dalam Program Kesehatan Reproduksi
Semester 3 | Periode 2 | MK Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 8
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
September 2025. Sebuah desa di pesisir Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Dr. Farid duduk di lantai sebuah rumah bersama delapan perempuan β ibu-ibu muda, seorang nenek, dan dua remaja perempuan yang tampak gugup. Di luar jendela, sore mulai gelap. Salah satu ibu β Ibu Yati, 32 tahun, empat anak β berbicara perlahan:
"Bapak Dokter datang menanya-nanya soal KB. Tapi saya mau tanya balik: siapa yang bikin pertanyaan-pertanyaan itu? Apakah orang-orang itu pernah tinggal di sini? Pernah rasakan bagaimana suami bisa marah kalau istri pakai KB tanpa izin? Pernah rasakan malu ke Puskesmas karena petugas bicara keras sampai tetangga dengar?"
Keheningan turun. Dr. Farid mencatat β bukan jawaban atas pertanyaan surveinya, tapi sesuatu yang lebih penting: pertanyaan surveinya sendiri yang bermasalah.
Semua evaluasi yang ia lakukan sejak Modul 1 β desain yang cermat, instrumen yang tervalidasi, analisis yang rigoros β dirancang oleh tim ahli di kantor. Komunitas yang dievaluasi adalah objek data, bukan subjek yang memiliki pengetahuan, perspektif, dan hak untuk membentuk pertanyaan evaluasi itu sendiri.
Ibu Yati melanjutkan: "Kalau Bapak mau tahu program ini berhasil atau tidak, tanya kami. Tapi tanya dengan cara yang menghormati kami. Dan kalau nanti ada hasilnya, kembalikan ke kami dulu sebelum ke Dinas."
Dr. Farid menutup kuesionernya.
Evaluasi konvensional β termasuk semua yang telah dibangun dalam modul-modul sebelumnya β beroperasi dengan asumsi yang jarang dipertanyakan: bahwa evaluator memiliki pengetahuan metodologis, bahwa komunitas adalah sumber data, dan bahwa temuan ditujukan kepada pembuat kebijakan dan donor. Modul ini mempersoalkan dan memperluas asumsi-asumsi itu. Evaluasi berbasis partisipasi menempatkan komunitas sebagai mitra aktif dalam seluruh proses evaluasi β dari penentuan pertanyaan hingga penggunaan temuan. Evaluasi responsif gender memastikan bahwa evaluasi tidak hanya mengukur, tetapi juga secara aktif menantang relasi kekuasaan berbasis gender yang membentuk akses, pengalaman, dan outcome program kesehatan reproduksi.
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
POWER DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KB:
POWER DALAM AKSES LAYANAN:
POWER DALAM INTERAKSI LAYANAN:
| Dimensi | Perempuan | Laki-laki | Kesenjangan | Implikasi Program |
|---|---|---|---|---|
| Akses ke layanan KB | ... | ... | ... | ... |
| Kontrol keputusan KB | ... | ... | ... | ... |
| Partisipasi dalam program | ... | ... | ... | ... |
| Manfaat yang diterima | ... | ... | ... | ... |
| Beban yang ditanggung | ... | ... | ... | ... |
Komponen yang diadaptasi:
Modul 8 memiliki Tugas Kelompok 3 yang dikumpulkan Minggu ke-8. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.
Pertanyaan 1: Ibu Yati mempertanyakan legitimasi evaluasi Dr. Farid dengan argumen bahwa evaluator tidak pernah mengalami kehidupan komunitas yang dievaluasi. (a) Apakah argumen Ibu Yati valid secara epistemologis? Di mana batas antara pengetahuan experiential dan pengetahuan metodologis dalam evaluasi? (b) Bagaimana Dr. Farid dapat merespons keberatan ini secara konstruktif β bukan defensif β dan mengubah proses evaluasinya? (c) Apakah ada situasi di mana evaluator eksternal justru lebih tepat daripada evaluator dari komunitas sendiri?
