Sistem Rujukan dan Evakuasi Maternal dalam Kondisi Bencana

Memindahkan Pasien dengan Aman ketika Infrastruktur Lumpuh

Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 4

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

🚨 Fokus: Rujukan & Evakuasi πŸ“‹ Tugas Kelompok Minggu 4 ⚑ Stabilisasi Pra-Rujukan

πŸ“‹ Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

Hari kedua pasca gempa. Kabupaten Flores Timur, NTT.

Dr. Sari menerima laporan dari bidan di Puskesmas Terpencil Kecamatan B: seorang perempuan hamil 36 minggu dengan plasenta previa totalis mulai mengalami perdarahan aktif. Kondisi ibu masih sadar, TD 90/60, nadi 112. Tidak ada dokter di Puskesmas. Jalan darat ke RSUD kabupaten β€” normalnya 2 jam β€” kini terputus di tiga titik karena longsor. Jembatan utama ambruk. Satu-satunya akses adalah jalan setapak yang hanya bisa dilalui motor atau jalan kaki, atau jalur laut yang membutuhkan perahu motor 4 jam dalam kondisi cuaca buruk.

Bidan menelepon Dr. Sari: "Dokter, saya mau kirim pasien tapi tidak tahu harus lewat mana. Kalau lewat darat pakai motor, risikonya besar. Kalau lewat laut, 4 jam dan cuaca tidak mendukung. Kalau ditahan di sini, saya tidak punya fasilitas operasi."

Dr. Sari terdiam sejenak. Ia tahu bahwa setiap pilihan membawa risiko. Tapi diam dan tidak memutuskan juga adalah sebuah keputusan β€” yang paling berbahaya.

Bagaimana cara memindahkan pasien obstetrik kritis dengan aman dalam kondisi di mana tidak ada pilihan yang sempurna?

Sistem rujukan maternal dalam kondisi normal sudah penuh tantangan di Indonesia β€” jarak, kapasitas ambulans, komunikasi antar fasilitas, dan kesiapan fasilitas penerima. Dalam kondisi bencana, semua tantangan itu berlipat ganda: infrastruktur rusak, komunikasi terganggu, fasilitas penerima mungkin juga terdampak, dan sumber daya evakuasi sangat terbatas. Modul ini membangun kompetensi untuk merancang dan mengeksekusi sistem rujukan maternal bencana yang efektif β€” dari pengambilan keputusan rujukan hingga stabilisasi pra-rujukan, pemilihan moda transportasi, komunikasi antar fasilitas, dan manajemen pasien dalam perjalanan.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menerapkan kerangka pengambilan keputusan rujukan maternal dalam kondisi bencana
  2. Melaksanakan stabilisasi pra-rujukan yang tepat untuk kasus obstetrik kritis
  3. Memilih moda transportasi yang sesuai berdasarkan kondisi pasien dan infrastruktur yang tersedia
  4. Merancang sistem komunikasi rujukan antar fasilitas dalam kondisi terbatas
  5. Mengelola pasien obstetrik kritis selama perjalanan rujukan

C. Materi Inti

C.1. Kerangka Pengambilan Keputusan Rujukan dalam Bencana

C.1.1. Kapan Merujuk, Kapan Menahan

βš–οΈ PARADOKS RUJUKAN BENCANA
  • Dalam kondisi normal: prinsip "rujuk lebih awal lebih baik" berlaku
  • Dalam bencana: rujukan membawa risiko perjalanan yang mungkin melebihi risiko menahan pasien
  • Keputusan rujukan harus mempertimbangkan:
    • Kondisi klinis pasien saat ini dan trajektori yang diantisipasi
    • Kapasitas fasilitas asal untuk menangani
    • Kondisi infrastruktur dan risiko perjalanan
    • Kapasitas fasilitas penerima yang nyata (bukan asumsi)
    • Waktu yang diperlukan vs. window klinis yang tersedia

πŸ” KERANGKA KEPUTUSAN RUJUKAN β€” MATERNAL BENCANA:

  1. PERTANYAAN 1: "Apakah pasien membutuhkan intervensi yang tidak dapat dilakukan di fasilitas ini?"
    • YA β†’ lanjut ke pertanyaan 2
    • TIDAK β†’ tangani di tempat dengan monitoring ketat
  2. PERTANYAAN 2: "Apakah fasilitas penerima tersedia dan mampu menerima?"
    • Konfirmasi aktif via komunikasi langsung β€” jangan asumsikan
    • Jika RSUD kabupaten juga terdampak bencana: identifikasikan fasilitas alternatif
    • TIDAK TERSEDIA β†’ stabilisasi maksimal di tempat + telemedis/konsultasi jarak jauh
  3. PERTANYAAN 3: "Apakah pasien cukup stabil untuk perjalanan yang diperlukan?"
    • Hitung: waktu perjalanan x risiko deteriorasi selama perjalanan
    • Pasien syok yang tidak merespons resusitasi: perjalanan 4 jam kemungkinan fatal di jalan
    • Stabilisasi dulu β†’ BARU rujuk
  4. PERTANYAAN 4: "Apakah manfaat rujukan melebihi risiko perjalanan?"
    • Jika semua rute berbahaya tapi fasilitas asal tidak mampu β†’ rujuk dengan mitigasi risiko maksimal
    • Dokumentasikan keputusan dan alasannya

🚨 KONDISI OBSTETRIK YANG MUTLAK MEMERLUKAN RUJUKAN:

  • Perdarahan antepartum aktif (plasenta previa, solusio plasenta) β€” butuh OR
  • Ruptur uterus yang dicurigai atau terkonfirmasi
  • Eklampsia yang tidak merespons MgSO4 atau tanpa akses MgSO4
  • Presentasi abnormal (letak lintang, presentasi dahi) pada kala aktif
  • Gawat janin yang tidak membaik dengan posisi dan oksigen
  • Sepsis berat yang tidak merespons antibiotik awal
  • Prolaps tali pusat

βœ… KONDISI YANG DAPAT DITANGANI LOKAL DENGAN DUKUNGAN TELEMEDIS:

  • Persalinan normal tanpa komplikasi
  • HPP yang merespons uterotonika dan kompresi
  • Preeklampsia berat yang merespons MgSO4 dan antihipertensi
  • Persalinan sungsang pada grande multipara dengan bidan berpengalaman
  • Retensi plasenta tanpa perdarahan aktif (manual plasenta dapat dilakukan bidan terlatih)

C.1.2. Stabilisasi Pra-Rujukan

🩺 PRINSIP STABILISASI PRA-RUJUKAN
  • "Stabilize before you mobilize"
  • Pasien yang dirujuk dalam kondisi tidak stabil memiliki mortalitas jauh lebih tinggi dalam perjalanan
  • Waktu yang diinvestasikan untuk stabilisasi (15–30 menit) sering menyelamatkan nyawa lebih banyak dari keberangkatan segera dalam kondisi buruk

πŸ”— STABILISASI UNTUK KONDISI SPESIFIK:

πŸ’‰ HPP PRA-RUJUKAN
  • Pastikan perdarahan terkontrol atau dikurangi semaksimal mungkin sebelum berangkat
  • Pasang 2 IV line besar (16G atau lebih) β€” akses IV jauh lebih sulit dalam kendaraan bergerak
  • Berikan bolus cairan untuk stabilisasi TD sistolik > 80
  • Uterotonika: oksitosin infus kontinu atau misoprostol rektal selama perjalanan
  • Asam traneksamat jika belum diberikan
  • NASG jika tersedia β€” dapat dipertahankan selama perjalanan
  • Pasang kateter urin β€” monitor output selama perjalanan sebagai proxy perfusi
⚑ EKLAMPSIA PRA-RUJUKAN
  • Loading dose MgSO4 sebelum berangkat β€” JANGAN berangkat tanpa loading dose jika pasien masih berisiko kejang
  • Maintenance MgSO4 IM lebih aman dari IV selama perjalanan yang tidak mulus
  • Posisikan lateral kiri selama perjalanan
  • Siapkan diazepam IV dalam spuit yang sudah ditarik: untuk kejang breakthrough selama perjalanan
  • Pastikan jalan napas terbuka dan bersih
πŸ‘Ά GAWAT JANIN PRA-RUJUKAN
  • Posisi lateral kiri untuk meningkatkan perfusi plasenta
  • Oksigen 4–6 L/menit via masker
  • Hentikan oksitosin jika sedang dalam induksi
  • Tidak ada intervensi lain yang terbukti efektif di lapangan untuk gawat janin akut β€” segera rujuk
  • DJJ dimonitor setiap 5 menit selama persiapan
🚨 PROLAPS TALI PUSAT PRA-RUJUKAN
  • DARURAT ABSOLUT β€” intervensi segera
  • Posisi knee-chest atau Trendelenburg untuk mengurangi kompresi
  • Tangan penolong mendorong presenting part ke atas secara manual β€” pertahankan posisi ini SELAMA perjalanan (satu penolong harus berada di posisi ini tanpa henti hingga SC dimulai)
  • Tali pusat dibungkus kain hangat basah jika sudah keluar
  • TIDAK dibungkus terlalu ketat; TIDAK dimasukkan kembali
  • Ini adalah satu-satunya kondisi obstetrik di mana berangkat dalam hitungan menit lebih penting dari stabilisasi apapun

