Semester 4 Periode 2 4 SKS Sesi 1

Ekonomi Kesehatan Lanjut: Fondasi, Kerangka, dan Relevansi untuk Pembiayaan KR

MK Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Senin pagi. Ruang rapat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Pukul 09.00.

Dr. Farhan, SpOG., Subsp.Obginsos., baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala Bidang Kesehatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Provinsi. Sebelumnya ia adalah dokter spesialis klinis murni — dua belas tahun di ruang operasi dan kamar bersalin.

Di hadapannya: Kepala Bappeda Provinsi dan dua staf anggaran yang membawa tumpukan dokumen.

Kepala Bappeda membuka pertemuan. "Dok, kami sedang menyusun RPJMD Provinsi 2025–2029. Bidang KIA minta alokasi Rp 187 miliar untuk lima tahun. Kami perlu tahu: dari angka ini, berapa yang benar-benar cost-effective? Kami punya banyak kompetitor dari sektor lain yang juga minta anggaran besar."

Dr. Farhan menatap dokumen proposal yang ada di depannya — dokumen yang disusun oleh timnya sebelum ia menjabat. Angka Rp 187 miliar ada di sana. Tapi ketika ia mencoba mencari justifikasi ekonomi di balik angka itu, yang ia temukan hanya narasi target program dan daftar kegiatan.

Tidak ada analisis cost-effectiveness. Tidak ada perhitungan cost per DALY. Tidak ada perbandingan dengan alternatif alokasi. Tidak ada argumen ekonomi yang dapat dipertahankan di depan Bappeda.

Kepala Bappeda melihat ekspresi Dr. Farhan dan berkata dengan nada yang tidak tanpa simpati: "Dokter, kami sangat mendukung program KIA. Tapi kami perlu angka yang bisa kami pertanggungjawabkan ke DPRD. Bisa Bidang KIA menyajikan ulang proposal ini dalam bahasa ekonomi dalam dua minggu?"

Dua minggu. Bahasa ekonomi. Untuk program yang selama ini selalu diajukan dalam bahasa klinis.

Inilah gap yang tidak pernah saya bayangkan akan menjadi masalah terbesar saya.

Ekonomi kesehatan adalah disiplin yang menerapkan prinsip-prinsip ekonomi untuk memahami bagaimana sumber daya yang terbatas dialokasikan dalam sistem kesehatan untuk memaksimalkan kesehatan populasi. Bagi Subsp.Obginsos yang bergerak ke peran kepemimpinan sistem, kompetensi ekonomi kesehatan bukan pilihan akademis — ia adalah alat survival di ruang negosiasi anggaran, di forum kebijakan, dan di meja pengambilan keputusan di mana argumen klinis saja tidak pernah cukup.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Menjelaskan konsep-konsep dasar ekonomi kesehatan yang relevan untuk perencanaan pembiayaan KR

  2. 2

    Mengidentifikasikan kegagalan pasar dalam sektor kesehatan reproduksi dan implikasinya untuk intervensi publik

  3. 3

    Menerapkan kerangka efisiensi alokasi dan efisiensi teknis dalam analisis program KR

  4. 4

    Menjelaskan konsep beban penyakit dan relevansinya untuk prioritisasi investasi KR

  5. 5

    Menggunakan bahasa ekonomi kesehatan untuk mengadvokasi alokasi sumber daya yang mendukung program KR

