Keselamatan Pasien dalam Layanan KIA

Budaya, Sistem, dan Praktik

Semester 3 | Periode 1 MK Penjaminan Mutu & Akreditasi Layanan KIA (4 SKS) Sesi 1 | Modul 4 Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A. Deskripsi Modul

Mei 2024. Kamar bersalin RSUD Kabupaten Muna. Jam 02.15 dini hari.

Bidan Ratna baru saja menyelesaikan persalinan ketiga malam itu. Ia kelelahan. Pasien keempat sudah di meja — Ny. Hasna, 28 tahun, G2P1A0, sudah pembukaan lengkap. Persalinan berjalan cepat, bayi lahir dalam 20 menit.

Tiba-tiba perdarahan. Masif. Ratna panik, memanggil bidan lain. Bidan kedua masuk, melihat kondisi, langsung bergerak ke lemari obat. Oksitosin — ada. Metergin — ada. Ia menyiapkan suntikan, memberikan ke Ratna.

Tiga puluh menit kemudian, kondisi Ny. Hasna stabil. Perdarahan terkontrol.

Ketika laporan pagi dibuat, insiden itu tidak dicatat. Bidan Ratna menulis: "Persalinan normal, tidak ada komplikasi."

Dr. Nadia menemukan ini dua minggu kemudian ketika mereview rekam medis secara acak untuk persiapan akreditasi. Ia memanggil Ratna.

"Kenapa tidak dilaporkan?"

Ratna menjawab pelan: "Takut, Bu. Saya pikir kalau dilaporkan, saya yang disalahkan karena tidak cepat bertindak. Padahal saya sudah cepat. Tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau lapor."

Kasus Bidan Ratna adalah ilustrasi yang paling jelas tentang mengapa sistem keselamatan pasien gagal: bukan karena tidak ada formulir pelaporan, bukan karena staf tidak tahu apa itu insiden — tetapi karena budaya yang membuat melaporkan terasa lebih berbahaya daripada menyembunyikan.

Modul ini membangun pemahaman komprehensif tentang keselamatan pasien dalam layanan KIA — dari kerangka konseptual tentang bagaimana kesalahan terjadi dalam sistem kompleks, hingga elemen-elemen budaya keselamatan yang memungkinkan pembelajaran, hingga praktik-praktik konkret yang mengurangi risiko pada pasien obstetri.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan model sistem keselamatan pasien — Swiss Cheese Model dan Human Factors — dan menggunakannya untuk menganalisis insiden dalam layanan KIA
  2. Mengidentifikasikan dimensi budaya keselamatan pasien dan menilai budaya keselamatan di fasilitas menggunakan instrumen yang terstandar
  3. Merancang sistem pelaporan insiden yang mendorong pelaporan jujur melalui pendekatan non-punitive dan psikologis aman
  4. Menerapkan praktik-praktik keselamatan pasien yang spesifik untuk layanan obstetri — termasuk surgical safety checklist, komunikasi SBAR, dan manajemen kegawatan terstruktur
  5. Menganalisis insiden keselamatan pasien dalam layanan KIA menggunakan pendekatan Systems Thinking dan merancang perbaikan yang menyasar akar masalah sistem

C. Materi Inti

C.1. Bagaimana Kesalahan Terjadi: Model Sistem

C.1.1. Swiss Cheese Model dan Human Factors

PARADIGMA LAMA — "BAD APPLE"

→ Ketika terjadi insiden: "siapa yang melakukan kesalahan?"

→ Fokus pada individu: identifikasikan, hukum, atau singkirkan

→ Asumsi: sistem yang baik, individu yang buruk

→ Implikasi: hukum individu → masalah selesai


MASALAH PARADIGMA LAMA:

  • Setelah individu dihukum, sistem yang sama menghasilkan insiden serupa dengan individu yang berbeda
  • Staf yang baik pun membuat kesalahan dalam sistem yang buruk
  • Hukuman menciptakan budaya menyembunyikan — lebih banyak insiden tidak dilaporkan

PARADIGMA BARU — SYSTEMS THINKING

→ Pertanyaan: "Kondisi sistem apa yang memungkinkan insiden ini terjadi?"

→ Fokus pada sistem: identifikasikan faktor sistem yang berkontribusi

→ Asumsi: individu yang baik pun membuat kesalahan dalam sistem yang tidak mendukung

→ Implikasi: perbaiki sistem → mencegah insiden berulang meskipun individu berganti

SWISS CHEESE MODEL (James Reason, 1990)

Analogi: Bayangkan sistem keselamatan sebagai tumpukan irisan keju Swiss — masing-masing dengan lubang-lubang (celah/kelemahan).

