Semester 2 | Periode 2 | MK Teknologi Informasi & Surveilans Kesehatan Reproduksi | Sesi 1 | Modul 2

Surveilans Kesehatan Reproduksi: Prinsip, Sistem, dan Aplikasi Lapangan

BS

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial

DESKRIPSI MODUL

Enam bulan setelah dr. Faiz mulai bertugas

Di Dinkes Kabupaten Halmahera Selatan, ia menerima kunjungan tim evaluasi dari Dinkes Provinsi Maluku Utara. Tim itu membawa satu pertanyaan yang sederhana tetapi membuat dr. Faiz tidak bisa tidur semalaman: "Berapa AKI kabupaten Bapak tahun ini — yang sesungguhnya?"

Dr. Faiz tahu angka yang ia laporkan ke provinsi: 7 kematian ibu dari estimasi 4.200 kelahiran hidup — AKI 167/100.000 kelahiran hidup. Tetapi ia juga tahu bahwa angka ini tidak mencerminkan kenyataan. Bidan koordinatornya sudah mengidentifikasi setidaknya dua kematian lain yang tidak masuk laporan: satu ibu yang meninggal di perahu dalam perjalanan ke RS dan dicatat sebagai "kecelakaan", dan satu ibu yang meninggal di rumah lima hari setelah persalinan, dianggap keluarga sebagai "sakit biasa" dan tidak dilaporkan ke Puskesmas.
"Jika ada dua yang diketahui tidak tercatat," pikir dr. Faiz, "berapa yang tidak diketahui?"

Pertanyaan dr. Faiz adalah inti dari surveilans kesehatan: bukan sekadar menghitung apa yang terjadi, tetapi memastikan bahwa kita menghitung dengan cara yang cukup baik untuk membuat keputusan yang benar. Modul ini membangun pemahaman tentang prinsip-prinsip surveilans kesehatan reproduksi — apa yang seharusnya diukur, bagaimana mengukurnya, dan mengapa gap antara angka yang dilaporkan dan kenyataan hampir selalu lebih besar dari yang kita perkirakan.

CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1 Menjelaskan definisi, tujuan, dan tipologi surveilans kesehatan masyarakat yang relevan untuk kesehatan reproduksi
  2. 2 Menguraikan sistem surveilans kematian ibu di Indonesia — komponen, alur, dan kelemahan strukturalnya
  3. 3 Menganalisis fenomena underreporting kematian ibu dan near-miss: penyebab, skala, dan implikasi untuk kebijakan
  4. 4 Menjelaskan konsep dan metodologi surveillance berbasis fasilitas versus berbasis komunitas dalam konteks KIA
  5. 5 Merancang strategi peningkatan kualitas surveilans kematian ibu di tingkat kabupaten/kota dengan sumber daya yang realistis

MATERI INTI

C.1. Fondasi Konseptual Surveilans Kesehatan

C.1.1. Definisi dan Tujuan

Definisi Klasik (CDC, 2012): "Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi data kesehatan yang berkelanjutan dan sistematis untuk digunakan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi praktik kesehatan masyarakat."

Tiga Kata Kunci

Berkelanjutan

  • Bukan survei sekali saja
  • Bukan audit sesekali
  • Sistem yang berjalan terus — memungkinkan deteksi tren dan perubahan dari waktu ke waktu

Sistematik

  • Protokol standar yang konsisten
  • Definisi kasus yang tidak berubah
  • Metodologi yang dapat dibandingkan antar wilayah dan antar waktu

Untuk Digunakan

  • Bukan pengumpulan data semata
  • Harus menghasilkan tindakan: kebijakan, intervensi, alokasi sumber daya
  • Surveilans tanpa tindak lanjut adalah beban tanpa manfaat

Tujuan Surveilans dalam KIA

Deteksi Dini

Mengidentifikasi peningkatan kematian ibu atau komplikasi sebelum menjadi krisis

Pemantauan Tren

Apakah AKI menurun sesuai target RPJMN? Di wilayah mana tidak sesuai?

Identifikasi Faktor Risiko

Kelompok mana yang paling rentan? Intervensi apa yang paling diperlukan?

Evaluasi Program

Apakah P4K efektif? Apakah PONEK berfungsi?

Dasar Perencanaan

Berapa bidan yang dibutuhkan? Di mana RS rujukan perlu diperkuat? Anggaran apa yang harus diprioritaskan?