C

Materi Inti

C.1. Fondasi Ekonomi Kesehatan untuk Pemimpin KR

C.1.1. Mengapa Ekonomi Kesehatan Berbeda dari Ekonomi Biasa

KARAKTERISTIK UNIK PASAR KESEHATAN

KARAKTERISTIK 1 — INFORMASI ASIMETRIS
  • Pasien tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menilai kualitas layanan yang mereka butuhkan
  • Dokter memiliki informasi jauh lebih banyak dari pasien tentang diagnosis, prognosis, dan pilihan pengobatan
  • Konsekuensi: pasar kesehatan tidak dapat bekerja seperti pasar kompetitif biasa di mana konsumen membuat keputusan berdasarkan informasi yang setara
  • Dalam KR: perempuan yang tidak tahu apakah SC yang dijadwalkan benar-benar diperlukan tidak dapat membuat keputusan yang truly informed tanpa dukungan sistem
KARAKTERISTIK 2 — KETIDAKPASTIAN
  • Kebutuhan kesehatan tidak dapat diprediksi: tidak ada yang tahu kapan ia akan sakit atau memerlukan persalinan dengan komplikasi
  • Ketidakpastian ini menciptakan masalah perencanaan yang fundamental: seseorang harus menanggung biaya yang besar di saat yang tidak dapat diprediksi
  • Solusi klasik: asuransi — tapi asuransi menciptakan masalah sendiri (moral hazard, adverse selection)
KARAKTERISTIK 3 — EKSTERNALITAS
  • Keputusan kesehatan individu berdampak pada orang lain: vaksinasi melindungi yang tidak divaksin, infeksi menular kepada yang lain
  • Dalam KR: kematian ibu berdampak pada bayi, keluarga, produktivitas ekonomi keluarga, dan kapasitas komunitas
  • Eksternalitas positif adalah justifikasi ekonomi kuat untuk subsidi publik terhadap pelayanan KR
KARAKTERISTIK 4 — BARANG PUBLIK DAN MERIT GOODS
  • Beberapa layanan kesehatan adalah merit goods: masyarakat mendapat manfaat jika semua orang menggunakannya, tapi individu mungkin mengkonsumsi kurang dari yang optimal secara sosial jika diserahkan sepenuhnya ke pasar
  • ANC dan persalinan aman memiliki sifat merit good: ada argumen kuat untuk subsidi publik agar konsumsi mencapai tingkat yang optimal secara sosial
KARAKTERISTIK 5 — PROVIDER-INDUCED DEMAND
  • Berbeda dari pasar biasa: penyedia layanan kesehatan dapat mempengaruhi permintaan untuk layanan mereka sendiri
  • Dokter yang merekomendasikan prosedur yang tidak diperlukan demi pendapatan adalah manifestasi provider-induced demand
  • Dalam KR: SC rate yang tidak proporsional dengan indikasi klinis adalah contoh klasik provider-induced demand yang menciptakan inefisiensi dan merugikan pasien

KEGAGALAN PASAR DALAM KR DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

KEGAGALAN 1 — UNDERPROVISION LAYANAN PREVENTIF

Pasar cenderung underprovide layanan preventif karena: manfaatnya tidak langsung terlihat, sebagian manfaat jatuh ke orang lain (eksternalitas), dan individu mendiskon manfaat masa depan

ANC berkualitas adalah investasi preventif klasik yang underprovided oleh pasar

Implikasi: justifikasi kuat untuk subsidi publik dan regulasi standar minimal

KEGAGALAN 2 — OVERPROVISION LAYANAN KURATIF YANG MENGUNTUNGKAN

Pasar yang tidak terregulasi cenderung overprovide layanan yang menghasilkan pendapatan bagi penyedia

SC tanpa indikasi klinis, pemeriksaan laboratorium berlebihan, rawat inap yang diperpanjang — semua adalah manifestasi overprovision yang merugikan pasien dan sistem

Implikasi: kebutuhan regulasi kewenangan klinis dan audit penggunaan layanan

KEGAGALAN 3 — DISTRIBUSI YANG TIDAK ADIL

Pasar bebas mengalokasikan layanan berdasarkan kemampuan membayar, bukan berdasarkan kebutuhan

Perempuan miskin di daerah terpencil memiliki kebutuhan KR yang sama atau lebih tinggi dari perempuan kaya di kota, tapi kemampuan membelinya jauh lebih rendah

Implikasi: subsidi yang ditargetkan (targeted subsidy) dan program jaminan sosial sebagai koreksi pasar

C.2. Efisiensi dalam Konteks KR

C.2.1. Dua Dimensi Efisiensi yang Harus Dikuasai Pemimpin KR

EFISIENSI TEKNIS

DEFINISI
  • Menghasilkan output maksimal dari input yang tersedia, atau menghasilkan output tertentu dengan input yang minimal
  • Pertanyaan: apakah kita menggunakan sumber daya yang ada dengan cara yang paling produktif?
CONTOH DALAM KR
  • Puskesmas yang memiliki bidan terlatih BEmONC tapi peralatan tidak berfungsi: inefisiensi teknis karena input SDM tidak dapat menghasilkan output karena bottleneck input lain
  • Program ANC yang memiliki anggaran besar tapi sebagian besar untuk pertemuan koordinasi, bukan untuk pelayanan langsung: inefisiensi teknis dalam alokasi input
  • Bidan yang harus mengisi lima formulir berbeda untuk satu pasien: inefisiensi teknis yang mengalihkan waktu dari pelayanan
MENGUKUR EFISIENSI TEKNIS

