A. Deskripsi Modul
Maret 2023. Tiga minggu setelah Dr. Rahmat menemukan pola laporan AMP yang mengganggunya, ia mendapat tugas yang lebih konkret: memimpin pertemuan AMP kabupaten di Kabupaten Banggai — salah satu kabupaten yang laporannya paling bermasalah.
Ia tiba pagi-pagi dan duduk di antara 14 orang yang hadir: kepala seksi KIA Dinkes, dua dokter Puskesmas, tiga bidan koordinator, seorang perawat dari RSUD, dan beberapa staf administrasi. Di meja depan ada tiga map berwarna biru — masing-masing berisi formulir kasus kematian maternal yang akan dibahas hari itu.
Pertemuan dimulai. Kepala Seksi KIA membuka dengan kalimat yang sudah sangat familiar: "Kita bahas kasus pertama. Ny. A, 29 tahun, G3P2A0, meninggal karena perdarahan postpartum. Dari formulir, keluarga terlambat memutuskan untuk merujuk..."
Dr. Rahmat mengangkat tangan dengan hati-hati. "Sebelum kita ke kesimpulan, boleh kita mulai dengan kronologi dulu? Dari kapan mulai ada tanda perdarahan, apa yang dilakukan pertama kali, siapa yang ada di sana, dan bagaimana keputusan diambil — satu per satu?"
Suasana berubah sedikit. Orang-orang mulai berbicara berbeda. Detail yang tidak pernah muncul sebelumnya mulai keluar: bidan yang menolong persalinan tidak memiliki oksitosin karena stok habis dua hari sebelumnya. Ambulans desa memang ada, tetapi baterainya sudah lama rusak dan tidak diperbaiki karena tidak ada anggaran. Pihak keluarga sebenarnya langsung mau dirujuk — tetapi tidak ada kendaraan yang bisa pergi malam itu.
Bukan keterlambatan keluarga, pikir Dr. Rahmat. Ini adalah kegagalan di tiga titik sistem yang berbeda secara bersamaan.
Perubahan kecil yang dilakukan Dr. Rahmat — mengubah cara pertanyaan diajukan, mengubah struktur pembahasan — menghasilkan perbedaan yang dramatis dalam kualitas informasi yang muncul. Ini adalah inti dari metodologi AMP yang efektif: bukan hanya apa yang dikumpulkan, tetapi bagaimana proses pengumpulan dan analisis dijalankan.
Modul ini membangun kompetensi teknis yang diperlukan untuk melaksanakan AMP secara metodologis: dari pengumpulan data hingga instrumen standar, dari proses pertemuan review hingga analisis yang menghasilkan rekomendasi yang bermakna.
B. Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- Menjelaskan alur proses AMP secara lengkap dari notifikasi kematian hingga tindak lanjut rekomendasi
- Menggunakan instrumen standar AMP — termasuk formulir maternal dan perinatal, panduan autopsi verbal, dan matriks analisis faktor — dengan tepat dan kritis
- Merancang dan memfasilitasi pertemuan review AMP yang menghasilkan analisis mendalam, bukan sekadar konfirmasi narasi yang sudah ada
- Mengklasifikasikan kematian maternal menggunakan sistem klasifikasi ICD-MM dan mengidentifikasikan penyebab langsung, antara, dan mendasar secara sistematis
- Menyusun rekomendasi AMP yang memenuhi kriteria SMART dan dapat ditindaklanjuti secara konkret
C. Materi Inti
C.1. Alur Proses AMP dari Hulu ke Hilir
C.1.1. Peta Proses Lengkap
TAHAP 1 — IDENTIFIKASI DAN NOTIFIKASI:
Siapa yang melaporkan:
- Fasilitas kesehatan: wajib melaporkan SEMUA kematian maternal dan perinatal yang terjadi di fasilitas
- Bidan desa / kader: melaporkan kematian yang terjadi di komunitas
- Dinas Kesehatan: memantau kelengkapan laporan dari semua sumber
Tenggat waktu:
- Kematian di fasilitas: dilaporkan dalam 24 jam
- Kematian di komunitas: dilaporkan dalam 1x24 jam setelah diketahui
Formulir yang digunakan:
- Form Notifikasi Kematian Maternal (Form A)
- Form Notifikasi Kematian Perinatal (Form B)
Siapa yang melakukan:
- Petugas yang ditunjuk oleh fasilitas — idealnya bukan yang terlibat langsung dalam kasus
Apa yang dikumpulkan:
- Rekam medis lengkap: dari kontak pertama hingga kematian
- Laporan ANC jika ada
- Laporan dari fasilitas yang merujuk (jika kasus rujukan)
- Dokumentasi tindakan yang diberikan
Prinsip pengumpulan:
- Salin data apa adanya — tidak boleh mengubah atau "melengkapi" rekam medis yang sudah ada
- Jika data tidak ada dalam rekam medis: dicatat sebagai "tidak terdokumentasi" bukan dikosongkan
Definisi:
Wawancara terstruktur dengan keluarga atau orang yang hadir saat kematian untuk mendapatkan informasi tentang:
- Riwayat sebelum kematian
- Perjalanan sakit
- Keputusan yang diambil
- Hambatan yang dihadapi
- Perspektif keluarga tentang penyebab kematian
Siapa yang melakukan:
- Petugas terlatih — bukan petugas yang terlibat dalam kasus
- Jika memungkinkan: petugas dari fasilitas atau tingkat yang berbeda untuk mengurangi bias
Kapan dilakukan:
- Idealnya: 2-6 minggu setelah kematian (cukup jauh dari masa berduka akut, tetapi tidak terlalu lama hingga detail terlupakan)
Instrumen:
- Panduan autopsi verbal WHO yang diadaptasi
- Kombinasi pertanyaan tertutup (untuk data kuantitatif) dan terbuka (untuk narasi kualitatif)
Definisi:
Ringkasan anonim dari kasus yang akan dibahas dalam pertemuan review
Isi abstrak:
- Kronologi kejadian (dari data rekam medis dan autopsi verbal)
- Penyebab kematian (medis)
- Faktor-faktor yang teridentifikasi
- Pertanyaan kritis yang perlu dibahas dalam review
Prinsip anonimisasi:
- Tidak ada nama pasien, keluarga, atau tenaga kesehatan dalam abstrak
- Tidak ada nama fasilitas spesifik (ganti dengan "Puskesmas X" atau "RS Rujukan Y")
- Data demografis yang spesifik dan dapat mengidentifikasi harus dianonimkan
Ini adalah inti proses AMP.