C.1.2. Tipologi Surveilans yang Relevan untuk KIA

Berdasarkan Cakupan

  • Surveilans Pasif: Data dari laporan rutin — murah tetapi underreporting tinggi
  • Surveilans Aktif: Petugas proaktif mengumpulkan data — lebih lengkap tetapi mahal
  • Surveilans Sentinel: Data intensif di lokasi representatif — kualitas tinggi, biaya terjangkau

Berdasarkan Kejadian

  • Surveilans Kematian Ibu: Mencatat kematian dalam kehamilan, persalinan, 42 hari nifas
  • Surveilans Near-Miss Maternal: Kasus hampir meninggal tetapi selamat — lebih sering terjadi, statistik lebih bermakna
  • Surveilans Kematian Perinatal: Kematian janin ≥28 minggu & neonatus 0–6 hari
  • Surveilans Morbiditas Ibu: Komplikasi obstetri yang ditangani — gambaran beban penyakit lebih luas

C.2. Sistem Surveilans Kematian Ibu di Indonesia

C.2.1. Kerangka Regulasi dan Institusional

Dasar Hukum Surveilans KIA:

  • Permenkes 97/2014: Kewajiban pelaporan kematian ibu oleh faskes dalam 24 jam
  • Permenkes 27/2014: Pedoman Penyusunan Rencana Aksi Percepatan Penurunan AKI
  • Permenkes 21/2021: Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil hingga Sesudah Melahirkan
  • UU Kesehatan No. 17/2023: Kewajiban faskes melaporkan data rekam medis untuk surveilans

Institusi yang Terlibat

Kemenkes (Pusat)

Dit. Kesehatan Keluarga: standar, kebijakan, kompilasi data nasional

Pusdatin: platform SIK nasional

Dinkes Provinsi

Koordinasi surveilans lintas kabupaten, investigasi kasus lintas batas

Dinkes Kab/Kota

Kompilasi & validasi laporan Puskesmas, AMP tingkat kabupaten, tindak lanjut rekomendasi

Puskesmas & RS

Pencatatan kematian ibu, investigasi awal, pelaporan ke Dinkes, partisipasi AMP

RS swasta sering tidak melapor karena tidak ada sanksi efektif

C.2.2. Alur Pelaporan Kematian Ibu

Kematian Terjadi

Di fasilitas atau di luar fasilitas (rumah/perjalanan)

Di Fasilitas (RS/Puskesmas)

Dokter/bidan mencatat → Laporan ke Dinkes kab/kota dalam 24 jam → Rekam medis disimpan

Di Luar Fasilitas

Idealnya: kader/bidan desa melaporkan ke Puskesmas → Puskesmas ke Dinkes

Kenyataan: banyak yang tidak dilaporkan

Dinkes Kab/Kota → Provinsi → Kemenkes

Kompilasi, validasi, rekapitulasi, pelaporan nasional & internasional

Titik-Titik Kritis Kegagalan

  • Kematian di luar fasilitas: 30–50% kematian ibu di daerah terpencil terjadi di luar fasilitas → tidak masuk sistem pelaporan
  • Klasifikasi penyebab tidak akurat: Banyak kematian obstetri diklasifikasikan sebagai "penyakit lain" karena ketidaktahuan atau menghindari audit
  • Rantai pelaporan panjang: Delay 1–3 bulan antara kejadian dan kompilasi di tingkat nasional
  • RS swasta tidak melapor: Tidak ada sanksi efektif untuk kepatuhan pelaporan

C.2.3. Audit Maternal Perinatal (AMP) sebagai Komponen Surveilans

Definisi: Proses penilaian sistematis terhadap kematian ibu dan perinatal serta kasus near-miss untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dihindari dan merekomendasikan tindakan korektif.

