan Reproduksi Remaja dan Lansia

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Sabtu pagi, Halaman Masjid Al-Hidayah, Desa Tarailu

Dua puluh tiga perempuan — dari usia 15 hingga 72 tahun — duduk dalam lingkaran di atas tikar. Di tengah lingkaran: Bidan Hasna, seorang kader posyandu bernama Ibu Rahma yang sudah dua tahun dilatih sebagai konselor sebaya, dan Rara — remaja 16 tahun yang delapan bulan lalu datang ke Puskesmas dengan kehamilan yang tidak direncanakan, dan kini hadir sebagai peserta aktif, bukan pasien.

23 Perempuan | Usia 15–72 tahun Tumbuh Organik
Asal Mula Kelompok

Pertemuan ini bukan program Kemenkes. Tidak ada anggaran khusus, tidak ada SK dari Dinas Kesehatan. Ini tumbuh dari percakapan antara Bidan Hasna dan Ibu Rahma enam bulan lalu: "Bagaimana kalau kita buat ruang di mana perempuan di desa ini bisa bicara tentang tubuh mereka sendiri — tanpa malu, tanpa dihakimi?"

Dr. Wulan mencatat dalam jurnalnya: "Apa yang terjadi di sini tidak bisa digantikan oleh program manapun yang dirancang dari atas. Ini adalah kesehatan masyarakat yang sesungguhnya — tumbuh dari kepercayaan, dibangun oleh komunitas, dan berkelanjutan karena bermakna bagi mereka yang menjalaninya."

Dalam enam bulan berjalan, kelompok ini telah: membantu dua remaja mendapat akses layanan PKPR di Puskesmas yang sebelumnya tidak mereka ketahui; mendorong empat perempuan lansia untuk pertama kalinya memeriksakan keluhan ginekologis yang selama bertahun-tahun mereka pendam; dan — yang paling tidak terduga — menghasilkan percakapan antara remaja dan lansia yang saling belajar dari pengalaman satu sama lain tentang tubuh, kehamilan, dan penuaan.

Modul ini membangun pemahaman konsultan Obginsos tentang pendekatan berbasis komunitas dalam kesehatan reproduksi — mengapa program yang dirancang dari atas sering gagal, dan bagaimana pemberdayaan komunitas yang otentik dapat menghasilkan perubahan yang tidak dapat dicapai oleh intervensi klinis semata.

Komunitas sebagai Agen
👩
👧
👵
👩‍⚕️
🧕
👩‍🦰

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa mampu:

  1. 1 Menganalisis prinsip-prinsip pemberdayaan komunitas (community empowerment) dan relevansinya untuk kesehatan reproduksi remaja dan lansia
  2. 2 Mengevaluasi berbagai model pendekatan berbasis komunitas yang terbukti efektif dalam konteks kesehatan reproduksi di negara berkembang
  3. 3 Mengidentifikasi peran konselor sebaya, kader terlatih, dan tokoh komunitas dalam sistem pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif
  4. 4 Menganalisis faktor-faktor yang membedakan program komunitas yang berkelanjutan dari yang gagal setelah proyek berakhir
  5. 5 Merancang strategi keterlibatan komunitas yang kontekstual, inklusif, dan menghormati agensi komunitas untuk program kesehatan reproduksi remaja dan lansia

MATERI INTI

1. Pemberdayaan Komunitas: Konsep dan Relevansi

Pemberdayaan komunitas (community empowerment) adalah proses di mana individu dan komunitas mendapatkan kontrol yang lebih besar atas keputusan dan tindakan yang mempengaruhi kesehatan mereka. Ini bukan sekadar "melibatkan masyarakat" dalam program yang sudah dirancang — melainkan proses transformatif di mana komunitas menjadi agen aktif perubahan, bukan objek intervensi.

