Memindahkan Pasien dengan Aman ketika Infrastruktur Lumpuh
Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 4
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Hari kedua pasca gempa. Kabupaten Flores Timur, NTT.
Dr. Sari menerima laporan dari bidan di Puskesmas Terpencil Kecamatan B: seorang perempuan hamil 36 minggu dengan plasenta previa totalis mulai mengalami perdarahan aktif. Kondisi ibu masih sadar, TD 90/60, nadi 112. Tidak ada dokter di Puskesmas. Jalan darat ke RSUD kabupaten β normalnya 2 jam β kini terputus di tiga titik karena longsor. Jembatan utama ambruk. Satu-satunya akses adalah jalan setapak yang hanya bisa dilalui motor atau jalan kaki, atau jalur laut yang membutuhkan perahu motor 4 jam dalam kondisi cuaca buruk.
Bidan menelepon Dr. Sari: "Dokter, saya mau kirim pasien tapi tidak tahu harus lewat mana. Kalau lewat darat pakai motor, risikonya besar. Kalau lewat laut, 4 jam dan cuaca tidak mendukung. Kalau ditahan di sini, saya tidak punya fasilitas operasi."
Dr. Sari terdiam sejenak. Ia tahu bahwa setiap pilihan membawa risiko. Tapi diam dan tidak memutuskan juga adalah sebuah keputusan β yang paling berbahaya.
Bagaimana cara memindahkan pasien obstetrik kritis dengan aman dalam kondisi di mana tidak ada pilihan yang sempurna?
Sistem rujukan maternal dalam kondisi normal sudah penuh tantangan di Indonesia β jarak, kapasitas ambulans, komunikasi antar fasilitas, dan kesiapan fasilitas penerima. Dalam kondisi bencana, semua tantangan itu berlipat ganda: infrastruktur rusak, komunikasi terganggu, fasilitas penerima mungkin juga terdampak, dan sumber daya evakuasi sangat terbatas. Modul ini membangun kompetensi untuk merancang dan mengeksekusi sistem rujukan maternal bencana yang efektif β dari pengambilan keputusan rujukan hingga stabilisasi pra-rujukan, pemilihan moda transportasi, komunikasi antar fasilitas, dan manajemen pasien dalam perjalanan.
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
Membuat keputusan klinis rujukan untuk kasus yang di luar kapasitas bidan
Konsultasi real-time untuk fasilitas yang tidak memiliki dokter
Membangun dan memelihara peta kapasitas fasilitas KIA dalam zona bencana
Memastikan kebutuhan maternal tidak tenggelam dalam prioritas penanganan trauma
[Nama Faskes] β Status: AKTIF/PARSIAL/TIDAK AKTIF β TT tersisa: [N] β OR: YA/TIDAK β Darah: YA/TIDAK β Update: [jam]
| Frekuensi | Parameter yang Dimonitor |
|---|---|
| Setiap 15 menit |
|
| Setiap 30 menit |
|
| SEGERA JIKA: |
|
Pertanyaan 1: Pasien plasenta previa totalis di Puskesmas Terpencil Kecamatan B memiliki dua pilihan rujukan: (a) motor 3 jam melewati jalan setapak gunung β lebih cepat tapi sangat mengguncang; (b) perahu motor 4 jam dalam cuaca buruk β lebih lama tapi relatif lebih stabil. TD pasien saat ini 85/55, nadi 118, masih sadar. Setelah stabilisasi 20 menit: TD 95/60, nadi 104. (a) Gunakan kerangka keputusan rujukan untuk memilih moda transportasi yang paling tepat dan justifikasikan. (b) Intervensi stabilisasi pra-rujukan apa yang harus diselesaikan sebelum pasien berangkat dengan moda apapun? (c) Siapa yang harus mendampingi pasien dan apa yang harus disiapkan untuk perjalanan tersebut?
