DESKRIPSI MODUL
Di Dinkes Kabupaten Halmahera Selatan, ia menerima kunjungan tim evaluasi dari Dinkes Provinsi Maluku Utara. Tim itu membawa satu pertanyaan yang sederhana tetapi membuat dr. Faiz tidak bisa tidur semalaman: "Berapa AKI kabupaten Bapak tahun ini — yang sesungguhnya?"
Pertanyaan dr. Faiz adalah inti dari surveilans kesehatan: bukan sekadar menghitung apa yang terjadi, tetapi memastikan bahwa kita menghitung dengan cara yang cukup baik untuk membuat keputusan yang benar. Modul ini membangun pemahaman tentang prinsip-prinsip surveilans kesehatan reproduksi — apa yang seharusnya diukur, bagaimana mengukurnya, dan mengapa gap antara angka yang dilaporkan dan kenyataan hampir selalu lebih besar dari yang kita perkirakan.
CAPAIAN PEMBELAJARAN MODUL
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- 1 Menjelaskan definisi, tujuan, dan tipologi surveilans kesehatan masyarakat yang relevan untuk kesehatan reproduksi
- 2 Menguraikan sistem surveilans kematian ibu di Indonesia — komponen, alur, dan kelemahan strukturalnya
- 3 Menganalisis fenomena underreporting kematian ibu dan near-miss: penyebab, skala, dan implikasi untuk kebijakan
- 4 Menjelaskan konsep dan metodologi surveillance berbasis fasilitas versus berbasis komunitas dalam konteks KIA
- 5 Merancang strategi peningkatan kualitas surveilans kematian ibu di tingkat kabupaten/kota dengan sumber daya yang realistis
MATERI INTI
C.1. Fondasi Konseptual Surveilans Kesehatan
C.1.1. Definisi dan Tujuan
Definisi Klasik (CDC, 2012): "Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi data kesehatan yang berkelanjutan dan sistematis untuk digunakan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi praktik kesehatan masyarakat."
Tiga Kata Kunci
Berkelanjutan
- Bukan survei sekali saja
- Bukan audit sesekali
- Sistem yang berjalan terus — memungkinkan deteksi tren dan perubahan dari waktu ke waktu
Sistematik
- Protokol standar yang konsisten
- Definisi kasus yang tidak berubah
- Metodologi yang dapat dibandingkan antar wilayah dan antar waktu
Untuk Digunakan
- Bukan pengumpulan data semata
- Harus menghasilkan tindakan: kebijakan, intervensi, alokasi sumber daya
- Surveilans tanpa tindak lanjut adalah beban tanpa manfaat
Tujuan Surveilans dalam KIA
Deteksi Dini
Mengidentifikasi peningkatan kematian ibu atau komplikasi sebelum menjadi krisis
Pemantauan Tren
Apakah AKI menurun sesuai target RPJMN? Di wilayah mana tidak sesuai?
Identifikasi Faktor Risiko
Kelompok mana yang paling rentan? Intervensi apa yang paling diperlukan?
Evaluasi Program
Apakah P4K efektif? Apakah PONEK berfungsi?
Dasar Perencanaan
Berapa bidan yang dibutuhkan? Di mana RS rujukan perlu diperkuat? Anggaran apa yang harus diprioritaskan?