Dimensi Individu

  • Peningkatan pengetahuan, keterampilan, kepercayaan diri, dan rasa agensi pada level personal
  • Contoh: remaja yang memahami hak reproduksinya dan merasa berdaya untuk mengakses layanan
  • Fokus pada kapasitas personal untuk membuat keputusan kesehatan yang terinformasi

Dimensi Organisasi

  • Penguatan kapasitas kelompok-kelompok komunitas — PKK, karang taruna, kelompok pengajian, kelompok lansia
  • Kelompok komunitas mampu mengadvokasi kebutuhan kesehatan anggotanya kepada sistem kesehatan formal
  • Membangun struktur internal yang mendukung keberlanjutan inisiatif kesehatan

Dimensi Komunitas

  • Perubahan norma sosial dan distribusi kekuasaan yang menciptakan lingkungan lebih mendukung kesehatan reproduksi
  • Level perubahan paling sulit dicapai namun paling berkelanjutan
  • Membutuhkan waktu, konsistensi, dan kepemimpinan internal yang kuat

Mengapa Pemberdayaan Komunitas Penting untuk Remaja dan Lansia?

Program kesehatan yang dirancang tanpa keterlibatan komunitas sering gagal bukan karena masalah teknis, melainkan karena:

  • Tidak sesuai dengan norma dan nilai komunitas yang sebenarnya
  • Tidak menjawab kebutuhan yang diprioritaskan komunitas sendiri
  • Tidak memiliki "pemilik" di dalam komunitas yang akan mempertahankannya setelah proyek berakhir
  • Menciptakan ketergantungan pada fasilitator luar daripada membangun kapasitas internal

Untuk remaja dan lansia khususnya — dua kelompok yang paling rentan terhadap stigma dan paling sering tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan kesehatan — pemberdayaan komunitas adalah jalur kritis menuju layanan yang benar-benar dapat diakses dan bermartabat.


2. Model Pendekatan Berbasis Komunitas yang Terbukti Efektif

Terbukti Efektif

Konselor Sebaya (Peer Educator)

  • Individu dari kelompok yang sama — remaja mendidik remaja, lansia mendampingi lansia
  • Mekanisme efektivitas: kepercayaan & identifikasi, aksesibilitas di konteks informal, normalisasi topik tabu
  • Bukti: peningkatan pengetahuan, penurunan perilaku berisiko, peningkatan utilisasi PKPR
  • Di Indonesia: PIK-Remaja BKKBN menggunakan model ini dengan hasil bervariasi tergantung kualitas pelatihan & supervisi
Potensi Besar

Kader Posyandu yang Diperkuat

  • Aset kesehatan komunitas paling berharga di Indonesia — kapasitas sering digunakan di bawah potensi
  • Dengan pelatihan & supervisi: skrining awal, penyuluhan berbasis komunitas, motivasi penggunaan layanan formal, deteksi & pelaporan kasus
  • Kunci keberhasilan: supervisi berkelanjutan, materi mudah digunakan, sistem penghargaan non-finansial
Bukti Kuat

Kelompok Dukungan Sebaya

  • Model seperti yang tumbuh organik di Desa Tarailu — intervensi berbasis komunitas dengan bukti kuat
  • Kelompok ibu postpartum: mengurangi isolasi, mempercepat pemulihan dari DPP
  • Kelompok lansia perempuan: meningkatkan kesediaan mengungkapkan masalah kesehatan reproduksi
  • Kelompok remaja pernah hamil tidak direncanakan: dukungan peer yang tidak dapat diberikan tenaga kesehatan
  • Kunci efektivitas: kepemimpinan internal kuat, agenda ditentukan anggota, koneksi jelas dengan layanan formal
Kontekstual Indonesia

Keterlibatan Tokoh Agama & Adat

  • Di komunitas religius & kultural Indonesia, tokoh agama & adat memiliki pengaruh tidak dapat diabaikan
  • Program berhasil: melibatkan tokoh sebagai mitra sungguh-sungguh dalam perancangan & implementasi, bukan sekadar "stempel legitimasi"
  • Contoh: "Ulama untuk Kesehatan Ibu" di NTB — mengintegrasikan pesan kesehatan maternal ke dalam khutbah & pengajian

