Skalabilitas, Keberlanjutan, dan Transferabilitas Program Kesehatan Reproduksi

Evaluasi untuk Dampak Jangka Panjang

Semester 3 | Periode 2 | MK Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 9

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

πŸš€ Fokus: Scaling & Sustainability πŸ“‹ Tugas Kelompok Minggu 9 🌐 Transferabilitas & Kebijakan

πŸ“‹ Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

Oktober 2025. Ruang sidang Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Dr. Farid berdiri di depan panel yang terdiri dari Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, perwakilan BKKBN, dua akademisi dari UI dan UGM, dan seorang staf teknis WHO Indonesia. Di tangannya ada laporan evaluasi yang sudah direvisi β€” kali ini bukan hanya tentang efektivitas dan efisiensi, tapi tentang potensi program KR Remaja Sulawesi Tenggara untuk dijadikan model nasional.

Direktur Jenderal membuka diskusi dengan pertanyaan yang tajam: "Dr. Farid, laporan Anda meyakinkan kami bahwa program ini berhasil di enam kabupaten Sulawesi Tenggara. Tapi Indonesia punya 514 kabupaten. Pertanyaan saya: apakah yang berhasil di sana akan berhasil di sini? Apa yang perlu diubah? Dan yang lebih penting β€” apakah program ini dapat berjalan tanpa dukungan teknis dari tim Anda setelah dua tahun?"

Dr. Farid tahu ini adalah pertanyaan yang paling sulit. Semua evaluasinya selama setahun terakhir menjawab pertanyaan tentang apakah program berhasil, mengapa ia berhasil, dan berapa biayanya. Tapi ia belum pernah secara sistematis menjawab: apakah program ini dapat direplikasi, diperbesar, dan dipertahankan di luar kondisi di mana ia dikembangkan?

Ini bukan pertanyaan yang sama. Dan jawabannya memerlukan kerangka analisis yang berbeda.

Evaluasi program yang berhenti pada pertanyaan "apakah program ini berhasil?" tidak lengkap untuk tujuan kebijakan kesehatan masyarakat. Pembuat kebijakan dan donor membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang lebih jauh: Dapatkah program ini dibesarkan untuk menjangkau lebih banyak orang? Dapatkah ia bertahan setelah proyek percontohan berakhir? Dapatkah ia ditransfer ke konteks yang berbeda tanpa kehilangan efektivitasnya? Modul ini membangun kapasitas untuk mengevaluasi dimensi-dimensi ini secara sistematis β€” dari analisis skalabilitas hingga penilaian keberlanjutan institusional, hingga kerangka transferabilitas berbasis bukti.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan konsep skalabilitas, keberlanjutan, dan transferabilitas program kesehatan reproduksi serta perbedaan analitisnya
  2. Menerapkan kerangka penilaian skalabilitas untuk mengevaluasi kesiapan program KR untuk diperbesar
  3. Melaksanakan analisis keberlanjutan yang mencakup dimensi institusional, finansial, dan komunitas
  4. Mengevaluasi transferabilitas program KR ke konteks yang berbeda menggunakan pendekatan berbasis bukti
  5. Mengintegrasikan temuan skalabilitas, keberlanjutan, dan transferabilitas ke dalam rekomendasi kebijakan yang dapat digunakan

C. Materi Inti

C.1. Skalabilitas Program Kesehatan Reproduksi

C.1.1. Konsep dan Dimensi Skalabilitas

πŸ“ˆ DEFINISI SKALABILITAS
  • Kemampuan program untuk diperluas β€” dalam hal jangkauan geografis, jumlah penerima manfaat, atau intensitas layanan β€” sambil mempertahankan kualitas dan dampak yang sudah terbukti dalam skala yang lebih kecil
  • Bukan sekadar "memperbesar" β€” scaling memerlukan perhatian aktif terhadap apa yang berubah ketika program bergerak dari pilot ke skala penuh

πŸ”€ JENIS SKALABILITAS:

⬆️ SCALING UP (EKSPANSI VERTIKAL)
  • Memperbesar program dari level yang lebih rendah ke level yang lebih tinggi dalam sistem kesehatan
  • Contoh: dari program NGO β†’ program Puskesmas β†’ program Dinkes Kabupaten β†’ program provinsi β†’ program nasional
  • Memerlukan: integrasi ke dalam sistem pemerintah, perubahan regulasi, alokasi anggaran nasional
➑️ SCALING OUT (EKSPANSI HORIZONTAL)
  • Mereplikasi program di lebih banyak lokasi pada level yang sama
  • Contoh: program yang berhasil di 6 kabupaten direplikasi di 50 kabupaten lain
  • Memerlukan: standardisasi yang cukup untuk replikasi tanpa mengorbankan adaptasi kontekstual
⬇️ SCALING DEEP
  • Memperdalam dampak dalam populasi yang sama β€” dari perubahan pengetahuan ke perubahan perilaku ke perubahan norma sosial ke perubahan institusional
  • Paling lambat tapi paling berkelanjutan
  • Contoh: dari program KB individual β†’ norma komunitas tentang spacing kelahiran β†’ kebijakan daerah tentang KR

