Semester 4 Periode 1 6 SKS Sesi 2

Keberlanjutan dan Institusionalisasi Perencanaan Strategis KR

MK Perencanaan Strategis Bidang Kesehatan Reproduksi — Modul 9

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Bulan keduabelas jabatan. Ruang kerja Dr. Rahmat. Pukul 21.15.

Di mejanya: dua amplop. Yang pertama sudah ia buka — surat dari Gubernur NTT, bertanggal kemarin. Ia diminta mempertimbangkan posisi sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, efektif tiga bulan lagi.

Yang kedua belum ia buka — laporan perkembangan triwulan ketiga dari timnya. Ia tahu isinya sudah bagus: AKI turun menjadi 287/100.000 KH dari 412 setahun lalu. Persalinan di fasilitas naik menjadi 71%. Dua puluh dari dua puluh tiga posisi bidan desa sudah terisi. Tiga rumah tunggu kelahiran sudah beroperasi.

Ia meletakkan surat Gubernur di atas laporan triwulan.

Setahun yang lalu ia datang dengan diagnosis situasi di satu tangan dan tekad untuk berubah di tangan lain. Sekarang ada bukti bahwa perubahan itu nyata.

Tapi ia juga tahu bahwa dalam sistem birokrasi Indonesia, perubahan yang bergantung pada satu orang adalah perubahan yang rapuh. Ia melihat terlalu banyak program bagus yang runtuh dalam enam bulan setelah pemimpinnya pindah.

Sebelum ia memutuskan menerima atau menolak tawaran Gubernur, ada satu pekerjaan yang harus diselesaikan: memastikan bahwa apa yang sudah dibangun tidak akan runtuh setelah ia pergi.

Keberlanjutan adalah ujian akhir dari perencanaan strategis yang sesungguhnya. Bukan apakah program berhasil selama pemimpin yang memulainya masih menjabat — melainkan apakah perubahan sistem yang diciptakan akan bertahan, berkembang, dan menjadi lebih kuat setelah orang-orang yang membangunnya sudah pergi. Dalam konteks sistem KR Indonesia dengan rotasi kepemimpinan yang tinggi, institusionalisasi bukan pilihan — ia adalah syarat agar investasi yang sudah dilakukan tidak sia-sia.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Menjelaskan konsep keberlanjutan dalam konteks perubahan sistem KR dan faktor-faktor yang menentukannya

  2. 2

    Merancang strategi institusionalisasi yang memastikan perubahan bertahan melewati pergantian kepemimpinan

  3. 3

    Mengidentifikasi ancaman keberlanjutan dan merancang mitigasi yang realistis

  4. 4

    Membangun kapasitas organisasi yang memungkinkan sistem KR terus berkembang secara mandiri

  5. 5

    Merumuskan rencana transisi kepemimpinan yang melindungi kontinuitas program strategis

C

Materi Inti

C.1. Konsep Keberlanjutan dalam Sistem KR

C.1.1. Dimensi Keberlanjutan

MENGAPA KEBERLANJUTAN ADALAH MASALAH SISTEMIK INDONESIA

→ Masa jabatan rata-rata Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Indonesia: 2–3 tahun

→ Setiap pergantian Bupati: hampir selalu diikuti pergantian Kepala Dinas dan sering perubahan prioritas program

→ Konsekuensi: program KR yang dibangun dengan susah payah selama 3–4 tahun dapat dihentikan atau diabaikan dalam hitungan bulan setelah pergantian

→ Solusi sistemik: bukan mencegah rotasi (tidak mungkin) tapi membangun sistem yang tidak bergantung pada individu tertentu

LIMA DIMENSI KEBERLANJUTAN

DIMENSI 1 — KEBERLANJUTAN FINANSIAL:

→ Apakah program memiliki sumber pendanaan yang dapat diandalkan jangka panjang?

Hirarki ketahanan finansial:

  • • Paling rentan: bergantung pada satu donor eksternal
  • • Lebih tahan: campuran APBD dan donor
  • • Paling tahan: terintegrasi dalam APBD reguler sebagai program pokok, bukan program tambahan

→ Untuk sistem KR kabupaten: tujuan adalah integrasi dalam APBD reguler dengan anggaran yang proporsional terhadap beban masalah

DIMENSI 2 — KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN:

→ Apakah program sudah menjadi bagian dari struktur dan proses organisasi yang resmi?