3. Pendekatan Komunitas Spesifik untuk Remaja

Safe Spaces

Ruang Aman untuk Remaja Perempuan

  • Konsep: remaja perempuan berkumpul, belajar, mengembangkan kepercayaan diri di lingkungan bebas pelecehan, tekanan pernikahan dini, eksploitasi
  • Bukti dari Ethiopia, Zimbabwe, Bangladesh: safe spaces terstruktur signifikan mengurangi kerentanan pernikahan dini & kehamilan tidak direncanakan
  • Implementasi Indonesia: kelompok belajar di luar sekolah, program berbasis masjid/gereja, integrasi ke PIK-Remaja dengan penguatan interaksi sosial & pembangunan kepercayaan diri
Laki-laki Muda

Keterlibatan Laki-laki Muda

  • Program hanya menargetkan remaja perempuan meninggalkan setengah persamaan perilaku seksual tanpa diintervensi
  • Keterlibatan laki-laki muda dalam diskusi tentang: konsensualitas, tanggung jawab reproduksi, maskulinitas sehat
  • Komponen kritis untuk perubahan norma berkelanjutan yang sering diabaikan
Keluarga

Orang Tua dan Keluarga sebagai Mitra

  • Remaja hidup dalam sistem keluarga — program hanya menargetkan remaja tanpa melibatkan orang tua kehilangan pengaruh terbesar dalam pengambilan keputusan reproduksi
  • Sesi "orang tua dan remaja bersama": keduanya belajar tentang kesehatan reproduksi dalam konteks tidak konfrontatif
  • Bukti: meningkatkan komunikasi keluarga & mengurangi risiko kehamilan remaja

4. Pendekatan Komunitas Spesifik untuk Lansia

Posyandu Lansia

Transformasi Platform Pemberdayaan

  • Posyandu Lansia saat ini: hampir sepenuhnya layanan — pengukuran, pemeriksaan, suplemen
  • Transformasi menjadi platform pemberdayaan: penambahan diskusi kelompok dipimpin kader terlatih, sesi berbagi pengalaman antar lansia, pendidikan kesehatan yang mengakui agensi lansia
  • Mengakui lansia sebagai pembuat keputusan tentang tubuh mereka sendiri
Lintas Generasi

Integrasi Lintas Generasi

  • Pengalaman Desa Tarailu: potensi jarang dimanfaatkan — percakapan lintas generasi remaja-lansia tentang tubuh, reproduksi, penuaan
  • Remaja mendapat perspektif perjalanan hidup yang tidak dapat diberikan tenaga kesehatan
  • Lansia mendapat validasi bahwa pengalaman mereka bermakna & layak dibagikan
  • Model ini juga mengurangi isolasi sosial lansia & stigma remaja tentang penuaan
Dukacita

Dukungan Dukacita Berbasis Komunitas

  • Kehilangan pasangan — dialami jutaan lansia Indonesia setiap tahun — adalah krisis yang membutuhkan dukungan psikososial hampir tidak tersedia di sistem formal
  • Kelompok dukungan dukacita dipimpin fasilitator terlatih dari komunitas (bukan harus tenaga kesehatan profesional) terbukti efektif mencegah dukacita berkepanjangan & mengurangi risiko depresi mayor
  • Membutuhkan pelatihan fasilitator komunitas, protokol rujukan untuk kasus kompleks, dan koneksi dengan layanan kesehatan jiwa

5. Faktor Keberlanjutan Program Komunitas

Salah satu kegagalan paling umum dalam program kesehatan berbasis komunitas: program berjalan dengan baik selama ada dukungan proyek, kemudian berhenti total ketika proyek berakhir.

Kepemilikan Komunitas Otentik

Program dirancang bersama komunitas — bukan hanya "disosialisasikan" — memiliki rasa kepemilikan yang mendorong keberlanjutan. Ketika anggota komunitas merasa program itu "milik mereka," mereka memiliki motivasi intrinsik mempertahankannya.