⚠️ MENGAPA PILOT SERING GAGAL KETIKA DIPERBESAR:

⚑ VOLTAGE DROP PHENOMENON:
β†’ Program yang efektif dalam pilot "kehilangan voltase" ketika diperbesar β€” efektivitas menurun seiring dengan peningkatan skala
β†’ Penyebab:
  • Program pilot sering memiliki sumber daya, supervisi, dan komitmen yang jauh melebihi kondisi normal sistem
  • Tim yang mengimplementasikan pilot adalah para champion yang tidak dapat diduplikasi di semua lokasi
  • Komponen yang "bekerja" dalam pilot bergantung pada kondisi yang tidak ada di semua konteks
πŸ”„ PASSIVE SCALING FALLACY:
β†’ Asumsi bahwa program yang terbukti efektif akan secara otomatis diadopsi dan diperbesar karena kualitasnya
β†’ Realitas: adopsi dan scaling memerlukan kerja aktif dan strategi yang berbeda dari pengembangan program itu sendiri

πŸ” KERANGKA PENILAIAN SKALABILITAS:

🌐 WHO SKALABILITAS ASSESSMENT TOOL (ExpandNet/WHO)
πŸ”¬ DIMENSI 1 β€” INNOVATION (PROGRAM INTI)
  • Apakah program sudah cukup terbukti efektif? (kekuatan evidence)
  • Apakah program sudah cukup terdokumentasikan untuk dapat direplikasi?
  • Apakah ada kejelasan tentang core components vs. adaptable elements?
  • Seberapa besar biaya program? Apakah affordable dalam skala sistem?
🏒 DIMENSI 2 β€” USER ORGANIZATION
  • Apakah organisasi yang akan mengimplementasikan program di skala lebih besar memiliki kapasitas teknis yang diperlukan?
  • Apakah ada dukungan kepemimpinan untuk scaling?
  • Apakah sistem monitoring dan supervisi yang ada dapat mendukung implementasi yang diperluas?
🌍 DIMENSI 3 β€” ENVIRONMENT
  • Apakah ada political will untuk scaling?
  • Apakah kebijakan dan regulasi yang ada mendukung atau menghambat scaling?
  • Apakah ada mekanisme pembiayaan yang dapat mendukung program dalam jangka panjang?
  • Bagaimana kondisi sosial-budaya di target lokasi scaling dibandingkan dengan lokasi pilot?
πŸ‘₯ DIMENSI 4 β€” RESOURCE TEAM
  • Apakah tim yang mengembangkan program memiliki strategi eksplisit untuk scaling?
  • Apakah ada rencana untuk transfer kapasitas kepada implementer di level yang lebih luas?
  • Apakah hubungan dengan pengambil keputusan yang relevan sudah dibangun?
πŸ—ΊοΈ DIMENSI 5 β€” SCALING UP STRATEGY
  • Apakah ada rencana scaling yang eksplisit dengan tahapan yang jelas?
  • Apakah strategi diseminasi yang tepat sudah ditetapkan?
  • Bagaimana adaptasi yang diperlukan akan dikelola tanpa kehilangan core components?

C.1.2. Evaluasi Kesiapan Scaling

πŸ“Š SCALING READINESS ASSESSMENT
  • Sebelum memutuskan untuk scaling, evaluasi harus menjawab: apakah program sudah siap untuk diperbesar?
  • Dua dimensi kesiapan:
    1. Evidence of effectiveness: seberapa kuat bukti bahwa program ini berhasil?
    2. Evidence of scalability: seberapa kuat bukti bahwa program dapat diimplementasikan dengan fidelity yang memadai dalam kondisi sistem yang nyata?

πŸ“‹ SCALING READINESS MATRIX:

Komponen Program Bukti Efektivitas (1-5) Bukti Skalabilitas (1-5) Status Tindakan yang Diperlukan
Konseling KB individual 4 2 Perlu penguatan Standardisasi protokol; pelatihan massal
Peer educator remaja 3 4 Siap scaling Monitor fidelity di lokasi baru
Klinik ramah remaja 4 3 Hampir siap Selesaikan panduan infrastruktur minimum
Sistem rujukan 2 2 Belum siap Perkuat bukti; perbaiki desain

INTERPRETASI:

πŸ’° ECONOMIES OF SCALE vs. DISECONOMIES OF SCALE:

βœ… ECONOMIES OF SCALE
  • Biaya rata-rata per unit menurun seiring peningkatan skala
  • Sumber: pembelian logistik dalam jumlah besar, biaya pelatihan yang tersebar lebih banyak orang, overhead yang tidak meningkat proporsional
  • Contoh KR: biaya produksi materi komunikasi per unit turun drastis ketika dicetak dalam skala nasional
❌ DISECONOMIES OF SCALE
  • Biaya rata-rata meningkat seiring peningkatan skala β€” karena kompleksitas koordinasi yang meningkat, penurunan kualitas implementasi, atau kebutuhan supervisi yang tidak proporsional
  • Sering tidak diantisipasi dalam perencanaan scaling
  • Implikasi evaluasi: analisis biaya dalam pilot tidak dapat diasumsikan berlaku untuk skala yang lebih besar tanpa verifikasi

C.2. Keberlanjutan Program Kesehatan Reproduksi

C.2.1. Kerangka Keberlanjutan yang Komprehensif

♻️ DEFINISI KEBERLANJUTAN
  • Kemampuan program untuk terus menghasilkan manfaat setelah sumber daya proyek percontohan berakhir
  • Bukan sekadar keberlanjutan finansial β€” program dapat secara finansial berkelanjutan tetapi kehilangan efektivitasnya karena staf kunci pergi atau dukungan komunitas memudar

πŸ“¦ KOMPONEN KEBERLANJUTAN (SHEDIAC-RIZKALLAH & BONE, 1998):

πŸ”„ KEBERLANJUTAN PROGRAM
  • Aktivitas dan komponen program terus berjalan setelah proyek berakhir
  • Indikator:
    • Persentase komponen program yang masih aktif setelah 2 tahun tanpa dukungan proyek
    • Perubahan dalam cakupan dan kualitas setelah proyek berakhir
🎯 KEBERLANJUTAN MANFAAT
  • Perubahan yang dihasilkan program pada individu dan komunitas bertahan setelah program berakhir
  • Ini lebih penting dari keberlanjutan program itu sendiri: program yang berhenti tetapi sudah mengubah norma komunitas secara permanen lebih berkelanjutan dari program yang terus berjalan tetapi tidak menghasilkan perubahan nyata
πŸ› οΈ KEBERLANJUTAN KAPASITAS
  • Kapasitas yang dibangun selama program β€” keterampilan staf, sistem, prosedur β€” masih ada dan digunakan setelah proyek berakhir
  • Ini adalah "aset tersembunyi" program yang sering tidak diukur dalam evaluasi

πŸ—οΈ INTEGRATED SUSTAINABILITY FRAMEWORK (SCHELL ET AL., 2013):

πŸ›οΈ DIMENSI 1 β€” POLITICAL SUPPORT
  • Apakah ada dukungan politik dari pengambil keputusan di semua level?
  • Indikator: program masuk dalam dokumen perencanaan resmi (RPJMD, Renstra Dinkes), ada alokasi anggaran dalam APBD, ada pejabat yang secara aktif memperjuangkan program
πŸ’° DIMENSI 2 β€” FUNDING STABILITY
  • Apakah ada sumber pendanaan yang stabil dan terdiversifikasi untuk jangka panjang?
  • Indikator: proporsi anggaran dari APBD vs. donor, adanya line item khusus dalam anggaran rutin, rencana integrasi ke dalam pembiayaan JKN
🀝 DIMENSI 3 β€” PARTNERSHIPS
  • Apakah program memiliki jaringan mitra yang beragam yang dapat memberikan dukungan lintas sektor?
  • Indikator: jumlah dan kualitas MOU yang aktif, keterlibatan sektor swasta, ormas, dan akademisi
🏒 DIMENSI 4 β€” ORGANIZATIONAL CAPACITY
  • Apakah organisasi pelaksana memiliki kapasitas manajerial, teknis, dan adaptif yang diperlukan untuk menjalankan program secara mandiri?
  • Indikator: turnover staf kunci, adanya succession plan, kapasitas monitoring mandiri
πŸ”„ DIMENSI 5 β€” PROGRAM ADAPTATION
  • Apakah program memiliki mekanisme untuk beradaptasi terhadap perubahan konteks sambil mempertahankan core components?
  • Indikator: frekuensi dan kualitas review program, adanya mekanisme feedback dari lapangan, fleksibilitas anggaran untuk penyesuaian
πŸ“’ DIMENSI 6 β€” COMMUNICATION
  • Apakah ada strategi komunikasi yang efektif untuk mempertahankan visibilitas dan dukungan program?
  • Indikator: media coverage, presentasi di forum kebijakan, diseminasi temuan evaluasi
πŸ₯ DIMENSI 7 β€” PUBLIC HEALTH IMPACT
  • Apakah program menghasilkan dampak yang cukup besar dan terlihat untuk membenarkan investasi berkelanjutan?
  • Indikator: besarnya dampak (effect size), relevansi dengan prioritas kesehatan daerah, liputan populasi yang luas
πŸ“‹ DIMENSI 8 β€” STRATEGIC PLANNING
  • Apakah ada rencana strategis yang eksplisit untuk keberlanjutan?
  • Indikator: exit strategy yang realistis, timeline transisi dari donor ke anggaran pemerintah, identifikasi risiko keberlanjutan