Tiga Jenis AMP

1

AMP Berbasis Fasilitas

Dilakukan di RS/Puskesmas oleh tim dokter, bidan, perawat, manajemen

Fokus: Kualitas pelayanan klinis, Terlambat 3

2

AMP Berbasis Komunitas

Investigasi kematian di rumah/perjalanan dengan Verbal Autopsy

Fokus: Terlambat 1 (keputusan mencari pertolongan) & Terlambat 2 (transportasi)

3

AMP Tingkat Kabupaten

Pertemuan lintas fasilitas & lintas sektor membahas kasus dari semua faskes

Fokus: Rekomendasi kebijakan kabupaten

Kerangka Tiga Terlambat dalam Konteks AMP

1

Terlambat 1

Terlambat mengenali tanda bahaya & memutuskan mencari pertolongan

  • Pengetahuan ibu/keluarga
  • Kepercayaan tradisional
  • Pengalaman buruk dengan faskes
2

Terlambat 2

Terlambat mencapai fasilitas kesehatan

  • Jarak & kondisi jalan
  • Ketersediaan transportasi
  • Biaya perjalanan & cuaca
3

Terlambat 3

Terlambat mendapat penanganan adekuat di fasilitas

  • Ketersediaan tenaga, alat, obat
  • Kompetensi petugas
  • Prosedur triase & rujukan

C.3. Underreporting Kematian Ibu: Skala dan Penyebab

C.3.1. Berapa Besarnya Gap?

Estimasi Global (WHO 2023)

Angka kematian ibu yang dilaporkan resmi rata-rata hanya mencerminkan 60–70% dari kematian ibu yang sesungguhnya terjadi di negara berpendapatan menengah-bawah.

Untuk Indonesia

SUPAS 2015: AKI = 305/100.000 KH
Laporan Rutin Kemenkes 2022: AKI = 189/100.000 KH

Interpretasi: Gap ini mencerminkan perbedaan metodologi — SUPAS menangkap kematian di fasilitas DAN rumah, laporan rutin sebagian besar hanya mencatat kematian yang dilaporkan fasilitas.

Hasil Studi Lokal

Verbal Autopsy berbasis komunitas menemukan 1,3–2,1× lebih banyak kematian ibu dibanding laporan fasilitas di wilayah yang sama. Perbedaan terbesar di daerah terpencil, kepulauan, tingkat ANC rendah.

C.3.2. Penyebab Sistematis Underreporting

Level Komunitas & Keluarga

  • Ketidaktahuan definisi: Keluarga tidak tahu kematian ibu dalam 42 hari setelah persalinan harus dilaporkan
  • Stigma & privasi: Menghindari pelaporan karena takut menjadi fokus perhatian
  • Ketidakpercayaan: Pengalaman buruk dengan sistem kesehatan

Level Petugas Kesehatan

  • Fear of blame: Menghindari melaporkan kematian karena takut dihukum/diaudit
  • Ketidaktahuan definisi: Tidak semua petugas pahami definisi kematian ibu WHO (42 hari)
  • Beban administratif: Pelaporan memerlukan paperwork tambahan yang menyita waktu

Level Sistem

  • Tidak ada cross-check: Tidak ada mekanisme verifikasi konsistensi data antar sumber
  • Fragmentasi data: Kematian di RS, Puskesmas, komunitas dilaporkan melalui jalur berbeda tidak terintegrasi
  • Insentif yang salah: Dinkes dengan AKI rendah mendapat penilaian kinerja lebih baik → tekanan implisit untuk tidak melaporkan semua kematian

C.3.3. Near-Miss Maternal sebagai Alternatif Indikator

Definisi WHO (2009): "Perempuan yang hampir meninggal tetapi selamat dari komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan."

Kriteria Near-Miss WHO

Kardiovaskular

Syok, asistol

Respirasi

Saturasi <90% >60 menit

Renal

Kreatinin ≥300 μmol/L

Koagulasi

Transfusi ≥5 unit PRC

Neurologis

Koma, stroke, kejang persisten

Uterus

Histerektomi peripartum

Keunggulan Near-Miss untuk Surveilans

Statistik Lebih Stabil

Near-miss terjadi 5–100× lebih sering dari kematian → di RS dengan AKI rendah sekalipun, near-miss cukup sering untuk analisis bermakna

Sensitif terhadap Kualitas Pelayanan

Rasio Near-Miss/Kematian Ibu (SMO Ratio) mencerminkan kemampuan sistem menyelamatkan perempuan kritis

Dapat Dikumpulkan di Fasilitas

Semua near-miss terjadi di fasilitas (karena memerlukan intervensi medis intensif) → tidak ada underreporting berbasis komunitas

Pasien Dapat Diwawancarai

Memberikan perspektif pasien tentang hambatan akses, kualitas layanan, dan pengalaman sistem kesehatan

Indikator Komposit WHO-MNEH

Severe Maternal Outcome (SMO)
= Near-Miss + Kematian Ibu
Maternal Near-Miss Ratio
= Near-Miss per 1.000 kelahiran hidup
Mortality Index (MI)
= Kematian/(Near-Miss + Kematian) × 100
→ MI tinggi = sistem buruk dalam menangani komplikasi kritis