Kepemimpinan Internal Kuat

Setiap program berkelanjutan memiliki satu atau beberapa individu dari komunitas itu sendiri yang menjadi motor penggerak. Menemukan, melatih, dan mendukung pemimpin komunitas ini — bukan menggantikan mereka dengan fasilitator luar — adalah investasi keberlanjutan paling penting.

Integrasi ke Struktur yang Ada

Program yang "menumpang" pada struktur yang sudah ada — pengajian, arisan, pertemuan PKK, posyandu — lebih mudah bertahan daripada program yang membutuhkan pembangunan forum baru. Biaya koordinasi lebih rendah & rasa familiaritas lebih tinggi mendukung keberlanjutan.

Hubungan Jelas dengan Sistem Formal

Program komunitas yang terisolasi dari sistem kesehatan formal kehilangan kemampuan merujuk kasus yang melampaui kapasitasnya — dan akhirnya kehilangan kepercayaan komunitas. Hubungan yang jelas & berfungsi dengan Puskesmas, Bidan Desa, dan layanan rujukan adalah kondisi diperlukan untuk keberlanjutan.

Relevansi yang Dirasakan

Program bertahan ketika anggota komunitas merasakan manfaat yang nyata dalam kehidupan mereka. Ini membutuhkan desain yang responsif terhadap kebutuhan yang diprioritaskan komunitas sendiri — bukan hanya kebutuhan yang diprioritaskan oleh program nasional atau donor. Monitoring partisipatif dan umpan balik rutin membantu menjaga relevansi.


6. Peran Konsultan Obginsos dalam Pendekatan Komunitas

Konsultan Obginsos yang hanya berpraktik di klinik kehilangan sebagian besar dari dampak potensial yang dapat mereka ciptakan. Peran dalam pendekatan komunitas yang relevan:

Fasilitator & Sumber Daya Teknis

Menyediakan pengetahuan klinis yang diperlukan oleh program komunitas — melatih kader, memvalidasi materi edukasi, memberikan konsultasi untuk kasus yang dirujuk dari kelompok komunitas.

Advokat Sistem

Menggunakan data dari pengalaman komunitas untuk mengadvokasi perubahan sistem formal — seperti yang dilakukan Dr. Wulan dengan membawa pengalaman Posyandu Tarailu ke rapat Dinas Kesehatan.

Penghubung Lintas-Sektor

Memfasilitasi koneksi antara kelompok komunitas dengan sumber daya yang mungkin tidak mereka ketahui: program CSO, pendanaan BOK, program PKH, dan jalur rujukan yang tersedia.

Pengamat yang Belajar

Seperti Dr. Wulan yang mencatat dalam jurnalnya, konsultan Obginsos yang efektif belajar dari komunitas — memahami konteks, norma, dan aset lokal yang tidak dapat diketahui dari literatur ilmiah semata.

PERTANYAAN DISKUSI

1. Formalisasi vs Esensi Organik Kelompok perempuan di Desa Tarailu tumbuh secara organik — tanpa program formal, tanpa anggaran khusus, tanpa SK dari Dinas Kesehatan. Jika Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa sekarang ingin "memformalisasi" dan "menskalakan" kelompok ini ke seluruh kabupaten, risiko apa yang harus diantisipasi — dan bagaimana proses formalisasi dapat dilakukan tanpa membunuh esensi yang membuat kelompok ini berhasil?
2. Keterlibatan Tokoh Agama yang Membangun Program komunitas untuk kesehatan reproduksi remaja di Indonesia sering menghadapi resistensi dari tokoh agama dan orang tua yang khawatir program tersebut "mendorong pergaulan bebas." Rancang strategi keterlibatan tokoh agama yang membangun dari nilai-nilai yang sudah mereka pegang — tanpa mengkompromikan konten berbasis bukti tentang kesehatan reproduksi.

