A. Deskripsi Modul
Pukul 09.15. Aula pertemuan, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
Dr. Anisa duduk di antara bidan, kader, dan kepala kampung dari 14 distrik. Pertemuan ini adalah bagian dari asesmen sistem KR kabupaten yang ditugaskan Kemenkes kepadanya.
Di dinding, ia menempelkan dua lembar data yang ia cetak sebelum berangkat.
Lembar pertama: data cakupan ANC kabupaten β rata-rata 71%. Angka yang relatif baik untuk Papua.
Lembar kedua: data yang ia susun sendiri dengan memilah per distrik. Distrik ibukota kabupaten: ANC 94%. Tiga distrik yang dapat dijangkau dengan jalan aspal: 78β85%. Delapan distrik yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki 6β18 jam: 12β34%. Tiga distrik paling terpencil yang berbatasan dengan Papua Nugini: data tidak tersedia sama sekali.
Rata-rata 71% menyembunyikan kenyataan bahwa ada perempuan yang cakupannya hampir 100% dan ada yang hampir nol.
Seorang kepala kampung dari distrik terpencil berbicara dalam bahasa Indonesia yang perlahan: "Istri saya melahirkan sendiri tiga kali. Bidan terdekat 14 jam jalan kaki. Anak pertama saya lahir mati. Kata dokter di kota, itu karena tidak ada yang membantu. Tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami tidak ada di data itu."
Dr. Anisa menutup laptopnya.
Rata-rata adalah kebohongan yang sopan. Yang tersembunyi di baliknya adalah ketidakadilan yang nyata.
Ekuitas dalam kesehatan reproduksi bukan sekadar nilai moral β ia adalah prinsip analitis dan operasional. Sistem KR yang hanya meningkatkan rata-rata tanpa memperhatikan distribusi dapat secara bersamaan mencatat kemajuan dalam statistik nasional sambil membiarkan yang paling rentan semakin tertinggal. Modul ini membangun kemampuan untuk melihat di balik rata-rata, menganalisis dimensi dan determinan kesenjangan KR, dan merancang intervensi yang secara eksplisit menargetkan kelompok yang paling tertinggal.
C. Materi Inti
C.1. Konsep Ekuitas dalam Kesehatan Reproduksi
C.1.1. Ekuitas vs. Kesetaraan: Perbedaan yang Menentukan Intervensi
βοΈ KESETARAAN (EQUALITY)
- Semua orang mendapat hal yang sama
- Contoh KR: semua perempuan mendapat jatah yang sama jumlah tablet Fe
- Masalah: perempuan yang sudah cukup gizi dan perempuan yang severely anemic mendapat intervensi yang sama β yang lebih membutuhkan tidak mendapat lebih
π― EKUITAS (EQUITY)
- Setiap orang mendapat apa yang ia butuhkan untuk mencapai outcome yang setara
- Contoh KR: perempuan di daerah terpencil mendapat layanan outreach aktif; perempuan di kota cukup datang ke Puskesmas
- Prinsip: intervensi yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda, demi outcome yang setara
π TIGA DIMENSI EKUITAS KR:
βοΈ EKUITAS HORIZONTAL
- Orang dengan kebutuhan yang sama mendapat layanan yang sama
- Contoh pelanggaran: ibu hamil risiko tinggi di daerah terpencil tidak mendapat rujukan yang sama cepatnya dengan ibu hamil risiko tinggi di kota
βοΈ EKUITAS VERTIKAL
- Orang dengan kebutuhan lebih besar mendapat layanan lebih besar
- Contoh penerapan: alokasi bidan desa lebih banyak per populasi untuk daerah AKI tinggi dibanding daerah AKI rendah
π€ EKUITAS PROSES
- Layanan diberikan dengan cara yang menghormati martabat, preferensi, dan nilai semua orang
- Contoh pelanggaran: perempuan Papua yang tidak bicara bahasa Indonesia mendapat informed consent yang tidak dipahaminya β secara teknis layanan diberikan, tapi tidak ekuitas
β οΈ MENGAPA EKUITAS SERING DIABAIKAN DALAM KEBIJAKAN
- Rata-rata lebih mudah diukur dan dilaporkan dari distribusi