Setiap irisan adalah satu lapisan pertahanan:

Irisan 1: Desain peralatan yang aman
Irisan 2: Prosedur dan protokol
Irisan 3: Supervisi dan pengecekan
Irisan 4: Kompetensi petugas
Irisan 5: Lingkungan kerja yang mendukung

Insiden terjadi ketika lubang-lubang dari semua irisan kebetulan sejajar — membentuk "jalur insiden" yang menembus semua lapisan pertahanan.

APLIKASI UNTUK KASUS BIDAN RATNA

Peristiwa: Ny. Hasna hampir meninggal akibat perdarahan postpartum

  • IRISAN 1 — SKRINING RISIKO: Lubang: mungkin tidak terdokumentasi atau tidak dikomunikasikan ke kamar bersalin.
  • IRISAN 2 — PERSIAPAN PERSALINAN: Lubang: tidak ada briefing risiko sebelum persalinan, Ratna tidak tahu riwayat sebelumnya.
  • IRISAN 3 — DETEKSI DINI: Lubang: Ratna kelelahan setelah 3 persalinan — kewaspadaan mungkin menurun.
  • IRISAN 4 — RESPONS: Kali ini lubang tidak sejajar: bidan kedua merespons dengan tepat.
  • IRISAN 5 — SISTEM BACKUP: Lubang: malam hari, dokter on-call tidak segera dapat dihubungi.

Pelajaran: Insiden hampir terjadi karena beberapa lubang sejajar. Kebetulan berhasil karena tidak semua lubang sejajar sepenuhnya. Tanpa perbaikan sistem: lubang yang sama ada — hanya soal waktu sampai sejajar sempurna.

HUMAN FACTORS

Definisi: Studi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem, peralatan, dan lingkungan — dan bagaimana desain yang baik dapat mengurangi potensi kesalahan.

Prinsip kunci: Manusia tidak dapat diandalkan untuk selalu sempurna dalam kondisi yang tidak mendukung. Sistem yang baik dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan manusia: kelelahan, distraksi, beban kognitif, stres.

FAKTOR YANG MENINGKATKAN RISIKO KESALAHAN:

C.2. Budaya Keselamatan Pasien

C.2.1. Apa Itu Budaya Keselamatan dan Mengapa Penting

DEFINISI BUDAYA KESELAMATAN: "Produk dari nilai, sikap, kompetensi, dan pola perilaku individu dan kelompok yang menentukan komitmen mereka, serta gaya dan kemampuan organisasi kesehatan dalam manajemen keselamatan" — Health and Safety Commission UK, 1993.

MENGAPA BUDAYA ADALAH FONDASI: Tanpa budaya keselamatan yang kuat:

DIMENSI BUDAYA KESELAMATAN (berdasarkan AHRQ):

  1. KEPEMIMPINAN YANG MENDUKUNG KESELAMATAN: Pimpinan menunjukkan komitmen aktif terhadap keselamatan (bukan hanya pernyataan). Merespons laporan insiden dengan rasa ingin tahu, bukan hukuman. Mengalokasikan sumber daya untuk keselamatan.
  2. KERJA TIM DALAM UNIT: Anggota tim saling mendukung. Dapat menyampaikan kekhawatiran tentang keselamatan kepada siapapun. Tidak ada hierarki yang menghalangi komunikasi kritis.
  3. KETERBUKAAN KOMUNIKASI: Staf merasa bebas untuk berbicara tentang kondisi yang tidak aman. Pimpinan mendengarkan dan merespons ketika staf menyampaikan kekhawatiran.
  4. UMPAN BALIK DAN PEMBELAJARAN: Staf mendapat informasi tentang perubahan yang dilakukan berdasarkan laporan insiden. Ada mekanisme yang jelas untuk belajar dari kesalahan.
  5. RESPONS NON-PUNITIVE TERHADAP KESALAHAN: Staf tidak merasa kesalahan mereka akan digunakan melawan mereka. Fokus pada sistem, bukan individu. Ini adalah dimensi yang paling sering terlemah di Indonesia.
  6. BEBAN KERJA DAN STAFFING: Jumlah staf mencukupi. Kondisi kerja tidak menciptakan risiko keselamatan.
  7. HANDOVER DAN TRANSISI: Informasi kritis tidak hilang saat pergantian shift atau transfer pasien.
PATOLOGICAL
"Siapa yang peduli selama kita tidak ketahuan?"
BUREAUCRATIC
"Kita sudah punya prosedur untuk itu"
GENERATIVE
"Keselamatan adalah yang kita lakukan di sini"

Generative culture adalah tujuan — tetapi sangat sedikit fasilitas di Indonesia yang berada di sana.