Output per Input

Jumlah ANC yang diberikan per bidan per bulan

Benchmarking

Membandingkan produktivitas antar Puskesmas dengan karakteristik yang serupa

Process Mapping

Mengidentifikasi langkah yang tidak memberikan nilai tambah (waste)

EFISIENSI ALOKASI

DEFINISI
  • Mengalokasikan sumber daya ke penggunaan yang memberikan manfaat kesehatan terbesar bagi populasi
  • Pertanyaan: dari semua cara yang bisa kita gunakan sumber daya ini, mana yang memberikan nilai terbaik?
CONTOH DALAM KR

Anggaran Rp 10 miliar untuk program KR: apakah lebih baik digunakan untuk membangun satu RSUD baru, atau untuk memperkuat ANC di seratus Puskesmas, atau untuk program komunitas yang menjangkau perempuan yang tidak terjangkau oleh fasilitas?

Efisiensi alokasi menjawab pertanyaan ini berdasarkan evidence tentang efektivitas dan biaya setiap pilihan

OPPORTUNITY COST — KONSEP KUNCI
  • Biaya sesungguhnya dari sebuah keputusan alokasi adalah manfaat yang hilang dari pilihan terbaik yang tidak dipilih
  • Jika Rp 10 miliar digunakan untuk membangun RSUD dan hasilnya 50 kematian ibu dicegah, opportunity cost-nya adalah berapa kematian ibu yang bisa dicegah jika Rp 10 miliar itu digunakan untuk memperkuat ANC di Puskesmas
  • Pemimpin KR yang tidak memperhitungkan opportunity cost membuat keputusan alokasi yang terlihat baik tapi mungkin jauh dari optimal

EQUITY VS. EFFICIENCY — KETEGANGAN YANG SELALU ADA

  • Intervensi yang paling cost-effective secara teknis sering bukan yang paling adil secara distribusional
  • Contoh: program ANC yang difokuskan di perkotaan lebih cost-effective (biaya per kontak lebih rendah, populasi lebih padat) tapi meninggalkan perempuan di daerah terpencil yang paling membutuhkan
  • Trade-off ini tidak dapat diselesaikan oleh analisis ekonomi semata — ia memerlukan keputusan nilai tentang seberapa besar masyarakat bersedia membayar lebih untuk keadilan
  • Peran pemimpin KR: menyajikan trade-off ini secara eksplisit kepada pengambil keputusan, bukan menyembunyikannya dalam angka agregat

C.3. Beban Penyakit dan Prioritisasi Investasi KR

C.3.1. Mengukur Masalah untuk Membenarkan Investasi

KONSEP BEBAN PENYAKIT

DISABILITY-ADJUSTED LIFE YEARS (DALY)
YLL

Years of Life Lost

Tahun hidup yang hilang karena kematian prematur

YLD

Years Lived with Disability

Tahun hidup dengan disabilitas atau morbiditas

DALY = YLL + YLD

Satu DALY = satu tahun hidup sehat yang hilang

Program yang mencegah satu kematian ibu pada usia 28 tahun menghindarkan sekitar 42 YLL (harapan hidup 70 tahun dikurangi 28)

RELEVANSI DALY UNTUK ADVOKASI KR
  • Kematian ibu terjadi pada usia produktif: beban YLL yang sangat tinggi per kasus
  • Komplikasi obstetri yang tidak fatal (fistula obstetri, prolaps uteri, inkontinensia) berkontribusi pada YLD yang signifikan tapi sering tidak terlihat dalam statistik kematian
  • Dampak pada bayi: kematian neonatal dan disabilitas akibat komplikasi persalinan juga merupakan DALY yang dapat dicegah oleh investasi dalam KR

