Pengumpulan Data Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi

Instrumen, Sumber, dan Prosedur

Semester 3 | Periode 2 | MK Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 3

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

๐Ÿ“Š Fokus: Pengumpulan Data ๐Ÿ“‹ Tugas Kelompok Minggu 3 ๐Ÿ” Instrumen & Prosedur

๐Ÿ“‹ Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

April 2025. Ruang rapat kecil di lantai dua Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dr. Farid meletakkan laptop-nya dan menatap papan tulis putih di depannya. Di papan itu ia sudah menuliskan tiga pertanyaan evaluasi utama yang ia sepakati bersama empat pemangku kepentingan minggu lalu. Pertanyaan-pertanyaan itu tampak bagus โ€” tajam, spesifik, dapat dijawab.

Tapi hari ini ia menyadari bahwa kesepakatan tentang pertanyaan baru permulaan. Tantangan sesungguhnya baru dimulai: Bagaimana kita akan mendapatkan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Di mejanya ada setumpuk dokumen: laporan bulanan program dari enam kabupaten, laporan survei nasional SDKI 2022, dan draf kuesioner yang dikirim staf administrasi yang tampaknya disalin dari evaluasi program lain tanpa penyesuaian. Ia juga menerima email dari bidan koordinator yang menulis: "Pak Dokter, kalau mau wawancara remaja di Puskesmas, kami perlu tahu dulu apa yang boleh dan tidak boleh ditanyakan. Beberapa pertanyaan di kuesioner itu sensitif sekali."

Bagus, pikir Dr. Farid. Itu bukan hambatan โ€” itu pengingat bahwa pengumpulan data evaluasi program kesehatan reproduksi bukan sekadar teknis. Ada dimensi etis, relasional, dan praktis yang tidak terpisahkan dari dimensi metodologis.

Desain evaluasi yang kuat tidak otomatis menghasilkan data yang baik. Antara desain dan data terdapat jembatan yang sangat sering melemah tanpa disadari: instrumen yang tidak valid, sumber data yang bias, prosedur pengumpulan yang tidak konsisten, dan pengelolaan data yang ceroboh. Modul ini membangun kemampuan untuk merencanakan dan mengeksekusi pengumpulan data evaluasi yang rigoros, responsif terhadap konteks, dan etis untuk program kesehatan reproduksi.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Mengidentifikasi dan memilih sumber data yang tepat untuk pertanyaan evaluasi program kesehatan reproduksi, termasuk data primer dan sekunder
  2. Mengembangkan instrumen pengumpulan data yang valid, reliabel, dan sensitif terhadap konteks kesehatan reproduksi
  3. Merancang prosedur pengumpulan data yang menjamin konsistensi, akurasi, dan perlindungan terhadap partisipan
  4. Mengidentifikasi dan mengelola sumber bias dalam pengumpulan data evaluasi program kesehatan reproduksi
  5. Menyusun sistem manajemen data yang mendukung integritas dan keamanan data evaluasi

C. Materi Inti

C.1. Peta Sumber Data Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi

C.1.1. Data Primer vs. Data Sekunder: Bukan Pilihan, Tapi Kombinasi

๐Ÿ—‚๏ธ FONDASI KONSEPTUAL
๐Ÿ“ฅ DATA PRIMER

Definisi: Dikumpulkan khusus untuk tujuan evaluasi ini

โœ… Kelebihan:

  • Tepat menjawab pertanyaan evaluasi
  • Evaluator mengontrol kualitas pengumpulan
  • Dapat disesuaikan dengan konteks lokal

โŒ Kekurangan:

  • Mahal dan memakan waktu
  • Menambah beban pada partisipan
  • Kapasitas pengumpulan bergantung pada tim evaluasi
๐Ÿ“ DATA SEKUNDER

Definisi: Dikumpulkan oleh orang lain untuk tujuan lain, digunakan kembali untuk evaluasi

โœ… Kelebihan:

  • Sudah tersedia, lebih murah
  • Sering mencakup periode waktu lebih panjang
  • Dapat mencakup seluruh populasi (bukan sampel)

โŒ Kekurangan:

  • Dikumpulkan untuk tujuan berbeda โ€” mungkin tidak tepat menjawab pertanyaan evaluasi
  • Kualitas di luar kendali evaluator
  • Sering ada masalah kelengkapan dan konsistensi
๐Ÿ”„ PRINSIP KOMBINASI
  • Mulai selalu dengan inventarisasi data sekunder yang tersedia
  • Identifikasikan gap: pertanyaan evaluasi yang tidak dapat dijawab dengan data sekunder
  • Rancang pengumpulan data primer HANYA untuk mengisi gap tersebut
  • Hindari menduplikasi pengumpulan data yang sudah ada dalam sistem

๐ŸŽฏ CONTOH UNTUK PROGRAM KR REMAJA DI SULAWESI TENGGARA

PERTANYAAN: "Seberapa banyak remaja yang terjangkau program?"

โ†’ Data sekunder CUKUP: laporan bulanan program, data SIMPUS, data Puskesmas

โ†’ Tidak perlu survei baru

PERTANYAAN: "Bagaimana kualitas konseling yang diterima remaja?"