MENGAPA INDONESIA CENDERUNG BUREAUCRATIC ATAU BAHKAN PATOLOGICAL:

Faktor struktural:

Implikasi untuk Subsp.Obginsos: Membangun budaya keselamatan adalah pekerjaan jangka panjang yang dimulai dari perilaku pemimpin sendiri. Setiap kali seorang pemimpin merespons laporan insiden dengan rasa ingin tahu alih-alih kemarahan — budaya berubah sedikit. Setiap kali pemimpin menyalahkan individu alih-alih menganalisis sistem — budaya menjadi sedikit lebih tidak aman.

C.2.2. Mengukur Budaya Keselamatan

INSTRUMEN PENGUKURAN:

MENGINTERPRETASIKAN HASIL PENGUKURAN BUDAYA:

Cara interpretasi HSOPSC:

Dimensi yang paling sering bermasalah di fasilitas Indonesia:

Penggunaan hasil: Bukan untuk membandingkan antar fasilitas secara kompetitif. Tetapi untuk mengidentifikasikan area prioritas di masing-masing fasilitas. Baseline untuk mengukur perubahan setelah intervensi.

C.3. Sistem Pelaporan Insiden yang Efektif

C.3.1. Desain Sistem Pelaporan Non-Punitive

MENGAPA SISTEM PELAPORAN INSIDEN GAGAL:

KLASIFIKASI INSIDEN KESELAMATAN PASIEN:

DESAIN SISTEM PELAPORAN YANG EFEKTIF:

SISTEM PELAPORAN NASIONAL:

SINAPS (Sistem Informasi Nasional Akreditasi dan Keselamatan Pasien): Platform nasional yang dikembangkan Kemenkes. Fasilitas wajib melaporkan sentinel events ke SINAPS. Data digunakan untuk pembelajaran nasional — pola insiden yang konsisten di banyak fasilitas mengindikasikan masalah sistemik yang memerlukan intervensi kebijakan.

Keterbatasan saat ini: Under-reporting masih sangat signifikan. Kualitas laporan bervariasi. Mekanisme umpan balik ke fasilitas belum optimal.

C.4. Praktik Keselamatan Pasien Spesifik untuk Layanan Obstetri

C.4.1. Surgical Safety Checklist dalam Obstetri

WHO SURGICAL SAFETY CHECKLIST (SSC): Dikembangkan WHO 2008. Terbukti menurunkan angka kematian dan komplikasi pasca operasi secara signifikan. Diwajibkan dalam standar akreditasi (STARKES dan instrumen Puskesmas).

Struktur SSC standar (3 tahap dengan total 19 item):

ADAPTASI SSC UNTUK LAYANAN OBSTETRI:

DRILLS DAN SIMULASI KEGAWATAN OBSTETRI:

Mengapa drill penting: Kegawatan obstetri (perdarahan masif, eklamsia, distosia bahu) jarang terjadi tetapi memerlukan respons yang sangat terkoordinasi dan cepat. Tanpa latihan rutin: saat emergensi nyata, tim panik, komunikasi buruk, peran tidak jelas.

Komponen drill yang efektif: Skenario yang realistis: berbasis insiden nyata atau kasus yang paling sering terjadi. Seluruh tim yang terlibat: bidan, dokter, perawat, farmasi. Debriefing wajib setelah drill: apa yang berjalan baik? apa yang perlu diperbaiki? Frekuensi: minimal 2 kali setahun untuk tiap skenario utama (persyaratan STARKES).

Skenario wajib untuk PONED dan PONEK: Perdarahan postpartum masif, Eklamsia/impending eclampsia, Distosia bahu, Asfiksia neonatus berat, Kegagalan rujukan emergensi.

C.4.2. Komunikasi yang Aman: SBAR dan Read-Back

SBAR — KOMUNIKASI TERSTRUKTUR (Situation-Background-Assessment-Recommendation)

Mengapa komunikasi tidak terstruktur berbahaya: Saat melaporkan kondisi kritis, staf sering memberikan terlalu banyak detail yang tidak relevan, tidak menyampaikan tingkat keparahan dengan jelas, tidak membuat rekomendasi yang spesifik, dokter yang dihubungi tidak mendapat gambaran lengkap untuk mengambil keputusan.