Indikator:

  • • Ada SOP yang terdokumentasi dan digunakan
  • • Ada unit atau posisi yang bertanggung jawab secara resmi
  • • Program masuk dalam RPJMD dan Renstra Dinkes yang ditetapkan dengan Perda
  • • Ada sistem monitoring yang berjalan secara mandiri tanpa diinisiasi oleh pemimpin tertentu
DIMENSI 3 — KEBERLANJUTAN KAPASITAS:

→ Apakah ada cukup orang yang kompeten untuk melanjutkan program tanpa bergantung pada individu tertentu?

  • Critical mass: tidak cukup satu orang yang terlatih — perlu massa kritis yang dapat saling menutupi dan melatih generasi berikutnya
  • Training of trainers: kapasitas yang dapat mereproduksi dirinya sendiri adalah kapasitas yang berkelanjutan
DIMENSI 4 — KEBERLANJUTAN POLITIK:

→ Apakah ada dukungan politik yang cukup untuk melindungi program dari perubahan prioritas saat kepemimpinan berganti?

Indikator:

  • • Program masuk dalam janji kampanye atau platform Bupati terpilih
  • • Ada koalisi stakeholder (DPRD, tokoh masyarakat, organisasi profesi) yang akan mempertahankan program
  • • Ada tekanan akuntabilitas publik yang membuat program sulit dihentikan secara diam-diam
DIMENSI 5 — KEBERLANJUTAN KOMUNITAS:

→ Apakah komunitas yang dilayani sudah menganggap layanan ini sebagai hak mereka yang tidak boleh diambil?

  • Demand-side sustainability: ketika masyarakat menuntut layanan yang sudah mereka rasakan manfaatnya, program jauh lebih sulit dihentikan dari atas
  • → Indikator: keluhan masyarakat saat layanan terganggu, partisipasi aktif dalam program, advokasi mandiri komunitas untuk program

COMMON SUSTAINABILITY TRAPS

JEBAKAN 1 — PROJECT MENTALITY:
  • → Program dirancang sebagai "proyek" dengan awal dan akhir yang jelas, bukan sebagai perubahan sistem yang permanen
  • → Tanda: anggaran proyek, staf proyek terpisah dari sistem reguler, monitoring khusus proyek

→ Solusi: sejak awal rancang intervensi sebagai bagian dari sistem reguler, bukan tambahan di atasnya

JEBAKAN 2 — HERO DEPENDENCY:
  • → Program bergantung pada satu pemimpin yang luar biasa yang mendorong semuanya dengan energi dan komitmen pribadinya
  • → Tanda: program melambat saat pemimpin sakit atau keluar kota; staf tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan pemimpin

→ Solusi: distribusi kepemimpinan, delegasi nyata, prosedur yang memungkinkan sistem berjalan tanpa satu orang tertentu

JEBAKAN 3 — DONOR DEPENDENCY:
  • → Program didanai hampir seluruhnya oleh donor tanpa rencana transisi ke pendanaan domestik
  • → Tanda: anggaran program dalam APBD sangat kecil atau tidak ada; aktivitas berhenti saat donor meminta laporan final

→ Solusi: exit strategy donor yang eksplisit sejak awal; cost-sharing yang meningkat dari APBD setiap tahun

C.2. Strategi Institusionalisasi

C.2.1. Membuat Perubahan Menjadi "Cara Kerja Normal"

INSTITUSIONALISASI: DEFINISI DAN MEKANISME

DEFINISI:
  • → Proses di mana perilaku, prosedur, dan nilai baru menjadi bagian dari rutinitas normal organisasi yang tidak lagi memerlukan dorongan khusus dari luar untuk bertahan

Bukan: program masih berjalan karena ada orang yang mendorongnya

Ya: program berjalan karena sudah menjadi cara kerja normal yang akan terasa aneh jika tidak dilakukan