Pertanyaan 2: Program KB pasca persalinan di Kabupaten X berhasil meningkatkan akseptor KB aktif dari 34% menjadi 58% dalam dua tahun. Evaluasi efektivitas menyimpulkan program berhasil. Namun wawancara kualitatif dengan perempuan mengungkapkan bahwa sebagian besar perempuan memilih metode IUD bukan karena preferensi mereka sendiri, melainkan karena bidan secara aktif mempromosikan IUD untuk memenuhi target program, dan perempuan merasa tidak nyaman menolak. (a) Dari perspektif gender-responsive evaluation, apakah program ini berhasil atau gagal? (b) Bagaimana temuan ini mengubah rekomendasi evaluasi Anda secara konkret? (c) Apa implikasi etis dari evaluasi yang hanya mengukur cakupan tanpa menilai kualitas consent?
Mata Kuliah: Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2
| Identitas Tugas | Detail |
|---|---|
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Ketiga β Sesi 2 |
| Minggu | Minggu ke-8 |
| Materi | Modul 6β8 |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Kelompok (3β4 orang, kelompok yang sama) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-8 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Dokumen Rancangan Evaluasi Partisipatif + Gender Analysis, format Word atau PDF |
| Panjang | 2.000β2.800 kata (tidak termasuk instrumen, matriks, dan referensi) |
| Referensi | Minimal 5 referensi dalam format Vancouver |
Tim evaluasi Dr. Farid telah menyelesaikan evaluasi konvensional Program KR Remaja (Sesi 1). Setelah pertemuan dengan Ibu Yati dan komunitas, Dr. Farid menyadari bahwa evaluasinya memiliki blind spots yang signifikan. Ia mendapat kesempatan untuk melakukan evaluasi lanjutan β kali ini dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan responsif gender. Anggaran: Rp 75 juta. Waktu: 3 bulan. Lokasi: dua kabupaten (Kabupaten A yang relatif urban, dan Kabupaten B yang lebih rural dan terpencil).
Berdasarkan prinsip evaluasi partisipatif dan gender-responsive evaluation, lakukan kritik terstruktur terhadap pendekatan evaluasi konvensional yang digambarkan dalam Sesi 1 (Modul 1β5). Kritik harus mencakup:
Kritik harus konstruktif: tunjukkan bagaimana keterbatasan ini dapat diatasi, bukan sekadar mendaftar kekurangan.
Rancang tiga elemen partisipatif konkret yang akan diintegrasikan ke dalam evaluasi lanjutan. Untuk setiap elemen:
Setidaknya satu dari tiga metode harus secara spesifik dirancang untuk menangkap perspektif remaja perempuan usia 15β19 tahun yang biasanya paling sulit dijangkau oleh evaluasi formal.
Lakukan gender analysis terhadap Program KR Remaja yang dievaluasi menggunakan Gender Analysis Matrix (GAM). Isi matriks berikut berdasarkan pengetahuan dari modul, literatur, dan pengalaman klinis kelompok:
Gender Analysis Matrix β Program KR Remaja Provinsi Sulawesi Tenggara
| Dimensi | Perempuan Remaja | Laki-laki Remaja | Kesenjangan yang Diidentifikasi | Implikasi untuk Evaluasi |
|---|---|---|---|---|
| Akses ke informasi KR | ||||
| Akses ke layanan KR | ||||
| Kontrol atas keputusan seksual dan reproduksi | ||||
| Partisipasi dalam program | ||||
| Manfaat yang diterima dari program | ||||
| Beban dan risiko yang ditanggung | ||||
| Pengalaman dalam interaksi dengan petugas |
Setelah matriks, tuliskan analisis naratif (Β±300 kata) yang:
Sebagai kelompok yang akan menjadi tim evaluasi, lakukan analisis refleksivitas:
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Bagian 1 β Kritik | Ketajaman identifikasi blind spots; kedalaman analisis power dynamics; konstruktivitas solusi yang diusulkan | 25% |
| Bagian 2 β Elemen Partisipatif | Ketepatan pemilihan metode untuk konteks; spesifisitas protokol; strategi menjangkau kelompok terpinggirkan; realisme integrasi dengan data kuantitatif | 30% |
| Bagian 3 β Gender Analysis | Kedalaman dan akurasi GAM; kualitas pertanyaan evaluasi baru; etisitas dan konkretnya rancangan reproductive coercion assessment | 30% |
| Bagian 4 β Refleksivitas | Kejujuran dan kedalaman analisis posisi; spesifisitas strategi mitigasi bias; genuineness rencana pemberdayaan komunitas | 15% |
Malang, Maret 2026
Penyusun