SBAR untuk laporan kondisi kritis obstetri:

  • SITUATION: "Bu Dokter, saya Bidan Ratna dari kamar bersalin. Ny. Hasna, 28 tahun, baru melahirkan 20 menit lalu dan sekarang mengalami perdarahan masif — estimasi kehilangan darah sudah 800 ml dan masih berlanjut"
  • BACKGROUND: "G2P1A0, riwayat persalinan pertama normal tanpa komplikasi. Plasenta sudah lahir lengkap. Fundus teraba lembek. Sudah diberikan oksitosin 10 IU IM, belum ada respons"
  • ASSESSMENT: "Saya curiga atonia uteri. Tekanan darah 90/60, nadi 110, pasien mulai tampak pucat dan gelisah"
  • RECOMMENDATION: "Mohon dokter segera ke kamar bersalin. Saya akan persiapkan IV line kedua, metergin, dan dapatkan IV oksitosin drip. Apakah ada instruksi tambahan?"

READ-BACK DAN VERIFICATION:

Tujuan: Memastikan pesan kritis yang diterima secara verbal dipahami dengan benar — terutama instruksi obat.

Prosedur: 1. Penerima instruksi verbal mengulangi instruksi dengan lengkap. 2. Pemberi instruksi mengkonfirmasi: "Ya, benar" atau mengoreksi.

Contoh: Dokter: "Berikan MgSO4 4 gram IV bolus dalam 15 menit, dilanjutkan maintenance 1 gram per jam". Bidan: "Konfirmasi: MgSO4 4 gram IV dalam 15 menit, dilanjutkan 1 gram per jam?". Dokter: "Ya, benar".

Critical: tanpa read-back, kesalahan dosis obat adalah salah satu penyebab insiden keselamatan yang paling umum dan paling dapat dicegah.

HANDOVER YANG AMAN:

HANDOVER SHIFT KAMAR BERSALIN — RISIKO TERTINGGI: Informasi tentang pasien yang sedang dalam persalinan dapat hilang saat pergantian shift. Risiko: bidan baru tidak tahu riwayat atau kondisi terkini.

ISBAR untuk handover: Introduction: "Saya Bidan Ratna, serah terima ke Bidan Ani untuk shift malam". Situation: "Ada 2 pasien: Ny. Hasna pembukaan 8 cm, dan Ny. Wati baru masuk dengan PEB". Background + Assessment + Recommendation: detail masing-masing pasien termasuk rencana dan hal yang perlu diperhatikan.

FORMAT BEDSIDE HANDOVER: Handover dilakukan di sisi tempat tidur pasien. Pasien dan keluarga dapat mendengar dan mengkoreksi jika ada informasi yang tidak tepat. Lebih aman, lebih patient-centred, dan memerlukan waktu lebih singkat dari diskusi di meja nurses.

MEDICATION SAFETY DALAM LAYANAN OBSTETRI:

HIGH-ALERT MEDICATIONS DALAM OBSTETRI: Oksitosin (overdosis dapat menyebabkan hiperstimulasi uterus dan gawat janin), MgSO4 (overdosis dapat menyebabkan respiratory arrest), Antihipertensi/nifedipine/labetalol (penurunan tekanan darah terlalu cepat berbahaya), Heparin (untuk profilaksis DVT postpartum: risiko perdarahan).

PRINSIP KEAMANAN OBAT HIGH-ALERT: Penyimpanan terpisah dan berlabel jelas "HIGH ALERT". Double-check wajib oleh dua orang sebelum pemberian. Read-back untuk semua instruksi verbal. Monitoring pasca-pemberian yang terstruktur: khususnya untuk MgSO4 — cek refleks, respirasi, dan urine output.

C.5. Analisis Insiden dan Pembelajaran Sistem

C.5.1. Dari Insiden ke Perubahan Sistem

TINGKATAN ANALISIS INSIDEN:

SECOND VICTIM PHENOMENON:

Definisi: Staf kesehatan yang terlibat dalam insiden keselamatan pasien yang tidak diharapkan dan mengalami trauma psikologis akibatnya.

Mengapa penting: Tanpa dukungan: staf mungkin meninggalkan profesi, mengalami burnout, atau — yang paling berbahaya — menjadi lebih tidak aman dalam praktiknya karena kecemasan. Dengan dukungan: staf dapat pulih dan menjadi kontributor yang lebih kuat untuk keselamatan.

Program dukungan: Percakapan yang didukung segera setelah insiden oleh supervisor yang terlatih. Bukan investigasi langsung — tapi "bagaimana keadaanmu?". Rujukan ke support profesional jika diperlukan. Tidak mengucilkan staf dari tugas tanpa alasan yang kuat dan klinis.