(Dibahas lebih detail di C.2)
Isi laporan AMP:
- Ringkasan setiap kasus yang dibahas (anonim)
- Faktor-faktor yang dapat dihindari yang teridentifikasi
- Klasifikasi kematian
- Rekomendasi per kasus DAN rekomendasi agregat (pola yang muncul dari beberapa kasus)
- Rencana tindak lanjut dengan penanggung jawab dan tenggat waktu
Format laporan:
- Laporan kabupaten/kota: diserahkan ke Dinkes Provinsi dan RS setempat
- Laporan provinsi: diserahkan ke Kemenkes dan digunakan untuk perencanaan regional
Mekanisme monitoring:
- Setiap pertemuan AMP berikutnya WAJIB dimulai dengan review status tindak lanjut pertemuan sebelumnya
- Siapa yang bertanggung jawab melaporkan status implementasi?
- Apa yang terjadi jika rekomendasi tidak dilaksanakan?
Siklus yang harus ditutup:
- Bukan hanya membuat rekomendasi
- Tetapi memastikan rekomendasi menghasilkan perubahan yang terukur
C.2. Pertemuan Review: Memfasilitasi Proses yang Bermakna
C.2.1. Struktur Pertemuan yang Efektif
PERSIAPAN (sebelum hari H):
- Abstrak kasus sudah disiapkan dan dibagikan kepada peserta minimal 3 hari sebelumnya
- Peserta diharapkan sudah membaca abstrak
- Ruangan: nyaman, cukup privat, tidak mudah didengar orang luar
- Materi pendukung: formulir standar, panduan analisis, daftar hadir
Yang dilakukan:
- Reiterasi tujuan AMP: pembelajaran, bukan blame
- Reiterasi aturan kerahasiaan
- Review tindak lanjut pertemuan sebelumnya: apa yang sudah dilakukan, apa yang belum
- Pengantar singkat tentang kasus-kasus yang akan dibahas hari ini
Yang TIDAK boleh dilakukan:
- Langsung ke pembahasan kasus tanpa kontrak proses
- Mengabaikan review tindak lanjut pertemuan sebelumnya
Urutan yang direkomendasikan untuk setiap kasus:
LANGKAH 1 — KRONOLOGI:
- Bangun timeline lengkap dari gejala pertama hingga kematian
- Gunakan format T (waktu) — A (apa yang terjadi) — R (respons sistem/keluarga)
- Pastikan semua "gap" dalam kronologi diidentifikasikan bukan diabaikan
LANGKAH 2 — PENYEBAB MEDIS:
- Identifikasikan penyebab kematian langsung, antara, dan mendasar menggunakan ICD-MM
- Ini adalah fakta medis — bukan analisis
LANGKAH 3 — ANALISIS FAKTOR:
- Ini adalah inti — menggunakan kerangka faktor yang dapat dihindari
- Pertanyaan kunci: "Apakah ada titik dalam timeline ini di mana intervensi yang tepat dan tersedia seharusnya terjadi tetapi tidak terjadi?"
- Untuk setiap faktor: level apa? (komunitas/fasilitas/sistem) Dapat dihindari atau tidak?
LANGKAH 4 — PERTANYAAN KRITIS:
- "Jika kondisi ini terjadi lagi besok di tempat yang sama dengan situasi yang sama — apa yang akan terjadi berbeda?"
- Ini membuka diskusi tentang perbaikan sistem yang realistis
LANGKAH 5 — REKOMENDASI:
- Satu atau dua rekomendasi spesifik per kasus
- Ditulis dalam sesi — bukan diserahkan ke "panitia" untuk ditulis belakangan
- Apakah ada pola yang muncul dari beberapa kasus?
- Faktor apa yang paling sering teridentifikasi?