C.1.2. Tipologi Surveilans yang Relevan untuk KIA
Berdasarkan Cakupan
- Surveilans Pasif: Data dari laporan rutin — murah tetapi underreporting tinggi
- Surveilans Aktif: Petugas proaktif mengumpulkan data — lebih lengkap tetapi mahal
- Surveilans Sentinel: Data intensif di lokasi representatif — kualitas tinggi, biaya terjangkau
Berdasarkan Kejadian
- Surveilans Kematian Ibu: Mencatat kematian dalam kehamilan, persalinan, 42 hari nifas
- Surveilans Near-Miss Maternal: Kasus hampir meninggal tetapi selamat — lebih sering terjadi, statistik lebih bermakna
- Surveilans Kematian Perinatal: Kematian janin ≥28 minggu & neonatus 0–6 hari
- Surveilans Morbiditas Ibu: Komplikasi obstetri yang ditangani — gambaran beban penyakit lebih luas
C.2. Sistem Surveilans Kematian Ibu di Indonesia
C.2.1. Kerangka Regulasi dan Institusional
Dasar Hukum Surveilans KIA:
- Permenkes 97/2014: Kewajiban pelaporan kematian ibu oleh faskes dalam 24 jam
- Permenkes 27/2014: Pedoman Penyusunan Rencana Aksi Percepatan Penurunan AKI
- Permenkes 21/2021: Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil hingga Sesudah Melahirkan
- UU Kesehatan No. 17/2023: Kewajiban faskes melaporkan data rekam medis untuk surveilans
Institusi yang Terlibat
Kemenkes (Pusat)
Dit. Kesehatan Keluarga: standar, kebijakan, kompilasi data nasional
Pusdatin: platform SIK nasional
Dinkes Provinsi
Koordinasi surveilans lintas kabupaten, investigasi kasus lintas batas
Dinkes Kab/Kota
Kompilasi & validasi laporan Puskesmas, AMP tingkat kabupaten, tindak lanjut rekomendasi
Puskesmas & RS
Pencatatan kematian ibu, investigasi awal, pelaporan ke Dinkes, partisipasi AMP
RS swasta sering tidak melapor karena tidak ada sanksi efektif
C.2.2. Alur Pelaporan Kematian Ibu
Kematian Terjadi
Di fasilitas atau di luar fasilitas (rumah/perjalanan)
Di Fasilitas (RS/Puskesmas)
Dokter/bidan mencatat → Laporan ke Dinkes kab/kota dalam 24 jam → Rekam medis disimpan
Di Luar Fasilitas
Idealnya: kader/bidan desa melaporkan ke Puskesmas → Puskesmas ke Dinkes
Kenyataan: banyak yang tidak dilaporkan
Dinkes Kab/Kota → Provinsi → Kemenkes
Kompilasi, validasi, rekapitulasi, pelaporan nasional & internasional
Titik-Titik Kritis Kegagalan
- Kematian di luar fasilitas: 30–50% kematian ibu di daerah terpencil terjadi di luar fasilitas → tidak masuk sistem pelaporan
- Klasifikasi penyebab tidak akurat: Banyak kematian obstetri diklasifikasikan sebagai "penyakit lain" karena ketidaktahuan atau menghindari audit
- Rantai pelaporan panjang: Delay 1–3 bulan antara kejadian dan kompilasi di tingkat nasional
- RS swasta tidak melapor: Tidak ada sanksi efektif untuk kepatuhan pelaporan
C.2.3. Audit Maternal Perinatal (AMP) sebagai Komponen Surveilans
Definisi: Proses penilaian sistematis terhadap kematian ibu dan perinatal serta kasus near-miss untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dihindari dan merekomendasikan tindakan korektif.
Tiga Jenis AMP
AMP Berbasis Fasilitas
Dilakukan di RS/Puskesmas oleh tim dokter, bidan, perawat, manajemen
Fokus: Kualitas pelayanan klinis, Terlambat 3
AMP Berbasis Komunitas
Investigasi kematian di rumah/perjalanan dengan Verbal Autopsy
Fokus: Terlambat 1 (keputusan mencari pertolongan) & Terlambat 2 (transportasi)
AMP Tingkat Kabupaten
Pertemuan lintas fasilitas & lintas sektor membahas kasus dari semua faskes
Fokus: Rekomendasi kebijakan kabupaten
Kerangka Tiga Terlambat dalam Konteks AMP
Terlambat 1
Terlambat mengenali tanda bahaya & memutuskan mencari pertolongan
- Pengetahuan ibu/keluarga
- Kepercayaan tradisional
- Pengalaman buruk dengan faskes
Terlambat 2
Terlambat mencapai fasilitas kesehatan
- Jarak & kondisi jalan
- Ketersediaan transportasi
- Biaya perjalanan & cuaca
Terlambat 3
Terlambat mendapat penanganan adekuat di fasilitas
- Ketersediaan tenaga, alat, obat
- Kompetensi petugas
- Prosedur triase & rujukan
C.3. Underreporting Kematian Ibu: Skala dan Penyebab
C.3.1. Berapa Besarnya Gap?