- Kelompok yang paling tidak terjangkau sering juga yang paling tidak terlihat dalam data
- Intervensi yang menargetkan yang paling sulit dijangkau lebih mahal per unit layanan dari intervensi yang menargetkan yang mudah dijangkau
- Political incentive: pejabat lebih terlihat meningkatkan angka rata-rata daripada menargetkan kelompok kecil yang terpinggir
- Konsekuensi: kebijakan yang pro-rata-rata dapat secara bersamaan meningkatkan statistik nasional sambil melebarkan kesenjangan
C.2. Dimensi dan Determinan Kesenjangan KR di Indonesia
C.2.1. Pemetaan Kesenjangan KR Multi-Dimensi
πΊοΈ DIMENSI 1 β KESENJANGAN GEOGRAFIS:
π DATA INDONESIA
- AKI per provinsi (estimasi 2020-2023):
- Papua: >300/100.000 KH
- NTT: ~250/100.000 KH
- DKI Jakarta: ~50/100.000 KH
- DI Yogyakarta: ~45/100.000 KH
- Rasio tertinggi vs. terendah: lebih dari 6 kali lipat
- Di dalam provinsi: kesenjangan urban-rural bahkan lebih besar
βοΈ MEKANISME YANG MENJELASKAN
- Ketersediaan fasilitas: rasio Puskesmas per 100.000 penduduk Papua lebih rendah dari Jawa
- Ketersediaan tenaga: bidan desa kosong di daerah terpencil karena tidak ada yang mau ditempatkan
- Aksesibilitas fisik: jarak, waktu tempuh, dan biaya transportasi ke fasilitas yang jauh melampaui kemampuan
- Infrastruktur pendukung: listrik, air bersih, komunikasi yang tidak memadai di fasilitas terpencil
π° DIMENSI 2 β KESENJANGAN EKONOMI:
π DATA INDONESIA
- Cakupan ANC kuintil kaya: ~93%
- Cakupan ANC kuintil miskin: ~61%
- Gap: 32 poin persentase
- Persalinan di fasilitas kuintil kaya: ~97%
- Persalinan di fasilitas kuintil miskin: ~72%
βοΈ MEKANISME YANG MENJELASKAN
- Biaya langsung: meskipun JKN menanggung layanan, biaya transportasi, biaya perlengkapan bayi, biaya "tidak resmi" masih menjadi hambatan
- Biaya tidak langsung: kehilangan pendapatan selama ANC dan persalinan, biaya mengurus anak lain selama di fasilitas
- Literasi kesehatan: berkorelasi dengan tingkat pendidikan yang berkorelasi dengan pendapatan
π DIMENSI 3 β KESENJANGAN ETNIS DAN BUDAYA:
π DATA INDONESIA
- AKI komunitas adat terpencil secara konsisten lebih tinggi dari rata-rata nasional
- Cakupan persalinan oleh tenaga terlatih pada komunitas dengan praktik persalinan adat kuat: jauh di bawah rata-rata kabupaten
βοΈ MEKANISME YANG MENJELASKAN
- Bahasa: bidan yang tidak bicara bahasa lokal tidak dapat membangun trust yang diperlukan untuk layanan KR
- Praktik budaya: larangan atau preferensi tertentu dalam kehamilan dan persalinan yang tidak dipahami atau dihormati tenaga kesehatan
- Gender dynamics: di beberapa komunitas, perempuan tidak dapat membuat keputusan layanan kesehatan tanpa persetujuan suami atau keluarga besar
- Historical distrust: pengalaman negatif dengan sistem kesehatan formal di masa lalu menciptakan hambatan kepercayaan yang persisten
π₯ DIMENSI 4 β KESENJANGAN GENDER DAN STATUS SOSIAL:
- Perempuan remaja (< 20 tahun): risiko obstetrik lebih tinggi, akses layanan KR lebih rendah, sering tidak memiliki otonomi keputusan
- Perempuan dengan disabilitas: fasilitas KR tidak dirancang untuk aksesibilitas β rampa, peralatan, komunikasi alternatif
- Perempuan korban GBV: kebutuhan KR spesifik (PEP, EC, layanan trauma-informed) yang sering tidak tersedia di layanan primer
- Perempuan tanpa dokumen kependudukan: hambatan administratif dalam mengakses JKN
C.2.2. Kerangka Determinan Sosial Kesehatan Reproduksi
π§ MODEL DETERMINAN SOSIAL KESEHATAN (SOLAR-E, WHO COMMISSION ON SOCIAL DETERMINANTS OF HEALTH)