RANGKUMAN

Pendekatan komunitas dalam kesehatan reproduksi remaja dan lansia bukan alternatif dari sistem kesehatan formal — melainkan komplemen yang tidak dapat digantikan. Program klinis yang terbaik sekalipun tidak dapat menjangkau individu yang tidak pernah datang ke fasilitas kesehatan, tidak dapat mengubah norma yang menghalangi pengungkapan masalah, dan tidak dapat memberikan dukungan sosial yang diperlukan untuk pemulihan psikologis.

Program komunitas yang efektif dibangun di atas prinsip pemberdayaan yang otentik: komunitas sebagai agen, bukan objek; kepemimpinan internal yang diakui dan didukung; integrasi ke dalam struktur yang sudah ada; dan hubungan yang fungsional dengan sistem formal untuk kasus yang melampaui kapasitas komunitas. Keberlanjutan adalah ujian utama — program yang hanya berjalan selama ada proyek tidak mengubah sistem.

Bagi konsultan Obginsos, memahami dan menghargai peran komunitas bukan sekadar kompetensi teknis — melainkan pergeseran orientasi dari "saya yang mengobati" menuju "kita yang membangun sistem bersama."

TUGAS KELOMPOK 4 (TK4) — MINGGU 9
Nama TugasTugas Kelompok 4 — Rancangan Program Berbasis Komunitas untuk Kesehatan Reproduksi Remaja dan Lansia
Mata KuliahMK Kesehatan Reproduksi Remaja & Lansia (Sosial)
Bobot15% dari nilai akhir MK
FormatProposal program berbasis komunitas + rencana monitoring dan evaluasi
Panjang2.000–3.000 kata proposal utama + matriks M&E 1–2 halaman
ReferensiMinimal 6 referensi akademik
Anggota3–4 mahasiswa per kelompok
PengumpulanUnggah PDF melalui LMS sebelum Minggu 10 dimulai

Petunjuk Umum

Tugas ini adalah latihan perancangan program berbasis komunitas yang komprehensif — dari analisis konteks hingga rencana implementasi dan evaluasi. Kelompok diharapkan menghasilkan proposal yang dapat benar-benar diimplementasikan di lapangan: realistis dalam sumber daya, kontekstual terhadap komunitas sasaran, dan memiliki mekanisme keberlanjutan yang jelas.

Proposal harus mencerminkan prinsip pemberdayaan komunitas yang otentik — bukan program "dari atas ke bawah" yang menganggap komunitas sebagai objek, melainkan program yang menempatkan komunitas sebagai agen. Matriks M&E harus dapat digunakan secara praktis oleh pengelola program di lapangan, bukan sekadar memenuhi persyaratan pelaporan donor.

Skenario: Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat

Kategori Data Kunci Implikasi Program
Demografi & Geografi Populasi: 24.700 jiwa
12 desa: 6 via darat, 6 via perahu 30–90 menit
Remaja (10–19 th): 4.820 jiwa (19,5%)
Lansia (≥60 th): 2.940 jiwa (11,9%)
Mata pencaharian: nelayan & petani
• Desain program harus menjangkau desa terisolasi via perahu
• Konten harus relevan dengan konteks nelayan/petani
• Waktu kegiatan disesuaikan dengan siklus kerja komunitas
Data Kesehatan Reproduksi ABR: 44/1.000
Pernikahan dini: 22,7%
Kehamilan remaja 2022: 31 kasus (14 di desa terisolasi)
Cakupan IVA: 4,1% — terendah di Majene
Perdarahan pascamenopause terlambat: 6 kasus, rata-rata terlambat 4,8 bulan
• Prioritas: deteksi dini kehamilan remaja & perdarahan pascamenopause
• Fokus pada peningkatan cakupan skrining IVA
• Mekanisme rujukan khusus untuk desa terisolasi