Pertanyaan 2: Seorang bidan di Puskesmas Terpencil berhasil menghubungi Dr. Sari via telepon, tapi sinyal sangat buruk β hanya bisa bicara 30 detik sebelum putus. Bidan memiliki pasien G2P1A0 38 minggu dengan kecurigaan ruptur uterus: tiba-tiba nyeri hebat, abdomen tegang, DJJ tidak terdengar, TD 70/40. (a) Dalam 30 detik via telepon yang mungkin putus kapan saja, instruksi apa yang paling kritis yang harus disampaikan Dr. Sari kepada bidan tersebut? Prioritaskan secara ketat. (b) Jika telepon putus sebelum instruksi lengkap tersampaikan, apa yang seharusnya sudah dikuasai oleh bidan tanpa instruksi dokter dalam kondisi ini? (c) Apa implikasi kejadian ini untuk kesiapsiagaan bencana yang seharusnya dilakukan SEBELUM bencana terjadi?
Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 1
| Identitas Tugas | Detail |
|---|---|
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Kedua β Sesi 1 |
| Minggu | Minggu ke-4 |
| Materi | Modul 1β4 |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Kelompok (3β4 orang, kelompok yang sama) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-4 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Dokumen Rencana Rujukan Maternal Bencana, format Word atau PDF |
| Panjang | 2.000β2.800 kata (tidak termasuk bagan, tabel, dan referensi) |
| Referensi | Minimal 5 referensi dalam format Vancouver |
Hari ketiga pasca tsunami di Kabupaten Kepulauan X, Maluku Utara. Ibukota kabupaten dan RSUD terdampak berat β RSUD masih beroperasi parsial dengan OR yang berfungsi 1 dari 3, bank darah stok 4 kantong O+, dan listrik dari generator dengan BBM tersisa untuk 18 jam. Tiga Puskesmas Rawat Inap di pulau-pulau sekitar masih berfungsi dengan kapasitas terbatas. Komunikasi via telepon seluler intermiten. Radio HT tersedia di setiap fasilitas. Satu helikopter Basarnas tersedia di ibukota kabupaten dengan radius operasional 150 km.
Anda adalah Subspesialis Obginsos yang bertugas sebagai koordinator kesehatan ibu di Posko Kesehatan Kabupaten. Dalam waktu 2 jam, Anda menerima laporan dari tiga fasilitas berbeda secara bersamaan.
Jarak: 45 km dari RSUD via laut, 3 jam perjalanan perahu motor
Pasien: G3P2A0, 39 minggu, masuk kala aktif pembukaan 7 cm, DJJ 144 reguler, presentasi kepala, TD 130/85, nadi 88, tidak ada riwayat hipertensi sebelumnya. Bidan senior tersedia. Stok oksitosin ada 5 ampul, MgSO4 ada.
Jarak: 80 km dari RSUD via laut, 5 jam perjalanan perahu motor
Pasien: G1P0A0, 34 minggu, perdarahan antepartum aktif sejak 1 jam, estimasi 400 ml, TD 85/55, nadi 126, kesadaran menurun, janin masih hidup DJJ 160 takikardi. Tidak ada dokter. Satu bidan junior. Stok terbatas.
Jarak: 60 km dari RSUD via laut, 4 jam perjalanan perahu motor; ada jalan darat dari pulau ini ke RSUD 2 jam tetapi jembatan utama putus dan hanya ada jalan setapak
Pasien: P2A0, 1 hari pasca persalinan normal, demam 39.2Β°C sejak 6 jam, uterus nyeri tekan, lochea berbau, TD 95/65, nadi 118, menggigil. Bayi sehat. Satu dokter umum tersedia.
Analisis ketiga laporan secara bersamaan dan tentukan:
Untuk kasus yang Anda tetapkan sebagai prioritas pertama:
Untuk dua kasus yang tidak mendapat helikopter:
Rancang sistem komunikasi koordinasi untuk mengelola ketiga kasus secara simultan:
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Bagian 1 β Triase | Ketepatan urutan prioritas; kualitas justifikasi klinis; kedalaman analisis risiko; logika keputusan helikopter | 30% |
| Bagian 2 β Rencana Rujukan | Kelengkapan dan ketepatan stabilisasi pra-rujukan; realisme pemilihan moda; konkretnya instruksi pendamping; kualitas SBAR | 35% |
| Bagian 3 β Manajemen Jarak Jauh | Ketepatan instruksi telemedis; realisme protokol bidan junior; ketepatan trigger point | 25% |
| Bagian 4 β Komunikasi | Kelengkapan bagan koordinasi; realisme frekuensi update; konkretnya mekanisme backup; kelengkapan rencana dokumentasi | 10% |