Pencegahan, Respons Klinis, dan Advokasi Sistem
Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 7
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Empat bulan pasca gempa. Klinik kesehatan kamp pengungsian, Lombok Utara.
Bidan Yanti mengetuk pintu ruang konsultasi Dr. Sari dengan wajah yang berbeda dari biasanya β bukan cemas karena kasus klinis, tapi sesuatu yang lebih berat.
"Dokter, ada perempuan di luar. Namanya Ibu Rahma, 28 tahun, G3P2A0, 26 minggu. Dia bilang mau ANC. Tapi waktu saya timbang, saya lihat memar di lengan kirinya. Waktu saya tanya, dia diam. Waktu saya tanya lagi baik-baik, dia menangis tapi bilang 'tidak apa-apa, jatuh.' Suaminya menunggu di luar dan tadi bilang mau ikut masuk."
Dr. Sari mengangguk pelan. "Minta suaminya tunggu di luar. Bilang prosedur pemeriksaan membutuhkan privasi penuh. Bidan Yanti menemani Ibu Rahma masuk."
Ketika Ibu Rahma duduk di depannya, Dr. Sari tidak langsung bertanya tentang memar. Ia mulai dari kehamilan, dari bagaimana tidurnya, dari bagaimana makannya. Perlahan, dalam ruangan yang hanya diisi tiga perempuan dan tirai yang menutup pandangan dari luar, sebuah cerita mulai keluar β sepotong demi sepotong.
Ibu Rahma belum pernah bercerita kepada siapapun.
Kekerasan berbasis gender β termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan bentuk-bentuk GBV lainnya β meningkat secara konsisten dalam kondisi bencana dan pengungsian. Tetapi ia tersembunyi lebih dalam dari data, lebih sulit diakses dari komplikasi obstetrik, dan lebih kompleks ditangani dari kegawatan klinis. Modul ini membangun kompetensi Subspesialis Obginsos untuk tidak hanya merespons secara klinis terhadap GBV yang teridentifikasi, tetapi untuk merancang sistem deteksi, respons, dan advokasi yang memungkinkan perempuan seperti Ibu Rahma tidak lagi harus menanggung kekerasan sendirian.
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
DO NO HARM:
KONDISI MINIMUM SEBELUM SKRINING:
KETIKA PEREMPUAN MENGUNGKAPKAN:
PEMERIKSAAN KLINIS:
Pertanyaan 1: Ibu Rahma mengungkapkan kepada Dr. Sari bahwa suaminya telah memukulinya sejak bulan pertama bencana β "karena stres kehilangan rumah." Ia tidak mau melapor ke polisi karena takut diceraikan dan tidak tahu harus tinggal di mana bersama dua anak dan satu kehamilan. Ia hanya minta agar Dr. Sari tidak menceritakan kepada siapapun. (a) Bagaimana Dr. Sari menyeimbangkan penghormatan terhadap keputusan Ibu Rahma dengan kewajiban klinis dan etisnya? (b) Tindakan apa yang dapat Dr. Sari lakukan tanpa melanggar kepercayaan Ibu Rahma sambil memastikan keselamatannya semaksimal mungkin? (c) Bagaimana kondisi kehamilan 26 minggu Ibu Rahma mempengaruhi urgensi dan prioritas respons klinis?
Pertanyaan 2: Dr. Sari mendapati bahwa tidak ada satu pun jalur rujukan GBV yang berfungsi di kamp pengungsian: P2TP2A kabupaten rusak akibat bencana, shelter perempuan tidak ada, polisi tidak terlatih untuk kasus GBV. Ia adalah satu-satunya titik layanan yang dapat diakses perempuan untuk saat ini. (a) Dalam kondisi tidak ada referral pathway yang berfungsi, apa batas-batas peran klinis Dr. Sari dan apa yang tetap harus ia lakukan? (b) Dalam jangka menengah (2β4 minggu ke depan), langkah konkret apa yang dapat Dr. Sari ambil untuk mulai membangun referral pathway minimal dari nol? (c) Siapa saja aktor lokal yang mungkin dapat diajak berkoordinasi meskipun infrastruktur formal tidak berfungsi?
Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2
| Identitas Tugas | Detail |
|---|---|
| Jenis Tugas | Tugas Personal Kedua β Sesi 2 |
| Minggu | Minggu ke-7 |
| Materi | Modul 6β7 |
| Bobot Nilai | 10% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Individual |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-7 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Essay analitik, format Word atau PDF |
| Panjang | 800β1.200 kata (tidak termasuk referensi) |
| Referensi | Minimal 4 referensi dalam format Vancouver |
Anda adalah Subspesialis Obginsos yang bertugas di klinik kesehatan kamp pengungsian pada bulan keempat pasca bencana. Dalam satu hari kerja, Anda menghadapi tiga situasi berikut secara berurutan:
Pagi: Ibu Sari, 32 tahun, G4P3A0, 30 minggu, datang untuk ANC. Anda menemukan memar di perut bagian bawah. Ketika ditanya secara privat, ia mengakui bahwa suaminya "kadang kasar" tapi menolak untuk dirujuk ke manapun dan meminta Anda diam. "Tidak ada tempat lain untuk saya pergi, Dokter. Kalau saya lapor, suami saya pasti marah lebih parah."
Siang: Nona Dewi, 17 tahun, datang diantar ibunya. Ia hamil 8 minggu β kehamilan akibat diperkosa oleh tetangga di kamp 9 minggu lalu. Ibunya meminta Anda untuk "melakukan sesuatu" segera. Nona Dewi sendiri tampak dissosiatif dan tidak banyak berbicara.
Sore: Bidan Yanti melapor bahwa ia menemukan tanda-tanda kekerasan pada Ibu Rini, 25 tahun, pasca persalinan 2 hari lalu. Ketika bidan mencoba berbicara, Ibu Rini menolak dan berkata "Bidan jangan ikut campur urusan keluarga kami."
Tulis essay analitik yang membahas:
Untuk setiap kasus, analisis:
Fokus pada perbedaan antara ketiga kasus β Ibu Sari yang menolak rujukan, Nona Dewi yang masih dalam window waktu terminasi legal, dan Ibu Rini yang menolak keterlibatan bidan β dan bagaimana pendekatan yang berbeda diperlukan untuk setiap situasi.
Setelah menangani tiga kasus dalam satu hari, Anda menyadari bahwa sistem yang ada tidak cukup untuk melindungi perempuan-perempuan ini. Refleksikan:
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Bagian 1 β Analisis Tiga Kasus | Ketepatan tindakan klinis; kedalaman analisis dilema etis; kejujuran tentang keterbatasan; diferensiasi pendekatan antar kasus | 60% |
| Bagian 2 β Refleksi Sistem | Ketajaman identifikasi kelemahan sistem; konkretnya solusi yang diusulkan; kejernihan batas peran; spesifisitas tindakan advokasi | 40% |