Evaluasi Berbasis Partisipasi dan Pendekatan Responsif Gender

dalam Program Kesehatan Reproduksi

Semester 3 | Periode 2 | MK Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 8

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

🀝 Fokus: Partisipasi & Gender πŸ“‹ Tugas Kelompok Minggu 8 βš–οΈ Power, Agency & Equity

πŸ“‹ Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

September 2025. Sebuah desa di pesisir Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Dr. Farid duduk di lantai sebuah rumah bersama delapan perempuan β€” ibu-ibu muda, seorang nenek, dan dua remaja perempuan yang tampak gugup. Di luar jendela, sore mulai gelap. Salah satu ibu β€” Ibu Yati, 32 tahun, empat anak β€” berbicara perlahan:

"Bapak Dokter datang menanya-nanya soal KB. Tapi saya mau tanya balik: siapa yang bikin pertanyaan-pertanyaan itu? Apakah orang-orang itu pernah tinggal di sini? Pernah rasakan bagaimana suami bisa marah kalau istri pakai KB tanpa izin? Pernah rasakan malu ke Puskesmas karena petugas bicara keras sampai tetangga dengar?"

Keheningan turun. Dr. Farid mencatat β€” bukan jawaban atas pertanyaan surveinya, tapi sesuatu yang lebih penting: pertanyaan surveinya sendiri yang bermasalah.

Semua evaluasi yang ia lakukan sejak Modul 1 β€” desain yang cermat, instrumen yang tervalidasi, analisis yang rigoros β€” dirancang oleh tim ahli di kantor. Komunitas yang dievaluasi adalah objek data, bukan subjek yang memiliki pengetahuan, perspektif, dan hak untuk membentuk pertanyaan evaluasi itu sendiri.

Ibu Yati melanjutkan: "Kalau Bapak mau tahu program ini berhasil atau tidak, tanya kami. Tapi tanya dengan cara yang menghormati kami. Dan kalau nanti ada hasilnya, kembalikan ke kami dulu sebelum ke Dinas."

Dr. Farid menutup kuesionernya.

Evaluasi konvensional β€” termasuk semua yang telah dibangun dalam modul-modul sebelumnya β€” beroperasi dengan asumsi yang jarang dipertanyakan: bahwa evaluator memiliki pengetahuan metodologis, bahwa komunitas adalah sumber data, dan bahwa temuan ditujukan kepada pembuat kebijakan dan donor. Modul ini mempersoalkan dan memperluas asumsi-asumsi itu. Evaluasi berbasis partisipasi menempatkan komunitas sebagai mitra aktif dalam seluruh proses evaluasi β€” dari penentuan pertanyaan hingga penggunaan temuan. Evaluasi responsif gender memastikan bahwa evaluasi tidak hanya mengukur, tetapi juga secara aktif menantang relasi kekuasaan berbasis gender yang membentuk akses, pengalaman, dan outcome program kesehatan reproduksi.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan prinsip-prinsip evaluasi berbasis partisipasi dan membedakannya dari pendekatan evaluasi konvensional
  2. Merancang elemen-elemen partisipatif dalam evaluasi program kesehatan reproduksi yang sesuai konteks
  3. Menerapkan kerangka gender-responsive evaluation untuk menilai program KR
  4. Mengidentifikasi dan menganalisis relasi kekuasaan yang mempengaruhi proses dan temuan evaluasi
  5. Mengelola ketegangan antara standar metodologis dan prinsip partisipasi dalam praktik evaluasi

C. Materi Inti

C.1. Fondasi Evaluasi Berbasis Partisipasi

C.1.1. Mengapa Partisipasi Bukan Sekadar Metodologi

πŸ“š SEJARAH DAN KONTEKS
  • Evaluasi partisipatif berkembang dari kritik terhadap evaluasi eksperimental tahun 1960-1970an yang memperlakukan komunitas sebagai objek pasif
  • Akar intelektual:
    • Paulo Freire: pedagogi kaum tertindas β€” pengetahuan dibangun bersama, bukan diberikan dari atas
    • Robert Chambers: Participatory Rural Appraisal (PRA) β€” orang desa memiliki pengetahuan yang tidak dapat digantikan oleh survei eksternal
    • Feminist evaluation: evaluasi yang membongkar relasi kekuasaan berbasis gender dalam proses penelitian itu sendiri

🎯 SPEKTRUM PARTISIPASI:

πŸ“‹ TINGKAT 1 β€” KONSULTASI
  • Komunitas diminta pendapat tentang desain atau temuan evaluasi
  • Evaluator tetap memegang kendali penuh
  • Partisipasi paling dangkal β€” tapi lebih baik dari tidak ada sama sekali
🀝 TINGKAT 2 β€” KETERLIBATAN
  • Anggota komunitas terlibat sebagai enumerator, pengumpul data, atau validator temuan
  • Evaluator masih menetapkan pertanyaan dan metode
  • Membangun kapasitas lokal sambil meningkatkan relevansi data
πŸ”— TINGKAT 3 β€” KOLABORASI
  • Komunitas terlibat dalam menetapkan pertanyaan evaluasi, merancang metode, menganalisis data, dan menginterpretasikan temuan
  • Evaluator dan komunitas adalah mitra dengan peran yang komplementer
  • Paling umum dalam evaluasi program KR komunitas
πŸ† TINGKAT 4 β€” COMMUNITY-OWNED EVALUATION
  • Komunitas memiliki dan mengendalikan evaluasi
  • Evaluator eksternal berperan sebagai fasilitator atau konsultan teknis
  • Temuan adalah milik komunitas dan digunakan untuk tujuan komunitas
  • Paling transformatif tapi paling menantang secara metodologis

πŸ’‘ ARGUMEN UNTUK PARTISIPASI:

🧠 ARGUMEN EPISTEMOLOGIS
  • Komunitas memiliki pengetahuan kontekstual yang tidak dapat diperoleh melalui instrumen eksternal
  • Ibu Yati mengetahui tentang dinamika kekuasaan dalam pengambilan keputusan KB di rumah tangganya β€” pengetahuan ini tidak akan muncul dalam kuesioner terstruktur
  • Validitas ekologis lebih tinggi: evaluasi yang dirancang bersama komunitas lebih mungkin mengajukan pertanyaan yang tepat tentang realitas yang sesungguhnya
βš–οΈ ARGUMEN ETIS
  • Komunitas yang terdampak program memiliki hak untuk terlibat dalam penilaiannya
  • Evaluasi yang mengambil data dari komunitas tanpa memberikan kembali manfaatnya adalah bentuk ekstraksi yang tidak adil
  • Partisipasi menghormati agency dan martabat komunitas
πŸ”„ ARGUMEN UTILISASI
  • Temuan yang dihasilkan bersama komunitas lebih mungkin diterima, dipercaya, dan digunakan oleh komunitas itu sendiri
  • Perubahan yang didorong dari dalam komunitas lebih berkelanjutan dari yang dipaksakan dari luar

⚠️ KETEGANGAN DENGAN STANDAR METODOLOGIS:

KETEGANGAN 1 β€” RIGOR vs. RELEVANSI:
β†’ Pertanyaan evaluasi yang dipilih komunitas mungkin berbeda dari pertanyaan yang dianggap paling penting secara teknis oleh evaluator
β†’ Resolusi: negosiasi terbuka tentang pertanyaan mana yang diprioritaskan dan mengapa; pertanyaan komunitas dan pertanyaan teknis sering dapat diintegrasikan
KETEGANGAN 2 β€” REPRESENTASI:
β†’ "Komunitas" bukan monolitik β€” siapa yang hadir dalam proses partisipatif? Suara siapa yang dominan?
β†’ Risiko: kelompok yang sudah berdaya lebih mudah berpartisipasi; kelompok yang paling terpinggirkan justru paling sulit dijangkau
β†’ Resolusi: strategi aktif untuk menjangkau dan mendengar suara kelompok yang biasanya tidak terdengar
KETEGANGAN 3 β€” WAKTU DAN SUMBER DAYA:
β†’ Proses partisipatif membutuhkan lebih banyak waktu dan sumber daya dari evaluasi konvensional
β†’ Resolusi: tidak semua evaluasi harus sepenuhnya partisipatif; pilih elemen partisipatif yang paling kritis untuk konteks evaluasi yang spesifik

C.2. Metode Evaluasi Partisipatif dalam Program KR

C.2.1. Participatory Rural Appraisal dan Adaptasinya untuk KR

πŸ” PRINSIP PRA YANG RELEVAN UNTUK EVALUASI KR
  • Triangulasi: gunakan beberapa metode dan sumber untuk memverifikasi informasi
  • Facilitation not extraction: evaluator sebagai fasilitator yang membantu komunitas menganalisis situasinya sendiri
  • Appropriate imprecision: presisi yang "cukup baik" untuk keputusan yang perlu diambil lebih berguna dari presisi sempurna yang tidak dapat dicapai
  • Embracing error: evaluator mengakui dan belajar dari kesalahan secara terbuka
  • Learning by doing: komunitas membangun kapasitas analitisnya melalui proses evaluasi itu sendiri

πŸ› οΈ METODE PRA UNTUK EVALUASI PROGRAM KR:

πŸ—ΊοΈ COMMUNITY MAPPING
  • Komunitas bersama-sama menggambar peta wilayah mereka yang menunjukkan fasilitas kesehatan, jarak, hambatan akses, dan rumah tangga dengan kebutuhan KR yang tidak terpenuhi
  • Proses ini menghasilkan:
    • Data spasial tentang distribusi layanan
    • Pengetahuan komunitas tentang siapa yang tidak terjangkau dan mengapa
    • Diskusi tentang hambatan yang tidak muncul dalam survei
  • Alat: kertas besar, spidol warna, atau di tanah dengan bahan lokal
🚢 TRANSECT WALK
  • Evaluator berjalan bersama anggota komunitas melalui area yang dievaluasi β€” mengamati, bertanya, dan mendiskusikan apa yang dilihat
  • Untuk program KR: berjalan dari komunitas ke Puskesmas β€” mendokumentasikan hambatan perjalanan, kondisi infrastruktur, titik-titik di mana perempuan mungkin memutuskan untuk tidak melanjutkan
  • Menghasilkan data yang tidak muncul dalam wawancara duduk
πŸ“… SEASONAL/HISTORICAL TIMELINE
  • Komunitas membuat garis waktu perubahan yang mereka alami β€” termasuk kapan program dimulai dan perubahan apa yang mereka rasakan
  • Sangat berguna untuk memahami perubahan program dalam konteks perubahan sosial dan ekonomi yang lebih luas
  • Mengungkap: apakah perubahan yang terjadi memang karena program, atau karena perubahan lain yang terjadi bersamaan?
⭐ WELL-BEING RANKING
  • Komunitas bersama mengidentifikasikan dan memberi peringkat faktor-faktor yang menentukan kesejahteraan perempuan dalam komunitas mereka
  • Berguna untuk: memahami bagaimana KR ditempatkan dalam hierarki prioritas komunitas
  • Sering mengungkap: KR bukan prioritas utama perempuan β€” ekonomi, keamanan pangan, dan kekerasan domestik sering lebih mendesak
  • Implikasi program: intervensi KR yang tidak terhubung dengan prioritas nyata perempuan akan selalu menghadapi utilisasi rendah
✨ MOST SIGNIFICANT CHANGE (MSC)
  • Teknik evaluasi partisipatif yang meminta peserta program untuk menceritakan perubahan paling signifikan yang mereka alami karena program
  • Proses:
    1. Kumpulkan cerita perubahan dari peserta program
    2. Kelompok komunitas memilih cerita yang dianggap paling signifikan
    3. Diskusi tentang mengapa cerita itu dipilih mengungkapkan nilai-nilai dan prioritas komunitas
  • Kekuatan: menangkap perubahan yang tidak diantisipasi dalam logic model program
  • Keterbatasan: tidak menghasilkan data yang representatif secara statistik β€” berguna sebagai complement, bukan replacement, survei kuantitatif

πŸ“Έ PHOTOVOICE:

πŸ’‘ KONSEP
  • Metode yang memberikan kamera kepada anggota komunitas untuk mendokumentasikan realitas kehidupan mereka yang relevan dengan program
  • Dikembangkan oleh Wang & Burris (1997) awalnya untuk perempuan pedesaan Yunnan, Tiongkok
  • Sangat relevan untuk program KR: memungkinkan perempuan mendokumentasikan hambatan akses, pengalaman layanan, dan perubahan yang mereka rasakan dalam bahasa visual

PROSES PHOTOVOICE UNTUK EVALUASI KR:

πŸ”§ FASE 1 β€” PERSIAPAN
  • Rekrut peserta dari komunitas target (8-15 orang)
  • Pelatihan penggunaan kamera dan etika fotografi
  • Diskusi tentang pertanyaan panduan: "Apa yang Anda ingin tunjukkan tentang pengalaman Anda dengan layanan kesehatan reproduksi di sini?"
πŸ“· FASE 2 β€” PENGAMBILAN FOTO
  • Peserta mengambil foto selama 1-2 minggu
  • Evaluator tidak menentukan apa yang difoto
  • Catatan kontekstual: peserta menulis atau merekam penjelasan tentang setiap foto
πŸ’¬ FASE 3 β€” DISKUSI DAN ANALISIS
  • Peserta mempresentasikan dan mendiskusikan foto-foto mereka dalam kelompok
  • Analisis SHOWeD:
    • What do you See here?
    • What is really Happening here?
    • How does this relate to Our lives?
    • Why does this problem, strength, or concern exist?
    • What can we Do about it?
  • Tema diidentifikasikan bersama dari diskusi
πŸš€ FASE 4 β€” AKSI
  • Foto dan temuan dipresentasikan kepada pengambil keputusan
  • Komunitas memiliki agency dalam menyampaikan temuan mereka sendiri
  • Sangat efektif untuk advokasi kebijakan: foto yang diambil oleh perempuan dari komunitas memiliki dampak komunikasi yang jauh lebih kuat dari laporan teknis

C.3. Gender-Responsive Evaluation

C.3.1. Mengapa Evaluasi KR Harus Responsif Gender

🎯 PREMIS DASAR
  • Kesehatan reproduksi tidak netral gender β€” ia terjadi dalam konteks relasi kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, antara individu dan keluarga, antara klien dan sistem kesehatan
  • Evaluasi yang tidak memperhatikan dimensi gender menghasilkan temuan yang tidak lengkap dan rekomendasi yang dapat memperburuk ketidaksetaraan yang ada
  • Contoh: evaluasi yang hanya mengukur "pengetahuan perempuan tentang KB" tanpa mempertanyakan siapa yang membuat keputusan KB dalam rumah tangga menghasilkan intervensi yang meningkatkan pengetahuan perempuan tetapi tidak mengubah outcome karena hambatan nyata bukan pengetahuan

🌐 KERANGKA GENDER-RESPONSIVE EVALUATION (UN WOMEN):

DIMENSI 1 β€” GENDER EQUALITY IN DESIGN

  • Apakah program yang dievaluasi mempertimbangkan perbedaan kebutuhan, akses, dan kendala perempuan dan laki-laki dalam desainnya?
  • Pertanyaan evaluasi: "Apakah program dirancang dengan analisis gender yang memadai?"

DIMENSI 2 β€” GENDER IN DATA COLLECTION

  • Apakah data dipilah berdasarkan gender?
  • Apakah instrumen mengukur konsep yang relevan secara gender (bukan hanya proxy yang gender-blind)?
  • Apakah proses pengumpulan data menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbicara tentang pengalaman mereka?

DIMENSI 3 β€” GENDER IN ANALYSIS

  • Apakah analisis mengeksplor perbedaan outcome berdasarkan gender?
  • Apakah analisis mempertanyakan MENGAPA perbedaan gender ada β€” bukan hanya mendokumentasikan bahwa perbedaan ada?

DIMENSI 4 β€” GENDER IN UTILIZATION

  • Apakah perempuan dari komunitas target terlibat dalam interpretasi dan penggunaan temuan?
  • Apakah temuan digunakan untuk memperkuat posisi perempuan, atau hanya untuk meningkatkan efisiensi program?

βš–οΈ ANALISIS RELASI KEKUASAAN GENDER DALAM EVALUASI KR

POWER DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KB:

  • Siapa yang memutuskan apakah pasangan menggunakan KB?
  • Siapa yang memutuskan metode apa yang digunakan?
  • Apakah perempuan dapat mengakses layanan KB tanpa persetujuan suami?
  • Apa konsekuensi yang dihadapi perempuan yang mengakses KB tanpa pengetahuan atau persetujuan pasangan?

POWER DALAM AKSES LAYANAN:

  • Siapa yang memiliki mobilitas untuk pergi ke fasilitas kesehatan?
  • Siapa yang mengontrol uang untuk transportasi dan biaya layanan?
  • Apakah perempuan dapat pergi ke Puskesmas tanpa ditemani suami atau mertua?

POWER DALAM INTERAKSI LAYANAN:

  • Bagaimana petugas kesehatan memperlakukan perempuan dalam konseling KB?
  • Apakah informed consent benar-benar informed dan benar-benar consent β€” atau perempuan "setuju" karena takut menolak petugas yang berwenang?
  • Apakah metode KB yang direkomendasikan melayani kepentingan perempuan atau target program?

πŸ“Š INSTRUMEN UNTUK GENDER ANALYSIS DALAM EVALUASI KR:

πŸ“‹ GENDER ANALYSIS MATRIX (GAM)
Dimensi Perempuan Laki-laki Kesenjangan Implikasi Program
Akses ke layanan KB ... ... ... ...
Kontrol keputusan KB ... ... ... ...
Partisipasi dalam program ... ... ... ...
Manfaat yang diterima ... ... ... ...
Beban yang ditanggung ... ... ... ...
πŸ“ˆ WOMEN'S EMPOWERMENT IN AGRICULTURE INDEX (WEAI) β€” ADAPTASI UNTUK KR

Komponen yang diadaptasi:

  • Keputusan tentang penggunaan kontrasepsi (agency)
  • Kontrol terhadap sumber daya untuk akses layanan KR (resources)
  • Partisipasi dalam kelompok KB atau posyandu (leadership)
  • Beban waktu yang terkait dengan kehamilan dan perawatan anak (time)
  • Pengalaman kekerasan berbasis gender yang mempengaruhi KR (freedom from violence)
πŸ›‘οΈ REPRODUCTIVE COERCION ASSESSMENT
  • Evaluasi program KR harus secara aktif menilai apakah program berkontribusi pada, atau melindungi dari, reproductive coercion
  • Reproductive coercion: tindakan yang mengendalikan reproduksi seseorang tanpa persetujuannya β€” termasuk: mencegah penggunaan KB, memaksa penggunaan KB tertentu, atau manipulasi kehamilan
  • Evaluasi yang tidak menilai ini dapat mengklaim "program berhasil" ketika yang sebenarnya terjadi adalah perempuan didorong ke metode KB tertentu tanpa benar-benar memilihnya

C.4. Mengelola Kompleksitas dalam Evaluasi Partisipatif dan Gender-Responsive

C.4.1. Posisi dan Refleksivitas Evaluator

πŸͺž POSITIONALITY
  • Evaluator bukan pengamat yang netral β€” latar belakang, identitas, dan nilai evaluator mempengaruhi apa yang ia perhatikan, pertanyaan yang ia ajukan, dan bagaimana ia menginterpretasikan data
  • Dr. Farid sebagai dokter laki-laki yang datang dari kota: posisi ini membentuk bagaimana perempuan di desa merespons pertanyaannya
  • Bukan berarti evaluasi tidak dapat dilakukan oleh orang yang berbeda posisinya β€” tapi posisi harus diakui dan dikelola

πŸ”„ REFLEKSIVITAS DALAM PRAKTIK:

πŸ““ REFLEXIVITY JOURNAL:
β†’ Evaluator memelihara jurnal refleksivitas selama proses evaluasi
β†’ Mencatat: asumsi awal, kejutan, momen ketika data tidak sesuai ekspektasi, keputusan analitik yang sulit
β†’ Bukan untuk dipublikasikan β€” untuk menjaga kejujuran analitik evaluator dengan dirinya sendiri
πŸ‘₯ TEAM REFLEXIVITY:
β†’ Tim evaluasi secara regular mendiskusikan asumsi dan interpretasi yang muncul
β†’ Anggota tim dengan posisi yang berbeda (insider vs. outsider, gender berbeda) sering menginterpretasikan data yang sama secara berbeda β†’ perbedaan ini adalah data, bukan masalah
βœ… MEMBER CHECKING SEBAGAI ALAT REFLEKSIVITAS:
β†’ Mengembalikan interpretasi kepada komunitas: "Apakah ini yang Anda maksudkan? Apakah ini mencerminkan pengalaman Anda?"
β†’ Proses ini sering mengungkapkan interpretasi evaluator yang keliru β€” dan memberikan kesempatan untuk koreksi

βš–οΈ MENGELOLA KETIDAKSEIMBANGAN KEKUASAAN DALAM PROSES EVALUASI:

πŸ”— ANTARA EVALUATOR DAN KOMUNITAS
  • Evaluator membawa resources (uang, akses, pengetahuan teknis) yang menciptakan power imbalance
  • Strategi mitigasi:
    • Transparency tentang tujuan evaluasi dan siapa yang akan menggunakan temuan
    • Sharing data kembali ke komunitas dalam format yang berguna
    • Melibatkan komunitas dalam keputusan tentang bagaimana temuan dipublikasikan
    • Membayar kompensasi yang adil untuk waktu komunitas
πŸ’° ANTARA FUNDER DAN KOMUNITAS
  • Evaluasi yang didanai oleh program yang dievaluasi menciptakan conflict of interest yang harus dikelola secara transparan
  • Temuan yang mengkritisi program mungkin mengancam pendanaan β€” evaluator harus jelas tentang komitmen independensi sejak awal
πŸ‘₯ ANTARA ANGGOTA KOMUNITAS
  • Dalam komunitas juga ada hierarki kekuasaan β€” kepala desa, tokoh agama, orang kaya sering mendominasi proses partisipatif
  • Strategi: sesi terpisah untuk kelompok yang biasanya terdiam (perempuan, remaja, kelompok miskin, difabel)
  • Teknik anonymous: voting anonim atau "dot voting" untuk preferensi yang sensitif

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β€” Minggu 8)

Modul 8 memiliki Tugas Kelompok 3 yang dikumpulkan Minggu ke-8. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.

Pertanyaan 1: Ibu Yati mempertanyakan legitimasi evaluasi Dr. Farid dengan argumen bahwa evaluator tidak pernah mengalami kehidupan komunitas yang dievaluasi. (a) Apakah argumen Ibu Yati valid secara epistemologis? Di mana batas antara pengetahuan experiential dan pengetahuan metodologis dalam evaluasi? (b) Bagaimana Dr. Farid dapat merespons keberatan ini secara konstruktif β€” bukan defensif β€” dan mengubah proses evaluasinya? (c) Apakah ada situasi di mana evaluator eksternal justru lebih tepat daripada evaluator dari komunitas sendiri?

Pertanyaan 2: Program KB pasca persalinan di Kabupaten X berhasil meningkatkan akseptor KB aktif dari 34% menjadi 58% dalam dua tahun. Evaluasi efektivitas menyimpulkan program berhasil. Namun wawancara kualitatif dengan perempuan mengungkapkan bahwa sebagian besar perempuan memilih metode IUD bukan karena preferensi mereka sendiri, melainkan karena bidan secara aktif mempromosikan IUD untuk memenuhi target program, dan perempuan merasa tidak nyaman menolak. (a) Dari perspektif gender-responsive evaluation, apakah program ini berhasil atau gagal? (b) Bagaimana temuan ini mengubah rekomendasi evaluasi Anda secara konkret? (c) Apa implikasi etis dari evaluasi yang hanya mengukur cakupan tanpa menilai kualitas consent?

E. Rangkuman

  1. Evaluasi berbasis partisipasi bukan sekadar pilihan metodologis β€” ia didasarkan pada argumen epistemologis (komunitas memiliki pengetahuan yang tidak dapat diperoleh melalui instrumen eksternal), etis (komunitas berhak terlibat dalam penilaian program yang berdampak pada mereka), dan pragmatis (temuan yang dihasilkan bersama komunitas lebih mungkin diterima dan digunakan); spektrum partisipasi dari konsultasi hingga community-owned evaluation menawarkan pilihan yang dapat disesuaikan dengan konteks dan kapasitas evaluasi yang tersedia
  2. Metode PRA seperti community mapping, transect walk, historical timeline, dan Most Significant Change menghasilkan jenis pengetahuan yang tidak dapat diperoleh melalui survei terstruktur atau wawancara individual β€” pengetahuan tentang dinamika sosial, hambatan kontekstual, dan perubahan yang dirasakan komunitas sendiri; Photovoice menambahkan dimensi visual dan memberikan komunitas agency untuk mengkomunikasikan pengalaman mereka langsung kepada pembuat kebijakan
  3. Gender-responsive evaluation menuntut lebih dari sekadar memilah data berdasarkan jenis kelamin β€” ia menuntut analisis relasi kekuasaan yang membentuk siapa yang mengakses layanan, siapa yang membuat keputusan KR, dan apakah "partisipasi" dalam program benar-benar mencerminkan pilihan bebas atau kepatuhan yang dibentuk oleh rasa takut atau tekanan sosial; evaluasi yang menemukan cakupan tinggi tanpa menilai kualitas consent tidak dapat diklaim sebagai evaluasi program KR yang komperehensif
  4. Refleksivitas evaluator β€” kesadaran aktif tentang bagaimana posisi, identitas, dan nilai evaluator mempengaruhi setiap tahap proses evaluasi β€” adalah komponen metodologis yang sah, bukan sekadar pengakuan bias yang bersifat seremonial; ketidakseimbangan kekuasaan antara evaluator dan komunitas harus dikelola secara aktif melalui transparansi, kompensasi yang adil, dan pembagian kontrol atas temuan
  5. Ketegangan antara standar metodologis evaluasi konvensional dan prinsip evaluasi partisipatif adalah produktif, bukan problem yang harus diselesaikan β€” evaluasi program KR yang paling kuat adalah yang dapat mengintegrasikan rigor teknis dengan legitimasi partisipatif, menggunakan metode kuantitatif untuk mengukur skala dan signifikansi sambil menggunakan metode partisipatif dan kualitatif untuk memahami mekanisme, konteks, dan dimensi kekuasaan yang tidak terukur oleh angka

F. Referensi

  1. Chambers R. Whose Reality Counts? Putting the First Last. London: Intermediate Technology Publications; 1997.
  2. Freire P. Pedagogy of the Oppressed. 30th anniversary ed. New York: Continuum; 2000.
  3. Wang CC, Burris MA. Photovoice: concept, methodology, and use for participatory needs assessment. Health Education & Behavior. 1997;24(3):369-387. DOI: https://doi.org/10.1177/109019819702400309
  4. UN Women. Evaluation Handbook: How to Manage Gender-Responsive Evaluation. New York: UN Women; 2015. URL: https://www.unwomen.org/en/digital-library/publications/2015/4/un-women-evaluation-handbook
  5. Patton MQ. Qualitative Research and Evaluation Methods. 4th ed. Thousand Oaks: SAGE; 2015.
  6. Upadhyay UD, Dworkin SL, Weitz TA, Foster DG. Development of a reproductive autonomy scale. Studies in Family Planning. 2014;45(1):19-41. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1728-4465.2014.00374.x
  7. Davies R, Dart J. The 'Most Significant Change' (MSC) Technique: A Guide to Its Use. 2005. URL: https://www.mande.co.uk/docs/MSCGuide.pdf
  8. Cornwall A, Jewkes R. What is participatory research? Social Science & Medicine. 1995;41(12):1667-1676. DOI: https://doi.org/10.1016/0277-9536(95)00127-S
  9. Miller S, Abalos E, Chamillard M, et al. Beyond too little, too late and too much, too soon: a pathway towards evidence-based, respectful maternity care. The Lancet. 2016;388(10056):2176-2192. DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)31472-6
  10. Gibbs A, Jewkes R, Mbatha N, Washington L, Willan S. Jobs, food, taxis and journals: complexities of implementing Stepping Stones and Creating Futures in urban informal settlements in South Africa. African Journal of AIDS Research. 2014;13(2):161-167. DOI: https://doi.org/10.2989/16085906.2014.927776

TUGAS KELOMPOK 3 β€” SESI 2 (MINGGU 8)

Mata Kuliah: Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2

Identitas Tugas Detail
Jenis TugasTugas Kelompok Ketiga β€” Sesi 2
MingguMinggu ke-8
MateriModul 6–8
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
PengerjaanKelompok (3–4 orang, kelompok yang sama)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-8 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format LuaranDokumen Rancangan Evaluasi Partisipatif + Gender Analysis, format Word atau PDF
Panjang2.000–2.800 kata (tidak termasuk instrumen, matriks, dan referensi)
ReferensiMinimal 5 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini menuntut integrasi konseptual yang lebih dalam dari TK1 dan TK2 β€” kelompok harus menunjukkan kemampuan mengkritisi pendekatan evaluasi konvensional dan mengusulkan alternatif yang lebih partisipatif dan responsif gender
  2. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya "benar" untuk banyak pertanyaan dalam tugas ini β€” kualitas argumentasi dan kedalaman analisis lebih dihargai dari kesimpulan yang aman dan tidak kontroversial
  3. Kelompok didorong untuk menggunakan pengalaman klinis dan lapangan anggotanya sebagai sumber refleksi kritis

πŸ—ΊοΈ SKENARIO

Tim evaluasi Dr. Farid telah menyelesaikan evaluasi konvensional Program KR Remaja (Sesi 1). Setelah pertemuan dengan Ibu Yati dan komunitas, Dr. Farid menyadari bahwa evaluasinya memiliki blind spots yang signifikan. Ia mendapat kesempatan untuk melakukan evaluasi lanjutan β€” kali ini dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan responsif gender. Anggaran: Rp 75 juta. Waktu: 3 bulan. Lokasi: dua kabupaten (Kabupaten A yang relatif urban, dan Kabupaten B yang lebih rural dan terpencil).

TUGAS

Bagian 1 β€” Kritik Terhadap Evaluasi Konvensional (Β±500 kata)

Berdasarkan prinsip evaluasi partisipatif dan gender-responsive evaluation, lakukan kritik terstruktur terhadap pendekatan evaluasi konvensional yang digambarkan dalam Sesi 1 (Modul 1–5). Kritik harus mencakup:

  • Identifikasikan tiga blind spots terbesar evaluasi konvensional dalam konteks program KR Remaja: apa yang tidak terlihat, tidak ditanyakan, atau tidak terukur dalam pendekatan tersebut?
  • Analisis power dynamics dalam desain evaluasi konvensional: siapa yang menetapkan pertanyaan, siapa yang mengumpulkan data, siapa yang menginterpretasikan temuan, dan siapa yang menggunakan hasilnya? Apa konsekuensi dari distribusi kekuasaan ini?
  • Identifikasikan satu asumsi paling mendasar dalam evaluasi konvensional yang menurut kelompok Anda perlu dipertanyakan untuk konteks program KR remaja di komunitas pedesaan Indonesia

Kritik harus konstruktif: tunjukkan bagaimana keterbatasan ini dapat diatasi, bukan sekadar mendaftar kekurangan.

Bagian 2 β€” Rancangan Elemen Partisipatif (Β±600 kata)

Rancang tiga elemen partisipatif konkret yang akan diintegrasikan ke dalam evaluasi lanjutan. Untuk setiap elemen:

  • Nama dan deskripsi metode partisipatif yang dipilih
  • Justifikasi: mengapa metode ini tepat untuk konteks Kabupaten A atau B (atau keduanya)?
  • Siapa yang dilibatkan: kriteria pemilihan peserta komunitas, termasuk strategi aktif untuk menjangkau kelompok yang biasanya tidak terdengar
  • Protokol pelaksanaan singkat: langkah-langkah konkret, estimasi waktu, dan kebutuhan fasilitator
  • Bagaimana output metode ini akan diintegrasikan dengan data kuantitatif dari evaluasi sebelumnya
  • Keterbatasan yang diantisipasi dan cara mengatasinya

Setidaknya satu dari tiga metode harus secara spesifik dirancang untuk menangkap perspektif remaja perempuan usia 15–19 tahun yang biasanya paling sulit dijangkau oleh evaluasi formal.

Bagian 3 β€” Gender Analysis (Β±600 kata + Gender Analysis Matrix)

Lakukan gender analysis terhadap Program KR Remaja yang dievaluasi menggunakan Gender Analysis Matrix (GAM). Isi matriks berikut berdasarkan pengetahuan dari modul, literatur, dan pengalaman klinis kelompok:

Gender Analysis Matrix β€” Program KR Remaja Provinsi Sulawesi Tenggara

Dimensi Perempuan Remaja Laki-laki Remaja Kesenjangan yang Diidentifikasi Implikasi untuk Evaluasi
Akses ke informasi KR
Akses ke layanan KR
Kontrol atas keputusan seksual dan reproduksi
Partisipasi dalam program
Manfaat yang diterima dari program
Beban dan risiko yang ditanggung
Pengalaman dalam interaksi dengan petugas

Setelah matriks, tuliskan analisis naratif (Β±300 kata) yang:

  • Mengidentifikasikan dua kesenjangan gender yang paling kritis untuk diukur dalam evaluasi lanjutan
  • Merancang satu pertanyaan evaluasi baru yang tidak ada dalam evaluasi konvensional, yang secara langsung menilai dimensi kekuasaan gender dalam program
  • Menjelaskan bagaimana reproductive coercion assessment akan diintegrasikan ke dalam evaluasi ini secara konkret dan etis

Bagian 4 β€” Refleksivitas Tim (Β±500 kata)

Sebagai kelompok yang akan menjadi tim evaluasi, lakukan analisis refleksivitas:

  • Deskripsikan posisi masing-masing anggota kelompok (gender, latar belakang profesional, pengalaman dengan komunitas yang dievaluasi) β€” bagaimana posisi-posisi ini mungkin mempengaruhi proses evaluasi?
  • Identifikasikan dua situasi konkret dalam proses evaluasi yang dirancang di mana posisi tim berpotensi menciptakan blind spot atau bias β€” dan strategi apa yang akan digunakan untuk mengatasinya?
  • Bagaimana tim akan memastikan bahwa komunitas, khususnya remaja perempuan, memiliki kontrol yang bermakna atas bagaimana temuan tentang mereka dikomunikasikan dan digunakan?

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 β€” Kritik Ketajaman identifikasi blind spots; kedalaman analisis power dynamics; konstruktivitas solusi yang diusulkan 25%
Bagian 2 β€” Elemen Partisipatif Ketepatan pemilihan metode untuk konteks; spesifisitas protokol; strategi menjangkau kelompok terpinggirkan; realisme integrasi dengan data kuantitatif 30%
Bagian 3 β€” Gender Analysis Kedalaman dan akurasi GAM; kualitas pertanyaan evaluasi baru; etisitas dan konkretnya rancangan reproductive coercion assessment 30%
Bagian 4 β€” Refleksivitas Kejujuran dan kedalaman analisis posisi; spesifisitas strategi mitigasi bias; genuineness rencana pemberdayaan komunitas 15%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. Chambers R. Whose Reality Counts? Putting the First Last. London: Intermediate Technology Publications; 1997.
  2. UN Women. Evaluation Handbook: How to Manage Gender-Responsive Evaluation. New York: UN Women; 2015.
  3. Wang CC, Burris MA. Photovoice: concept, methodology, and use for participatory needs assessment. Health Education & Behavior. 1997;24(3):369-387.
  4. Davies R, Dart J. The 'Most Significant Change' (MSC) Technique: A Guide to Its Use. 2005.
  5. Upadhyay UD, et al. Development of a reproductive autonomy scale. Studies in Family Planning. 2014;45(1):19-41.

Malang, Maret 2026
Penyusun