- Rekomendasi sistemik yang lebih besar berdasarkan pola agregat ini
- Merangkum semua rekomendasi yang dihasilkan
- Menetapkan penanggung jawab dan tenggat waktu untuk setiap rekomendasi
- Menetapkan tanggal pertemuan AMP berikutnya
- Mengingatkan komitmen kerahasiaan
C.2.2. Teknik Fasilitasi untuk Menggali Informasi yang Dalam
PERTANYAAN YANG MEMBUKA (bukan menutup):
Menutup:
→ "Apakah keluarga terlambat merujuk?"
→ Pertanyaan ini mengundang jawaban ya/tidak dan mengkonfirmasi asumsi
Membuka:
→ "Ceritakan apa yang terjadi setelah tanda perdarahan pertama kali terlihat"
→ Pertanyaan ini mengundang narasi yang tidak terbatas pada asumsi sebelumnya
Tentang komunitas:
→ "Apa yang menghalangi keluarga untuk datang lebih cepat?"
(bukan: "Mengapa keluarga terlambat?")
Tentang fasilitas:
→ "Apakah semua yang diperlukan untuk menangani kasus ini tersedia pada saat kejadian?"
→ "Apa kondisi bidan yang menolong persalinan — jam berapa, sudah berapa jam bertugas, apakah ada supervisi?"
Tentang sistem:
→ "Jika kita asumsikan bahwa keluarga dan bidan melakukan yang terbaik yang mereka bisa — apa dalam SISTEM yang tidak mendukung mereka?"
Ketika ada dominasi:
→ Satu orang mendominasi diskusi (biasanya yang paling senior)
→ Teknik: "Saya ingin mendengar perspektif bidan yang menolong persalinan dari Puskesmas X — bagaimana situasinya dari sudut pandang Anda?"
Ketika ada keheningan yang tidak produktif:
→ Orang tidak mau bicara karena takut disalahkan
→ Teknik: "Mari kita asumsikan bahwa semua yang terlibat sudah melakukan yang terbaik dengan yang mereka miliki — pertanyaannya adalah apa yang seharusnya tersedia tetapi tidak?"
Ketika ada defensivitas:
→ Seseorang merasa diserang dan menjadi defensif
→ Teknik: Alihkan dari person ke sistem — "Ini bukan tentang Anda secara personal, tetapi tentang sistem yang mendukung pekerjaan Anda. Apa yang sistem butuhkan untuk memberikan Anda kondisi yang lebih baik?"
Ketika ada blame terbuka:
→ Seseorang secara eksplisit menyalahkan individu tertentu
→ Teknik fasilitasi segera: "Dalam AMP, kita fokus pada sistem, bukan individu. Mari kita tanyakan: kondisi sistem apa yang berkontribusi pada situasi ini?"
Mengapa penting:
- Keputusan dan rekomendasi yang diambil dalam sesi perlu langsung dicatat
- Jika tidak dicatat saat itu, perbedaan ingatan antar peserta akan muncul kemudian
Cara yang efektif:
- Satu orang ditunjuk sebagai notulis yang khusus — bukan sambil bicara
- Whiteboard atau flipchart yang terlihat semua peserta: kronologi dan poin analisis ditulis bersama-sama
- Foto whiteboard di akhir sesi sebagai backup
C.3. Instrumen Standar AMP
C.3.1. Formulir Maternal dan Perinatal
BAGIAN A — IDENTIFIKASI KASUS:
(semua di-anonim-kan)
- Kode kasus (bukan nama)
- Tanggal kematian
- Tempat kematian: rumah / perjalanan / Puskesmas / RS Kabupaten / RS Provinsi / lainnya
- Usia ibu
- Status paritas (G P A)
- Usia kehamilan saat kematian (minggu)
BAGIAN B — RIWAYAT ANTENATAL:
- Jumlah kunjungan ANC
- Fasilitas ANC
- Risiko yang teridentifikasi saat ANC (jika ada)
- Apakah ibu memiliki buku KIA?