PEMBELAJARAN DARI NEAR-MISS:

Mengapa near-miss lebih berharga dari kematian untuk pembelajaran: Lebih banyak kasusnya: untuk setiap kematian maternal, ada 10-50 near-miss. Pasien masih hidup dan dapat diwawancara. Dapat menganalisis apa yang mencegah kematian — faktor protektif — dan memperkuatnya. Less emotionally charged: lebih mudah untuk diskusi terbuka karena tidak ada kematian yang harus "dijelaskan".

Kondisi untuk belajar dari near-miss: Near-miss harus dilaporkan — ini memerlukan budaya keselamatan yang mendukung. Sistem harus mencatat near-miss secara terstruktur. Review near-miss harus mendapat perhatian yang sama dengan review kematian.

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 4)

Modul 4 memiliki Tugas Kelompok 2 yang dikumpulkan Minggu ke-4. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.

Pertanyaan 1: Bidan Ratna tidak melaporkan insiden perdarahan postpartum Ny. Hasna karena takut disalahkan. Menggunakan Swiss Cheese Model dan kerangka budaya keselamatan: (a) rekonstruksi secara sistematis lapisan pertahanan yang ada dan yang gagal dalam kasus Ny. Hasna — termasuk identifikasikan di mana lubang-lubang yang sejajar; (b) mengapa respons Dr. Nadia terhadap penemuan ini sangat menentukan — baik terhadap Bidan Ratna secara personal maupun terhadap budaya keselamatan unit secara keseluruhan? Rancang respons yang ideal yang Dr. Nadia seharusnya berikan; (c) satu bulan setelah percakapan itu, Bidan Ratna dan tiga bidan lain mendatangi Dr. Nadia dan melaporkan lima near-miss yang tidak pernah dicatat sebelumnya. Apa yang harus Dr. Nadia lakukan dengan informasi ini?

Pertanyaan 2: Anda ditugaskan untuk mendesain program drill kegawatan obstetri untuk Puskesmas PONED yang belum pernah melakukan drill sebelumnya — tim terdiri dari 4 bidan dan 1 dokter umum. (a) pilih satu skenario yang paling prioritas untuk drill pertama dan justifikasikan pilihan Anda menggunakan data insiden yang tersedia; (b) rancang desain drill 90 menit: apa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah simulasi — termasuk bagaimana Anda akan melakukan debriefing yang produktif tanpa menciptakan blame; (c) bagaimana Anda mengukur apakah drill ini efektif — bukan hanya apakah peserta "puas" tetapi apakah kompetensi tim benar-benar meningkat?

E. Rangkuman

  1. Paradigma systems thinking menggantikan paradigma bad apple dalam memahami insiden keselamatan pasien — Swiss Cheese Model menjelaskan bahwa insiden terjadi ketika celah dari beberapa lapisan pertahanan kebetulan sejajar, bukan karena satu individu yang jahat atau tidak kompeten; implikasinya adalah bahwa menghukum individu tidak mencegah insiden berulang karena sistem yang sama tetap ada, sementara memperbaiki sistem menciptakan pertahanan yang lebih kuat untuk semua individu yang akan bekerja dalam sistem itu.
  2. Budaya keselamatan adalah fondasi yang menentukan apakah semua sistem, prosedur, dan teknologi keselamatan lain berfungsi atau tidak — tanpa budaya keselamatan yang mendukung pelaporan jujur dan pembelajaran dari kesalahan, sistem pelaporan insiden tidak akan mendapat input yang bermakna; dimensi respons non-punitive terhadap kesalahan adalah yang paling sering terlemah dan paling menentukan, karena satu insiden di mana pelapor dihukum dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
  3. Sistem pelaporan insiden yang efektif dirancang dengan mempertimbangkan hambatan psikologis yang nyata — rasa takut, tidak tahu apa yang harus dilaporkan, tidak tahu cara melaporkan, dan tidak melihat manfaat; empat prinsip desain yang mengatasi hambatan ini adalah kesederhanaan formulir, kerahasiaan atau anonimitas, umpan balik yang konsisten, dan respons non-punitive yang dibuktikan secara konsisten dalam tindakan bukan hanya pernyataan.
  4. Praktik-praktik keselamatan pasien spesifik obstetri — Surgical Safety Checklist, komunikasi SBAR, read-back untuk instruksi obat kritis, handover terstruktur, dan drill kegawatan reguler — adalah intervensi berbasis bukti yang mengurangi risiko pada titik-titik paling rawan dalam layanan KIA; efektivitasnya bergantung pada implementasi yang konsisten dan latihan yang cukup sehingga menjadi refleks, bukan prosedur yang harus diingat saat kondisi sudah panik.
  5. Fenomena second victim mengingatkan bahwa staf yang terlibat dalam insiden juga memerlukan dukungan psikologis yang aktif — mengabaikan ini tidak hanya tidak manusiawi tetapi juga berbahaya karena staf yang tidak mendapat dukungan cenderung menjadi lebih tidak aman dalam praktiknya; dan pembelajaran dari near-miss — yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kematian — adalah kesempatan emas untuk meningkatkan keselamatan sebelum terjadi outcome yang fatal.