COST PER DALY AVERTED — ALAT PRIORITISASI

DEFINISI
  • Biaya program dibagi dengan jumlah DALY yang berhasil dicegah oleh program tersebut
  • Semakin rendah cost per DALY averted, semakin cost-effective program tersebut
WHO THRESHOLD
  • Cost-effective: di bawah GDP per kapita
  • Very cost-effective: di bawah 3x GDP per kapita
APLIKASI UNTUK DR. FARHAN

Program ANC berkualitas di Indonesia memiliki cost per DALY averted yang sangat rendah — jauh di bawah threshold cost-effectiveness

Ini adalah argumen ekonomi yang kuat untuk Bappeda: bukan "kita perlu anggaran ini karena penting", melainkan "investasi ini menghasilkan return dalam bentuk tahun hidup sehat yang dapat dikuantifikasi dan dibandingkan dengan intervensi kesehatan lain"

HUMAN CAPITAL APPROACH — ARGUMEN EKONOMI TAMBAHAN

  • Kematian ibu bukan hanya tragedi kemanusiaan — ia juga kehilangan ekonomi yang dapat diukur
  • Perempuan yang meninggal karena komplikasi obstetri kehilangan kontribusi ekonomi potensial: pendapatan, produktivitas rumah tangga, pengasuhan anak yang berdampak pada pendidikan dan kesehatan generasi berikutnya
  • Estimasi nilai ekonomi kematian ibu yang dicegah menggunakan human capital approach: nilai produktivitas yang dipertahankan + biaya terhindar dari dampak pada anak dan keluarga
  • Argumen ini lebih persuasif di depan Bappeda dari narasi kemanusiaan saja — bukan karena nilai manusia dapat direduksi ke angka, tapi karena pengambil keputusan anggaran perlu argumen dalam bahasa yang mereka gunakan sehari-hari

C.4. Kerangka Pembiayaan Kesehatan

C.4.1. Memahami Dari Mana Uang Datang dan Ke Mana Perginya

FUNGSI PEMBIAYAAN KESEHATAN — WHO

FUNGSI 1 — REVENUE COLLECTION (PENGUMPULAN DANA)

Dari mana sistem kesehatan mendapatkan uang?

Sumber di Indonesia:

  • 1. Pajak umum (APBN dan APBD): untuk pelayanan publik dan subsidi
  • 2. Iuran JKN: peserta mandiri, peserta PBI yang dibayar pemerintah, peserta pekerja yang dibayar pemberi kerja
  • 3. Out-of-pocket payments: pembayaran langsung oleh pasien
  • 4. Donor dan hibah internasional: WHO, UNFPA, bilateral donors

Implikasi untuk KR: perempuan miskin yang tidak terdaftar JKN bergantung pada APBD atau out-of-pocket yang sering menjadi hambatan akses

FUNGSI 2 — POOLING (PENGGABUNGAN RISIKO)

Bagaimana dana dikumpulkan dan risiko dibagi?

  • Pooling yang baik: risiko kesehatan individu dibagi dalam kelompok yang besar sehingga tidak ada satu individu yang harus menanggung beban katastrofik sendirian
  • JKN adalah mekanisme pooling nasional — tapi implementasinya masih memiliki tantangan: fragmented provider payment, capitation yang sering tidak mencukupi untuk daerah terpencil
FUNGSI 3 — PURCHASING (PEMBELIAN LAYANAN)

Bagaimana dana digunakan untuk membeli layanan kesehatan?

Metode pembayaran yang berbeda menciptakan insentif yang berbeda:

Fee-for-Service

Mendorong volume — termasuk prosedur yang tidak diperlukan (SC berlebihan)

Capitation

Mendorong efisiensi dan preventif — tapi bisa mendorong underprovision

Case-based (INA-CBGs)

Mendorong efisiensi per kasus tapi bisa mendorong early discharge

Budget

Prediktabel tapi kurang insentif untuk kinerja

NATIONAL HEALTH ACCOUNTS (NHA) DAN RELEVANSINYA

  • NHA adalah kerangka sistematis untuk memetakan aliran dana dalam sistem kesehatan: dari sumber ke agen pembiayaan ke penyedia ke fungsi ke penyakit
  • Bagi Dr. Farhan: NHA memberikan gambaran tentang berapa total pengeluaran untuk KR, dari sumber apa, melalui mekanisme apa, untuk layanan apa
  • Tanpa pemahaman tentang aliran dana yang ada: sulit mengidentifikasikan di mana ada inefisiensi, di mana ada gap, dan di mana advokasi anggaran paling diperlukan