โ†’ Data sekunder TIDAK CUKUP: laporan program hanya mencatat jumlah, bukan kualitas

โ†’ Perlu data primer: observasi layanan ATAU survei kepuasan remaja

C.1.2. Peta Sumber Data Sekunder dalam Sistem Kesehatan Indonesia

๐Ÿ—„๏ธ SISTEM INFORMASI RUTIN:

๐Ÿ’ป SIMPUS (Sistem Informasi Puskesmas)

Data: kunjungan KB, ANC, persalinan, imunisasi per Puskesmas per bulan

Kualitas: sangat bervariasi antar Puskesmas dan antar kabupaten

Masalah umum: entry data tidak lengkap, entry duplikat, variabel tidak konsisten antar fasilitas

Cara mendapatkan: permohonan ke Dinkes Kab/Kota atau langsung ke Puskesmas

๐Ÿ‘ฅ SIGA (Sistem Informasi Gender dan Anak)

Data: indikator terkait perempuan, anak, kekerasan berbasis gender

Kualitas: lebih terbatas dari SIMPUS

Berguna untuk: evaluasi program yang menyasar kesetaraan gender

๐Ÿฅ— SIGIZI TERPADU

Data: status gizi ibu hamil, balita

Berguna untuk: evaluasi program gizi ibu dan anak

๐Ÿ“Š SURVEI NASIONAL BERKALA:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia)

Data: indikator fertilitas, KB, ANC, persalinan, kematian anak, pengetahuan kesehatan reproduksi

Frekuensi: setiap 5 tahun (terakhir 2022)

Representativitas: provinsi

Keterbatasan untuk evaluasi program: tidak tersedia di level kabupaten, terlalu jarang untuk evaluasi program jangka pendek

๐Ÿ“ˆ SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional)

Data: karakteristik sosial-ekonomi, akses layanan kesehatan

Frekuensi: tahunan

Berguna untuk: konteks sosial-ekonomi dan determinan non-medis

๐Ÿ‘จโ€๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿ‘งโ€๐Ÿ‘ฆ SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus)

Data: demografi, fertilitas, mortalitas

Berguna untuk: baseline populasi dan tren demografis

๐Ÿ“‹ DATA ADMINISTRATIF PROGRAM:

๐Ÿ“„ LAPORAN BULANAN PROGRAM

Data: aktivitas, cakupan, anggaran yang dibelanjakan

Kualitas: sangat bergantung pada kapasitas pelaporan tim program

Masalah umum: under-reporting di area terpencil, over-reporting karena tekanan target

Cara memvalidasi: cross-check dengan data fasilitas dan survei

๐Ÿ—‚๏ธ REGISTER FASILITAS

Register ANC, persalinan, KB, IMS di setiap fasilitas

Lebih detail dari laporan bulanan

Perlu akses langsung ke fasilitas

๐Ÿ’ฐ DATA KEUANGAN

Realisasi anggaran, laporan pertanggungjawaban

Berguna untuk: evaluasi efisiensi dan value for money

Tersedia di Dinkes atau bendahara program

๐ŸŒ DATA DARI SUMBER LAIN:

๐Ÿ†” DATA REGISTRASI VITAL (DUKCAPIL)

Data: Kelahiran, kematian

Berguna untuk: verifikasi data SIMPUS dan estimasi populasi

Keterbatasan: undercounting di daerah terpencil

๐Ÿ“Š DATA BADAN PUSAT STATISTIK (BPS)

Data: Data kependudukan, kemiskinan, IPM

Berguna untuk: konteks dan determinan sosial program

๐Ÿ“š DATA PENELITIAN TERDAHULU

Tesis, disertasi, publikasi ilmiah tentang program serupa di konteks serupa

Berguna untuk: konteks dan pembanding

C.2. Instrumen Pengumpulan Data: Membangun Alat Ukur yang Sahih

C.2.1. Survei Kuantitatif untuk Evaluasi Program KR

๐Ÿ”ง PRINSIP PENGEMBANGAN KUESIONER EVALUASI:

  1. MULAI DARI PERTANYAAN EVALUASI, BUKAN DARI DATA: Setiap item dalam kuesioner harus dapat ditelusuri kembali ke pertanyaan evaluasi yang spesifik. Uji setiap item: "Jawaban atas pertanyaan ini akan digunakan untuk apa?" Jika tidak dapat dijawab: drop item tersebut.
  2. PRIORITASKAN INSTRUMEN TERVALIDASI: Untuk konsep yang sudah mapan, gunakan instrumen yang sudah divalidasi. Contoh instrumen tervalidasi untuk KR: Reproductive Autonomy Scale (Upadhyay et al., 2015), Contraceptive Self-Efficacy Scale, Youth-Friendly Services Assessment Tool (WHO/UNFPA), Reproductive Coercion Scale. Adaptasi instrumen asing untuk konteks Indonesia memerlukan proses: forward translation โ†’ back translation โ†’ cognitive testing โ†’ pilot.
  3. DESAIN PERTANYAAN YANG BAIK: Satu pertanyaan untuk satu konsep (hindari double-barrelled questions). Hindari leading questions. Pastikan semua opsi jawaban exhaustive dan mutually exclusive. Untuk Likert scale: konsisten arah (agree = positif atau negatif secara konsisten).