C.4. Surveilans Berbasis Fasilitas versus Berbasis Komunitas

C.4.1. Perbandingan Pendekatan

Berbasis Fasilitas

Kekuatan:

  • Data klinis lengkap & akurat
  • Mudah distandarkan
  • Tidak memerlukan akses ke komunitas sulit
  • Near-miss dapat dicakup sepenuhnya

Kelemahan:

  • Hanya mencakup kematian di/segera setelah fasilitas
  • Kematian di rumah & perjalanan tidak tertangkap
  • Bias seleksi: hanya perempuan yang mencapai fasilitas
  • Di daerah akses rendah, mencerminkan sebagian kecil gambaran nyata

Berbasis Komunitas

Kekuatan:

  • Mencakup kematian di semua tempat — fasilitas, rumah, perjalanan
  • Menangkap faktor Terlambat 1 & 2 yang tidak terlihat dari fasilitas
  • Lebih mencerminkan beban sesungguhnya pada populasi

Kelemahan:

  • Lebih mahal & memerlukan SDM terlatih
  • Kualitas data bergantung pada pelaporan komunitas
  • Verbal Autopsy memiliki keterbatasan akurasi penyebab kematian

Pendekatan yang Direkomendasikan: Integrasi Keduanya

Puskesmas (Hub)
Register kohort ibu hamil sebagai baseline → Jika dalam 6 minggu setelah EDD tidak ada laporan persalinan → proaktif mencari tahu ke kader/keluarga
Kader Posyandu (Jaringan)
Memantau ibu hamil di wilayahnya → Melaporkan kematian yang tidak masuk fasilitas → Kunjungan rumah nifas untuk deteksi dini
Koordinasi Lintas Sektor
Data kematian dari Catatan Sipil sebagai cross-check → Koordinasi dengan RT/RW & kepala desa sebagai sumber informasi komunitas

C.4.2. Verbal Autopsy: Metode dan Keterbatasan

Definisi: Metode untuk menentukan penyebab kematian melalui wawancara terstruktur dengan anggota keluarga atau orang yang mengetahui kronologis menjelang kematian.

Instrumen VA untuk Kematian Ibu

WHO VA Questionnaire (2016):

  • Modul kematian ibu dengan pertanyaan tentang: kehamilan, persalinan, perdarahan, kejang, demam, gejala lain
  • Algoritma: InterVA atau SmartVA untuk penentuan penyebab otomatis

Keterbatasan Verbal Autopsy

Recall Bias

Keluarga mungkin tidak mengingat gejala dengan akurat, terutama jika wawancara dilakukan berminggu-minggu setelah kematian

Stigma

Keluarga mungkin tidak melaporkan gejala yang berkaitan dengan kondisi yang distigmatisasi (HIV, aborsi tidak aman)

Sensitivitas Diagnostik

VA lebih baik untuk penyebab dengan gejala jelas (perdarahan, kejang) dibanding penyebab samar (sepsis, emboli)

Keterlatihan Pewawancara

Kualitas VA sangat bergantung pada pelatihan pewawancara — bukan metode yang dapat diimplementasikan tanpa investasi kapasitas


C.5. Strategi Peningkatan Kualitas Surveilans di Tingkat Kabupaten

C.5.1. Kerangka Kerja Penilaian Kualitas Surveilans

Completeness

Kelengkapan

Seberapa lengkap kasus yang seharusnya dilaporkan, dilaporkan?

Indikator: Proporsi kematian dari laporan fasilitas vs estimasi dari data sensus/survei

Timeliness

Ketepatan Waktu

Seberapa cepat kasus dilaporkan setelah terjadi?

Indikator: Rata-rata hari antara kematian dan pelaporan ke Dinkes kab/kota

Accuracy

Akurasi

Seberapa akurat diagnosis penyebab kematian yang dicatat?

Indikator: Proporsi kematian dengan penyebab spesifik vs "penyebab tidak diketahui"

Representativeness

Keterwakilan

Apakah data mencerminkan populasi yang sebenarnya berisiko?

Indikator: Distribusi kematian berdasarkan wilayah, usia, paritas dibanding populasi

Usability

Keterpakaikanan

Apakah data digunakan untuk pengambilan keputusan?