MEKANISME INSTITUSIONALISASI

MEKANISME 1 — REGULASI DAN STANDARISASI:
  • → Mengubah praktik baru menjadi SOP resmi yang mengikat
  • → Untuk KR: Peraturan Bupati tentang standar layanan KR, Permenkes yang diadopsi sebagai regulasi daerah, SOP Puskesmas yang terstandarisasi
  • → Regulasi menciptakan ekspektasi yang jelas dan dasar hukum untuk akuntabilitas

Kekuatan: sulit diubah tanpa proses formal

Kelemahan: regulasi tanpa kapasitas implementasi adalah kertas

MEKANISME 2 — INTEGRASI ANGGARAN:
  • → Program masuk dalam line item APBD reguler, bukan anggaran proyek atau donor
  • → Setiap tahun: anggaran program harus secara aktif dipertahankan dalam proses Musrenbang dan pembahasan APBD
  • → Koalisi anggaran: membangun dukungan DPRD Komisi IV dan Bappeda untuk mempertahankan alokasi saat ada tekanan pemotongan
MEKANISME 3 — INTEGRASI SISTEM INFORMASI:
  • → Data program KR masuk dalam sistem informasi rutin yang digunakan untuk pelaporan reguler ke Kemenkes dan DPRD
  • → Data yang masuk dalam pelaporan rutin sulit untuk diabaikan: ada akuntabilitas yang otomatis
  • → Dashboard yang diakses publik menciptakan tekanan transparansi yang mendukung keberlanjutan
MEKANISME 4 — INTEGRASI DALAM KURIKULUM DAN PELATIHAN:
  • → Kompetensi baru yang diperlukan program dimasukkan dalam pelatihan pra-jabatan dan in-service training reguler
  • → Tenaga kesehatan baru sudah memiliki kompetensi yang diperlukan sebelum bertugas — tidak perlu pelatihan tambahan khusus
  • → Untuk Sumba Tengah: BEmONC menjadi kompetensi wajib dalam orientasi bidan baru, bukan pelatihan ad-hoc
MEKANISME 5 — COMMUNITY OWNERSHIP:
  • → Komunitas yang dilayani dilibatkan dalam monitoring dan akuntabilitas program
  • → Forum kesehatan desa, komite kesehatan Puskesmas, dan kelompok perempuan sebagai watchdog yang melaporkan jika layanan terganggu
  • → Demand-side accountability: masyarakat yang merasa memiliki program adalah penjaga keberlanjutan yang paling kuat

SEQUENCING INSTITUSIONALISASI

TAHUN 1–2 (PROOF OF CONCEPT):
  • → Tunjukkan bahwa program bekerja dengan data yang meyakinkan
  • → Bangun champion internal yang menjadi pemilik program di semua level
  • → Mulai integrasi dalam sistem rutin secara bertahap
TAHUN 2–3 (EMBEDDING):
  • → Formalisasi dalam regulasi dan SOP
  • → Integrasi penuh dalam APBD
  • → Pengembangan kapasitas yang mereproduksi diri sendiri
TAHUN 3–5 (INSTITUTIONALIZATION):
  • → Program berjalan sebagai bagian normal sistem
  • → Komunitas memiliki ekspektasi yang kuat
  • → Pemimpin baru yang masuk mewarisi sistem yang sudah berfungsi, bukan memulai dari nol

C.3. Perencanaan Transisi Kepemimpinan

C.3.1. Melindungi Kontinuitas Saat Pemimpin Berganti

MENGAPA PERENCANAAN TRANSISI DIABAIKAN

→ Pemimpin tidak suka memikirkan kemungkinan mereka pergi — terasa seperti merencanakan kepergian sendiri

→ Fokus pada hasil jangka pendek mengalahkan investasi jangka panjang

→ Dalam budaya birokrasi Indonesia: suksesi sering dilihat sebagai isu politis, bukan manajerial

→ Konsekuensi: setiap periode transisi kepemimpinan menjadi krisis yang menghilangkan momentum yang sudah dibangun

KOMPONEN RENCANA TRANSISI

KOMPONEN 1 — KNOWLEDGE TRANSFER PACKAGE:

→ Dokumen komprehensif yang menangkap konteks, keputusan kunci, dan pembelajaran yang tidak ada dalam dokumen formal manapun

Isi minimal:

  • • Kronologi keputusan strategis kunci beserta alasan di baliknya
  • • Peta stakeholder: siapa yang mendukung, menentang, dan netral beserta sejarah hubungan
  • • Daftar asumsi kritis yang sedang dipantau
  • • Risiko yang masih aktif dan status mitigasinya
  • • "Hal yang tidak tertulis": konteks informal yang kritis untuk navigasi sistem

→ Diupdate secara reguler, bukan hanya saat transisi akan terjadi

KOMPONEN 2 — LEADERSHIP PIPELINE:

→ Minimal dua calon pemimpin yang sudah dipersiapkan di setiap level kritis

→ Bukan hanya identifikasi tapi pengembangan aktif:

  • • Penugasan yang mengembangkan kompetensi strategis
  • • Exposure ke pengambilan keputusan kritis
  • • Mentoring dan coaching reguler
  • • Keterlibatan dalam hubungan dengan stakeholder kunci

Untuk Dr. Rahmat: Kepala Bidang KIA yang sudah dua puluh tahun di sistem adalah kandidat paling siap — tapi ia perlu pengembangan kompetensi strategis yang eksplisit, bukan hanya kompetensi teknis KIA

KOMPONEN 3 — INSTITUTIONAL MEMORY:
  • → Sistem dokumentasi yang menangkap pembelajaran organisasi dalam bentuk yang dapat diakses pemimpin baru
  • → Bukan hanya arsip laporan: melainkan narasi tentang konteks, mengapa keputusan dibuat, apa yang berhasil dan gagal beserta penjelasannya
  • → Format: briefing document untuk pemimpin baru, lessons learned repository, case studies dari pengalaman lokal
KOMPONEN 4 — HANDOVER PROTOCOL:

→ Proses terstruktur untuk transisi kepemimpinan yang meminimalkan gangguan

  • • Minimal: periode overlap di mana pemimpin lama dan baru bekerja bersama
  • • Sesi briefing dengan semua stakeholder kunci
  • • Pengenalan aktif pemimpin baru kepada jaringan yang sudah dibangun
  • • Komitmen eksplisit pemimpin baru terhadap program yang sedang berjalan sebelum perubahan apapun

SKENARIO TRANSISI DR. RAHMAT

OPSI 1 — MENERIMA TAWARAN GUBERNUR:

Kewajiban sebelum pergi:

  • • Selesaikan knowledge transfer package dalam 4–6 minggu
  • • Rekomendasikan Kepala Bidang KIA sebagai pengganti dengan argumentasi yang kuat kepada Bupati
  • • Briefing intensif calon pengganti tentang semua hubungan stakeholder kritis
  • • Pastikan semua program masuk dalam APBD tahun berikutnya sebelum meninggalkan jabatan

Komitmen pasca-transisi: tersedia untuk konsultasi selama 6 bulan pertama pengganti

OPSI 2 — MENOLAK TAWARAN DAN TETAP:

→ Kewajiban yang tetap sama: keberlanjutan tidak bergantung pada apakah Dr. Rahmat pergi atau tidak

→ Perbedaan: ada lebih banyak waktu untuk institusionalisasi yang lebih dalam sebelum akhirnya ia harus pergi

Risiko: menunda institusionalisasi karena merasa "masih ada waktu" — salah satu jebakan paling umum

C.4. Membangun Kapasitas Organisasi yang Mandiri

C.4.1. Dari Ketergantungan ke Kemandirian

TRAJECTORY KAPASITAS ORGANISASI

TAHAP 1 — DEPENDENCE:

→ Sistem KR bergantung pada input eksternal: konsultan, donor, pemimpin karismatik

→ Tanda: aktivitas berhenti saat dukungan eksternal berhenti

TAHAP 2 — GUIDED INDEPENDENCE:

→ Sistem dapat berjalan dengan dukungan minimal dari luar tapi masih memerlukan bimbingan untuk keputusan strategis

→ Tanda: operasional rutin berjalan mandiri tapi perubahan dan adaptasi masih memerlukan dukungan

TAHAP 3 — INDEPENDENCE:

→ Sistem dapat berjalan, beradaptasi, dan berkembang secara mandiri

→ Tanda: tim internal dapat melakukan analisis situasi, merumuskan respons, dan mengimplementasikan perubahan tanpa dukungan eksternal