๐Ÿ“ TIPE PERTANYAAN DAN KAPAN MENGGUNAKANNYA:

๐Ÿง  PERTANYAAN PENGETAHUAN

Tujuan: mengukur apa yang responden tahu secara faktual

Format terbaik: multiple choice dengan satu jawaban benar, atau True/False

Jebakan umum: pertanyaan terlalu mudah (semua menjawab benar) atau terlalu sulit (semua salah) โ†’ tidak memberikan informasi tentang variasi

Contoh baik: "Berapa lama efektivitas KB implan dalam mencegah kehamilan?"

Contoh buruk: "Apakah KB implan efektif?" (terlalu leading dan mudah)

๐Ÿ’ญ PERTANYAAN SIKAP/PERSEPSI

Tujuan: mengukur evaluasi subjektif responden

Format terbaik: Likert scale (5-point atau 7-point)

Perlu balanced items (mix positif dan negatif) untuk menghindari acquiescence bias

Contoh baik: "Layanan kesehatan reproduksi di Puskesmas ini ramah terhadap remaja." [Sangat Tidak Setuju โ€” Sangat Setuju]

๐Ÿšถ PERTANYAAN PERILAKU

Tujuan: mengukur apa yang responden lakukan

Jebakan: social desirability bias sangat tinggi untuk perilaku seksual

Strategi mitigasi:

  • Frame sebagai perilaku normatif ("Banyak orang muda menghadapi situasi di mana...")
  • Gunakan recall period yang spesifik ("Dalam 6 bulan terakhir...")
  • Pertanyaan tidak langsung (Computer-Assisted Self-Interview/CASI)
  • Randomized Response Technique untuk isu sangat sensitif

Hindari: pertanyaan yang terlalu terbuka tentang perilaku seksual dalam kuesioner kertas yang tidak anonim

๐Ÿšช PERTANYAAN AKSES DAN UTILISASI LAYANAN

Tujuan: mengukur penggunaan layanan

Pastikan spesifik: "Dalam 12 bulan terakhir, berapa kali Anda mengunjungi Puskesmas untuk layanan KB?"

Jangan: "Apakah Anda pernah menggunakan layanan KB?" (terlalu ambigu tentang timeframe)

โš ๏ธ SENSITIVITAS KHUSUS DALAM INSTRUMEN KR:

๐Ÿ—ฃ๏ธ ISU BAHASA
  • Istilah anatomi dan seksual yang digunakan dalam kuesioner harus sesuai kosakata responden
  • Kata "vagina" mungkin asing untuk remaja pedesaan Sulawesi Tenggara; perlu padanan lokal yang dipahami
  • Uji melalui cognitive testing: tanya responden uji coba "Apa yang Anda bayangkan ketika membaca pertanyaan ini?"
๐Ÿ“– ISU DAYA BACA
  • Kuesioner untuk remaja harus pada tingkat keterbacaan yang tepat
  • Uji Flesch-Kincaid atau padanannya
  • Gunakan kalimat pendek dan kosakata sederhana
๐Ÿ” ISU ANONYMITY
  • Untuk pertanyaan sensitif (perilaku seksual, kekerasan, penggunaan NAPZA): kuesioner anonim menghasilkan data yang lebih valid
  • Pastikan tidak ada identitas yang tersimpan yang dapat digunakan untuk re-identifikasi

C.2.2. Panduan Wawancara Kualitatif untuk Evaluasi KR

๐Ÿ“‹ PERBEDAAN PANDUAN WAWANCARA EVALUASI vs. PENELITIAN
  • Evaluasi: fokus pada pertanyaan evaluasi yang sudah ditetapkan โ†’ panduan lebih terfokus dan terstruktur
  • Penelitian eksplorasi: lebih terbuka untuk menemukan hal-hal yang tidak diantisipasi

๐Ÿ—‚๏ธ STRUKTUR PANDUAN WAWANCARA YANG BAIK:

๐Ÿšช OPENING (5-10 menit)
  • Perkenalan evaluator
  • Penjelasan tujuan evaluasi (bukan "menilai" individu โ€” tetapi memahami program)
  • Konfirmasi informed consent
  • Penjelasan tentang rekaman dan kerahasiaan
  • Pertanyaan ice-breaker yang tidak sensitif
โ“ MAIN QUESTIONS (PERTANYAAN UTAMA)
  • Idealnya 5-7 pertanyaan utama untuk wawancara 45-60 menit
  • Bergerak dari yang umum ke yang spesifik
  • Bergerak dari yang kurang sensitif ke yang lebih sensitif
  • Setiap pertanyaan utama dilengkapi dengan probe (pertanyaan penggalian): "Bisa ceritakan lebih lanjut?", "Apa yang Anda maksud dengan...?", "Apa yang terjadi setelah itu?"
๐Ÿ”š CLOSING
  • Ringkasan singkat apa yang dipahami evaluator dari wawancara
  • Tanya apakah ada yang ingin ditambahkan
  • Tanya apakah ada pertanyaan dari informan
  • Informasikan tahapan berikutnya

๐Ÿ“ CONTOH PANDUAN WAWANCARA UNTUK REMAJA PESERTA PROGRAM KR:

PERTANYAAN UTAMA 1:

"Ceritakan bagaimana Anda pertama kali mendengar tentang program ini dan apa yang membuat Anda memutuskan untuk mengikutinya."