BAGIAN C — PENYEBAB KEMATIAN:
(menggunakan format ICD-MM)
- Penyebab langsung
- Penyebab antara
- Penyebab mendasar (underlying cause)
- Kondisi penyerta yang berkontribusi
BAGIAN D — KRONOLOGI KEJADIAN:
- Waktu mulai gejala
- Waktu keputusan mencari pertolongan
- Waktu tiba di fasilitas pertama
- Waktu dan kondisi saat rujukan
- Waktu tiba di fasilitas terakhir
- Waktu kematian
BAGIAN E — ANALISIS FAKTOR:
- Terlambat 1: ya/tidak + deskripsi
- Terlambat 2: ya/tidak + deskripsi
- Terlambat 3: ya/tidak + deskripsi
- Kegagalan kualitas pelayanan: ya/tidak + deskripsi
- Faktor lain: ya/tidak + deskripsi
BAGIAN F — PENILAIAN KETERCEGAHAN:
- Kemungkinan dapat dicegah: ya / mungkin ya / mungkin tidak / tidak
- Tingkat ketercegahan: rendah / sedang / tinggi
- Justifikasi penilaian
BAGIAN G — REKOMENDASI:
- Rekomendasi spesifik (minimal 1, maksimal 3)
- Penanggung jawab
- Tenggat waktu
Komponen khusus:
- Berat lahir / usia gestasi saat lahir
- Jenis persalinan (spontan / assisted / SC / tidak ditolong)
- Kondisi saat lahir (Apgar score jika ada)
- Waktu kematian: antepartum / intrapartum / neonatal dini
- Penyebab kematian spesifik perinatal
- Hubungan dengan kondisi ibu (jika ada)
Masalah yang sering ditemukan:
- Formulir terlalu panjang dan membebani petugas → pengisian tidak lengkap atau asal-asalan
- Pertanyaan tentang faktor yang dapat dihindari tidak mendorong analisis mendalam — hanya centang ya/tidak
- Tidak ada panduan tentang bagaimana mengisi analisis faktor secara kritis
Solusi praktis:
- Latih petugas tentang BAGAIMANA mengisi, bukan hanya APA yang diisi
- Supervisi pengisian formulir oleh fasilitator yang kompeten
- Pengisian formulir yang baik adalah keterampilan yang perlu dilatih berulang
C.3.2. Panduan Autopsi Verbal
Mendapatkan informasi yang TIDAK ada dalam rekam medis:
- Apa yang terjadi di rumah dan komunitas sebelum ke fasilitas
- Perspektif dan pengalaman keluarga
- Hambatan yang dihadapi
- Faktor-faktor komunitas yang berkontribusi
Sebelum wawancara:
- Minta izin keluarga secara eksplisit
- Jelaskan tujuan: untuk perbaikan sistem, bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan untuk tujuan hukum
- Jaminan kerahasiaan identitas
- Hak untuk menolak atau menghentikan wawancara kapan pun
Selama wawancara:
- Setting yang nyaman dan privat
- Tidak terburu-buru
- Mulai dengan pertanyaan yang tidak langsung menyentuh kematian: riwayat kehamilan, kondisi umum ibu
- Bersikap empatik — ini adalah momen berduka bagi keluarga
TENTANG KONDISI SEBELUM KEMATIAN:
- "Bagaimana kondisi kehamilan ibu sejak awal? Apakah ada tanda-tanda masalah?"
- "Ibu periksa kehamilan ke mana? Berapa kali? Apa yang disampaikan petugas?"
TENTANG GEJALA AWAL:
- "Kapan pertama kali Anda menyadari ada sesuatu yang tidak beres? Apa yang Anda lihat?"
- "Apa yang Anda pikirkan saat itu — apakah Anda tahu ini serius?"
TENTANG KEPUTUSAN DAN HAMBATAN:
- "Siapa yang memutuskan untuk mencari pertolongan? Bagaimana keputusan itu diambil?"
- "Apa yang membuat sulit atau mudah untuk pergi ke fasilitas kesehatan?"
- "Apakah ada yang menghalangi atau menunda?"
TENTANG PENGALAMAN DI FASILITAS:
- "Bagaimana pelayanan yang diterima? Apakah ada hal yang membuat Anda khawatir?"
- "Apakah ada yang tidak dijelaskan dengan baik kepada Anda?"
TENTANG REFLEKSI:
- "Menurut Anda, apakah ada yang bisa dilakukan berbeda — oleh siapa pun — yang mungkin mengubah hasilnya?"
(Pertanyaan ini harus diajukan dengan sangat hati-hati dan empatik)
Data yang dihasilkan:
- Kuantitatif: waktu, jumlah kunjungan, jarak, ya/tidak
- Kualitatif: narasi pengalaman, persepsi, hambatan yang dirasakan
Integrasi dengan data rekam medis:
- Bandingkan: apakah ada inkonsistensi antara rekam medis dan narasi keluarga?
- Inkonsistensi bukan selalu berarti ada yang salah — tetapi perlu ditelusuri dalam pertemuan review
C.4. Klasifikasi Kematian Maternal: ICD-MM
C.4.1. Sistem Klasifikasi ICD-MM
Dikembangkan WHO (2012) untuk standardisasi klasifikasi kematian maternal secara global
MENGAPA KLASIFIKASI PENTING:
- Tanpa klasifikasi standar: "perdarahan" di satu kabupaten mungkin dikoding berbeda dari "perdarahan" di kabupaten lain
- Klasifikasi yang konsisten memungkinkan perbandingan antar waktu dan antar wilayah
- Dasar untuk analisis kebijakan yang berbasis bukti
GRUP 1 — PENYEBAB OBSTETRI LANGSUNG:
Kondisi yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan, persalinan, atau masa nifas
1.1 Perdarahan obstetri:
- Plasenta previa / abruptio
- Perdarahan postpartum (atonia, laserasi, retensio plasenta, inversio uteri)
- Ruptura uteri
- Perdarahan antepartum lain
1.2 Hipertensi dalam kehamilan:
- Hipertensi gestasional
- Pre-eklamsia
- Eklamsia
- HELLP syndrome
1.3 Sepsis dan infeksi:
- Sepsis obstetri
- Infeksi intrapartum
- Endometritis postpartum
- Mastitis / abses payudara (yang menyebabkan sepsis)
1.4 Komplikasi aborsi:
- Aborsi tidak aman
- Komplikasi aborsi spontan yang tidak tertangani
1.5 Komplikasi anestesi
1.6 Emboli:
- Emboli cairan amnion
- Emboli pulmoner
1.7 Komplikasi lain obstetri langsung
Kondisi yang sudah ada sebelumnya atau berkembang selama kehamilan tetapi tidak disebabkan oleh masalah obstetri langsung, namun diperburuk oleh kehamilan
Contoh:
- Penyakit jantung
- Malaria
- HIV/AIDS
- Anemia berat yang sudah ada sebelumnya
- Diabetes
Tidak terkait dengan kehamilan
Contoh:
- Kecelakaan lalu lintas
- Kekerasan
- Kondisi yang tidak terkait kehamilan
Tidak ada informasi yang cukup untuk mengklasifikasikan
PENYEBAB LANGSUNG (IMMEDIATE CAUSE):
Kondisi yang secara langsung mengakibatkan kematian
→ Contoh: perdarahan massif postpartum
PENYEBAB ANTARA (INTERMEDIATE CAUSE):
Kondisi yang menyebabkan penyebab langsung
→ Contoh: atonia uteri yang tidak tertangani
PENYEBAB MENDASAR (UNDERLYING CAUSE):
Kondisi awal yang memulai rantai kejadian
→ Contoh: tidak dilakukannya AMTSL yang memungkinkan atonia tidak terdeteksi dan tidak tertangani lebih awal
Kesalahan yang umum:
- AMP hanya mencatat penyebab langsung: "meninggal karena perdarahan"
- Ini tidak memberikan informasi untuk perbaikan sistem
Yang seharusnya:
- Penelusuran hingga penyebab mendasar: "meninggal karena perdarahan massif (langsung) → karena atonia uteri yang tidak direspons (antara) → karena AMTSL tidak dilakukan dan tidak ada oksitosin di fasilitas (mendasar)"
- Penyebab mendasar inilah yang menjadi dasar rekomendasi sistem yang bermakna
C.5. Menyusun Rekomendasi yang Bermakna
C.5.1. Kriteria Rekomendasi yang Efektif
Rekomendasi yang tidak dapat ditindaklanjuti:
- "Tingkatkan pengetahuan masyarakat tentang tanda bahaya" [siapa? bagaimana? kapan? dengan apa?]
- "Perbaiki koordinasi antara Puskesmas dan RS" [mekanisme apa? siapa yang memimpin? bagaimana diukur?]
- "Pastikan obat-obatan tersedia" [obat apa? siapa yang memastikan? sistem monitoring apa?]
Rekomendasi seperti ini:
- Tidak ada yang bertanggung jawab secara spesifik
- Tidak ada cara untuk mengukur apakah sudah dilaksanakan
- Tidak ada tenggat waktu
- Muncul lagi dalam laporan AMP tahun depan
S — SPECIFIC (SPESIFIK):
- Apa tepatnya yang harus dilakukan?
- Bukan: "Perbaiki ketersediaan oksitosin"
- Tapi: "Kepala Puskesmas X memastikan stok oksitosin minimal 20 ampul tersedia setiap saat di IGD, dengan sistem reorder otomatis ketika stok turun di bawah 10 ampul"
M — MEASURABLE (TERUKUR):
- Bagaimana kita tahu bahwa rekomendasi sudah dilaksanakan?
- Ada indikator yang dapat diverifikasi: jumlah, tanggal, dokumen
A — ACHIEVABLE (DAPAT DICAPAI):
- Realistis dengan sumber daya dan kapasitas yang tersedia
- Jika tidak ada anggaran untuk membeli ambulans baru: rekomendasi yang realistis adalah perbaikan sistem penggunaan ambulans yang ada
R — RELEVAN (RELEVAN):
- Langsung berkaitan dengan faktor yang diidentifikasi dalam kasus
- Bukan rekomendasi generik yang mungkin ada dalam setiap laporan AMP
T — TIME-BOUND (BERTENGGAT WAKTU):
- Kapan rekomendasi ini harus selesai dilaksanakan?
- Tenggat waktu yang realistis: bukan terlalu singkat (tidak feasible) tetapi bukan terlalu panjang (tidak ada urgensi)
+ ASSIGNED (ADA PENANGGUNG JAWAB):
- Satu orang atau jabatan yang secara eksplisit bertanggung jawab
- Bukan "semua pihak terkait" — yang berarti tidak ada yang bertanggung jawab
Rekomendasi harus mencakup berbagai level:
LEVEL FASILITAS:
- Perubahan yang dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan secara mandiri
- Contoh: perbaikan SOP, pelatihan internal, perbaikan stok obat
LEVEL SISTEM KABUPATEN:
- Perubahan yang memerlukan keputusan Dinkes atau koordinasi antar fasilitas
- Contoh: sistem koordinasi rujukan, alokasi anggaran, kebijakan penugasan tenaga
LEVEL KOMUNITAS:
- Intervensi di tingkat komunitas yang diperlukan
- Contoh: program Gerakan Sayang Ibu, penguatan peran kader, komunikasi risiko
SEBELUM (tidak efektif):
"Meningkatkan kesiapan Puskesmas dalam menangani kegawatdaruratan obstetri"
SESUDAH (efektif/SMART+):
"Kepala Puskesmas Kendari Barat wajib memastikan: (1) seluruh bidan mampu melakukan AMTSL sesuai protokol — diverifikasi melalui simulasi bulanan; (2) oksitosin dan misoprostol tersedia di setiap kamar bersalin dengan stok minimum 10 unit; (3) checklist kesiapan PONED diverifikasi setiap minggu oleh bidan koordinator dan dilaporkan ke Dinkes setiap bulan.