Indikator: Apakah ada tindak lanjut dari temuan AMP? Apakah anggaran program berubah berdasarkan data?

C.5.2. Langkah Praktis Peningkatan Surveilans di Kabupaten

1
Pemetaan Sistem yang Ada

Identifikasi semua sumber data yang ada, bandingkan angka dari sumber berbeda, identifikasi titik kegagalan dalam alur

2
Standarisasi Definisi & Prosedur

Pastikan semua faskes menggunakan definisi kematian ibu WHO yang sama, buat SOP pelaporan simpel, sediakan formulir mudah diisi

3
Aktivasi Jaringan Komunitas

Latih kader untuk mengenali & melaporkan kematian perempuan usia reproduksi, bangun hubungan dengan kepala desa & tokoh masyarakat

4
Perkuat Mekanisme Feedback

Pastikan setiap Puskesmas menerima laporan bulanan tentang situasi AKI — bukan hanya mengirim data tanpa menerima analisis kembali

5
Integrasikan AMP dengan Perencanaan

Rekomendasi AMP harus masuk dalam dokumen perencanaan resmi (RUK, RKA, Renstra) dengan penanggung jawab & timeline jelas

PERTANYAAN DISKUSI

Pertanyaan 1: Dilema Integritas Data vs Kinerja Kabupaten Dr. Faiz mengetahui bahwa AKI yang ia laporkan ke provinsi (167/100.000) tidak mencerminkan angka sesungguhnya — setidaknya dua kematian yang ia ketahui tidak masuk dalam angka tersebut. Ia menghadapi dilema: melaporkan angka resmi yang ia tahu kurang akurat, atau mengakui ketidaklengkapan data kepada tim evaluasi provinsi (yang mungkin berdampak negatif pada penilaian kinerja kabupaten). Analisis dilema ini dari tiga perspektif: (a) perspektif integritas surveilans — apa yang akan terjadi pada kualitas sistem surveilans nasional jika setiap kabupaten membuat keputusan yang sama dengan "pilihan yang aman"? (b) perspektif etika profesional — sebagai konsultan Obginsos dengan pemahaman tentang makna data AKI untuk kebijakan kesehatan, apa kewajiban etis dr. Faiz? (c) perspektif strategis — bagaimana dr. Faiz dapat mengungkapkan ketidaklengkapan data ini kepada tim provinsi dengan cara yang konstruktif, mendorong perbaikan sistem, tanpa menciptakan konsekuensi yang kontraproduktif?
Pertanyaan 2: Evaluasi Near-Miss sebagai Indikator Surveilans near-miss maternal diusulkan sebagai indikator yang lebih berguna dari AKI untuk memantau kualitas sistem pelayanan obstetri di tingkat kabupaten. Evaluasi klaim ini secara kritis: (a) dalam konteks kabupaten dengan fasilitas PONEK yang hanya berfungsi sebagian dan sebagian besar persalinan masih terjadi di Puskesmas PONED atau bahkan di rumah — apakah near-miss berbasis fasilitas masih representatif? Apa bias yang muncul? (b) bagaimana Mortality Index (MI = kematian/(near-miss + kematian) × 100%) dapat digunakan untuk membandingkan kualitas penanganan kasus kritis antar fasilitas di satu kabupaten — dan apa yang harus diperhatikan agar perbandingan ini adil dan tidak menyesatkan? (c) jika Anda harus memilih satu indikator tambahan di luar AKI untuk dipantau secara rutin di kabupaten Anda, apakah itu near-miss maternal, morbiditas obstetri berat, atau indikator akses (seperti cakupan persalinan di fasilitas dengan kemampuan PONEK)? Bangun argumen untuk pilihan Anda.