LEVEL 1 β DETERMINAN STRUKTURAL
- Posisi sosial seseorang dalam masyarakat: kelas sosial, gender, etnis, wilayah tempat tinggal
- Ini menentukan paparan dan kerentanan terhadap faktor risiko KR
- Contoh: perempuan dari keluarga miskin di pedesaan Papua berada di posisi struktural yang secara sistemik membatasi akses KR
LEVEL 2 β DETERMINAN ANTARA
- Kondisi kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi posisi struktural:
- Kondisi perumahan dan lingkungan
- Pekerjaan dan kondisi kerja
- Akses pangan bergizi
- Sistem sosial dan dukungan komunitas
- Layanan kesehatan yang tersedia dan dapat diakses
LEVEL 3 β HEALTH OUTCOME
- Perbedaan dalam morbiditas dan mortalitas KR yang merupakan manifestasi dari ketidaksetaraan struktural dan kondisi kehidupan
π‘ IMPLIKASI UNTUK INTERVENSI
- Intervensi yang hanya menyentuh level 3 (layanan klinis) tanpa mengatasi level 1 dan 2 akan terbatas dampaknya
- Contoh: program ANC berkualitas di daerah di mana perempuan tidak dapat memutuskan sendiri untuk pergi karena kontrol suami (level 1: gender inequality) tidak akan mencapai cakupan optimal
- Implikasi untuk Subsp.Obginsos: intervensi multi-level yang menggabungkan perbaikan layanan klinis dengan pemberdayaan perempuan dan advokasi kebijakan lebih berdampak dari intervensi klinis semata
C.3. Pendekatan Equity-Focused dalam Sistem KR
C.3.1. Strategi Reaching the Unreached
π― PRINSIP "REACHING THE UNREACHED"
- Kelompok yang paling jauh dari layanan KR membutuhkan pendekatan yang secara aktif menjangkau mereka β tidak hanya memperbaiki layanan yang sudah ada
- "If you build it, they will come" tidak berlaku untuk populasi yang memiliki hambatan struktural dalam mengakses layanan
π STRATEGI 1 β OUTREACH AKTIF
Definisi: Layanan KR yang datang ke komunitas, bukan menunggu komunitas datang ke fasilitas
Jenis Outreach:
- Mobile clinic: unit layanan bergerak yang menjangkau daerah terpencil secara berkala
- Bidan desa dengan kunjungan rumah sistematis: geographic accountability model Sri Lanka yang relevan untuk Indonesia
- Posyandu yang diperkuat: bukan sekadar penimbangan bayi β diintegrasikan dengan ANC ringkas, skrining anemia, konseling KB
Kondisi Keberhasilan:
- Frekuensi yang cukup: outreach yang terlalu jarang tidak membangun kepercayaan yang diperlukan
- Kontinuitas staf: wajah yang sama membangun trust lebih cepat dari staf yang berganti-ganti
- Layanan yang bermakna: outreach yang hanya mencatat data tanpa memberikan layanan nyata akan kehilangan kepercayaan komunitas
π STRATEGI 2 β CULTURALLY RESPONSIVE CARE
Definisi: Layanan KR yang dirancang dan disampaikan dengan memahami dan menghormati konteks budaya, bahasa, dan nilai komunitas yang dilayani
Komponen Kritis:
π£οΈ BAHASA
- Bidan yang bicara bahasa lokal adalah investasi paling cost-effective untuk ekuitas KR di komunitas yang tidak berbahasa Indonesia
- Jika tidak mungkin: sistem interpreter komunitas yang terlatih untuk konteks medis
π₯ PELIBATAN TOKOH KOMUNITAS
- Dukun beranak sebagai mitra, bukan kompetitor: melatih untuk mengenali tanda bahaya dan memfasilitasi rujukan
- Tokoh agama dan adat sebagai champion pesan KR: lebih dipercaya dari tenaga kesehatan di banyak komunitas
βοΈ ADAPTASI PRAKTIK KLINIS
- Posisi persalinan: beberapa komunitas tidak nyaman dengan posisi litotomi β evidence mendukung alternatif (semi-recumbent, berdiri, jongkok) yang sering lebih sesuai preferensi
- Kehadiran pendamping: mendukung kehadiran orang yang dipilih ibu saat persalinan β bukan hanya karena suami adalah norma