TAHAP 4 — GENERATIVITY:

→ Sistem tidak hanya mandiri tapi menghasilkan pemimpin dan inovasi baru yang memperkuat sistem lebih lanjut

→ Tanda: kabupaten menjadi referensi pembelajaran untuk kabupaten lain; staf kabupaten menjadi fasilitator untuk kabupaten tetangga

INVESTASI UNTUK KAPASITAS MANDIRI

INVESTASI 1 — ANALYTIC CAPACITY:

→ Kemampuan tim internal untuk menganalisis data, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan respons

→ Bukan bergantung pada konsultan untuk setiap analisis situasi

→ Caranya: pelatihan analisis data, supervisi analitik reguler, mentoring oleh analis senior

INVESTASI 2 — PLANNING CAPACITY:

→ Kemampuan tim internal untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan memonitor program secara mandiri

→ Caranya: keterlibatan aktif staf dalam setiap siklus perencanaan (bukan konsultan yang membuat, staf yang menandatangani)

INVESTASI 3 — RELATIONSHIP CAPITAL:

→ Jaringan hubungan dengan stakeholder kunci yang dimiliki organisasi, bukan hanya oleh pemimpin tertentu

→ Caranya: rotasi representasi dalam pertemuan koordinasi, memastikan lebih dari satu orang mengenal mitra kunci

INVESTASI 4 — PROBLEM-SOLVING CULTURE:

→ Budaya di mana masalah dibawa ke permukaan dan diselesaikan secara kolektif, bukan disembunyikan

→ Caranya: after action reviews yang konsisten, penghargaan terhadap pelaporan masalah, kepemimpinan yang merespons masalah dengan dukungan bukan hukuman

D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 9

1

Pertanyaan 1

Dr. Rahmat harus memutuskan dalam seminggu apakah menerima atau menolak tawaran Gubernur. Dari perspektif keberlanjutan sistem KR Sumba Tengah:

Argumen Menerima

Argumen apa yang paling kuat untuk menerima tawaran — dan bagaimana ia memastikan keberlanjutan program jika ia pergi?

Argumen Menolak

Argumen apa yang paling kuat untuk menolak — dan apa yang seharusnya ia lakukan berbeda jika memilih tetap sehingga institusionalisasi lebih dalam terjadi sebelum ia akhirnya pergi?

Tiga Langkah Kritis

Terlepas dari keputusan yang diambil, apa tiga langkah konkret yang paling kritis untuk dilakukan dalam tiga bulan ke depan untuk melindungi keberlanjutan program yang sudah dibangun?

2

Pertanyaan 2

Sebuah kabupaten di Kalimantan Tengah berhasil menurunkan AKI dari 320 menjadi 95/100.000 KH dalam lima tahun di bawah kepemimpinan satu Kepala Dinas yang luar biasa. Dua tahun setelah ia rotasi, AKI kembali ke 280/100.000 KH. Semua program yang ia bangun masih ada di atas kertas tapi tidak berjalan.

Analisis Kegagalan

Analisis kegagalan keberlanjutan ini menggunakan lima dimensi keberlanjutan — mana yang paling lemah dan mengapa?

Titik Investasi Institusionalisasi

Pada titik mana dalam lima tahun pertama seharusnya investasi institusionalisasi dimulai — dan apa yang seharusnya dilakukan berbeda?

Membangun Kembali

Dalam kondisi setelah regresi terjadi, apa yang harus dilakukan Kepala Dinas baru yang ingin membangun kembali — apakah ia mulai dari nol atau ada yang bisa diselamatkan dari sistem sebelumnya?