RANGKUMAN

  1. Surveilans kesehatan yang efektif bukan sekadar pengumpulan data yang berkelanjutan dan sistematis, tetapi harus menghasilkan transformasi dari data menjadi tindakan nyata — surveilans yang tidak mempengaruhi keputusan kebijakan atau alokasi sumber daya adalah beban administratif yang tidak bermanfaat bagi ibu yang berisiko
  2. Sistem surveilans kematian ibu di Indonesia memiliki kerangka regulasi yang cukup komprehensif, namun dalam implementasinya menghadapi kegagalan di setiap level rantai pelaporan — dari komunitas yang tidak melapor, petugas yang takut diaudit, hingga sistem yang tidak memiliki mekanisme cross-check yang efektif antara sumber data yang berbeda
  3. Underreporting kematian ibu adalah fenomena yang sistematis dan bukan sekadar kecelakaan teknis — estimasi global menunjukkan bahwa angka resmi hanya menangkap 60–70% dari kematian yang sesungguhnya terjadi, dengan gap yang lebih besar di daerah terpencil dan kepulauan, sehingga setiap angka AKI resmi harus dibaca dengan pemahaman tentang batasannya
  4. Near-miss maternal sebagai indikator menawarkan keunggulan penting dibanding kematian saja: lebih sering terjadi sehingga statistiknya lebih stabil, sepenuhnya terjadi di fasilitas sehingga tidak ada underreporting berbasis komunitas, dan mencerminkan kemampuan sistem menyelamatkan perempuan yang sudah dalam kondisi kritis melalui indikator Mortality Index
  5. Strategi peningkatan surveilans di tingkat kabupaten yang realistis dan berdampak memerlukan lima komponen yang saling menopang: pemetaan sistem yang ada untuk mengidentifikasi gap, standarisasi definisi dan prosedur, aktivasi jaringan komunitas berbasis kader dan tokoh masyarakat, penguatan mekanisme feedback agar data mengalir dua arah, dan integrasi rekomendasi AMP ke dalam dokumen perencanaan resmi yang memiliki anggaran dan penanggung jawab yang jelas
TUGAS PERSONAL 1 (TP1) — MINGGU 2
Nama TugasTugas Personal 1 — Analisis Kualitas Surveilans Kematian Ibu
Mata KuliahTeknologi Informasi & Surveilans Kesehatan Reproduksi
Bobot10% dari nilai akhir MK
FormatEsai analitik — Word atau PDF, 900–1.400 kata
ReferensiMinimal 4 referensi (termasuk minimal 1 kebijakan/regulasi nasional)
PengumpulanLMS — akhir Minggu ke-2

Petunjuk Umum

Skenario: Kabupaten Sumbawa Barat, NTB

Dr. Nindi, SpOG., Subsp.Obginsos.

Baru dilantik sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Kabupaten ini memiliki karakteristik berikut:

  • Luas wilayah: 1.849 km², terdiri dari dataran dan wilayah pegunungan dengan 2 kecamatan yang hanya dapat dijangkau dengan ojek atau jalan kaki lebih dari 2 jam
  • Jumlah penduduk: 134.000 jiwa; estimasi kelahiran hidup per tahun: ±3.200
  • Fasilitas kesehatan: 1 RSUD (PONEK), 7 Puskesmas (3 dengan rawat inap/PONED, 4 tanpa rawat inap), 28 Pustu, 112 Posyandu
  • AKI dilaporkan tahun lalu: 9 kematian ibu = AKI 281/100.000 kelahiran hidup
  • Namun: dalam dua bulan pertama bertugas, dr. Nindi telah mengidentifikasi 3 kematian perempuan usia 15–49 tahun yang berpotensi merupakan kematian ibu tetapi tidak masuk dalam laporan resmi — dua kematian terjadi di rumah (satu diduga sepsis nifas, satu perdarahan pascapersalinan 10 hari), dan satu di perjalanan menuju RSUD yang tidak sempat dicatat sebagai kematian ibu oleh fasilitas manapun
  • Cakupan ANC K4: 71% — masih di bawah target nasional 95%
  • Hanya 2 dari 7 Puskesmas yang secara konsisten mengisi e-Kohort KIA setiap bulan

Pertanyaan

Bagian A — Diagnosis Sistem Surveilans (±400 kata)

Berdasarkan informasi dalam skenario, lakukan diagnosis terhadap sistem surveilans kematian ibu di Kabupaten Sumbawa Barat dengan menjawab:

  1. Identifikasikan minimal empat titik kegagalan spesifik dalam sistem surveilans yang ada — bukan deskripsi umum, tetapi dikaitkan secara langsung dengan data dalam skenario. Untuk setiap titik kegagalan, identifikasikan apakah ini kegagalan completeness, timeliness, accuracy, atau usability (atau kombinasi)
  2. Estimasikan AKI "sesungguhnya" di Kabupaten Sumbawa Barat berdasarkan data yang tersedia — tunjukkan cara perhitungan Anda, dan diskusikan ketidakpastian dalam estimasi ini

Bagian B — Rancangan Intervensi Prioritas (±600 kata)

Dr. Nindi memiliki anggaran BOK untuk surveilans yang sangat terbatas dan tim yang terdiri dari satu orang pengelola data dan dua bidan koordinator yang sudah memiliki tugas rutin penuh. Rancang tiga intervensi prioritas yang dapat diimplementasikan dalam 6 bulan pertama untuk meningkatkan kualitas surveilans kematian ibu di kabupaten ini.