Penanggung jawab: Kepala Puskesmas Kendari Barat.
Tenggat waktu: 30 hari sejak pertemuan AMP."
D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 2)
Modul 2 memiliki Tugas Personal 1 yang dikumpulkan Minggu ke-2. Thread diskusi di bawah ini adalah sarana refleksi paralel.
Pertanyaan 1:
Dr. Rahmat mengubah cara pertanyaan diajukan dalam pertemuan AMP — dari "apakah keluarga terlambat merujuk?" menjadi "ceritakan kronologi sejak tanda pertama perdarahan" — dan hasilnya dramatis: fakta-fakta tentang kegagalan sistem yang tidak pernah muncul sebelumnya mulai terungkap. (a) Jelaskan mengapa perubahan kecil dalam cara bertanya dapat menghasilkan perbedaan yang besar dalam informasi yang muncul — gunakan konsep dari C.2.2 tentang teknik bertanya; (b) dalam pertemuan AMP yang Anda bayangkan di setting yang Anda kenal, identifikasikan dua situasi dinamika kelompok yang paling mungkin terjadi dan rancang respons fasilitasi yang spesifik untuk masing-masing situasi tersebut.
Pertanyaan 2:
Dari kasus Ny. A yang dibahas Dr. Rahmat (oksitosin habis, ambulans rusak, tidak ada kendaraan malam itu): (a) lakukan klasifikasi penyebab kematian menggunakan format ICD-MM tiga level — langsung, antara, mendasar; (b) identifikasikan faktor yang dapat dihindari di minimal dua level yang berbeda (komunitas/fasilitas/sistem); (c) susun dua rekomendasi yang memenuhi semua kriteria SMART+ untuk faktor yang paling dapat dihindari yang Anda identifikasikan — tulis dalam format yang dapat langsung dimasukkan ke laporan AMP.
E. Rangkuman
- Alur proses AMP yang lengkap mencakup tujuh tahap yang saling berkaitan — dari notifikasi dalam 24 jam, pengumpulan data rekam medis, autopsi verbal, penyusunan abstrak kasus, pertemuan review, penyusunan laporan, hingga tindak lanjut dan monitoring — dan efektivitasnya bergantung pada integritas setiap tahap; kegagalan di satu tahap, terutama pada monitoring tindak lanjut, menjadikan seluruh proses sebelumnya tidak bermakna
- Pertemuan review adalah jantung dari proses AMP dan efektivitasnya sangat ditentukan oleh keterampilan fasilitasi: teknik bertanya yang membuka analisis sistem alih-alih mengkonfirmasi asumsi, pengelolaan dinamika kelompok yang mencegah dominasi dan blame terbuka, serta dokumentasi real-time yang memastikan rekomendasi dihasilkan dalam sesi dan tidak diserahkan kepada proses informal yang lebih lemah
- Formulir standar AMP dan panduan autopsi verbal adalah instrumen yang memiliki kekuatan dan keterbatasan — formulir menghasilkan data yang terstruktur tetapi dapat mendorong pengisian yang mekanis, sementara autopsi verbal menghasilkan perspektif komunitas yang kaya tetapi memerlukan keterampilan wawancara yang empatik dan etis; keduanya saling melengkapi dan tidak dapat saling menggantikan
- Klasifikasi ICD-MM yang menelusuri tiga level penyebab kematian — langsung, antara, dan mendasar — adalah alat kritis yang memungkinkan AMP bergerak melampaui pencatatan cause of death yang dangkal; penyebab mendasar adalah yang paling relevan untuk rekomendasi sistem, namun paling jarang secara konsisten diidentifikasikan dalam praktik AMP di Indonesia
- Rekomendasi yang memenuhi kriteria SMART+ — spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, bertenggat waktu, dan ada penanggung jawab yang eksplisit — adalah pembeda paling kuat antara AMP yang menghasilkan perubahan nyata dengan AMP yang menghasilkan laporan yang disimpan dan dilupakan; rekomendasi harus mencakup berbagai level (fasilitas, sistem kabupaten, komunitas) dan disusun dalam sesi, bukan diserahkan ke proses terpisah
F. Referensi
- WHO. Beyond the Numbers: Reviewing Maternal Deaths and Complications to Make Pregnancy Safer. Geneva: WHO; 2004.
URL: https://www.who.int/publications/i/item/9241591838 - WHO. The WHO Application of ICD-10 to Deaths During the Perinatal Period: ICD-PM. Geneva: WHO; 2016.
URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789241549752 - WHO. ICD-MM: International Classification of Diseases for Maternal Mortality. Geneva: WHO; 2012.
URL: https://www.who.int/reproductivehealth/publications/monitoring/ICD-MM/en - de Brouwere V, Zinnen V, Delvaux T. How to conduct maternal death reviews: guidelines and tools for health professionals. FIGO Safe Motherhood and Newborn Health Committee. 2013.