Aset Komunitas yang Tersedia

  • Kelompok pengajian ibu-ibu: aktif di 10 dari 12 desa — kanal komunikasi & kepercayaan yang sudah ada
  • Kader Posyandu terlatih: 34 kader aktif — basis untuk penguatan kapasitas
  • Tokoh agama: 2 tokoh sudah pernah berkolaborasi dengan Puskesmas dalam program imunisasi
  • Sekolah: 3 SMP (semua di desa akses darat) — titik masuk untuk remaja
  • Bidan desa baru: sangat termotivasi namun belum mengenal komunitas — peluang untuk pendekatan partisipatif
  • WhatsApp group: aktif di 9 dari 12 desa untuk koordinasi warga — kanal komunikasi digital

Sumber Daya yang Tersedia

  • Anggaran BOK Puskesmas Malunda untuk promosi kesehatan: Rp 45 juta per tahun
  • Dukungan teknis dari tim konsultan Obginsos provinsi: 4 kunjungan per tahun
  • Tidak ada NGO atau donor yang aktif di kecamatan ini — program harus mandiri dan berkelanjutan dengan sumber daya lokal

Pertanyaan Tugas

Bagian A — Analisis Konteks dan Aset Komunitas 20%

Sebelum merancang program, lakukan analisis konteks yang komprehensif: (a) identifikasi aset komunitas yang paling strategis untuk dimanfaatkan — dari daftar yang tersedia, mana yang memiliki potensi dampak tertinggi dan mengapa; (b) analisis tantangan spesifik yang ditimbulkan oleh geografi kecamatan Malunda — bagaimana akses terbatas ke 6 desa pesisir harus diantisipasi dalam desain program; (c) identifikasi kelompok dalam komunitas yang paling rentan dan paling sulit dijangkau — dan strategi spesifik untuk menjangkau mereka.

Bagian B — Rancangan Program: Komponen untuk Remaja 25%

Rancang komponen program berbasis komunitas untuk remaja yang: (a) memanfaatkan kelompok pengajian dan jaringan WhatsApp yang sudah ada sebagai kanal utama — bukan membangun forum baru; (b) melibatkan remaja laki-laki dan orang tua secara bermakna, bukan hanya remaja perempuan; (c) memiliki komponen khusus untuk menjangkau remaja di 6 desa pesisir yang terisolasi; (d) mencakup mekanisme deteksi dini dan rujukan untuk remaja yang sudah hamil atau mengalami kekerasan; (e) dapat berjalan dengan anggaran yang tersedia dan dikelola oleh aktor komunitas setelah pelatihan awal.

Bagian C — Rancangan Program: Komponen untuk Lansia 25%

Rancang komponen program berbasis komunitas untuk lansia yang: (a) mentransformasi Posyandu Lansia yang ada dari sekadar layanan menjadi platform pemberdayaan — dengan komponen diskusi kelompok dan skrining kesehatan reproduksi yang proaktif; (b) memanfaatkan kader yang sudah ada dengan menambahkan kompetensi spesifik yang diperlukan — rancang modul pelatihan kader singkat (1–2 hari) yang mencakup topik paling esensial; (c) memiliki strategi untuk menjangkau lansia di desa pesisir terisolasi melalui mekanisme yang kontekstual; (d) membangun sistem rujukan yang jelas untuk keluhan yang melampaui kapasitas kader dan Posyandu.

Bagian D — Keberlanjutan dan Matriks Monitoring & Evaluasi 30%

Rancang mekanisme keberlanjutan program yang konkret: (a) identifikasi tiga kondisi yang paling kritis untuk keberlanjutan program ini setelah dukungan teknis konsultan berakhir; (b) rancang strategi untuk membangun kepemimpinan internal komunitas yang akan menjadi motor keberlanjutan; (c) susun matriks M&E yang mencakup: indikator input, proses, output, dan outcome untuk komponen remaja dan lansia; target 12 bulan pertama yang realistis; metode pengumpulan data yang dapat dilakukan oleh pengelola program di lapangan; dan jadwal pelaporan. Matriks harus dapat digunakan secara praktis — bukan akademis semata.