Probe:

  • "Siapa yang memberitahu Anda?"
  • "Apakah Anda ragu-ragu? Apa yang membuat Anda ragu?"
  • "Apakah ada orang lain yang ikut bersama Anda?"
PERTANYAAN UTAMA 2:

"Ceritakan pengalaman Anda ketika pertama kali datang ke klinik/Puskesmas untuk layanan ini."

Probe:

  • "Bagaimana petugas menyambut Anda?"
  • "Apakah ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman?"
  • "Apakah Anda merasa bisa menanyakan semua yang ingin Anda tanyakan?"
PERTANYAAN UTAMA 3:

"Menurut Anda, apa yang paling bermanfaat dari program ini? Apa yang kurang bermanfaat atau bahkan kurang tepat?"

Probe:

  • "Bisa berikan contoh konkret?"
  • "Apakah manfaat yang Anda rasakan sama dengan yang diharapkan program?"
  • "Apakah ada teman Anda yang tidak merasakan manfaat yang sama? Mengapa?"
PERTANYAAN UTAMA 4:

"Bayangkan ada teman Anda yang sedang mempertimbangkan untuk ikut program ini. Apa yang akan Anda ceritakan kepada mereka?"

Probe:

  • "Apa yang Anda rekomendasikan? Apa yang akan Anda peringatkan?"
  • "Apakah ada teman Anda yang membutuhkan program ini tetapi tidak dapat atau tidak mau ikut? Mengapa?"

CATATAN: Hindari pertanyaan tentang perilaku seksual secara langsung dalam wawancara tatap muka kecuali ada dasar kepercayaan yang kuat. Pertanyaan PERTANYAAN UTAMA 4 (framing tentang "teman") adalah teknik proyektif yang memungkinkan remaja untuk mengekspresikan pengalaman pribadi yang sensitif dengan jarak psikologis yang lebih aman.

C.2.3. Checklist Observasi Layanan

๐Ÿ‘๏ธ MENGAPA OBSERVASI PENTING DALAM EVALUASI PROGRAM KR
  • Gap antara standar yang ditetapkan dan praktik nyata sering signifikan dalam layanan KR
  • Self-report petugas ("Ya, kami selalu melakukan konseling sebelum KB") tidak dapat diandalkan untuk menilai kualitas layanan
  • Observasi langsung memberikan data yang lebih valid tentang proses layanan

๐Ÿ“‹ STANDAR CHECKLIST OBSERVASI:

WHO/UNFPA YOUTH-FRIENDLY SERVICES STANDARDS:

๐Ÿšช DIMENSI 1 โ€” AKSESIBILITAS
  • Jam layanan mencakup waktu yang dapat dijangkau remaja (sore hari, akhir pekan)
  • Lokasi layanan dapat diakses tanpa penghalang fisik
  • Biaya tidak menjadi penghalang (gratis atau terjangkau)
  • Remaja dapat datang tanpa ditemani orang tua (confidential service)
๐Ÿ˜Š DIMENSI 2 โ€” AKSEPTABILITAS
  • Ruang tunggu terpisah atau terlindungi privasi
  • Tidak ada stigma dari petugas terhadap remaja yang datang
  • Petugas tidak menghakimi latar belakang atau pertanyaan remaja
  • Materi komunikasi menggunakan bahasa yang sesuai untuk remaja
โš•๏ธ DIMENSI 3 โ€” KUALITAS TEKNIS
  • Konseling dilakukan secara privat (satu-satu)
  • Informed consent diperoleh sebelum prosedur
  • Semua metode KB tersedia atau dirujuk
  • Waktu konseling minimal memadai (โ‰ฅ10 menit per klien)
๐ŸŽ“ DIMENSI 4 โ€” KOMPETENSI PETUGAS
  • Petugas menggunakan komunikasi yang non-judgmental
  • Petugas menjawab pertanyaan dengan benar dan lengkap
  • Petugas proaktif menanyakan tentang kekerasan berbasis gender
  • Petugas menjelaskan efek samping secara jelas

โš–๏ธ PERTIMBANGAN ETIS OBSERVASI LAYANAN:

C.3. Sampling: Siapa yang Harus Diikutsertakan?