Estimasi Global (WHO 2023)
Angka kematian ibu yang dilaporkan resmi rata-rata hanya mencerminkan 60–70% dari kematian ibu yang sesungguhnya terjadi di negara berpendapatan menengah-bawah.
Untuk Indonesia
SUPAS 2015: AKI = 305/100.000 KH
Laporan Rutin Kemenkes 2022: AKI = 189/100.000 KH
Interpretasi: Gap ini mencerminkan perbedaan metodologi — SUPAS menangkap kematian di fasilitas DAN rumah, laporan rutin sebagian besar hanya mencatat kematian yang dilaporkan fasilitas.
Hasil Studi Lokal
Verbal Autopsy berbasis komunitas menemukan 1,3–2,1× lebih banyak kematian ibu dibanding laporan fasilitas di wilayah yang sama. Perbedaan terbesar di daerah terpencil, kepulauan, tingkat ANC rendah.
C.3.2. Penyebab Sistematis Underreporting
Level Komunitas & Keluarga
- Ketidaktahuan definisi: Keluarga tidak tahu kematian ibu dalam 42 hari setelah persalinan harus dilaporkan
- Stigma & privasi: Menghindari pelaporan karena takut menjadi fokus perhatian
- Ketidakpercayaan: Pengalaman buruk dengan sistem kesehatan
Level Petugas Kesehatan
- Fear of blame: Menghindari melaporkan kematian karena takut dihukum/diaudit
- Ketidaktahuan definisi: Tidak semua petugas pahami definisi kematian ibu WHO (42 hari)
- Beban administratif: Pelaporan memerlukan paperwork tambahan yang menyita waktu
Level Sistem
- Tidak ada cross-check: Tidak ada mekanisme verifikasi konsistensi data antar sumber
- Fragmentasi data: Kematian di RS, Puskesmas, komunitas dilaporkan melalui jalur berbeda tidak terintegrasi
- Insentif yang salah: Dinkes dengan AKI rendah mendapat penilaian kinerja lebih baik → tekanan implisit untuk tidak melaporkan semua kematian
C.3.3. Near-Miss Maternal sebagai Alternatif Indikator
Definisi WHO (2009): "Perempuan yang hampir meninggal tetapi selamat dari komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan."