Rubrik Penilaian

Dimensi Indikator Bobot
Kualitas analisis konteks Identifikasi aset yang strategis; antisipasi tantangan geografi; strategi menjangkau yang rentan 20%
Kualitas komponen remaja Pemanfaatan aset yang ada; keterlibatan laki-laki dan orang tua; strategi desa terisolasi; mekanisme deteksi dan rujukan 25%
Kualitas komponen lansia Transformasi Posyandu; modul pelatihan kader yang konkret; strategi desa terisolasi; sistem rujukan 25%
Keberlanjutan dan M&E Kondisi keberlanjutan yang spesifik; strategi kepemimpinan internal; matriks M&E yang praktis dan terukur 20%
Kualitas penulisan & referensi Struktur logis; bahasa baku; minimal 6 referensi akademik dikutip dengan benar 10%

Referensi Minimal yang Disarankan

  1. Lassi, Z.S., Haider, B.A., & Bhutta, Z.A. (2010). Community-based intervention packages for reducing maternal and neonatal morbidity and mortality. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2010(11), CD007754.
  2. Rifkin, S.B. (2014). Examining the links between community participation and health outcomes. Health Policy and Planning, 29(Suppl. 2), ii98–ii106.
  3. Wallerstein, N. (2006). What is the Evidence on Effectiveness of Empowerment to Improve Health? WHO Regional Office for Europe.
  4. WHO & UNICEF. (2018). Declaration of Astana: Global Conference on Primary Health Care. WHO.
  5. Kementerian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Kemenkes RI.
  6. Referensi tambahan relevan yang ditemukan secara mandiri — program berbasis komunitas untuk kesehatan reproduksi, pemberdayaan kader, atau program kesehatan di daerah terpencil Indonesia.

REFERENSI

  1. Cargo, M., & Mercer, S.L. (2008). The value and challenges of participatory research: strengthening its practice. Annual Review of Public Health, 29, 325–350. https://doi.org/10.1146/annurev.publhealth.29.091307.083824
  2. Gibbons, M.C., Brock, M., Alberg, A.J., Glass, T., LaVeist, T.A., Baylin, S., & Levine, D.M. (2007). The sociobiological impact of community based participatory research: a comprehensive understanding of community health. Journal of the National Medical Association, 99(9), 1052–1058.
  3. Jewkes, R., Flood, M., & Lang, J. (2015). From work with men and boys to changes of social norms and reduction of inequities in gender relations: a conceptual shift in prevention of violence against women and girls. The Lancet, 385(9977), 1580–1589. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(14)61683-4
  4. Lassi, Z.S., Haider, B.A., & Bhutta, Z.A. (2010). Community-based intervention packages for reducing maternal and neonatal morbidity and mortality and improving neonatal outcomes. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2010(11), CD007754. https://doi.org/10.1002/14651858.CD007754.pub2
  5. Rifkin, S.B. (2014). Examining the links between community participation and health outcomes: a review of the literature. Health Policy and Planning, 29(Suppl. 2), ii98–ii106. https://doi.org/10.1093/heapol/czu076
  6. Wallerstein, N. (2006). What is the Evidence on Effectiveness of Empowerment to Improve Health? WHO Regional Office for Europe Health Evidence Network Report. WHO. https://www.euro.who.int/__data/assets/pdf_file/0010/74656/E88086.pdf
  7. WHO & UNICEF. (2018). Declaration of Astana: Global Conference on Primary Health Care. WHO. https://www.who.int/docs/default-source/primary-health/declaration/gcphc-declaration.pdf
  8. Wiggins, N. (2012). Popular education for health promotion and community empowerment: a review of the literature. Health Promotion International, 27(3), 356–371. https://doi.org/10.1093/heapro/dar046
  9. World Bank. (2014). Voice and Agency: Empowering Women and Girls for Shared Prosperity. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-0359-8
  10. Yoong, S.L., Clinton‐McHarg, T., Moran, L., & Wiggers, J. (2013). Systematic review of community‐based participatory research to enhance physical activity among adults. Journal of Physical Activity and Health, 10(7), 1074–1084. https://doi.org/10.1123/jpah.10.7.1074