π΅ STRATEGI 3 β MENGATASI HAMBATAN FINANSIAL RESIDUAL
JKN sudah menanggung layanan KR β tapi biaya tidak langsung tetap menjadi hambatan nyata
Intervensi yang Terbukti:
π TRANSPORTASI VOUCHER
- Biaya transportasi ke fasilitas sering lebih besar dari biaya layanan itu sendiri di daerah terpencil
- Program ambulans desa, ojek terlatih, atau voucher transportasi mengurangi hambatan ini
π RUMAH TUNGGU KELAHIRAN (RTK)
- Perempuan hamil trimester akhir dari daerah terpencil ditampung dekat fasilitas persalinan
- Indonesia sudah memiliki program ini tapi kualitas dan cakupannya sangat bervariasi
- RTK yang berhasil: fasilitas layak (bukan gudang yang dikonversi), ada kegiatan yang bermakna bagi perempuan yang menunggu, dapat membawa anggota keluarga
π° CONDITIONAL CASH TRANSFERS
- PKH sudah ada di Indonesia β hambatan residual sering adalah tentang ketepatan waktu transfer dan kesadaran hak
π STRATEGI 4 β DATA TERPILAH SEBAGAI ALAT AKUNTABILITAS
- Tidak mungkin mengatasi kesenjangan yang tidak terukur
- Data KR yang hanya dilaporkan sebagai rata-rata kabupaten menyembunyikan kesenjangan internal
Prinsip Data Terpilah:
- Minimal pilah per: distrik/kecamatan, kuintil ekonomi, etnis/komunitas adat jika relevan, usia (remaja vs. dewasa)
- Equity ratio: rasio cakupan kuintil kaya vs. miskin β jika > 1.5 ada masalah ekuitas yang perlu ditangani
- Equity-focused monitoring: indikator kemajuan bukan hanya rata-rata tapi apakah gap menyempit atau melebar
Penggunaan Data Terpilah untuk Advokasi:
- Data yang menunjukkan "siapa yang tertinggal" jauh lebih persuasif untuk alokasi sumber daya dari data rata-rata yang tampak baik
- Kepala kampung terpencil yang terlihat "tidak ada di data" menjadi argumen advokasi yang lebih kuat dari statistik abstrak
C.4. Advokasi untuk Prioritas Ekuitas KR
C.4.1. Membangun Argumen yang Persuasif
β οΈ MENGAPA ARGUMEN EKUITAS SERING GAGAL MEYAKINKAN PENGAMBIL KEPUTUSAN
- Argumen moral ("ini tidak adil") sering tidak cukup bagi pejabat yang menghadapi tekanan anggaran dan banyak prioritas
- "Suara" dari kelompok yang paling terpinggir paling lemah secara politik β mereka tidak memilih dalam jumlah besar, tidak mengorganisasi diri, tidak hadir di media
π― STRATEGI ARGUMEN YANG LEBIH EFEKTIF:
π‘ ARGUMEN EFISIENSI
- "Mengatasi kesenjangan adalah cara tercepat menurunkan AKI nasional"
- Mayoritas kematian ibu yang masih tersisa terkonsentrasi pada kelompok yang paling terpinggir β menyentuh kelompok ini menghasilkan return tertinggi untuk setiap rupiah yang diinvestasikan
π ARGUMEN SDGs DAN KOMITMEN INTERNASIONAL
- Indonesia berkomitmen pada SDG 3.1 (AKI < 70/100.000 KH) dan SDG 10 (pengurangan ketidaksetaraan)
- Mencapai target SDG tanpa menutup kesenjangan geografis secara matematis tidak mungkin
π₯ ARGUMEN HUMAN CAPITAL
- Kematian dan kesakitan ibu berdampak pada produktivitas keluarga, pendidikan anak, dan pembangunan daerah jangka panjang
- Investasi ekuitas KR adalah investasi human capital daerah
π ARGUMEN DARI DATA LOKAL
- "Di kabupaten kita, 8 dari 10 kematian ibu terjadi di distrik yang memiliki akses bidan terbatas"
- Data spesifik lokal lebih persuasif dari angka nasional atau global
π¨ββοΈ PERAN SUBSP. OBGINSOS DALAM ADVOKASI EKUITAS
- Menghasilkan data terpilah yang membuat kesenjangan terlihat dan tidak dapat diabaikan
- Menghubungkan data dengan argumen yang relevan bagi pengambil keputusan: anggaran, kinerja, SDGs, human capital