Kriteria Near-Miss WHO
Kardiovaskular
Syok, asistol
Respirasi
Saturasi <90% >60 menit
Renal
Kreatinin ≥300 μmol/L
Koagulasi
Transfusi ≥5 unit PRC
Neurologis
Koma, stroke, kejang persisten
Uterus
Histerektomi peripartum
Keunggulan Near-Miss untuk Surveilans
Statistik Lebih Stabil
Near-miss terjadi 5–100× lebih sering dari kematian → di RS dengan AKI rendah sekalipun, near-miss cukup sering untuk analisis bermakna
Sensitif terhadap Kualitas Pelayanan
Rasio Near-Miss/Kematian Ibu (SMO Ratio) mencerminkan kemampuan sistem menyelamatkan perempuan kritis
Dapat Dikumpulkan di Fasilitas
Semua near-miss terjadi di fasilitas (karena memerlukan intervensi medis intensif) → tidak ada underreporting berbasis komunitas
Pasien Dapat Diwawancarai
Memberikan perspektif pasien tentang hambatan akses, kualitas layanan, dan pengalaman sistem kesehatan
Indikator Komposit WHO-MNEH
= Near-Miss + Kematian Ibu
= Near-Miss per 1.000 kelahiran hidup
= Kematian/(Near-Miss + Kematian) × 100
→ MI tinggi = sistem buruk dalam menangani komplikasi kritis
C.4. Surveilans Berbasis Fasilitas versus Berbasis Komunitas
C.4.1. Perbandingan Pendekatan
Berbasis Fasilitas
Kekuatan:
- Data klinis lengkap & akurat
- Mudah distandarkan
- Tidak memerlukan akses ke komunitas sulit
- Near-miss dapat dicakup sepenuhnya
Kelemahan:
- Hanya mencakup kematian di/segera setelah fasilitas
- Kematian di rumah & perjalanan tidak tertangkap
- Bias seleksi: hanya perempuan yang mencapai fasilitas
- Di daerah akses rendah, mencerminkan sebagian kecil gambaran nyata
Berbasis Komunitas
Kekuatan:
- Mencakup kematian di semua tempat — fasilitas, rumah, perjalanan
- Menangkap faktor Terlambat 1 & 2 yang tidak terlihat dari fasilitas
- Lebih mencerminkan beban sesungguhnya pada populasi
Kelemahan:
- Lebih mahal & memerlukan SDM terlatih
- Kualitas data bergantung pada pelaporan komunitas
- Verbal Autopsy memiliki keterbatasan akurasi penyebab kematian
Pendekatan yang Direkomendasikan: Integrasi Keduanya
Register kohort ibu hamil sebagai baseline → Jika dalam 6 minggu setelah EDD tidak ada laporan persalinan → proaktif mencari tahu ke kader/keluarga
Memantau ibu hamil di wilayahnya → Melaporkan kematian yang tidak masuk fasilitas → Kunjungan rumah nifas untuk deteksi dini
Data kematian dari Catatan Sipil sebagai cross-check → Koordinasi dengan RT/RW & kepala desa sebagai sumber informasi komunitas
C.4.2. Verbal Autopsy: Metode dan Keterbatasan
Definisi: Metode untuk menentukan penyebab kematian melalui wawancara terstruktur dengan anggota keluarga atau orang yang mengetahui kronologis menjelang kematian.
Instrumen VA untuk Kematian Ibu
WHO VA Questionnaire (2016):
- Modul kematian ibu dengan pertanyaan tentang: kehamilan, persalinan, perdarahan, kejang, demam, gejala lain
- Algoritma: InterVA atau SmartVA untuk penentuan penyebab otomatis
Keterbatasan Verbal Autopsy
Recall Bias
Keluarga mungkin tidak mengingat gejala dengan akurat, terutama jika wawancara dilakukan berminggu-minggu setelah kematian
Stigma
Keluarga mungkin tidak melaporkan gejala yang berkaitan dengan kondisi yang distigmatisasi (HIV, aborsi tidak aman)
Sensitivitas Diagnostik
VA lebih baik untuk penyebab dengan gejala jelas (perdarahan, kejang) dibanding penyebab samar (sepsis, emboli)
Keterlatihan Pewawancara
Kualitas VA sangat bergantung pada pelatihan pewawancara — bukan metode yang dapat diimplementasikan tanpa investasi kapasitas
C.5. Strategi Peningkatan Kualitas Surveilans di Tingkat Kabupaten
C.5.1. Kerangka Kerja Penilaian Kualitas Surveilans
Kelengkapan
Seberapa lengkap kasus yang seharusnya dilaporkan, dilaporkan?
Indikator: Proporsi kematian dari laporan fasilitas vs estimasi dari data sensus/survei
Ketepatan Waktu
Seberapa cepat kasus dilaporkan setelah terjadi?