C.3.1. Prinsip dan Prosedur Sampling untuk Evaluasi KR

๐ŸŽฏ SAMPLING DALAM EVALUASI vs. PENELITIAN
  • Penelitian akademis: fokus pada generalisabilitas ke populasi luas
  • Evaluasi program: fokus pada menjawab pertanyaan evaluasi yang spesifik tentang program ini, di konteks ini, pada waktu ini
  • Implikasi: evaluasi sering menggunakan purposive/strategic sampling yang lebih fleksibel dari sampling probabilitas murni

๐Ÿ“Š PENDEKATAN SAMPLING UNTUK METODE BERBEDA:

๐Ÿ”ข SURVEI KUANTITATIF โ€” SAMPLING PROBABILITAS

Simple Random Sampling:

  • Setiap anggota populasi memiliki probabilitas yang sama untuk dipilih
  • Memerlukan sampling frame yang lengkap (daftar semua remaja yang terjangkau program)
  • Kelebihan: bias minimal, memungkinkan inferensi statistik
  • Keterbatasan: sampling frame sering tidak tersedia

Systematic Sampling:

  • Pilih setiap n-th individu dari sampling frame
  • Lebih praktis dari simple random sampling
  • Risiko: periodicity bias jika ada pola dalam frame

Stratified Sampling:

  • Populasi dibagi ke dalam strata (misal: kabupaten, gender, usia) โ†’ sampling dari setiap stratum
  • Kelebihan: menjamin representasi kelompok kecil yang penting
  • Berguna ketika ingin membandingkan sub-kelompok

Cluster Sampling:

  • Unit sampling adalah kelompok (Puskesmas, sekolah) bukan individu
  • Lebih praktis secara logistik
  • Perlu koreksi design effect dalam analisis
  • Paling umum digunakan untuk evaluasi program berbasis fasilitas
๐Ÿ—ฃ๏ธ WAWANCARA KUALITATIF โ€” PURPOSIVE SAMPLING

Maximum Variation Sampling:

  • Pilih informan yang mewakili variasi maksimal dalam pengalaman
  • Tujuan: memahami berbagai perspektif, bukan menemukan satu "kebenaran"
  • Contoh: remaja yang menyelesaikan program, yang dropout, yang belum pernah ikut; dari berbagai kabupaten; laki-laki dan perempuan

Snowball Sampling:

  • Informan pertama merekomendasikan informan berikutnya
  • Berguna untuk: populasi yang sulit dijangkau (remaja dengan risiko tinggi, remaja yang stigmatized)
  • Keterbatasan: bias menuju jaringan sosial yang sama

Theoretical Sampling (untuk grounded theory):

  • Sampling berdasarkan perkembangan analisis
  • Sampling berlanjut sampai theoretical saturation tercapai

SATURATION dalam EVALUASI: Titik di mana wawancara tambahan tidak menghasilkan tema atau informasi baru yang signifikan. Praktik: untuk evaluasi program KR dengan konteks homogen, saturation sering tercapai dengan 12-20 wawancara mendalam.

๐Ÿ“ UKURAN SAMPEL:

๐Ÿ“Š UNTUK SURVEI KUANTITATIF
  • Gunakan kalkulator sampel dengan parameter:
    • Tingkat kepercayaan (biasanya 95%)
    • Margin of error yang dapat diterima (ยฑ5%)
    • Prevalensi estimasi (dari data yang ada atau 50% jika tidak diketahui)
    • Design effect (untuk cluster sampling, biasanya 1.5-2.0)
  • Tambahkan 10-20% untuk antisipasi non-response
  • Contoh: untuk survei dengan CI 95%, margin error ยฑ5%, prevalensi 50%, ukuran sampel minimum โ‰ˆ385 (tanpa design effect)
๐Ÿ—ฃ๏ธ UNTUK WAWANCARA KUALITATIF
  • Tidak ada aturan pasti
  • Prinsip: cukup untuk menjawab pertanyaan evaluasi dengan keyakinan yang memadai
  • Panduan praktis:
    • Studi kasus tunggal: 8-15 wawancara
    • Studi multi-site (beberapa kabupaten): 15-30 wawancara
    • Perhatikan heterogenitas populasi: lebih heterogen = perlu lebih banyak

C.4. Prosedur Pengumpulan Data: Menjaga Konsistensi dan Akurasi

C.4.1. Pelatihan Enumerator dan Quality Control

๐ŸŽ“ MENGAPA ENUMERATOR TRAINING KRITIS

โ†’ Instrumen terbaik menghasilkan data buruk jika pengumpul data tidak terlatih

โ†’ Sumber variasi yang paling umum: cara bertanya berbeda antar enumerator, cara mengkode jawaban berbeda, probing yang tidak konsisten

๐Ÿ“š KOMPONEN PELATIHAN ENUMERATOR EVALUASI PROGRAM KR:

๐Ÿ“… HARI 1 โ€” KONTEKS DAN ETIKA
  • Overview tujuan evaluasi dan bagaimana data akan digunakan
  • Prinsip etika pengumpulan data KR: informed consent, kerahasiaan, do no harm
  • Isu sensitif dalam KR: bagaimana menghadapi responden yang distress, disclosure kekerasan
  • Role play: latihan menangani situasi sulit
๐Ÿ“ HARI 2 โ€” INSTRUMEN
  • Walkthrough setiap item instrumen
  • Latihan probing (untuk wawancara kualitatif)
  • Latihan mengkode jawaban edge cases
  • Clarification tentang definisi operasional tiap variabel
๐ŸŽญ HARI 3 โ€” PRAKTIK
  • Pilot interview dengan responden nyata (tidak termasuk dalam sampel akhir)
  • Debrief: apa yang sulit? Item mana yang membingungkan? Penyesuaian akhir