C.2. Pemilihan Moda Transportasi dalam Bencana

C.2.1. Matriks Keputusan Transportasi

πŸ“Š FAKTOR YANG MENENTUKAN PEMILIHAN MODA
  • Kondisi klinis pasien: stabil, kritis, atau dalam persalinan aktif?
  • Ketersediaan moda: ambulans, kendaraan sipil, motor, perahu, helikopter?
  • Kondisi infrastruktur: jalan, jembatan, cuaca, jarak?
  • Kapasitas pendamping: siapa yang dapat menemani dan intervensi selama perjalanan?
  • Waktu yang diperlukan vs. waktu klinis yang tersedia?

πŸš‘ MODA TRANSPORTASI DAN PERTIMBANGANNYA:

🚐 AMBULANS DARAT
  • Ideal: pasien dapat berbaring, IV dapat dijalankan, monitoring dapat dilakukan
  • Batasan bencana: jalan rusak, jembatan ambruk, bahan bakar langka
  • Kecepatan: 40–60 km/jam di kondisi normal, jauh lebih lambat pasca bencana
  • Pertimbangan: guncangan kendaraan dapat memperburuk HPP dan meningkatkan risiko solusio
πŸš™ KENDARAAN SIPIL (PICKUP, TRUK)
  • Sering satu-satunya pilihan dalam bencana
  • Modifikasi minimal yang diperlukan:
    • Matras atau kasur sebagai alas
    • Penopang kepala dan tubuh untuk stabilitas
    • Penutup dari hujan dan debu
    • Satu pendamping klinis yang dapat memantau
  • Posisi pasien:
    • HPP: supine, kaki sedikit elevasi
    • Eklampsia: lateral kiri
    • Prolaps tali pusat: knee-chest DIPERTAHANKAN
    • Persalinan aktif: semirecumbent, bukan berbaring datar
🏍️ TRANSPORTASI MOTOR (KONDISI DARURAT)
  • Hanya untuk: pasien yang masih dapat duduk sendiri atau dengan bantuan minimal
  • TIDAK untuk: pasien tidak sadar, syok berat, atau dalam persalinan aktif
  • Modifikasi: duduk di belakang pengemudi dengan satu orang menopang dari belakang
  • Jarak maksimal yang dapat ditoleransi: 30 km dalam kondisi jalan yang masih dapat dilalui
🚀 TRANSPORTASI AIR (PERAHU, KAPAL)
  • Pertimbangan khusus: gerakan laut dapat menyebabkan mual dan memperburuk kondisi
  • Posisi: pasien di bagian tengah perahu untuk stabilitas maksimal
  • Proteksi dari paparan: tenda atau atap darurat untuk panas/hujan
  • Monitoring lebih sulit karena kebisingan mesin dan gerakan
  • Persiapkan: kantong muntah, posisi lateral jika mual, antiemetik jika tersedia
🚁 HELIKOPTER MEDIS (MEDEVAC)
  • Ideal untuk jarak jauh dan kondisi infrastruktur lumpuh total
  • Prosedur aktivasi di Indonesia: koordinasi melalui Basarnas atau BNPB
  • Landing zone minimum: area datar 30x30 meter, bebas hambatan di radius 50 meter, tidak ada kabel listrik
  • Tandai landing zone: 4 penanda di sudut (kain berwarna kontras, api kecil jika malam)
  • Komunikasi radio dengan pilot: koordinat GPS, kondisi cuaca lokal, jumlah pasien dan kondisi kritis