Indikator: Rata-rata hari antara kematian dan pelaporan ke Dinkes kab/kota
Akurasi
Seberapa akurat diagnosis penyebab kematian yang dicatat?
Indikator: Proporsi kematian dengan penyebab spesifik vs "penyebab tidak diketahui"
Keterwakilan
Apakah data mencerminkan populasi yang sebenarnya berisiko?
Indikator: Distribusi kematian berdasarkan wilayah, usia, paritas dibanding populasi
Keterpakaikanan
Apakah data digunakan untuk pengambilan keputusan?
Indikator: Apakah ada tindak lanjut dari temuan AMP? Apakah anggaran program berubah berdasarkan data?
C.5.2. Langkah Praktis Peningkatan Surveilans di Kabupaten
Pemetaan Sistem yang Ada
Identifikasi semua sumber data yang ada, bandingkan angka dari sumber berbeda, identifikasi titik kegagalan dalam alur
Standarisasi Definisi & Prosedur
Pastikan semua faskes menggunakan definisi kematian ibu WHO yang sama, buat SOP pelaporan simpel, sediakan formulir mudah diisi
Aktivasi Jaringan Komunitas
Latih kader untuk mengenali & melaporkan kematian perempuan usia reproduksi, bangun hubungan dengan kepala desa & tokoh masyarakat
Perkuat Mekanisme Feedback
Pastikan setiap Puskesmas menerima laporan bulanan tentang situasi AKI — bukan hanya mengirim data tanpa menerima analisis kembali
Integrasikan AMP dengan Perencanaan
Rekomendasi AMP harus masuk dalam dokumen perencanaan resmi (RUK, RKA, Renstra) dengan penanggung jawab & timeline jelas
PERTANYAAN DISKUSI
RANGKUMAN
- Surveilans kesehatan yang efektif bukan sekadar pengumpulan data yang berkelanjutan dan sistematis, tetapi harus menghasilkan transformasi dari data menjadi tindakan nyata — surveilans yang tidak mempengaruhi keputusan kebijakan atau alokasi sumber daya adalah beban administratif yang tidak bermanfaat bagi ibu yang berisiko
- Sistem surveilans kematian ibu di Indonesia memiliki kerangka regulasi yang cukup komprehensif, namun dalam implementasinya menghadapi kegagalan di setiap level rantai pelaporan — dari komunitas yang tidak melapor, petugas yang takut diaudit, hingga sistem yang tidak memiliki mekanisme cross-check yang efektif antara sumber data yang berbeda
- Underreporting kematian ibu adalah fenomena yang sistematis dan bukan sekadar kecelakaan teknis — estimasi global menunjukkan bahwa angka resmi hanya menangkap 60–70% dari kematian yang sesungguhnya terjadi, dengan gap yang lebih besar di daerah terpencil dan kepulauan, sehingga setiap angka AKI resmi harus dibaca dengan pemahaman tentang batasannya
- Near-miss maternal sebagai indikator menawarkan keunggulan penting dibanding kematian saja: lebih sering terjadi sehingga statistiknya lebih stabil, sepenuhnya terjadi di fasilitas sehingga tidak ada underreporting berbasis komunitas, dan mencerminkan kemampuan sistem menyelamatkan perempuan yang sudah dalam kondisi kritis melalui indikator Mortality Index
- Strategi peningkatan surveilans di tingkat kabupaten yang realistis dan berdampak memerlukan lima komponen yang saling menopang: pemetaan sistem yang ada untuk mengidentifikasi gap, standarisasi definisi dan prosedur, aktivasi jaringan komunitas berbasis kader dan tokoh masyarakat, penguatan mekanisme feedback agar data mengalir dua arah, dan integrasi rekomendasi AMP ke dalam dokumen perencanaan resmi yang memiliki anggaran dan penanggung jawab yang jelas
| Nama Tugas | Tugas Personal 1 — Analisis Kualitas Surveilans Kematian Ibu |
|---|---|
| Mata Kuliah | Teknologi Informasi & Surveilans Kesehatan Reproduksi |
| Bobot | 10% dari nilai akhir MK |
| Format | Esai analitik — Word atau PDF, 900–1.400 kata |
| Referensi | Minimal 4 referensi (termasuk minimal 1 kebijakan/regulasi nasional) |
| Pengumpulan | LMS — akhir Minggu ke-2 |
Petunjuk Umum
- Tugas ini menguji kemampuan Anda mengaplikasikan konsep dari Modul 1 dan Modul 2 pada konteks nyata di lapangan
- Jawab seluruh pertanyaan secara berurutan dan berikan sub-judul yang jelas untuk setiap bagian
- Gunakan data dan fakta yang spesifik — hindari jawaban yang terlalu umum atau hanya memparafrase materi modul
- Refleksi personal pada Bagian C tidak memiliki jawaban yang "benar atau salah" — yang dinilai adalah kedalaman analisis dan kejujuran intelektual
Skenario: Kabupaten Sumbawa Barat, NTB
Dr. Nindi, SpOG., Subsp.Obginsos.