πŸ“Š SUSTAINABILITY ASSESSMENT DALAM EVALUASI PROGRAM KR:

πŸ—“οΈ KAPAN DILAKUKAN
  • Formative: di awal program untuk merancang komponen keberlanjutan dari awal
  • Mid-term: untuk mengidentifikasikan dan mengatasi risiko keberlanjutan sebelum terlambat
  • Summative: untuk menilai seberapa siap program untuk bertahan tanpa dukungan proyek
πŸ› οΈ ALAT PENILAIAN
  • Program Sustainability Assessment Tool (PSAT): instrumen tervalidasi dengan 40 item yang mengukur 8 dimensi keberlanjutan
  • Dapat diisi oleh staf program, mitra, dan komunitas secara terpisah β†’ divergensi antara perspektif ini adalah temuan yang informatif

πŸ“‹ SUSTAINABILITY SCORECARD:

Dimensi Skor Saat Ini (1-4) Target 2 Tahun Gap Tindakan Prioritas
Dukungan politik 3 4 1 Masukkan dalam RPJMD
Stabilitas pendanaan 2 3 1 Negosiasi line item APBD
Kemitraan 3 3 0 Pertahankan
Kapasitas organisasi 2 4 2 Rekrut koordinator tetap
Adaptasi program 3 3 0 Pertahankan mekanisme review
Komunikasi 2 3 1 Kembangkan strategi media
Dampak kesehatan 4 4 0 Dokumentasikan dan komunikasikan
Perencanaan strategis 1 3 2 Kembangkan exit strategy

C.3. Transferabilitas Program KR

C.3.1. Konsep dan Kerangka Transferabilitas

🌐 DEFINISI TRANSFERABILITAS
  • Sejauh mana program yang terbukti efektif dalam satu konteks dapat memberikan hasil yang serupa ketika diterapkan di konteks yang berbeda
  • Berbeda dari skalabilitas: scaling = lebih banyak dari yang sama; transfer = konteks yang berbeda
  • Transferabilitas adalah pertanyaan tentang generalisabilitas β€” tetapi bukan dalam pengertian statistik, melainkan dalam pengertian mekanistik

❓ MENGAPA TRANSFERABILITAS SULIT:

πŸ”¬ KERANGKA TRANSFERABILITAS BERBASIS MEKANISME (REALIST EVALUATION):

πŸ“ REALIST EVALUATION (PAWSON & TILLEY)

FORMULA DASAR:

Outcomes = Mechanism + Context
  • Program tidak "bekerja" secara universal β€” mekanisme tertentu menghasilkan outcome tertentu dalam konteks tertentu
  • Untuk menilai transferabilitas: identifikasikan mekanisme apa yang membuat program berhasil (bukan hanya apa yang dilakukan program), dan tanyakan apakah konteks target mendukung mekanisme tersebut

🧩 CONTEXT-MECHANISM-OUTCOME (CMO) CONFIGURATION:

Contoh untuk program peer education KR:

CMO 1:
  • Context: Remaja memiliki peer group yang kohesif dan kepercayaan tinggi antar anggota
  • Mechanism: Normative influence β€” remaja lebih mungkin mengubah perilaku ketika melihat peer mereka melakukannya
  • Outcome: Peningkatan diskusi terbuka tentang KR dan peningkatan utilisasi layanan
CMO 2:
  • Context: Petugas kesehatan memiliki hubungan kepercayaan yang kuat dengan komunitas
  • Mechanism: Legitimacy transfer β€” peer educator yang didukung petugas terpercaya memiliki kredibilitas lebih tinggi
  • Outcome: Penerimaan informasi KR yang lebih tinggi dari peer educator

IMPLIKASI UNTUK TRANSFERABILITAS:

πŸ” TRANSFERABILITY ASSESSMENT FRAMEWORK:

  1. LANGKAH 1 β€” IDENTIFIKASI CMO KRITIS: Dari evaluasi yang sudah dilakukan: mekanisme apa yang terbukti menghasilkan outcome? Kondisi kontekstual apa yang diperlukan untuk mekanisme itu bekerja?
  2. LANGKAH 2 β€” PETA KONTEKS TARGET: Kumpulkan data tentang konteks di lokasi target yang akan dibandingkan dengan kondisi yang diperlukan. Sumber: data sekunder, konsultasi dengan informan kunci lokal, observasi singkat
  3. LANGKAH 3 β€” GAP ANALYSIS: Kondisi kontekstual mana yang ada di target? Mana yang tidak ada? Mana yang dapat diciptakan? Mana yang tidak dapat diciptakan dalam jangka waktu yang realistis?
  4. LANGKAH 4 β€” ADAPTASI YANG DIPERLUKAN: Berdasarkan gap analysis: modifikasi program apa yang diperlukan untuk konteks target? Apakah modifikasi ini mengubah core components? (jika ya: perlu evaluasi ulang efektivitas di konteks baru)
  5. LANGKAH 5 β€” CONFIDENCE STATEMENT: "Berdasarkan analisis ini, kami memiliki keyakinan [tinggi/sedang/rendah] bahwa program ini akan menghasilkan outcome yang serupa di [konteks target], dengan syarat [kondisi minimum], dan dengan modifikasi [daftar modifikasi]." Keyakinan rendah bukan berarti jangan transfer β€” tapi transfer harus disertai evaluasi yang lebih ketat

πŸ“Š TRANSFERABILITY EVIDENCE HIERARCHY:

βœ… BUKTI TERKUAT: Systematic review atau meta-analisis yang menunjukkan efektivitas konsisten di berbagai konteks yang berbeda
βœ… BUKTI KUAT: Studi multi-site yang secara eksplisit menguji efektivitas di konteks yang berbeda
⚠️ BUKTI SEDANG: Studi tunggal dengan thick description konteks yang memungkinkan penilaian transferabilitas
❌ BUKTI LEMAH: Studi tunggal tanpa deskripsi konteks yang memadai; Expert opinion tentang transferabilitas tanpa dukungan data

IMPLIKASI: Klaim transferabilitas yang kuat memerlukan bukti dari multiple contexts. Klaim berdasarkan satu studi pilot harus disertai caveats yang eksplisit.

C.4. Mengintegrasikan Skalabilitas, Keberlanjutan, dan Transferabilitas dalam Rekomendasi Kebijakan

C.4.1. Dari Analisis ke Keputusan Kebijakan

🎯 MATRIKS KEPUTUSAN SCALING

Keputusan tentang apakah dan bagaimana memperbesar program melibatkan pertimbangan yang kompleks dan saling berkaitan

πŸ“‹ EMPAT SKENARIO UTAMA:

🟒 SKENARIO 1 β€” SCALE WITH CONFIDENCE
  • Kondisi: efektivitas tinggi + skalabilitas tinggi + keberlanjutan tinggi + transferabilitas tinggi
  • Rekomendasi: perbesar segera dengan monitoring fidelity yang ketat
  • Risiko: voltage drop yang tidak diantisipasi β†’ tetap perlukan rapid assessment di lokasi scaling
🟑 SKENARIO 2 β€” SCALE WITH CAUTION
  • Kondisi: efektivitas tinggi + salah satu dimensi lain sedang atau rendah
  • Rekomendasi: perbesar dengan investment khusus dalam dimensi yang lemah; scaling bertahap dengan evaluasi di setiap tahap
  • Risiko: waktu dan sumber daya lebih besar dari yang diantisipasi
πŸ”΅ SKENARIO 3 β€” STRENGTHEN BEFORE SCALING
  • Kondisi: efektivitas tinggi tapi dua atau lebih dimensi rendah
  • Rekomendasi: tunda scaling; investasikan dalam memperkuat dimensi yang lemah; re-asesmen dalam 12-18 bulan
  • Risiko: window of opportunity politik dapat tertutup jika scaling ditunda terlalu lama
πŸ”΄ SKENARIO 4 β€” DO NOT SCALE
  • Kondisi: efektivitas tidak terbukti ATAU semua dimensi scaling rendah
  • Rekomendasi: tidak scale program ini; redesain atau pilih pendekatan yang berbeda
  • Risiko: keputusan ini sering tidak populer β€” perlu argumentasi yang kuat dan transparent

πŸ“’ KOMUNIKASI TEMUAN SKALABILITAS KE PEMBUAT KEBIJAKAN:

🚦 TRAFFIC LIGHT TABLE:

Dimensi Status Keterangan
Efektivitas program 🟒 Terbukti dalam 6 kabupaten
Kesiapan scaling 🟑 3 dari 5 komponen siap
Keberlanjutan finansial πŸ”΄ Bergantung 78% pada donor
Keberlanjutan institusional 🟑 Kapasitas Dinkes memadai; staf kunci rentan turnover
Transferabilitas 🟑 Konteks rural terpencil memerlukan adaptasi khusus
πŸ“ KESIMPULAN

"Scale with caution: program siap diperluas ke 20 kabupaten berikutnya DENGAN SYARAT: (1) negosiasi line item APBD selesai, (2) rekrutmen 2 koordinator provinsi yang permanen, dan (3) panduan adaptasi untuk konteks rural terpencil dikembangkan dalam 6 bulan pertama."

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β€” Minggu 9)

Modul 9 memiliki Tugas Kelompok 4 yang dikumpulkan Minggu ke-9. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.

Pertanyaan 1: Direktur Jenderal Kemenkes menginginkan program KR Remaja Sulawesi Tenggara dijadikan model nasional dan direplikasi di seluruh Indonesia dalam 3 tahun. Dr. Farid memiliki bukti efektivitas yang kuat, tetapi analisis scaling readiness-nya menunjukkan bahwa dua komponen kritis masih rendah skalabilitasnya, dan keberlanjutan finansial sangat bergantung pada donor. (a) Apa yang seharusnya Dr. Farid rekomendasikan kepada Dirjen: mendukung replikasi nasional, memodifikasinya, atau menolaknya? Bangun argumen berbasis bukti untuk posisi yang Anda pilih. (b) Bagaimana ia mengelola tekanan politik untuk scale up cepat sambil mempertahankan integritas rekomendasinya? (c) Apa risiko terbesar jika scaling dilakukan terlalu cepat β€” dan bagaimana risiko ini dapat diantisipasi dalam desain program scaling?

Pertanyaan 2: Sebuah NGO dari Kenya mengklaim memiliki program peer education KR remaja yang "terbukti efektif" dengan hasil RCT yang kuat dan ingin mengadaptasinya untuk Indonesia. (a) Menggunakan kerangka realist evaluation (CMO configuration), identifikasikan tiga pertanyaan kritis yang harus dijawab sebelum memutuskan apakah program ini dapat ditransfer ke Indonesia. (b) Data apa yang perlu dikumpulkan untuk menjawab setiap pertanyaan tersebut, dan dalam waktu berapa lama? (c) Apa kondisi minimum yang harus ada agar transfer program ini memiliki peluang keberhasilan yang reasonable?

E. Rangkuman

  1. Skalabilitas, keberlanjutan, dan transferabilitas adalah dimensi evaluasi yang berbeda namun saling berkaitan β€” program yang efektif dalam pilot tidak otomatis dapat diperbesar, dipertahankan, atau ditransfer ke konteks lain; setiap dimensi memerlukan analisis yang spesifik menggunakan kerangka yang berbeda dan menghasilkan implikasi kebijakan yang berbeda pula
  2. Penilaian skalabilitas menggunakan kerangka ExpandNet/WHO menilai lima dimensi: kekuatan evidence program inti, kapasitas organisasi implementer, kondisi lingkungan kebijakan dan pembiayaan, kesiapan tim pengembang untuk transfer, dan kelengkapan strategi scaling; voltage drop phenomenon β€” penurunan efektivitas yang sering terjadi ketika program bergerak dari pilot ke skala penuh β€” dapat diantisipasi dengan identifikasi eksplisit kondisi pilot yang tidak akan terduplikasi dalam scaling
  3. Keberlanjutan bukan hanya tentang pendanaan β€” Integrated Sustainability Framework mengidentifikasikan delapan dimensi yang harus diperkuat secara bersamaan: dukungan politik, stabilitas pendanaan, kemitraan, kapasitas organisasi, adaptasi program, komunikasi, dampak kesehatan yang terlihat, dan perencanaan strategis; keberlanjutan manfaat bagi individu dan komunitas lebih penting dari keberlanjutan program itu sendiri
  4. Realist evaluation memberikan kerangka yang paling valid untuk menilai transferabilitas: program berhasil bukan karena desainnya yang abstrak, tetapi karena mekanisme spesifik bekerja dalam konteks spesifik; penilaian transferabilitas memerlukan identifikasi eksplisit CMO configuration yang terbukti berhasil, pemetaan konteks target, gap analysis, dan perancangan adaptasi yang mempertahankan core components sambil mengakomodasi perbedaan kontekstual
  5. Keputusan kebijakan tentang scaling, sustainment, dan transfer program KR harus didukung oleh evidence yang transparan tentang kesiapan semua dimensi β€” matriks traffic light dan skenario keputusan yang jelas membantu pembuat kebijakan memahami rekomendasi yang berbasis bukti tanpa menyederhanakan kompleksitas secara tidak jujur; evaluator yang efektif memberikan rekomendasi yang berani dan jelas, termasuk ketika rekomendasinya adalah untuk tidak melakukan scaling yang secara politis diinginkan

F. Referensi

  1. ExpandNet/WHO. Nine Steps for Developing a Scaling-up Strategy. Geneva: WHO; 2010. URL: https://www.who.int/reproductivehealth/publications/strategic_approach/9789241500319/en
  2. Simmons R, Fajans P, Ghiron L, eds. Scaling Up Health Service Delivery: From Pilot Innovations to Policies and Programmes. Geneva: WHO; 2007. URL: https://www.who.int/reproductivehealth/publications/strategic_approach/9789241595490/en
  3. Shediac-Rizkallah MC, Bone LR. Planning for the sustainability of community-based health programs: conceptual frameworks and future directions for research, practice and policy. Health Education Research. 1998;13(1):87-108. DOI: https://doi.org/10.1093/her/13.1.87
  4. Schell SF, Luke DA, Schooley MW, et al. Public health program capacity for sustainability: a new framework. Implementation Science. 2013;8:15. DOI: https://doi.org/10.1186/1748-5908-8-15
  5. Pawson R, Tilley N. Realistic Evaluation. London: SAGE; 1997.
  6. Milat AJ, King L, Bauman AE, Redman S. The concept of scalability: increasing the scale and potential adoption of health promotion interventions into policy and practice. Health Promotion International. 2013;28(3):285-298. DOI: https://doi.org/10.1093/heapro/dar097
  7. Chambers DA, Glasgow RE, Stange KC. The dynamic sustainability framework: addressing the paradox of sustainment amid ongoing change. Implementation Science. 2013;8:117. DOI: https://doi.org/10.1186/1748-5908-8-117
  8. Pluye P, Potvin L, Denis JL. Making public health programs last: conceptualizing sustainability. Evaluation and Program Planning. 2004;27(2):121-133. DOI: https://doi.org/10.1016/j.evalprogplan.2004.01.001
  9. Pérez D, Lefèvre P, Castro M, et al. Process-oriented fidelity research assists in understanding and improving a dengue prevention intervention in Santiago de Cuba. Health Policy and Planning. 2011;26(5):413-422. DOI: https://doi.org/10.1093/heapol/czq077
  10. Luke DA, Calhoun A, Robichaux CB, Elliott MB, Moreland-Russell S. The Program Sustainability Assessment Tool: a new instrument for public health programs. Preventing Chronic Disease. 2014;11:E12. DOI: https://doi.org/10.5888/pcd11.130184

TUGAS KELOMPOK 4 β€” SESI 2 (MINGGU 9)

Mata Kuliah: Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2

Identitas Tugas Detail
Jenis TugasTugas Kelompok Keempat β€” Sesi 2
MingguMinggu ke-9
MateriModul 6–9
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
PengerjaanKelompok (3–4 orang, kelompok yang sama)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-9 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format LuaranLaporan Analisis Scaling, Sustainment, dan Transfer, format Word atau PDF
Panjang2.200–3.000 kata (tidak termasuk matriks, tabel, dan referensi)
ReferensiMinimal 6 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini adalah sintesis analitik tertinggi dalam Sesi 2 β€” kelompok harus mengintegrasikan semua konsep dari Modul 6–9 dalam satu rekomendasi kebijakan yang kohesif
  2. Kelompok bebas memilih program KR yang akan dianalisis: dapat melanjutkan program KB pasca persalinan dari TK1–TK3, atau memilih program KR lain yang lebih relevan dengan konteks kerja anggota kelompok
  3. Kedalaman analisis dan kekuatan argumentasi lebih dinilai dari kelengkapan formulaik β€” kelompok yang memilih untuk memfokuskan analisis secara mendalam pada dua atau tiga dimensi akan dinilai lebih tinggi dari kelompok yang mencakup semua dimensi secara dangkal

πŸ—ΊοΈ SKENARIO

Tim Dr. Farid diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk menyiapkan laporan teknis yang menjawab satu pertanyaan kebijakan: "Apakah Program [yang dipilih kelompok] siap untuk diperbesar ke skala nasional, dan dalam kondisi apa?" Laporan ini akan menjadi bahan utama rapat tim teknis yang akan memutuskan alokasi anggaran program KR nasional tahun depan.

TUGAS

Bagian 1 β€” Profil Program dan Konteks (Β±300 kata)

Deskripsikan program yang akan dianalisis secara singkat dan padat:

  • Nama, tujuan, dan komponen utama program
  • Skala saat ini: di mana diimplementasikan, berapa besar populasi yang terjangkau
  • Ringkasan singkat bukti efektivitas yang tersedia (dari evaluasi sebelumnya atau literatur)
  • Konteks implementasi yang relevan: level sistem, sumber pembiayaan, pengelola

Bagian 2 β€” Scaling Readiness Assessment (Β±600 kata + Scaling Readiness Matrix)

Lakukan penilaian kesiapan scaling menggunakan kerangka ExpandNet/WHO:

Isi Scaling Readiness Matrix berikut untuk program yang Anda pilih:

Komponen Program Bukti Efektivitas (1–5) Bukti Skalabilitas (1–5) Status Kesiapan Tindakan yang Diperlukan
[Komponen 1]
[Komponen 2]
[Komponen 3]
[Komponen 4]
[Komponen 5]

Setelah matriks, tuliskan analisis naratif yang:

  • Mengidentifikasikan komponen yang paling siap dan paling tidak siap untuk scaling
  • Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan kesiapan (atau ketidaksiapan) tersebut
  • Mengidentifikasikan dua risiko voltage drop yang paling relevan untuk program ini jika diperbesar ke skala nasional
  • Mengestimasi biaya tambahan yang diperlukan untuk mengatasi kesenjangan kesiapan sebelum scaling dapat dilakukan dengan aman

Bagian 3 β€” Sustainability Assessment (Β±600 kata + Sustainability Scorecard)

Lakukan penilaian keberlanjutan menggunakan Integrated Sustainability Framework (Schell et al.):

Isi Sustainability Scorecard berikut:

Dimensi Skor Saat Ini (1–4) Target 2 Tahun Gap Tindakan Prioritas
Dukungan politik
Stabilitas pendanaan
Kemitraan
Kapasitas organisasi
Adaptasi program
Komunikasi
Dampak kesehatan
Perencanaan strategis

Setelah scorecard, tuliskan analisis naratif yang:

  • Mengidentifikasikan dimensi keberlanjutan yang paling kritis (paling rendah skornya dan paling sulit diperbaiki)
  • Merancang exit strategy konkret: bagaimana program akan bertransisi dari ketergantungan donor ke pembiayaan mandiri dalam 3 tahun?
  • Mengidentifikasikan satu skenario kegagalan keberlanjutan yang paling mungkin terjadi dan langkah mitigasinya

Bagian 4 β€” Transferability Analysis (Β±500 kata)

Lakukan analisis transferabilitas menggunakan kerangka realist evaluation:

Identifikasikan dua CMO (Context-Mechanism-Outcome) configuration yang paling kritis untuk efektivitas program ini, kemudian untuk setiap CMO:

  • Deskripsikan mechanism yang bekerja dan context yang diperlukannya
  • Nilai apakah konteks yang diperlukan tersebut tersedia di tiga setting berbeda yang realistis sebagai target transfer: (1) kabupaten rural terpencil di Pulau Jawa, (2) kabupaten urban padat di Kalimantan, (3) kabupaten perbatasan di Papua
  • Berikan confidence statement untuk setiap setting: seberapa besar keyakinan Anda program ini akan menghasilkan outcome serupa, dan dengan syarat apa?

Bagian 5 β€” Rekomendasi Kebijakan Terintegrasi (Β±400 kata)

Sintesiskan temuan dari Bagian 1–4 menjadi satu rekomendasi kebijakan yang jelas kepada Kementerian Kesehatan. Rekomendasi harus:

  • Menjawab pertanyaan kebijakan utama secara langsung: apakah program ini siap untuk scaling nasional, dan dalam kondisi apa?
  • Menggunakan Traffic Light Table untuk mengkomunikasikan temuan secara ringkas dan visual
  • Merancang skenario scaling yang realistis: bukan "ya" atau "tidak" secara biner, tetapi "ya, dengan tahapan dan kondisi berikut" atau "belum, dengan langkah-langkah konkret berikut sebelum siap"
  • Menetapkan tiga indikator monitoring yang akan digunakan untuk menilai apakah scaling berjalan sesuai rencana dalam 12 bulan pertama

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 β€” Profil Kejelasan dan relevansi deskripsi; kualitas ringkasan bukti efektivitas 10%
Bagian 2 β€” Scaling Kedalaman penilaian kesiapan per komponen; realisme identifikasi risiko voltage drop; estimasi biaya yang masuk akal 25%
Bagian 3 β€” Sustainability Kedalaman penilaian per dimensi; konkretnya exit strategy; realisme skenario kegagalan dan mitigasi 25%
Bagian 4 β€” Transferability Ketepatan konstruksi CMO; kedalaman analisis konteks tiga setting; kejujuran confidence statement 25%
Bagian 5 β€” Rekomendasi Koherensi sintesis; keberanian dan kejernihan rekomendasi; spesifisitas indikator monitoring 15%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. ExpandNet/WHO. Nine Steps for Developing a Scaling-up Strategy. Geneva: WHO; 2010.
  2. Schell SF, et al. Public health program capacity for sustainability: a new framework. Implementation Science. 2013;8:15.
  3. Pawson R, Tilley N. Realistic Evaluation. London: SAGE; 1997.
  4. Milat AJ, et al. The concept of scalability. Health Promotion International. 2013;28(3):285-298.
  5. Shediac-Rizkallah MC, Bone LR. Planning for the sustainability of community-based health programs. Health Education Research. 1998;13(1):87-108.
  6. Luke DA, et al. The Program Sustainability Assessment Tool. Preventing Chronic Disease. 2014;11:E12.

Malang, Maret 2026
Penyusun