๐Ÿ” QUALITY CONTROL SELAMA PENGUMPULAN DATA:

๐Ÿ‘๏ธ SUPERVISORY VISITS
  • Supervisor mengunjungi enumerator secara acak
  • Mengobservasi cara bertanya dan mengisi instrumen
  • Memeriksa kuesioner yang sudah terisi di lapangan
๐Ÿ”„ BACK-CHECK
  • Re-interview sebagian kecil responden (5-10%) oleh orang berbeda
  • Membandingkan jawaban: konsistensi mengindikasikan data valid
  • Inkonsistensi besar: signal kuesioner tidak terisi dengan jujur
โšก REAL-TIME DATA REVIEW
  • Review data yang masuk setiap hari atau setiap minggu
  • Identifikasikan: missing data yang tinggi, pola jawaban yang mencurigakan (semua jawaban sama), outlier yang tidak masuk akal
  • Koreksi segera sebelum akumulasi error

๐Ÿ“˜ FIELD MANUAL:

โ†’ Setiap evaluasi harus memiliki Field Manual yang didistribusikan kepada semua enumerator

Konten minimal:

C.4.2. Manajemen Data: Dari Lapangan ke Database

๐Ÿ” PRINSIP MANAJEMEN DATA EVALUASI:

โœ… INTEGRITAS DATA
  • Data yang tersimpan harus mencerminkan apa yang sebenarnya dikumpulkan di lapangan
  • Setiap perubahan data harus terdokumentasi (audit trail)
  • Data asli (raw data) tidak pernah dimodifikasi; analisis dilakukan pada salinan
๐Ÿ”’ KEAMANAN DATA
  • Data sensitif kesehatan reproduksi harus dienkripsi
  • Akses terbatas: hanya anggota tim evaluasi yang memerlukan
  • Backup reguler di lokasi yang berbeda

๐Ÿ”„ PROSES DATA ENTRY DAN CLEANING:

๐Ÿ“„ UNTUK DATA KERTAS
  • Double data entry: dua orang berbeda memasukkan data yang sama โ†’ bandingkan untuk error
  • Range checks: nilai di luar rentang logis (misal: usia 300 tahun) ditandai untuk verifikasi
  • Consistency checks: pertanyaan yang seharusnya konsisten satu sama lain diperiksa silang
๐Ÿ“ฑ UNTUK DATA DIGITAL (TABLET/PHONE)
  • Platform: ODK (Open Data Kit), KoBoToolbox, atau REDCap
  • Built-in validation: batasi range nilai yang dapat dimasukkan
  • Skip logic: jika jawaban X maka pertanyaan Y dilewati
  • Data langsung tersimpan di server โ†’ meminimalkan risiko kehilangan data
๐Ÿ—ฃ๏ธ UNTUK DATA KUALITATIF
  • Rekaman audio ditranskrip secara verbatim
  • Transkrip diverifikasi dengan memutar ulang rekaman
  • Informasi identitas dihapus dari transkrip (anonymisasi) sebelum analisis

โš ๏ธ MISSING DATA:

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen โ€” Minggu 3)

Modul 3 memiliki Tugas Kelompok 1 yang dikumpulkan Minggu ke-3. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.

Pertanyaan 1: Dr. Farid menerima dua "paket data" yang berbeda dari Puskesmas di Kabupaten A dan Kabupaten B: Kabupaten A menyerahkan laporan bulanan yang lengkap (12 bulan, semua variabel terisi) tetapi Dr. Farid mencurigai ada over-reporting karena angka cakupan selalu tepat 100%; Kabupaten B menyerahkan data yang banyak missing (sekitar 30% sel kosong) tetapi terasa lebih jujur. (a) Bagaimana Anda akan mengevaluasi kualitas kedua sumber data tersebut secara sistematis โ€” indikator apa yang akan Anda periksa? (b) Data mana yang lebih berguna untuk evaluasi, dan dalam kondisi apa? (c) Strategi apa yang akan Anda gunakan untuk memvalidasi data yang Anda curigai over-reporting?

Pertanyaan 2: Anda sedang merancang instrumen survei untuk remaja perempuan usia 15-19 tahun peserta program KR di pedesaan Sulawesi Tenggara. Salah satu pertanyaan evaluasi Anda adalah: "Apakah peserta program mengalami peningkatan reproductive autonomy?" (a) Uraikan bagaimana Anda akan mengoperasionalisasikan konsep "reproductive autonomy" menjadi indikator yang dapat diukur dalam konteks ini; (b) Identifikasikan tiga ancaman construct validity yang paling relevan untuk instrumen ini; (c) Rancang dua item kuesioner konkret yang mencoba mengukur reproductive autonomy dengan meminimalkan social desirability bias.