URL: https://www.figo.org/maternal-death-reviews - Kongnyuy EJ, van den Broek N. The difficulties of conducting maternal death reviews in Malawi. BMC Pregnancy and Childbirth. 2008;8:42.
DOI: https://doi.org/10.1186/1471-2393-8-42 - Pattinson RC, Say L, Makin JD, Bastos MH. Critical incident audit and feedback to improve perinatal and maternal mortality and morbidity. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2005;(4):CD002961.
DOI: https://doi.org/10.1002/14651858.CD002961.pub2 - Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Jakarta: Kemenkes RI; 2010.
URL: https://www.kemkes.go.id - Ronsmans C, Filippi V. Reviewing Severe Maternal Morbidity: Learning from Survivors of Life-threatening Complications. Geneva: WHO; 2004.
- Graham WJ, Wagaarachchi P, Penney G, McCaw-Binns A, Yeboah Antwi K, Hall MH. Criteria for clinical audit of the quality of hospital-based obstetric care in developing countries. Bulletin of the World Health Organization. 2000;78(5):614-620.
- Koblinsky M, Matthews Z, Hussein J, et al. Going to scale with professional skilled care. Lancet. 2006;368(9544):1377-1386.
DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69382-3
Malang, Maret 2026
Penyusun
TUGAS PERSONAL 1 — SESI 1 (MINGGU 2)
Mata Kuliah: Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons | Semester: 3 | Periode: 1 | Sesi: 1
Identitas Tugas
| Jenis Tugas | Tugas Personal Pertama — Sesi 1 |
|---|---|
| Minggu | Minggu ke-2 |
| Materi | Modul 1 (Fondasi AMP) + Modul 2 (Metodologi AMP) |
| Bobot Nilai | 10% dari nilai akhir mata kuliah |
| Sifat | Individual — dikerjakan sendiri |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-2 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format | Esai analitik — Word/PDF |
| Panjang | 1.000–1.500 kata (tidak termasuk referensi) |
| Referensi | Minimal 4 referensi dalam format Vancouver |
PETUNJUK PENGERJAAN
- Tugas ini menggabungkan dua komponen: analisis kasus dan aplikasi metodologis — keduanya harus hadir secara proporsional
- Bagian 1 menuntut analisis yang kritis dan berbasis konsep, bukan sekadar ringkasan modul; peserta didik diharapkan menunjukkan kemampuan menerapkan kerangka analisis pada kasus nyata
- Bagian 2 menuntut penulisan rekomendasi yang konkret dalam format yang siap digunakan dalam laporan AMP — bukan deskripsi tentang apa yang seharusnya ada dalam rekomendasi
- Peserta didik didorong untuk menggunakan pengetahuan kontekstual tentang daerah yang mereka kenal untuk memperkaya analisis
SKENARIO
"Antara Formulir dan Kenyataan"
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Dr. Aini, SpOG., Subsp.Obginsos., baru saja selesai memimpin pertemuan AMP pertamanya sebagai fasilitator di kabupaten ini. Kasus yang dibahas: Ny. Sari, 32 tahun, G4P3A0, meninggal 11 hari lalu karena eklamsia berat.
Dari formulir yang diserahkan oleh Puskesmas, tertulis:
- Penyebab kematian: eklamsia
- Keterlambatan: Terlambat 1 — keluarga terlambat memutuskan rujukan
- Rekomendasi: Tingkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang tanda bahaya kehamilan
Tetapi selama pertemuan AMP yang Dr. Aini fasilitasi dengan pertanyaan yang lebih terbuka, informasi berikut mulai terungkap dari bidan koordinator dan dokter Puskesmas yang hadir:
Fakta yang muncul dalam pertemuan:
- Ny. Sari sudah memiliki riwayat hipertensi dalam kehamilan sejak usia kehamilan 28 minggu, tercatat dalam buku KIA
- Pada kunjungan ANC keempat (32 minggu), tekanan darah 160/110 — bidan mencatat tetapi tidak merujuk, mengira "nanti dipantau lagi"
- Ny. Sari datang sendiri ke Puskesmas pada minggu ke-36 karena sakit kepala berat dan pandangan kabur — dua tanda bahaya eklamsia yang ia kenali dari buku KIA
- Di Puskesmas, bidan yang bertugas adalah bidan baru yang baru 4 bulan bertugas; ia mengatakan sudah "hampir memberikan MgSO4" tetapi tidak jadi karena "tidak yakin dosisnya" dan menunggu dokter yang sedang tidak ada di tempat
- Dokter baru tiba 2 jam kemudian; MgSO4 diberikan tetapi Ny. Sari sudah mengalami kejang pertama
- Ambulans Puskesmas berfungsi, tetapi tidak ada sopir karena sopir sedang sakit dan belum ada pengganti yang ditetapkan
- Keluarga akhirnya menggunakan ojek untuk merujuk — perjalanan 45 menit dengan kondisi jalan rusak
- Ny. Sari meninggal di RSUD 3 jam setelah tiba
Temuan tambahan dari diskusi:
- Stok MgSO4 di Puskesmas tersedia tetapi tidak ada di kamar bersalin — hanya ada di gudang obat yang dibuka oleh petugas farmasi; di luar jam kerja, akses ke gudang terbatas
- Bidan baru tersebut belum pernah mendapat pelatihan penanganan eklamsia sejak bertugas
- Tidak ada SOP tertulis di Puskesmas tentang alur penanganan pre-eklamsia berat / eklamsia yang tersedia di kamar bersalin
PERTANYAAN
Bagian 1 — Analisis Kritis (60%)
a. Analisis Bias Sistemik (20%)
Formulir awal dari Puskesmas menyimpulkan "Terlambat 1 — keluarga terlambat memutuskan rujukan" dan merekomendasikan "penyuluhan masyarakat." Tetapi fakta yang muncul dalam pertemuan menunjukkan gambar yang berbeda.