Untuk setiap intervensi:

  • Jelaskan apa yang dilakukan secara konkret (bukan hanya nama program)
  • Identifikasikan dimensi kualitas surveilans mana yang paling diperbaiki
  • Perkirakan sumber daya yang diperlukan (waktu, SDM, biaya relatif)
  • Antisipasi satu hambatan utama dan cara mengatasinya

Bagian C — Refleksi Metodologis (±250 kata)

Dr. Nindi mengetahui bahwa angka AKI yang ia laporkan ke provinsi tidak mencerminkan kenyataan. Ia mempertimbangkan dua pilihan: (a) melaporkan angka resmi yang tidak akurat agar tidak menciptakan masalah bagi kinerja kabupaten; atau (b) melaporkan angka dengan catatan eksplisit tentang ketidaklengkapannya beserta tiga kasus yang ia identifikasi.

Jelaskan posisi Anda: apa yang seharusnya dilakukan dr. Nindi, dan mengapa? Hubungkan jawaban Anda dengan implikasi untuk integritas sistem surveilans nasional dan tanggung jawab etis konsultan Obginsos sebagai pengelola data kesehatan publik.

Rubrik Penilaian

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Diagnosis Sistem (Bagian A) Ketepatan identifikasi titik kegagalan; kemampuan mengaitkan dengan data skenario; akurasi dan transparansi estimasi AKI 35%
Rancangan Intervensi (Bagian B) Relevansi dan spesifisitas intervensi; realisme sumber daya; antisipasi hambatan; koherensi dengan teori surveilans 45%
Refleksi Metodologis (Bagian C) Kedalaman analisis dilema; keterhubungan dengan konsep integritas data dan etika profesional; kejujuran intelektual 20%

Referensi Minimal yang Disarankan

  1. WHO. Evaluating the Quality of Care for Severe Pregnancy Complications: The WHO Near-Miss Approach. 2011.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2015 tentang Peta Jalan SIK.
  3. Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. The Lancet. 2006.
  4. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022.

REFERENSI

  1. World Health Organization. Trends in Maternal Mortality 2000 to 2020: Estimates by WHO, UNICEF, UNFPA, World Bank Group and UNDESA/Population Division. Geneva: WHO; 2023. https://www.who.int/publications/i/item/9789240068759
  2. World Health Organization. Evaluating the Quality of Care for Severe Pregnancy Complications: The WHO Near-Miss Approach for Maternal Health. Geneva: WHO; 2011. https://apps.who.int/iris/handle/10665/44692
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Audit Maternal Perinatal (AMP). Jakarta: Kemenkes RI; 2021. https://kesga.kemkes.go.id
  4. Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. The Lancet. 2006;368(9542):1189–1200. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69380-X
  5. Souza JP, Gülmezoglu AM, Vogel J, et al. Moving beyond essential interventions for reduction of maternal mortality (the WHO Multicountry Survey on Maternal and Newborn Health): a cross-sectional study. The Lancet. 2013;381(9879):1747–1755. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60686-X
  6. Hogan MC, Foreman KJ, Naghavi M, et al. Maternal mortality for 181 countries, 1980–2008: a systematic analysis of progress towards Millennium Development Goal 5. The Lancet. 2010;375(9726):1609–1623. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(10)60518-1
  7. Byass P, Chandramohan D, Clark SJ, et al. Strengthening standardised interpretation of verbal autopsy data: the new InterVA-4 tool. Global Health Action. 2012;5:19281. https://doi.org/10.3402/gha.v5i0.19281
  8. Bhutta ZA, Das JK, Bahl R, et al. Can available interventions end preventable deaths in mothers, newborn babies, and stillbirths, and at what cost? The Lancet. 2014;384(9940):347–370. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(14)60792-3
  9. Countdown to 2030 Collaboration. Countdown to 2030: tracking progress towards universal coverage for reproductive, newborn, and child health. The Lancet. 2018;391(10129):1538–1548. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)30104-1
  10. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2022