Baru dilantik sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Kabupaten ini memiliki karakteristik berikut:
- Luas wilayah: 1.849 km², terdiri dari dataran dan wilayah pegunungan dengan 2 kecamatan yang hanya dapat dijangkau dengan ojek atau jalan kaki lebih dari 2 jam
- Jumlah penduduk: 134.000 jiwa; estimasi kelahiran hidup per tahun: ±3.200
- Fasilitas kesehatan: 1 RSUD (PONEK), 7 Puskesmas (3 dengan rawat inap/PONED, 4 tanpa rawat inap), 28 Pustu, 112 Posyandu
- AKI dilaporkan tahun lalu: 9 kematian ibu = AKI 281/100.000 kelahiran hidup
- Namun: dalam dua bulan pertama bertugas, dr. Nindi telah mengidentifikasi 3 kematian perempuan usia 15–49 tahun yang berpotensi merupakan kematian ibu tetapi tidak masuk dalam laporan resmi — dua kematian terjadi di rumah (satu diduga sepsis nifas, satu perdarahan pascapersalinan 10 hari), dan satu di perjalanan menuju RSUD yang tidak sempat dicatat sebagai kematian ibu oleh fasilitas manapun
- Cakupan ANC K4: 71% — masih di bawah target nasional 95%
- Hanya 2 dari 7 Puskesmas yang secara konsisten mengisi e-Kohort KIA setiap bulan
Pertanyaan
Bagian A — Diagnosis Sistem Surveilans (±400 kata)
Berdasarkan informasi dalam skenario, lakukan diagnosis terhadap sistem surveilans kematian ibu di Kabupaten Sumbawa Barat dengan menjawab:
- Identifikasikan minimal empat titik kegagalan spesifik dalam sistem surveilans yang ada — bukan deskripsi umum, tetapi dikaitkan secara langsung dengan data dalam skenario. Untuk setiap titik kegagalan, identifikasikan apakah ini kegagalan completeness, timeliness, accuracy, atau usability (atau kombinasi)
- Estimasikan AKI "sesungguhnya" di Kabupaten Sumbawa Barat berdasarkan data yang tersedia — tunjukkan cara perhitungan Anda, dan diskusikan ketidakpastian dalam estimasi ini
Bagian B — Rancangan Intervensi Prioritas (±600 kata)
Dr. Nindi memiliki anggaran BOK untuk surveilans yang sangat terbatas dan tim yang terdiri dari satu orang pengelola data dan dua bidan koordinator yang sudah memiliki tugas rutin penuh. Rancang tiga intervensi prioritas yang dapat diimplementasikan dalam 6 bulan pertama untuk meningkatkan kualitas surveilans kematian ibu di kabupaten ini.