F. Referensi

  1. Reason J. Human error: models and management. BMJ. 2000;320(7237):768-770. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.320.7237.768
  2. Kohn LT, Corrigan JM, Donaldson MS (eds.). To Err is Human: Building a Safer Health System. Washington DC: National Academies Press; 1999. URL: https://www.nap.edu/catalog/9728
  3. Haynes AB, Weiser TG, Berry WR, et al. A surgical safety checklist to reduce morbidity and mortality in a global population. New England Journal of Medicine. 2009;360(5):491-499. DOI: https://doi.org/10.1056/NEJMsa0810119
  4. Sorra J, Gray L, Streagle S, et al. AHRQ Hospital Survey on Patient Safety Culture: User's Guide. Rockville: AHRQ; 2016. URL: https://www.ahrq.gov/sops/surveys/hospital/index.html
  5. Wu AW. Medical error: the second victim. BMJ. 2000;320(7237):726-727. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.320.7237.726
  6. Leonard M, Graham S, Bonacum D. The human factor: the critical importance of effective teamwork and communication in providing safe care. Quality and Safety in Health Care. 2004;13(Suppl 1):i85-i90. DOI: https://doi.org/10.1136/qshc.2004.010033
  7. WHO. WHO Surgical Safety Checklist. Geneva: WHO; 2009. URL: https://www.who.int/teams/integrated-health-services/patient-safety/research/safe-surgery
  8. Dekker S. The Field Guide to Understanding Human Error. 3rd ed. Boca Raton: CRC Press; 2014.
  9. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kemenkes RI; 2017. URL: https://peraturan.bpk.go.id
  10. Draycott T, Sibanda T, Owen L, et al. Does training in obstetric emergencies improve neonatal outcome? BJOG. 2006;113(2):177-182. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1471-0528.2006.00800.x

TUGAS KELOMPOK 2 — SESI 1 (MINGGU 4)

Mata Kuliah: Penjaminan Mutu & Akreditasi Layanan KIA
Semester 3 | Periode 1 | Sesi 1

Jenis Tugas:
Tugas Kelompok Kedua — Sesi 1
Minggu:
Minggu ke-4
Bobot Nilai:
15% dari nilai akhir
Batas Pengumpulan:
Akhir Minggu ke-4

Format Luaran: (1) Laporan analitik Word/PDF; (2) Protokol drill simulasi; (3) Formulir pelaporan insiden yang didesain.

Panjang Laporan: 2.000–2.800 kata (tidak termasuk protokol drill dan formulir).

Referensi: Minimal 6 referensi dalam format Vancouver.

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini mengintegrasikan dua komponen yang harus kohesif: analisis sistem keselamatan yang ada dan desain intervensi konkret yang merespons masalah yang teridentifikasi.
  2. Bagian 1 memerlukan analisis menggunakan Swiss Cheese Model secara eksplisit — sebutkan dan tunjukkan setiap lapisan.
  3. Bagian 2 adalah desain yang harus operasional — protokol drill dan formulir pelaporan harus siap digunakan, bukan konsep.
  4. Bagian 3 memerlukan pemahaman tentang dinamika manusia dalam perubahan budaya — tidak ada jawaban teknis yang cukup; diperlukan pemahaman tentang psikologi dan kepemimpinan.

SKENARIO: "Sistem yang Diam"

RSUD Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. RS tipe C dengan kapasitas PONEK. Tiga bulan terakhir: 3 kematian maternal (2 akibat perdarahan postpartum, 1 akibat eklamsia berat), dan 4 kematian neonatal.

Dr. Andi, SpOG., Subsp.Obginsos., baru bergabung sebagai konsultan teknis. Temuan awal setelah satu bulan:

Temuan tentang budaya keselamatan:

  • Survei HSOPSC yang dilakukan secara anonim pada 32 staf unit kebidanan dan NICU menunjukkan:
    • Dimensi "respons non-punitive terhadap kesalahan": 31% positif (sangat rendah)
    • Dimensi "keterbukaan komunikasi": 38% positif
    • Dimensi "kerja tim dalam unit": 52% positif
    • Dimensi "umpan balik dan pembelajaran": 29% positif (terendah)
    • Dimensi "kepemimpinan yang mendukung keselamatan": 44% positif
  • Wawancara anonim dengan bidan: hampir semua menyatakan "tidak pernah melapor insiden karena takut" atau "tidak tahu ada sistem pelaporan".

Temuan tentang insiden:

  • Sistem pelaporan insiden: ada formulir (2 halaman) di nurses station, tidak ada yang mengisi dalam 6 bulan terakhir.
  • Review rekam medis 3 kematian maternal:
    • Kematian 1 (perdarahan): AMTSL tidak terdokumentasi; oksitosin drip dimulai 45 menit setelah diagnosis atonia — tidak ada SOP yang diikuti.
    • Kematian 2 (perdarahan): pasien datang dengan syok hipovolemik; riwayat ANC menunjukkan previa plasenta yang terdiagnosis tetapi tidak dikomunikasikan ke tim kamar bersalin.
    • Kematian 3 (eklamsia): MgSO4 diberikan tetapi dosis tidak tepat — 2 gram bukan 4 gram; tidak ada read-back, tidak ada double-check.

Temuan tentang sistem dan kapasitas:

  • Tidak ada drill kegawatan obstetri yang pernah dilakukan.
  • SBAR belum diimplementasikan secara konsisten.
  • Handover shift: dilakukan di ruang perawat, verbal tanpa format terstruktur, rata-rata 3-5 menit.
  • Staf: 8 bidan (3 senior, 5 baru ≤ 2 tahun), 2 SpOG (tidak hadir 24 jam), 1 dokter umum on-call malam.

TUGAS

Bagian 1 — Analisis Sistem Keselamatan (35%) ▼

1a. Swiss Cheese Analysis (20%)

Pilih satu kematian maternal dari tiga yang terjadi (pilih yang memiliki data paling lengkap untuk dianalisis) dan lakukan Swiss Cheese Analysis secara komprehensif:

  • Identifikasikan minimal 5 lapisan pertahanan yang seharusnya ada untuk mencegah kematian ini.
  • Untuk setiap lapisan: (a) deskripsikan pertahanan yang seharusnya ada; (b) identifikasikan "lubang" yang ada pada lapisan tersebut berdasarkan temuan Dr. Andi; (c) kategorikan apakah ini lubang aktif (tindakan/kelalaian individu) atau lubang laten (kondisi sistem yang sudah ada sebelumnya).
  • Tunjukkan bagaimana lubang-lubang sejajar membentuk "jalur insiden" yang menyebabkan kematian.
  • Identifikasikan: lapisan mana yang sesungguhnya berfungsi (tidak memiliki lubang yang sejajar)? Apa yang dapat dipelajari dari lapisan yang berfungsi ini?

1b. Analisis Budaya Keselamatan (15%)

Menggunakan data HSOPSC dan temuan wawancara:

  • Identifikasikan dua dimensi budaya yang paling kritis untuk diperbaiki pertama — berikan justifikasi berdasarkan hubungan antara dimensi tersebut dan tiga kematian yang terjadi.
  • Jelaskan mekanisme kausalitas: bagaimana dimensi budaya yang buruk ini secara konkret berkontribusi pada sistem yang "diam" — tidak ada pelaporan, tidak ada pembelajaran, tidak ada perubahan?
  • Identifikasikan satu kekuatan yang ada dalam data HSOPSC yang dapat menjadi titik awal perubahan — dan jelaskan bagaimana kekuatan ini dapat dimanfaatkan.
Bagian 2 — Desain Intervensi Keselamatan (45%) ▼

2a. Sistem Pelaporan Insiden yang Diperbaiki (15%)

Rancang sistem pelaporan insiden yang akan menggantikan sistem yang tidak berfungsi:

  • Desain formulir pelaporan insiden (satu halaman, sebagai dokumen terpisah) yang: Dapat diisi dalam ≤ 5 menit, Mencakup semua informasi yang diperlukan untuk tindak lanjut, Menggunakan bahasa yang tidak menghakimi, Memiliki pilihan anonim, Mencakup klasifikasi KPC/KNC/KTD/Sentinel.
  • Rancang alur pelaporan yang jelas: siapa melaporkan ke siapa, dalam berapa jam, dan apa yang terjadi setelah laporan diterima — termasuk mekanisme umpan balik kepada pelapor dalam 72 jam.
  • Rancang satu mekanisme konkret untuk membuktikan kepada staf bahwa laporan mereka menghasilkan perubahan — berdasarkan kondisi spesifik RSUD Kolaka Utara ini.

2b. Protokol Drill Kegawatan Obstetri (20%)

Rancang protokol drill (sebagai dokumen terpisah) untuk skenario "perdarahan postpartum masif" yang:

  • Dapat dilaksanakan dalam 90 menit.
  • Melibatkan seluruh tim yang relevan.
  • Mencakup: Tujuan drill yang spesifik dan terukur, Skenario dengan skrip narator, Peran setiap peserta, Checkpoint yang akan dievaluasi, Panduan debriefing pasca-drill (termasuk bagaimana memfasilitasi diskusi tentang apa yang tidak berjalan baik tanpa menciptakan blame), Lembar evaluasi kompetensi tim.

2c. Implementasi SBAR dan Read-Back (10%)

Rancang paket implementasi SBAR dan read-back untuk unit kebidanan:

  • Buat contoh SBAR yang siap digunakan untuk dua skenario: (1) melaporkan kondisi kritis ke SpOG on-call di malam hari; (2) handover shift untuk pasien PEB yang sedang mendapat MgSO4.
  • Rancang mekanisme pelatihan singkat (2 jam) untuk memperkenalkan SBAR kepada 8 bidan yang belum pernah menggunakannya.
  • Tentukan bagaimana kepatuhan terhadap SBAR dan read-back akan dimonitor dalam 3 bulan pertama implementasi.
Bagian 3 — Strategi Perubahan Budaya (20%) ▼

3a. Rencana 90 Hari Pertama (15%)

Dr. Andi memiliki 90 hari untuk menciptakan perubahan yang nyata dan terlihat dalam budaya keselamatan unit. Rancang rencana 90 hari yang realistis:

  • Bulan 1 — Fondasi kepercayaan: apa yang harus dilakukan Dr. Andi untuk mulai membangun psikologis aman yang memungkinkan staf mulai terbuka?
  • Bulan 2 — Bukti perubahan: apa "quick win" yang dapat ditunjukkan sebagai bukti bahwa laporan insiden menghasilkan perubahan nyata?
  • Bulan 3 — Membangun momentum: bagaimana memastikan perubahan yang mulai terjadi tidak bergantung hanya pada Dr. Andi tetapi mulai dimiliki oleh tim?

Untuk setiap bulan: tindakan konkret, siapa yang dilibatkan, dan bagaimana mengukur kemajuannya.

3b. Mengelola Resistensi (5%)

Dalam situasi ini, resistensi paling mungkin datang dari dokter SpOG senior yang sudah bertahun-tahun bekerja di RS ini dan terbiasa dengan sistem yang ada — ia bukan penentang secara eksplisit tetapi secara pasif tidak mendukung: tidak hadir dalam drill, tidak menggunakan SBAR, dan merespons laporan insiden dengan pertanyaan "siapa yang melakukan ini?"

Rancang strategi Dr. Andi untuk mengelola dinamika ini — tanpa konfrontasi yang dapat merusak hubungan kerja, tetapi juga tanpa membiarkan perilaku ini menjadi sinyal kepada seluruh tim bahwa perubahan tidak serius.

RUBRIK PENILAIAN

Bagian Komponen Penilaian Utama Bobot
1a — Swiss Cheese Ketepatan identifikasi lapisan; kedalaman analisis lubang aktif vs. laten; koherensi jalur insiden; pembelajaran dari yang berfungsi 20%
1b — Budaya Ketepatan prioritisasi dimensi; kedalaman analisis mekanisme kausalitas; kreativitas identifikasi kekuatan 15%
2a — Pelaporan Kualitas formulir (kesederhanaan + kelengkapan); kejelasan alur; realisme mekanisme umpan balik 15%
2b — Drill Kelengkapan protokol; realisme skenario; kualitas panduan debriefing; instrumen evaluasi 20%
2c — SBAR Kualitas contoh SBAR; realisme mekanisme pelatihan; konkretnya monitoring kepatuhan 10%
3a — Rencana 90 Hari Realisme sekuensing; konkretnya quick win; strategi membangun kepemilikan tim 15%
3b — Resistensi Kepekaan terhadap dinamika; realisme strategi; keseimbangan antara tegas dan tidak konfrontatif 5%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. Reason J. Human error: models and management. BMJ. 2000;320:768-770.
  2. Haynes AB, et al. A surgical safety checklist. NEJM. 2009;360(5):491-499.
  3. Leonard M, Graham S, Bonacum D. The human factor. Qual Saf Health Care. 2004;13(Suppl 1):i85-i90.
  4. Sorra J, et al. AHRQ HSOPSC User's Guide. Rockville: AHRQ; 2016.
  5. Wu AW. Medical error: the second victim. BMJ. 2000;320:726-727.
  6. Kemenkes RI. Permenkes No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kemenkes; 2017.

Malang, Maret 2026
Penyusun