Menggunakan konsep bias sistemik dan kerangka Tiga Terlambat secara kritis:
- Identifikasikan pada level mana keterlambatan sebenarnya paling signifikan terjadi dalam kasus Ny. Sari
- Jelaskan mengapa formulir awal dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan kenyataan — faktor apa yang mendorong kecenderungan tersebut?
- Apa konsekuensi konkret jika rekomendasi yang ditulis di formulir awal (penyuluhan masyarakat) yang diimplementasikan alih-alih rekomendasi yang berbasis fakta lebih lengkap?
b. Klasifikasi Penyebab Kematian (20%)
Gunakan kerangka ICD-MM tiga level untuk mengklasifikasikan kematian Ny. Sari:
- Penyebab langsung (immediate cause)
- Penyebab antara (intermediate cause)
- Penyebab mendasar (underlying cause)
Untuk setiap level, berikan justifikasi berdasarkan fakta yang terungkap dalam pertemuan. Kemudian identifikasikan dua faktor yang dapat dihindari yang menurut Anda paling berkontribusi — satu di level fasilitas dan satu di level sistem — beserta alasannya.
c. Refleksi tentang Proses Fasilitasi (20%)
Dr. Aini berhasil memunculkan informasi yang tidak ada dalam formulir awal melalui pertanyaan yang lebih terbuka. Berdasarkan prinsip fasilitasi AMP yang efektif:
- Identifikasikan dua pertanyaan spesifik yang kemungkinan diajukan Dr. Aini yang berhasil membuka informasi yang sebelumnya tersembunyi — tuliskan pertanyaan tersebut secara verbatim sebagaimana mungkin diucapkan dalam pertemuan
- Jelaskan mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut efektif dibanding pertanyaan konvensional yang cenderung mengkonfirmasi asumsi
Bagian 2 — Penyusunan Rekomendasi (40%)
Berdasarkan analisis Anda di Bagian 1, susun tiga rekomendasi yang memenuhi semua kriteria SMART+ untuk kasus Ny. Sari. Ketiga rekomendasi harus mencakup tiga level yang berbeda:
- Rekomendasi 1: Level fasilitas (Puskesmas)
- Rekomendasi 2: Level sistem kabupaten (Dinkes)
- Rekomendasi 3: Level komunitas
Untuk setiap rekomendasi, gunakan format berikut:
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Faktor yang direspons | [Faktor spesifik yang diidentifikasikan] |
| Tindakan yang direkomendasikan | [Deskripsi tindakan yang spesifik] |
| Penanggung jawab | [Jabatan/orang spesifik] |
| Tenggat waktu | [Tanggal atau periode] |
| Indikator keberhasilan | [Bagaimana kita tahu ini sudah dilaksanakan?] |
Setelah ketiga rekomendasi, tambahkan paragraf penutup singkat (100–150 kata) yang menjelaskan mengapa ketiga rekomendasi ini perlu diimplementasikan secara bersamaan dan bukan hanya salah satu — kaitkan dengan konsep sistem yang dipelajari dalam Modul 2.
RUBRIK PENILAIAN
| Bagian | Komponen Penilaian Utama | Bobot |
|---|---|---|
| 1a | Ketepatan identifikasi level keterlambatan; kedalaman analisis bias sistemik; kejelasan konsekuensi dari rekomendasi yang salah sasaran | 20% |
| 1b | Ketepatan klasifikasi tiga level ICD-MM dengan justifikasi berbasis fakta; ketepatan identifikasi dua faktor yang dapat dihindari | 20% |
| 1c | Kualitas pertanyaan yang direkonstruksi; kedalaman analisis mengapa pertanyaan tersebut efektif | 20% |
| 2 — Rekomendasi 1–3 | Kelengkapan kriteria SMART+ untuk setiap rekomendasi; relevansi dengan faktor yang teridentifikasi; realisme | 30% |
| 2 — Paragraf penutup | Kekoherensian argumen tentang implementasi terintegrasi; keterkaitan dengan konsep sistem | 10% |
REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN
- WHO. Beyond the Numbers. Geneva: WHO; 2004.
- Thaddeus S, Maine D. Too far to walk. Soc Sci Med. 1994;38(8):1091-1110.
- WHO. ICD-MM. Geneva: WHO; 2012.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman AMP. Jakarta: Kemenkes; 2010.
Malang, Maret 2026
Penyusun