πŸ› οΈ IMPROVISASI STRETCHER DAN ALAT ANGKUT:

πŸͺ΅ STRETCHER IMPROVISASI
  • Dua batang bambu/kayu + jaket atau sarung yang dikancingkan antara dua batang
  • Pintu rumah sebagai stretcher datar β€” efektif untuk trauma
  • Kain sarung yang diikat kuat dapat mengangkut bayi dan ibu bersama secara kangaroo
πŸ”’ IMMOBILISASI SELAMA TRANSPORT
  • Tali atau ikat pinggang untuk mengamankan pasien agar tidak jatuh saat kendaraan bergerak
  • Bantal improvisasi dari pakaian untuk menopang kepala dan punggung
  • Untuk prolaps tali pusat: posisi harus dipertahankan β€” ikat tangan penolong ke struktur kendaraan agar tidak lelah

C.3. Sistem Komunikasi Rujukan dalam Kondisi Bencana

C.3.1. Komunikasi Antar Fasilitas

πŸ“‘ TANTANGAN KOMUNIKASI BENCANA
  • Jaringan seluler overload atau rusak
  • Listrik padam β†’ handphone tidak terisi
  • Bahasa medis yang tidak dipahami penerima telepon non-klinis
  • Informasi yang tidak lengkap atau tidak akurat menghasilkan penerimaan yang tidak siap

πŸ—£οΈ FORMAT KOMUNIKASI RUJUKAN β€” SBAR OBSTETRIK:

S β€” SITUATION

"Saya [nama], bidan Puskesmas [X]. Saya merujuk pasien obstetrik kritis. Mohon konfirmasi dapat menerima."

B β€” BACKGROUND
  • Identitas pasien (nama, usia, G_P_A_)
  • Usia kehamilan
  • Kondisi utama yang menjadi alasan rujukan
  • Tindakan yang sudah dilakukan
A β€” ASSESSMENT
  • Tanda vital terakhir (TD, nadi, RR, suhu, saturasi jika ada)
  • DJJ (jika janin masih hidup)
  • Perkiraan kondisi saat tiba di fasilitas penerima
R β€” RECOMMENDATION
  • "Mohon siapkan OR/ICU/transfusi darah/tim neonatologi"
  • Estimasi waktu tiba
  • Moda transportasi yang digunakan
  • Pendamping yang menyertai

πŸ”„ BACKUP KOMUNIKASI JIKA SINYAL HILANG:

πŸ“‹ URUTAN PRIORITAS
  1. Telepon seluler langsung ke dokter/bidan fasilitas penerima
  2. WhatsApp voice note jika sinyal tidak cukup untuk panggilan suara
  3. SMS teks singkat format SBAR
  4. Radio komunikasi (HT) β€” koordinasi dengan BPBD/Basarnas
  5. Kurir manusia: kirim pesan tertulis bersama pendamping atau kendaraan yang mendahului
  6. Media sosial grup resmi koordinasi bencana daerah

πŸ“ INFORMASI MINIMUM YANG HARUS SAMPAI SEBELUM PASIEN TIBA:

πŸ“„ SURAT RUJUKAN BENCANA β€” FORMAT MINIMAL:

C.3.2. Jaringan Rujukan Maternal Bencana

πŸ—ΊοΈ SISTEM ZONASI RUJUKAN BENCANA
  • Dalam bencana, sistem rujukan normal (Puskesmas β†’ RSUD β†’ RS Provinsi) mungkin tidak berfungsi
  • Diperlukan sistem zonasi fleksibel yang mengenali:
    • Fasilitas mana yang masih berfungsi
    • Kapasitas aktual setiap fasilitas (bukan kapasitas normal)
    • Rute yang masih dapat dilalui
    • Fasilitas bayangan (backup facilities) jika fasilitas utama tidak tersedia

πŸ”— KOORDINASI DENGAN KLASTER KESEHATAN:

πŸ‘¨β€βš•οΈ PERAN SUBSP. OBGINSOS DALAM KOORDINASI:

βš•οΈ MEDICAL OFFICER

Membuat keputusan klinis rujukan untuk kasus yang di luar kapasitas bidan

πŸ“± TELEMEDIS

Konsultasi real-time untuk fasilitas yang tidak memiliki dokter

πŸ—‚οΈ KOORDINATOR

Membangun dan memelihara peta kapasitas fasilitas KIA dalam zona bencana

πŸ“’ ADVOKATOR

Memastikan kebutuhan maternal tidak tenggelam dalam prioritas penanganan trauma

πŸ—ΊοΈ PETA KAPASITAS FASILITAS β€” TOOLS PRAKTIS:

C.4. Manajemen Pasien Selama Perjalanan Rujukan

C.4.1. Monitoring dalam Perjalanan

πŸ“Š MONITORING MINIMAL SELAMA PERJALANAN:

Frekuensi Parameter yang Dimonitor
Setiap 15 menit
  • TD dan nadi
  • Tingkat kesadaran (AVPU: Alert/Voice/Pain/Unresponsive)
  • Perdarahan: perkiraan volume pada kain/underpad
Setiap 30 menit
  • DJJ (fetoskop atau Doppler)
  • Kontraksi: frekuensi dan durasi
  • Output urin (jika kateter terpasang)
SEGERA JIKA:
  • TD sistolik turun > 20 mmHg dari baseline
  • Nadi > 130 atau tidak teraba
  • Perdarahan bertambah drastis
  • Kejang
  • Kesadaran menurun
  • DJJ < 100 atau tidak terdengar

πŸ’Š INTERVENSI YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM PERJALANAN:

βœ… DAPAT DILAKUKAN
  • Posisi: ubah posisi sesuai indikasi klinis
  • Cairan IV: atur tetesan, ganti bag infus, bolus jika syok
  • Oksigen: pertahankan flow jika ada tabung
  • Obat IM: MgSO4 maintenance, antibiotik, analgesik
  • Kompresi bimanual eksternal jika HPP berlanjut
  • Prolaps tali pusat: pertahankan tangan manual tanpa henti
  • Rangsang kelahiran jika kala dua sudah dimulai: TIDAK ada pilihan lain β€” siapkan persalinan di kendaraan
❌ TIDAK DAPAT DILAKUKAN (SEGERA HENTIKAN PERJALANAN)
  • Resusitasi jantung paru yang efektif dalam kendaraan bergerak
  • Pemasangan akses IV sentral
  • Prosedur bedah apapun
  • Jika pasien memerlukan tindakan ini: BERHENTI di pinggir jalan, stabilisasi, evaluasi ulang apakah melanjutkan perjalanan masih memungkinkan atau menghubungi bantuan ke lokasi

🀰 PERSALINAN DALAM PERJALANAN:

πŸ“ DOKUMENTASI PERJALANAN:

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β€” Minggu 4)

Pertanyaan 1: Pasien plasenta previa totalis di Puskesmas Terpencil Kecamatan B memiliki dua pilihan rujukan: (a) motor 3 jam melewati jalan setapak gunung β€” lebih cepat tapi sangat mengguncang; (b) perahu motor 4 jam dalam cuaca buruk β€” lebih lama tapi relatif lebih stabil. TD pasien saat ini 85/55, nadi 118, masih sadar. Setelah stabilisasi 20 menit: TD 95/60, nadi 104. (a) Gunakan kerangka keputusan rujukan untuk memilih moda transportasi yang paling tepat dan justifikasikan. (b) Intervensi stabilisasi pra-rujukan apa yang harus diselesaikan sebelum pasien berangkat dengan moda apapun? (c) Siapa yang harus mendampingi pasien dan apa yang harus disiapkan untuk perjalanan tersebut?