Untuk setiap intervensi:
- Jelaskan apa yang dilakukan secara konkret (bukan hanya nama program)
- Identifikasikan dimensi kualitas surveilans mana yang paling diperbaiki
- Perkirakan sumber daya yang diperlukan (waktu, SDM, biaya relatif)
- Antisipasi satu hambatan utama dan cara mengatasinya
Bagian C — Refleksi Metodologis (±250 kata)
Dr. Nindi mengetahui bahwa angka AKI yang ia laporkan ke provinsi tidak mencerminkan kenyataan. Ia mempertimbangkan dua pilihan: (a) melaporkan angka resmi yang tidak akurat agar tidak menciptakan masalah bagi kinerja kabupaten; atau (b) melaporkan angka dengan catatan eksplisit tentang ketidaklengkapannya beserta tiga kasus yang ia identifikasi.
Jelaskan posisi Anda: apa yang seharusnya dilakukan dr. Nindi, dan mengapa? Hubungkan jawaban Anda dengan implikasi untuk integritas sistem surveilans nasional dan tanggung jawab etis konsultan Obginsos sebagai pengelola data kesehatan publik.
Rubrik Penilaian
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Diagnosis Sistem (Bagian A) | Ketepatan identifikasi titik kegagalan; kemampuan mengaitkan dengan data skenario; akurasi dan transparansi estimasi AKI | 35% |
| Rancangan Intervensi (Bagian B) | Relevansi dan spesifisitas intervensi; realisme sumber daya; antisipasi hambatan; koherensi dengan teori surveilans | 45% |
| Refleksi Metodologis (Bagian C) | Kedalaman analisis dilema; keterhubungan dengan konsep integritas data dan etika profesional; kejujuran intelektual | 20% |
Referensi Minimal yang Disarankan
- WHO. Evaluating the Quality of Care for Severe Pregnancy Complications: The WHO Near-Miss Approach. 2011.
- Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2015 tentang Peta Jalan SIK.
- Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. The Lancet. 2006.
- Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022.
REFERENSI
- World Health Organization. Trends in Maternal Mortality 2000 to 2020: Estimates by WHO, UNICEF, UNFPA, World Bank Group and UNDESA/Population Division. Geneva: WHO; 2023. https://www.who.int/publications/i/item/9789240068759
- World Health Organization. Evaluating the Quality of Care for Severe Pregnancy Complications: The WHO Near-Miss Approach for Maternal Health. Geneva: WHO; 2011. https://apps.who.int/iris/handle/10665/44692
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Audit Maternal Perinatal (AMP). Jakarta: Kemenkes RI; 2021. https://kesga.kemkes.go.id
- Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. The Lancet. 2006;368(9542):1189–1200. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69380-X
- Souza JP, Gülmezoglu AM, Vogel J, et al. Moving beyond essential interventions for reduction of maternal mortality (the WHO Multicountry Survey on Maternal and Newborn Health): a cross-sectional study. The Lancet. 2013;381(9879):1747–1755. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60686-X
- Hogan MC, Foreman KJ, Naghavi M, et al. Maternal mortality for 181 countries, 1980–2008: a systematic analysis of progress towards Millennium Development Goal 5. The Lancet. 2010;375(9726):1609–1623. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(10)60518-1
- Byass P, Chandramohan D, Clark SJ, et al. Strengthening standardised interpretation of verbal autopsy data: the new InterVA-4 tool. Global Health Action. 2012;5:19281. https://doi.org/10.3402/gha.v5i0.19281
- Bhutta ZA, Das JK, Bahl R, et al. Can available interventions end preventable deaths in mothers, newborn babies, and stillbirths, and at what cost? The Lancet. 2014;384(9940):347–370. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(14)60792-3
- Countdown to 2030 Collaboration. Countdown to 2030: tracking progress towards universal coverage for reproductive, newborn, and child health. The Lancet. 2018;391(10129):1538–1548. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)30104-1
- Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2022