E

Rangkuman

1

Keberlanjutan adalah ujian akhir perencanaan strategis yang sesungguhnya — bukan apakah program berhasil selama pemimpin yang memulainya masih menjabat, melainkan apakah perubahan sistem bertahan dan berkembang setelah orang-orang yang membangunnya pergi; dalam konteks Indonesia dengan rotasi kepemimpinan yang tinggi, keberlanjutan harus dirancang sejak awal bukan ditambahkan di akhir, dan mengoperasikan lima dimensi yang saling memperkuat: finansial, kelembagaan, kapasitas, politik, dan komunitas

2

Tiga jebakan keberlanjutan yang paling umum menggagalkan program KR Indonesia adalah project mentality yang merancang intervensi sebagai proyek sementara bukan perubahan sistem permanen, hero dependency yang bergantung pada energi dan komitmen satu individu luar biasa, dan donor dependency yang tidak membangun rencana transisi ke pendanaan domestik sejak awal; mengenali dan menghindari ketiga jebakan ini adalah kompetensi institusional yang harus dibangun secara eksplisit

3

Institusionalisasi mengubah perilaku dan prosedur baru menjadi "cara kerja normal" melalui lima mekanisme yang perlu dioperasikan secara bersamaan: regulasi dan standarisasi yang menciptakan ekspektasi dan akuntabilitas formal, integrasi anggaran dalam APBD reguler, integrasi dalam sistem informasi rutin, integrasi dalam kurikulum dan pelatihan, dan community ownership yang menciptakan demand-side sustainability yang paling kuat

4

Perencanaan transisi kepemimpinan adalah investasi yang paling sering diabaikan padahal paling menentukan keberlanjutan; empat komponen yang wajib ada adalah knowledge transfer package yang menangkap konteks informal dan keputusan kunci beserta alasannya, leadership pipeline yang mengembangkan calon pemimpin secara aktif bukan hanya mengidentifikasinya, institutional memory yang dapat diakses pemimpin baru, dan handover protocol yang meminimalkan gangguan selama periode transisi

5

Trajectory kapasitas organisasi yang mandiri bergerak dari dependence melalui guided independence dan independence menuju generativity — di mana sistem tidak hanya mandiri tetapi menghasilkan pemimpin dan inovasi baru yang memperkuat sistem lebih lanjut; investasi dalam analytic capacity, planning capacity, relationship capital, dan problem-solving culture adalah fondasi kemandirian yang memungkinkan sistem KR terus berkembang tanpa bergantung pada individu atau sumber daya eksternal tertentu

F

Referensi

  1. Shediac-Rizkallah MC, Bone LR. Planning for the sustainability of community-based health programs: conceptual frameworks and future directions for research, practice and policy. Health Education Research. 1998;13(1):87-108.
  2. Stirman SW, Kimberly J, Cook N, Calloway A, Castro F, Charns M. The sustainability of new programs and innovations: a review of the empirical literature and recommendations for future research. Implementation Science. 2012;7:17.
  3. Kotter JP. Leading Change. Boston: Harvard Business School Press; 1996.
  4. Fixsen DL, Naoom SF, Blase KA, Friedman RM, Wallace F. Implementation Research: A Synthesis of the Literature. Tampa: University of South Florida; 2005.
  5. Atun R, de Jongh T, Secci F, Ohiri K, Adeyi O. Integration of targeted health interventions into health systems: a conceptual framework for analysis. Health Policy and Planning. 2010;25(2):104-111.
  6. Collins J. Good to Great: Why Some Companies Make the Leap and Others Don't. New York: HarperCollins; 2001.
  7. Senge PM. The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York: Doubleday; 1990.
  8. Gilson L, Daire J. Leadership and governance within the South African health system. South African Health Review. 2011;2011(1):69-80.
  9. Kementerian Dalam Negeri RI. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah. Jakarta: Kemendagri; 2017.
  10. Paina L, Peters DH. Understanding pathways for scaling up health interventions in low- and middle-income countries. Health Policy and Planning. 2012;27(5):365-373.
Minggu ke-9 Bobot 15%

TUGAS KELOMPOK 4 — SESI 2 (MINGGU 9)

Mata Kuliah: Perencanaan Strategis Bidang Kesehatan Reproduksi | Semester 4 | Periode 1 | Sesi 2

Identitas Tugas

Jenis Tugas Tugas Kelompok Keempat — Sesi 2
Minggu Minggu ke-9
Materi Modul 6–9
Bobot Nilai 15% dari nilai akhir mata kuliah
Pengerjaan Kelompok (3–4 orang, kelompok yang sama)
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-9 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Luaran Rencana Keberlanjutan dan Institusionalisasi Sistem KR, format Word atau PDF
Panjang 2.500–3.200 kata (tidak termasuk tabel dan referensi)
Referensi Minimal 7 referensi dalam format Vancouver
PETUNJUK PENGERJAAN
  1. 1. Tugas ini adalah sintesis tertinggi MK16 sebelum Modul 10 dan Examination — kelompok mengintegrasikan seluruh kompetensi yang dibangun sejak Modul 1: dari analisis situasi, visi-misi-tujuan, formulasi strategi, rencana implementasi, monitoring, kepemimpinan, hingga keberlanjutan
  2. 2. Kelompok melanjutkan kabupaten yang sama dari TK1 dan TK2 — tugas ini adalah babak akhir dari dokumen perencanaan strategis yang sudah dibangun secara bertahap
  3. 3. Kualitas integrasi antar komponen dinilai lebih tinggi dari kualitas setiap komponen secara terpisah — dokumen yang kohesif dari diagnosis hingga keberlanjutan lebih baik dari dokumen yang bagus di setiap bagian tapi tidak terhubung
SKENARIO UTAMA

Melanjutkan peran sebagai tim inti perencanaan strategis kabupaten yang dipilih. Kepala Dinas baru saja menerima informasi bahwa kemungkinan besar akan ada pergantian Bupati dalam pemilihan kepala daerah yang berlangsung delapan belas bulan lagi. Ini adalah momen kritis: delapan belas bulan adalah jendela waktu untuk mengamankan keberlanjutan program KR yang sudah dibangun — sebelum ketidakpastian politik menciptakan gangguan. Tim diminta menyusun Rencana Keberlanjutan dan Institusionalisasi yang akan dipresentasikan kepada Bupati incumbent sebagai warisan program yang perlu dilindungi, apapun hasil pemilihan.

Bagian 1 — Asesmen Keberlanjutan Saat Ini (±500 kata + tabel)

Berdasarkan konteks kabupaten dari TK1 dan TK2, lakukan asesmen keberlanjutan menggunakan lima dimensi yang dibahas dalam Modul 9.

1a. Matriks asesmen lima dimensi:

Sajikan dalam format tabel: untuk setiap dimensi (finansial, kelembagaan, kapasitas, politik, komunitas), berikan penilaian saat ini (kuat/sedang/lemah), evidence yang mendukung penilaian tersebut, dan risiko utama yang mengancam dimensi tersebut.

1b. Dimensi paling rentan:

Dari lima dimensi, identifikasikan satu atau dua yang paling rentan dalam konteks kabupaten yang dipilih — dan analisis mengapa dimensi ini rentan secara sistemik, bukan hanya karena kondisi sementara.

1c. Aset keberlanjutan yang ada:

Identifikasikan dua atau tiga aset yang sudah ada dan dapat menjadi fondasi rencana keberlanjutan — kekuatan dalam sistem yang sudah ada yang perlu dilindungi dan diperkuat, bukan dibangun dari nol.

Bagian 2 — Strategi Institusionalisasi 18 Bulan (±700 kata + timeline)

Dengan jendela waktu delapan belas bulan sebelum kemungkinan pergantian kepemimpinan, rancang strategi institusionalisasi yang realistis.

2a. Prioritas institusionalisasi:

Dari lima mekanisme institusionalisasi (regulasi, anggaran, sistem informasi, pelatihan, community ownership), pilih dua atau tiga yang paling kritis untuk dieksekusi dalam delapan belas bulan ini — dan justifikasikan pilihan tersebut berdasarkan dimensi keberlanjutan yang paling rentan.

2b. Rencana aksi per mekanisme:

Untuk setiap mekanisme yang dipilih, rancang rencana aksi yang mencakup: langkah-langkah konkret, penanggung jawab, milestone kritis, dan indikator keberhasilan. Setiap mekanisme harus dapat dimulai dalam tiga bulan pertama dan menghasilkan sesuatu yang konkret sebelum bulan ke-delapan belas.

2c. Timeline visual:

Sajikan timeline delapan belas bulan yang menunjukkan kapan setiap mekanisme diinisiasi, milestone kritis, dan titik-titik di mana hasilnya harus sudah terlihat untuk membangun momentum politik sebelum pemilihan.