E. Rangkuman

  1. Pengumpulan data evaluasi program kesehatan reproduksi harus dimulai dari inventarisasi data sekunder yang tersedia โ€” data primer dikumpulkan hanya untuk mengisi gap yang tidak dapat dijawab dari data yang sudah ada; sistem informasi rutin seperti SIMPUS, survei nasional seperti SDKI, laporan program, dan data administratif adalah sumber data sekunder yang kaya namun memiliki keterbatasan kualitas yang harus dinilai secara eksplisit sebelum digunakan
  2. Instrumen pengumpulan data yang baik dapat ditelusuri setiap item-nya kembali ke pertanyaan evaluasi yang spesifik; untuk program KR, instrumen yang sudah tervalidasi harus diprioritaskan dan diadaptasi daripada dikembangkan dari nol; pertanyaan tentang perilaku seksual dan kesehatan reproduksi memerlukan strategi khusus untuk meminimalkan social desirability bias, termasuk format anonim, computer-assisted self-interview, framing tidak langsung, atau randomized response technique
  3. Checklist observasi layanan adalah instrumen yang sangat berguna untuk menilai kualitas implementasi program KR โ€” menangkap gap antara standar yang ditetapkan dan praktik nyata yang tidak mungkin terdeteksi hanya dari self-report petugas atau data sistem informasi; observasi harus dilakukan dengan prosedur informed consent yang jelas dan kesadaran akan observer effect
  4. Strategi sampling harus disesuaikan dengan metode yang digunakan: sampling probabilitas untuk survei kuantitatif yang memerlukan inferensi statistik; purposive dan snowball sampling untuk wawancara kualitatif yang memerlukan representasi variasi pengalaman; ukuran sampel untuk survei dihitung berdasarkan parameter statistik yang eksplisit; untuk wawancara kualitatif, saturation menjadi panduan yang lebih relevan dari ukuran sampel pra-ditentukan
  5. Kualitas data ditentukan tidak hanya oleh desain instrumen tetapi oleh prosedur pengumpulan: pelatihan enumerator yang mencakup dimensi etis dan teknis, quality control sistematis di lapangan melalui supervisory visits dan back-check, dan manajemen data yang menjaga integritas dan keamanan data sensitif kesehatan reproduksi dari lapangan hingga database

F. Referensi

  1. Hulley SB, Cummings SR, Browner WS, Grady DG, Newman TB. Designing Clinical Research. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013.
  2. Bertrand JT, Escudero G. Compendium of Indicators for Evaluating Reproductive Health Programs. Chapel Hill: MEASURE Evaluation; 2002. URL: https://www.measureevaluation.org/resources/publications/ms-02-06
  3. Upadhyay UD, Dworkin SL, Weitz TA, Foster DG. Development of a reproductive autonomy scale. Studies in Family Planning. 2014;45(1):19-41. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1728-4465.2014.00374.x
  4. WHO/UNFPA. Orientation Programme on Adolescent Health for Health-Care Providers. Geneva: WHO; 2006. URL: https://www.who.int/publications/i/item/9241591269
  5. Patton MQ. Qualitative Research and Evaluation Methods. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE; 2015.
  6. Creswell JW. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE; 2014.
  7. MEASURE Evaluation. Data Quality Assessment. Chapel Hill: MEASURE Evaluation; 2018. URL: https://www.measureevaluation.org/resources/tools/data-quality
  8. Tourangeau R, Rips LJ, Rasinski K. The Psychology of Survey Response. Cambridge: Cambridge University Press; 2000. DOI: https://doi.org/10.1017/CBO9780511819322
  9. Groves RM, Fowler FJ, Couper MP, Lepkowski JM, Singer E, Tourangeau R. Survey Methodology. 2nd ed. Hoboken: Wiley; 2009.
  10. WHO. Data quality review: a toolkit for facility data quality assessment. Geneva: WHO; 2017. URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789241513227

TUGAS KELOMPOK 1 โ€” SESI 1 (MINGGU 3)

Mata Kuliah: Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 1

Identitas Tugas Detail
Jenis TugasTugas Kelompok Pertama โ€” Sesi 1
MingguMinggu ke-3
MateriModul 1โ€“3
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
PengerjaanKelompok (3โ€“4 orang)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-3 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format LuaranDokumen Protocol Pengumpulan Data, format Word atau PDF
Panjang1.500โ€“2.200 kata (tidak termasuk instrumen, lampiran, dan referensi)
ReferensiMinimal 5 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini adalah latihan perancangan protokol pengumpulan data evaluasi yang nyata dan dapat dieksekusi โ€” bukan latihan teoritis
  2. Kelompok diharapkan membangun di atas pemikiran yang sudah dimulai dalam TP1 (individu): integrasi perspektif antar anggota kelompok untuk memperkaya desain adalah kompetensi yang akan dinilai
  3. Semua anggota kelompok harus berkontribusi secara substantif; lampirkan pembagian tugas di akhir dokumen
  4. Instrumen yang dikembangkan harus konkret dan dapat segera digunakan di lapangan โ€” bukan sekadar outline

๐Ÿ—บ๏ธ SKENARIO

Tim evaluasi Program KB Pasca Persalinan Kabupaten (TK1 melanjutkan konteks dari TP1, atau kelompok dapat memilih konteks baru yang disepakati bersama) telah memiliki desain evaluasi. Dr. Farid โ€” ketua tim โ€” meminta setiap sub-tim untuk menyiapkan protokol pengumpulan data yang lengkap untuk bagian evaluasi yang menjadi tanggung jawab mereka. Laporan protokol ini akan dipresentasikan kepada Kepala Dinas Kesehatan sebelum pengumpulan data dimulai.