- Membangun koalisi advokasi yang mencakup suara dari komunitas yang paling terdampak β bukan berbicara untuk mereka tapi memastikan mereka didengar
- Merancang intervensi ekuitas yang evidence-based dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan finansial
TUGAS KELOMPOK 3 β SESI 2 (MINGGU 8)
Mata Kuliah: Sistem Pelayanan Kesehatan Reproduksi Nasional & Global
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2
| Identitas Tugas |
Detail |
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Ketiga β Sesi 2 |
| Minggu | Minggu ke-8 |
| Materi | Modul 6β8 |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Kelompok (3β4 orang, kelompok yang sama) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-8 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Laporan Analisis Ekuitas dan Rencana Intervensi, format Word atau PDF |
| Panjang | 2.500β3.200 kata (tidak termasuk tabel, peta, dan referensi) |
| Referensi | Minimal 7 referensi dalam format Vancouver |
PETUNJUK PENGERJAAN
- Tugas ini mengintegrasikan kompetensi Modul 6 (tata kelola global), Modul 7 (inovasi), dan Modul 8 (ekuitas) dalam satu analisis yang kohesif
- Kelompok bebas memilih kabupaten atau provinsi yang paling dikuasai anggotanya β analisis berbasis pengetahuan lapangan yang nyata lebih dihargai dari analisis berbasis data sekunder semata
- Kelompok didorong menggunakan data terpilah yang dapat ditemukan dalam laporan Dinkes, publikasi BPS, atau dokumen perencanaan daerah
SKENARIO UTAMA
Anda adalah tim konsultan yang ditugaskan Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes untuk melakukan rapid assessment ekuitas KR di satu kabupaten yang dipilih kelompok Anda. Temuan dan rekomendasi Anda akan dipresentasikan kepada Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan kabupaten tersebut dalam satu sesi 45 menit. Laporan ini adalah dokumen teknis yang mendukung presentasi tersebut.
TUGAS
Bagian 1 β Profil Ekuitas KR Kabupaten (Β±700 kata)
Bangun profil ekuitas KR kabupaten yang dipilih menggunakan data yang tersedia. Profil ini harus mencakup:
1a. Data terpilah per dimensi kesenjangan:
Sajikan data KR (minimal: cakupan ANC, persalinan di fasilitas, dan satu indikator outcome seperti AKI atau kematian neonatal jika tersedia) yang dipilah minimal per dua dimensi: geografis (kecamatan atau zona) dan ekonomi (kuintil atau proxy seperti penerima PKH vs. non-penerima). Jika data terpilah tidak tersedia, jelaskan mengapa dan estimasikan pola kesenjangan berdasarkan karakteristik kabupaten yang diketahui.
1b. Equity ratio dan interpretasi:
Hitung atau estimasikan equity ratio untuk minimal dua indikator KR. Interpretasikan maknanya: apakah kesenjangan dalam kategori kritis (equity ratio > 2.0), moderat (1.5β2.0), atau relatif terkendali (< 1.5)?
1c. Identifikasi kelompok paling tertinggal:
Berdasarkan data, identifikasikan dengan spesifik kelompok mana yang paling jauh dari layanan KR standar β dan apa karakteristik geografis, ekonomi, dan sosial-budaya yang menjelaskan posisi mereka.
Bagian 2 β Analisis Determinan Kesenjangan (Β±600 kata)
Menggunakan kerangka determinan sosial kesehatan (struktural dan antara), analisis mengapa kesenjangan yang ditemukan dalam Bagian 1 terjadi dan bertahan:
- Determinan struktural apa yang paling dominan (kemiskinan, isolasi geografis, ketimpangan gender, diskriminasi etnis)?
- Determinan antara apa yang paling langsung menjelaskan rendahnya utilisasi layanan KR pada kelompok yang tertinggal (jarak, biaya, bahasa, kepercayaan, praktik budaya)?