Pertanyaan 2: Seorang bidan di Puskesmas Terpencil berhasil menghubungi Dr. Sari via telepon, tapi sinyal sangat buruk β€” hanya bisa bicara 30 detik sebelum putus. Bidan memiliki pasien G2P1A0 38 minggu dengan kecurigaan ruptur uterus: tiba-tiba nyeri hebat, abdomen tegang, DJJ tidak terdengar, TD 70/40. (a) Dalam 30 detik via telepon yang mungkin putus kapan saja, instruksi apa yang paling kritis yang harus disampaikan Dr. Sari kepada bidan tersebut? Prioritaskan secara ketat. (b) Jika telepon putus sebelum instruksi lengkap tersampaikan, apa yang seharusnya sudah dikuasai oleh bidan tanpa instruksi dokter dalam kondisi ini? (c) Apa implikasi kejadian ini untuk kesiapsiagaan bencana yang seharusnya dilakukan SEBELUM bencana terjadi?

E. Rangkuman

  1. Keputusan rujukan dalam bencana adalah keputusan risiko-risiko β€” bukan antara pilihan aman dan tidak aman, melainkan antara risiko menahan vs. risiko memindahkan dalam kondisi yang tidak ideal; kerangka empat pertanyaan (kebutuhan intervensi, ketersediaan penerima, stabilitas untuk perjalanan, dan rasio manfaat-risiko) memberikan struktur untuk keputusan yang sulit ini dalam tekanan waktu
  2. Stabilisasi pra-rujukan adalah investasi waktu yang menyelamatkan nyawa β€” pemasangan dua IV line, pemberian loading dose MgSO4 sebelum berangkat, kontrol perdarahan semaksimal mungkin, dan stabilisasi tanda vital minimal harus diselesaikan sebelum keberangkatan kecuali dalam kondisi prolaps tali pusat yang memerlukan keberangkatan segera
  3. Pemilihan moda transportasi harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, kondisi fisik rute, kapasitas pendamping untuk intervensi selama perjalanan, dan waktu klinis yang tersedia; kendaraan sipil yang dimodifikasi minimal dengan posisi pasien yang tepat sering lebih baik dari ambulans yang tidak dapat melewati rute yang tersedia
  4. Komunikasi rujukan menggunakan format SBAR obstetrik harus memastikan fasilitas penerima mengetahui diagnosis, tanda vital, tindakan yang sudah diberikan, dan kebutuhan persiapan khusus sebelum pasien tiba; sistem backup komunikasi berlapis harus disiapkan karena jaringan seluler sering tidak andal dalam bencana
  5. Monitoring selama perjalanan dan kapasitas untuk intervensi minimal (posisi, cairan IV, obat IM, kompresi eksternal) adalah kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap pendamping rujukan; keputusan untuk menghentikan kendaraan dan memberikan pertolongan di tempat harus diambil tanpa ragu ketika kondisi pasien memerlukan tindakan yang tidak dapat dilakukan dalam kendaraan bergerak

F. Referensi

  1. WHO/UNFPA. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth: A Guide for Midwives and Doctors. 2nd ed. Geneva: WHO; 2017. URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789241565493
  2. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan. Jakarta: Kemenkes RI; 2012.
  3. Chu K, Stokes C, Trelles M, Ford N. Improving effective surgical delivery in humanitarian disasters: lessons from Médecins Sans Frontières. PLoS Medicine. 2011;8(4):e1001025. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001025
  4. Hobbs AJ, Bouteau A, Bhutta ZA. Maternal health in humanitarian settings: continuing education to strengthen capacity. Conflict and Health. 2016;10:12. DOI: https://doi.org/10.1186/s13031-016-0079-y
  5. UNFPA. Minimum Initial Service Package (MISP) for Reproductive Health in Crisis Situations: A Distance Learning Module. New York: UNFPA; 2020. URL: https://www.unfpa.org/resources/minimum-initial-service-package-misp
  6. Koblinsky M, Moyer CA, Calvert C, et al. Quality maternity care for every woman, everywhere: a call to action. The Lancet. 2016;388(10057):2307-2320. DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)31333-2
  7. Dettrick Z, Firth S, Jimenez Soto E. Do strategies to improve quality of maternal and child health care in lower and middle income countries lead to improved outcomes? PLoS ONE. 2013;8(8):e70722. DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0070722
  8. Cranmer H, Biddinger P. Typhoon Haiyan and the professionalization of disaster response. New England Journal of Medicine. 2014;370(13):1185-1187. DOI: https://doi.org/10.1056/NEJMp1401969
  9. Inter-Agency Standing Committee. Guidelines for Integrating Gender-Based Violence Interventions in Humanitarian Action. Geneva: IASC; 2015. URL: https://gbvguidelines.org
  10. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.

TUGAS KELOMPOK 2 β€” SESI 1 (MINGGU 4)

Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 1

Identitas Tugas Detail
Jenis TugasTugas Kelompok Kedua β€” Sesi 1
MingguMinggu ke-4
MateriModul 1–4
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
PengerjaanKelompok (3–4 orang, kelompok yang sama)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-4 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format LuaranDokumen Rencana Rujukan Maternal Bencana, format Word atau PDF
Panjang2.000–2.800 kata (tidak termasuk bagan, tabel, dan referensi)
ReferensiMinimal 5 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini menuntut integrasi kompetensi klinis dan manajerial β€” kelompok harus menunjukkan kemampuan mengambil keputusan rujukan yang berbasis klinis sekaligus mempertimbangkan realitas logistik bencana
  2. Kelompok diharapkan menggunakan pengetahuan geografis dan konteks sistem kesehatan Indonesia yang nyata dalam analisisnya
  3. Setiap keputusan dalam tugas ini harus disertai justifikasi yang eksplisit β€” tidak ada jawaban yang diterima tanpa alasan

πŸ—ΊοΈ SKENARIO

Hari ketiga pasca tsunami di Kabupaten Kepulauan X, Maluku Utara. Ibukota kabupaten dan RSUD terdampak berat β€” RSUD masih beroperasi parsial dengan OR yang berfungsi 1 dari 3, bank darah stok 4 kantong O+, dan listrik dari generator dengan BBM tersisa untuk 18 jam. Tiga Puskesmas Rawat Inap di pulau-pulau sekitar masih berfungsi dengan kapasitas terbatas. Komunikasi via telepon seluler intermiten. Radio HT tersedia di setiap fasilitas. Satu helikopter Basarnas tersedia di ibukota kabupaten dengan radius operasional 150 km.

Anda adalah Subspesialis Obginsos yang bertugas sebagai koordinator kesehatan ibu di Posko Kesehatan Kabupaten. Dalam waktu 2 jam, Anda menerima laporan dari tiga fasilitas berbeda secara bersamaan.

πŸ“‹ LAPORAN MASUK BERSAMAAN:

πŸ“ Laporan A β€” Puskesmas Rawat Inap Pulau Utara

Jarak: 45 km dari RSUD via laut, 3 jam perjalanan perahu motor

Pasien: G3P2A0, 39 minggu, masuk kala aktif pembukaan 7 cm, DJJ 144 reguler, presentasi kepala, TD 130/85, nadi 88, tidak ada riwayat hipertensi sebelumnya. Bidan senior tersedia. Stok oksitosin ada 5 ampul, MgSO4 ada.

πŸ“ Laporan B β€” Puskesmas Rawat Inap Pulau Selatan

Jarak: 80 km dari RSUD via laut, 5 jam perjalanan perahu motor

Pasien: G1P0A0, 34 minggu, perdarahan antepartum aktif sejak 1 jam, estimasi 400 ml, TD 85/55, nadi 126, kesadaran menurun, janin masih hidup DJJ 160 takikardi. Tidak ada dokter. Satu bidan junior. Stok terbatas.

πŸ“ Laporan C β€” Puskesmas Rawat Inap Pulau Barat

Jarak: 60 km dari RSUD via laut, 4 jam perjalanan perahu motor; ada jalan darat dari pulau ini ke RSUD 2 jam tetapi jembatan utama putus dan hanya ada jalan setapak

Pasien: P2A0, 1 hari pasca persalinan normal, demam 39.2Β°C sejak 6 jam, uterus nyeri tekan, lochea berbau, TD 95/65, nadi 118, menggigil. Bayi sehat. Satu dokter umum tersedia.