Bagian 3 — Rencana Transisi Kepemimpinan (±600 kata)

Rancang rencana transisi kepemimpinan untuk menghadapi kemungkinan pergantian Bupati dan kemungkinan pergantian Kepala Dinas yang mengikutinya.

3a. Knowledge transfer package:

Rancang outline knowledge transfer package yang spesifik untuk kabupaten ini — apa yang harus didokumentasikan, dalam format apa, dan bagaimana ia diupdate secara reguler. Fokus pada informasi yang tidak ada dalam dokumen formal manapun tapi kritis untuk pemimpin baru.

3b. Leadership pipeline:

Identifikasikan dua atau tiga kandidat pemimpin potensial di dalam sistem — di level Dinkes atau Puskesmas — dan rancang rencana pengembangan spesifik untuk masing-masing dalam delapan belas bulan. Rencana pengembangan harus konkret: penugasan apa, exposure apa, mentoring dengan siapa.

3c. Strategi mempengaruhi Bupati baru:

Terlepas dari siapa yang menang pemilihan, rancang strategi untuk mempengaruhi Bupati baru agar melanjutkan program KR yang sudah dibangun — menggunakan kerangka komunikasi strategis dari Modul 8. Argumen apa yang paling persuasif, data apa yang paling relevan, dan koalisi stakeholder apa yang perlu dibangun sebelum pemilihan untuk memberikan tekanan dari berbagai arah.

Bagian 4 — Skenario dan Kontinjensi (±500 kata)

Perencanaan keberlanjutan yang baik mempertimbangkan skenario yang tidak diinginkan.

4a. Skenario terburuk:

Deskripsikan skenario terburuk yang realistis untuk keberlanjutan program KR kabupaten ini — bukan yang paling dramatis tapi yang paling mungkin terjadi berdasarkan konteks yang ada. Jelaskan bagaimana skenario ini dapat terjadi langkah demi langkah.

4b. Rencana kontinjensi:

Untuk skenario terburuk yang diidentifikasi, rancang rencana kontinjensi: apa yang dilakukan jika skenario ini mulai terjadi, siapa yang mengambil tindakan, dan apa intervensi minimum yang dapat melindungi elemen paling kritis dari program agar tidak runtuh sepenuhnya.

4c. Indikator peringatan dini:

Identifikasikan tiga indikator peringatan dini yang menandakan bahwa keberlanjutan program mulai terancam — sinyal-sinyal awal yang harus dipantau secara aktif. Untuk setiap indikator: apa ambang batas yang memicu tindakan, dan tindakan apa yang dipicu.

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 — Asesmen Keberlanjutan Kelengkapan dan ketajaman asesmen lima dimensi; kualitas identifikasi dimensi paling rentan; realisme identifikasi aset 20%
Bagian 2 — Institusionalisasi Kekuatan justifikasi prioritas mekanisme; konkretnya rencana aksi; realisme timeline; kualitas indikator keberhasilan 35%
Bagian 3 — Transisi Kepemimpinan Kualitas knowledge transfer package; konkretnya rencana pengembangan leadership pipeline; kekuatan strategi mempengaruhi Bupati baru 30%
Bagian 4 — Skenario Realisme skenario terburuk; kualitas rencana kontinjensi; spesifisitas indikator peringatan dini dan ambang tindakan 15%
REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN
  1. Shediac-Rizkallah MC, Bone LR. Planning for the sustainability of community-based health programs. Health Educ Res. 1998;13(1):87-108.
  2. Stirman SW, et al. The sustainability of new programs and innovations. Implement Sci. 2012;7:17.
  3. Atun R, et al. Integration of targeted health interventions into health systems. Health Policy Plan. 2010;25(2):104-111.
  4. Kotter JP. Leading Change. Boston: Harvard Business School Press; 1996.
  5. Fixsen DL, et al. Implementation Research: A Synthesis of the Literature. Tampa: University of South Florida; 2005.
  6. Paina L, Peters DH. Understanding pathways for scaling up health interventions. Health Policy Plan. 2012;27(5):365-373.
  7. Kementerian Dalam Negeri RI. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 86 Tahun 2017. Jakarta: Kemendagri; 2017.

Dokumentasi bahan ajar subspesialis obstetri ginekologi sosial