- Apakah ada interaksi antara determinan yang menciptakan "perangkap kesenjangan" β kondisi di mana beberapa determinan saling memperkuat sehingga sulit keluar?
Analisis ini harus menjelaskan mekanisme β bukan sekadar daftar faktor β sehingga dapat menginformasikan desain intervensi yang tepat sasaran.
Bagian 3 β Rancangan Intervensi Ekuitas (Β±800 kata)
Berdasarkan analisis determinan, rancang paket intervensi untuk menutup kesenjangan yang paling kritis. Paket ini harus terdiri dari tiga komponen yang saling melengkapi:
Komponen A β Intervensi layanan:
Satu inovasi model layanan atau klinis yang secara langsung meningkatkan akses dan kualitas layanan KR untuk kelompok yang paling tertinggal. Jelaskan: apa tepatnya yang dilakukan, oleh siapa, dengan sumber daya apa, dan mengapa ini akan bekerja untuk determinan yang teridentifikasi.
Komponen B β Intervensi sistem:
Satu perubahan dalam sistem kesehatan (tenaga, pembiayaan, informasi, atau tata kelola) yang menciptakan kondisi yang lebih mendukung untuk intervensi layanan di atas. Ini adalah intervensi yang tidak langsung berhadapan dengan pasien tapi membuat intervensi A lebih mungkin berhasil dan berkelanjutan.
Komponen C β Intervensi lintas sektor:
Satu kolaborasi dengan sektor di luar kesehatan (pendidikan, perlindungan sosial, infrastruktur, pemberdayaan perempuan) yang mengatasi salah satu determinan struktural atau antara yang tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri.
Untuk setiap komponen: jelaskan bagaimana komponen tersebut terhubung dengan determinan yang diidentifikasi, berikan referensi evidence yang mendukung (dari pengalaman Indonesia atau internasional), dan estimasikan sumber daya yang diperlukan secara realistis.
Bagian 4 β Argumen Advokasi kepada Bupati (Β±400 kata)
Rancang argumen advokasi untuk meyakinkan Bupati bahwa paket intervensi di atas layak diprioritaskan dalam APBD tahun depan. Argumen Anda harus:
- Menggunakan data lokal dari kabupaten tersebut (dari Bagian 1) sebagai fondasi
- Menggabungkan minimal tiga jenis argumen: efisiensi (return on investment), komitmen SDGs/nasional, dan human capital daerah
- Mengantisipasi satu keberatan yang paling mungkin dari Bupati dan menyiapkan respons yang berbasis bukti
- Disampaikan dalam bahasa yang dapat dipahami dan persuasif bagi pengambil keputusan non-klinis
RUBRIK PENILAIAN
| Komponen |
Indikator Penilaian |
Bobot |
| Bagian 1 β Profil Ekuitas |
Kualitas dan kelengkapan data terpilah; ketepatan perhitungan equity ratio; spesifisitas identifikasi kelompok tertinggal |
25% |
| Bagian 2 β Analisis Determinan |
Kedalaman analisis mekanisme; kemampuan mengidentifikasi interaksi determinan; koneksi antara determinan dan kelompok yang tertinggal |
30% |
| Bagian 3 β Rancangan Intervensi |
Koherensi antara determinan dan intervensi yang dipilih; kualitas evidence yang mendukung; realisme sumber daya; kelengkapan tiga komponen |
30% |
| Bagian 4 β Argumen Advokasi |
Kekuatan argumen untuk audiens non-klinis; penggunaan data lokal; kualitas antisipasi keberatan |
15% |
REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN
- Braveman P, Gruskin S. Defining equity in health. J Epidemiol Community Health. 2003;57(4):254-258.
- Solar O, Irwin A. A Conceptual Framework for Action on the Social Determinants of Health. Geneva: WHO; 2010.
- Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Soc Sci Med. 1994;38(8):1091-1110.
- Victora CG, et al. How changes in coverage affect equity in maternal and child health interventions. The Lancet. 2012;380(9848):1149-1156.
- Gabrysch S, Campbell OM. Still too far to walk: literature review of the determinants of delivery service use. BMC Pregnancy Childbirth. 2009;9:34.
- Kementerian Kesehatan RI/BPS. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2022β2023. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Montagu D, et al. Where women go to deliver. Health Policy Plan. 2017;32(8):1146-1152.