TUGAS

Kelompok Anda bertugas menyusun Protokol Pengumpulan Data untuk evaluasi program KB pasca persalinan (atau program KR lain yang disepakati kelompok). Protokol mencakup tiga bagian utama:

Bagian 1 โ€” Peta Data dan Justifikasi Sumber (ยฑ400 kata)

Susun tabel inventarisasi sumber data yang akan digunakan:

Pertanyaan Evaluasi | Jenis Data | Sumber Data | Ketersediaan | Keterbatasan Kualitas | Tindakan untuk Mengatasi

Untuk setiap sumber data sekunder yang akan digunakan: jelaskan langkah konkret yang akan diambil untuk menilai kualitasnya sebelum menggunakannya dalam analisis. Justifikasikan mengapa sumber data ini cukup (atau tidak cukup) untuk menjawab pertanyaan evaluasi yang bersangkutan.

Bagian 2 โ€” Instrumen Pengumpulan Data (dokumen terpisah sebagai lampiran)

Kembangkan dua instrumen berikut:

Instrumen A โ€” Survei Kuantitatif (minimal 15 item)
Rancang survei untuk mengukur salah satu pertanyaan evaluasi utama tentang outcome program. Instrumen harus mencakup:

  • Minimal 5 item pengetahuan
  • Minimal 5 item sikap (Likert scale)
  • Minimal 5 item tentang perilaku/utilisasi layanan
  • Petunjuk pengisian yang jelas
  • Catatan tentang prosedur anonymity

Instrumen B โ€” Panduan Wawancara Kualitatif (minimal 5 pertanyaan utama)
Rancang panduan wawancara mendalam untuk ibu pasca persalinan tentang pengalaman mereka dengan layanan KB pasca persalinan. Instrumen harus mencakup:

  • Pembukaan (script untuk opening)
  • Minimal 5 pertanyaan utama, masing-masing dengan 2โ€“3 probe
  • Pertanyaan penutup
  • Catatan tentang handling disclosure sensitif

Bagian 3 โ€” Protokol Lapangan (ยฑ800 kata)

Rancang prosedur pengumpulan data yang mencakup:

3a. Rencana Sampling

  • Untuk survei: desain sampling yang dipilih, ukuran sampel dan justifikasi perhitungannya, sampling frame yang akan digunakan
  • Untuk wawancara: strategi purposive sampling, kriteria inklusi/eksklusi informan, target jumlah wawancara dan justifikasi

3b. Prosedur Pengumpulan Data

  • Siapa yang akan mengumpulkan data (profil enumerator yang diperlukan)
  • Pelatihan apa yang akan diberikan kepada enumerator (outline agenda 3 hari)
  • Prosedur informed consent yang konkret โ€” termasuk skrip pendek yang akan dibacakan kepada calon responden
  • Prosedur quality control di lapangan

3c. Manajemen Data

  • Platform/software yang akan digunakan untuk entry dan penyimpanan data
  • Prosedur untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan data
  • Rencana untuk menangani missing data dan data yang mencurigakan

Bagian 4 โ€” Refleksi Kelompok (ยฑ400 kata)

Setelah menyelesaikan protokol, diskusikan sebagai kelompok dan tuliskan:

  • Keputusan metodologis paling sulit yang harus Anda buat โ€” dan bagaimana kelompok mencapai konsensus?
  • Keterbatasan protokol yang Anda susun yang Anda akui secara jujur
  • Satu hal yang akan Anda lakukan berbeda jika anggaran evaluasi dua kali lipat

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 โ€” Peta Data Kelengkapan inventarisasi; ketajaman analisis kualitas sumber data; koherensi dengan pertanyaan evaluasi 20%
Bagian 2 โ€” Instrumen Kualitas teknis item (kejelasan, validitas konstruk); kesesuaian dengan standar internasional; perhatian pada sensitivitas isu KR 35%
Bagian 3 โ€” Protokol Rigor prosedur sampling; kelengkapan pelatihan enumerator; kelayakan prosedur consent dan QC; realisme manajemen data 35%
Bagian 4 โ€” Refleksi Kedalaman refleksi metodologis; kejujuran tentang keterbatasan; kualitas argumentasi 10%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. Bertrand JT, Escudero G. Compendium of Indicators for Evaluating Reproductive Health Programs. Chapel Hill: MEASURE Evaluation; 2002.
  2. WHO. Data quality review: a toolkit for facility data quality assessment. Geneva: WHO; 2017.
  3. Patton MQ. Qualitative Research and Evaluation Methods. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE; 2015.
  4. Groves RM, et al. Survey Methodology. 2nd ed. Hoboken: Wiley; 2009.
  5. WHO/UNFPA. Orientation Programme on Adolescent Health for Health-Care Providers. Geneva: WHO; 2006.

Malang, Maret 2026
Penyusun