TUGAS

Bagian 1 β€” Triase dan Prioritisasi Tiga Laporan (Β±500 kata)

Analisis ketiga laporan secara bersamaan dan tentukan:

  • Urutan prioritas penanganan dari ketiga kasus (1, 2, 3) dengan justifikasi klinis yang eksplisit untuk setiap peringkat
  • Diagnosis kerja untuk setiap kasus dan risiko deteriorasi yang diantisipasi dalam 2 jam ke depan tanpa intervensi
  • Apakah helikopter satu-satunya yang tersedia harus dikerahkan, dan jika ya β€” untuk kasus mana dan mengapa? Apa implikasinya bagi dua kasus lainnya?
  • Keputusan ini harus mempertimbangkan ketersediaan OR dan stok darah di RSUD yang terbatas

Bagian 2 β€” Rencana Rujukan untuk Kasus Prioritas Pertama (Β±700 kata)

Untuk kasus yang Anda tetapkan sebagai prioritas pertama:

  • Rancang protokol stabilisasi pra-rujukan yang lengkap: tindakan apa, dalam urutan apa, dengan estimasi waktu berapa menit sebelum pasien berangkat
  • Tentukan moda transportasi yang dipilih dengan justifikasi berdasarkan kondisi klinis, jarak, dan kondisi cuaca (asumsikan cuaca sedang β€” gelombang 1–1,5 meter)
  • Rancang instruksi yang akan Anda sampaikan kepada pendamping selama perjalanan: monitoring apa setiap berapa menit, intervensi apa yang dapat dilakukan, kapan harus menghubungi Anda
  • Formulasikan pesan SBAR obstetrik lengkap yang akan dikirimkan ke RSUD sebelum pasien berangkat

Bagian 3 β€” Manajemen Jarak Jauh untuk Dua Kasus Lain (Β±600 kata)

Untuk dua kasus yang tidak mendapat helikopter:

  • Rancang instruksi telemedis/konsultasi jarak jauh yang akan Anda berikan kepada bidan/dokter di lapangan untuk setiap kasus
  • Tentukan: apakah kedua kasus ini dapat ditangani di fasilitas masing-masing hingga kondisi membaik, atau perlu disiapkan rujukan darat/laut alternatif?
  • Untuk kasus B: rancang protokol stabilisasi minimal yang dapat dilakukan oleh bidan junior tanpa dokter di tempat, dengan stok obat yang sangat terbatas
  • Tetapkan trigger point untuk setiap kasus: kondisi klinis apa yang harus segera memicu permintaan bantuan darurat tambahan ke Anda?

Bagian 4 β€” Sistem Komunikasi dan Koordinasi (Β±400 kata + Bagan Koordinasi)

Rancang sistem komunikasi koordinasi untuk mengelola ketiga kasus secara simultan:

  • Buat Bagan Koordinasi sederhana yang menggambarkan alur komunikasi antara Anda di Posko Kabupaten, tiga Puskesmas, RSUD, dan Basarnas (helikopter)
  • Tetapkan frekuensi update dari setiap fasilitas: berapa menit sekali, dalam format apa, kepada siapa
  • Rancang mekanisme backup jika sinyal HT tiba-tiba hilang di salah satu pulau
  • Jelaskan bagaimana Anda akan mendokumentasikan seluruh proses koordinasi ini untuk keperluan review pasca bencana

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 β€” Triase Ketepatan urutan prioritas; kualitas justifikasi klinis; kedalaman analisis risiko; logika keputusan helikopter 30%
Bagian 2 β€” Rencana Rujukan Kelengkapan dan ketepatan stabilisasi pra-rujukan; realisme pemilihan moda; konkretnya instruksi pendamping; kualitas SBAR 35%
Bagian 3 β€” Manajemen Jarak Jauh Ketepatan instruksi telemedis; realisme protokol bidan junior; ketepatan trigger point 25%
Bagian 4 β€” Komunikasi Kelengkapan bagan koordinasi; realisme frekuensi update; konkretnya mekanisme backup; kelengkapan rencana dokumentasi 10%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. WHO/UNFPA. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth. 2nd ed. Geneva: WHO; 2017.
  2. UNFPA. Minimum Initial Service Package (MISP) for Reproductive Health in Crisis Situations. New York: UNFPA; 2020.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan. Jakarta: Kemenkes RI; 2012.
  4. Chu K, et al. Improving effective surgical delivery in humanitarian disasters. PLoS Medicine. 2011;8(4):e1001025.
  5. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.