DARI BAHASA KLINIS KE BAHASA EKONOMI

BAHASA KLINIS:

"Program ini penting karena dapat mencegah kematian ibu"

BAHASA EKONOMI YANG SETARA:

"Program ini diproyeksikan mencegah X kematian ibu per tahun, setara dengan Y DALY averted, dengan cost per DALY averted sebesar Z — jauh di bawah threshold cost-effectiveness untuk konteks Indonesia. Dibandingkan dengan alternatif alokasi terbaik yang tersedia, ini adalah investasi dengan return tertinggi untuk anggaran yang sama."

Keduanya benar. Keduanya penting. Tapi di ruang Bappeda, yang kedua adalah yang dibutuhkan — dan kompetensi untuk menyajikan argumen dalam bahasa ekonomi tanpa kehilangan substansi klinisnya adalah kompetensi yang membedakan pemimpin KR yang efektif dari yang tidak

D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 1

1

Pertanyaan 1

Dr. Farhan diminta menyajikan ulang proposal anggaran KIA Rp 187 miliar dalam "bahasa ekonomi" untuk Bappeda dalam dua minggu.

Karakteristik Pasar Kesehatan

Dari lima karakteristik unik pasar kesehatan yang dibahas dalam modul ini, mana dua yang paling relevan untuk membangun justifikasi ekonomi investasi dalam program KIA — dan bagaimana masing-masing dapat digunakan sebagai argumen konkret di depan Bappeda?

Efisiensi Teknis vs Efisiensi Alokasi

Jelaskan perbedaan antara efisiensi teknis dan efisiensi alokasi, lalu identifikasikan satu contoh inefisiensi dari setiap jenis yang kemungkinan ada dalam program KIA yang sudah berjalan — berdasarkan pengetahuan Anda tentang sistem KR Indonesia.

Argumen Ekonomi Terkuat

Jika Dr. Farhan hanya memiliki lima menit di depan Kepala Bappeda, rumuskan satu argumen ekonomi yang paling kuat untuk mempertahankan alokasi anggaran KIA — menggunakan konsep DALY, opportunity cost, atau human capital approach.

2

Pertanyaan 2

Sebuah kabupaten di Papua memiliki AKI 520/100.000 KH dan anggaran kesehatan yang sangat terbatas. Mereka mempertimbangkan tiga opsi alokasi anggaran untuk program KR:

Opsi 1

Membangun satu RSUD baru dengan kapasitas lengkap

Opsi 2

Memperkuat ANC di 20 Puskesmas dengan pelatihan, peralatan, dan supply chain

Opsi 3

Program komunitas menggunakan kader terlatih untuk deteksi dini dan rujukan

Kerangka Perbandingan

Menggunakan konsep efisiensi alokasi dan opportunity cost, kerangka apa yang harus digunakan untuk membandingkan ketiga opsi ini secara sistematis — bukan untuk memilih sekarang, tapi untuk memastikan perbandingan dilakukan dengan benar?

Kebutuhan Data Minimal

Data apa yang secara minimal diperlukan untuk membuat analisis yang dapat dipertahankan — dan jika data tersebut tidak tersedia, bagaimana mengambil keputusan yang defensible secara ekonomi sambil mengakui ketidakpastian?

Trade-off Efisiensi vs Ekuitas

Trade-off antara efisiensi dan ekuitas dalam konteks kabupaten Papua ini: opsi mana yang kemungkinan paling cost-effective secara teknis dan opsi mana yang paling adil secara distribusional — dan bagaimana pemimpin KR mengelola ketegangan antara keduanya di depan pengambil keputusan?

E

Rangkuman

1

Pasar kesehatan memiliki lima karakteristik yang membedakannya dari pasar kompetitif biasa dan membenarkan intervensi publik: informasi asimetris yang membuat pasien tidak dapat menilai kualitas layanan secara mandiri, ketidakpastian kebutuhan yang menciptakan masalah perencanaan individual, eksternalitas yang membuat manfaat layanan tertentu menyebar ke masyarakat luas, sifat merit good dari layanan preventif yang membuat konsumsi individual di bawah optimal secara sosial, serta provider-induced demand yang menciptakan inefisiensi sistemik; dalam konteks KR, semua lima karakteristik ini hadir dan menjadi dasar justifikasi ekonomi yang kuat untuk program KR yang dibiayai publik.

2

Efisiensi dalam konteks KR beroperasi dalam dua dimensi yang berbeda dan keduanya penting: efisiensi teknis yang mempertanyakan apakah sumber daya yang ada digunakan dengan cara yang paling produktif — termasuk mengidentifikasikan bottleneck, waste, dan pengalihan waktu dari pelayanan ke administrasi; dan efisiensi alokasi yang mempertanyakan apakah sumber daya dialokasikan ke penggunaan yang memberikan manfaat kesehatan terbesar bagi populasi, dengan opportunity cost sebagai konsep kunci yang mengingatkan bahwa biaya sesungguhnya dari setiap keputusan adalah manfaat yang hilang dari pilihan terbaik yang tidak dipilih.

3

Beban penyakit yang diukur dalam DALY — menggabungkan Years of Life Lost karena kematian prematur dan Years Lived with Disability — adalah alat advokasi yang kuat untuk program KR karena kematian ibu terjadi pada usia produktif muda sehingga menghasilkan YLL yang sangat tinggi per kasus; cost per DALY averted yang rendah untuk intervensi KR esensial seperti ANC berkualitas dan persalinan aman adalah argumen ekonomi yang dapat dipertahankan di depan Bappeda sebagai bukti bahwa investasi KR adalah investasi dengan return tinggi, bukan pengeluaran sosial semata.

4

Kerangka pembiayaan kesehatan WHO beroperasi melalui tiga fungsi yang saling terhubung — revenue collection dari berbagai sumber, pooling risiko yang menentukan seberapa terlindungi individu dari beban katastrofik, dan purchasing layanan yang menciptakan insentif melalui metode pembayaran; metode pembayaran yang berbeda menciptakan insentif yang berbeda dan menjelaskan banyak fenomena dalam KR Indonesia: fee-for-service yang mendorong SC berlebihan, capitation yang dapat mendorong underprovision preventif, serta INA-CBGs yang memerlukan pengawasan kualitas aktif untuk mencegah early discharge.

5

Kompetensi untuk menerjemahkan argumen klinis ke bahasa ekonomi tanpa kehilangan substansinya adalah kompetensi kepemimpinan yang membedakan pemimpin KR yang efektif dalam ruang kebijakan; "program ini penting karena menyelamatkan nyawa" adalah argumen yang benar tapi tidak cukup di depan Bappeda — argumen yang sama dalam bahasa ekonomi menggunakan DALY, cost-effectiveness, dan human capital approach memiliki kekuatan persuasi yang jauh lebih besar karena berbicara dalam bahasa yang digunakan pengambil keputusan anggaran setiap hari.

F

Referensi

  1. Drummond MF, Sculpher MJ, Claxton K, Stoddart GL, Torrance GW. Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.
  2. Mcintyre D, Kutzin J. Health Financing Country Diagnostic: A Foundation for National Strategy Development. Geneva: WHO; 2016.
  3. Musgrove P (ed). Health Economics in Development. Washington DC: World Bank; 2004.
  4. Preker AS, Langenbrunner JC (eds). Spending Wisely: Buying Health Services for the Poor. Washington DC: World Bank; 2005.
  5. WHO. Making Fair Choices on the Path to Universal Health Coverage. Geneva: WHO; 2014.
  6. Lim SS, Allen K, Bhutta ZA, et al. Measuring the health-related Sustainable Development Goals in 188 countries. The Lancet. 2016;388(10053):1813-1850.
  7. Jamison DT, Summers LH, Alleyne G, et al. Global health 2035: a world converging within a generation. The Lancet. 2013;382(9908):1898-1955.
  8. World Bank. Disease Control Priorities in Developing Countries. 3rd ed. Washington DC: World Bank; 2016.
  9. Kementerian Kesehatan RI. Laporan National Health Accounts Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
  10. Savedoff WD, de Ferranti D, Smith AL, Fan V. Political and economic aspects of the transition to universal health coverage. The Lancet. 2012;380(9845):924-932.

Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial