Semester 4 Periode 2 4 SKS Sesi 2

Sintesis: Ekonomi Kesehatan sebagai Kompetensi Kepemimpinan KR

MK Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program — Modul 10

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Jumat sore. Kantor Gubernur Sulawesi Tengah. Ruang rapat utama.

Dr. Farhan berdiri di depan Gubernur, Wagub, Kepala Bappeda, dan tujuh Kepala Dinas. Di tangannya: dokumen dua belas halaman. Strategi Pembiayaan Program KR Provinsi Sulawesi Tengah 2025–2029.

Gubernur membuka sesi. "Pak Dokter, saya beri waktu dua puluh menit. Setelah itu saya putuskan apakah ini masuk dalam RPJMD sebagai program prioritas atau tidak."

Dua puluh menit.

Dr. Farhan tidak membuka slide pertama dokumennya. Ia meletakkan dokumen itu di meja.

"Pak Gubernur, izinkan saya mulai dengan satu angka. Setiap kematian ibu di Sulawesi Tengah mewakili kehilangan rata-rata 38 tahun hidup produktif. Dengan AKI kita saat ini 156 per 100.000 kelahiran hidup dan sekitar 70.000 kelahiran per tahun, itu berarti sekitar 109 kematian ibu per tahun — setara dengan lebih dari 4.000 tahun hidup produktif yang hilang setiap tahun dari provinsi ini. Jika investasi yang kami usulkan berhasil menurunkan AKI sebesar 40% dalam 5 tahun, itu berarti sekitar 44 kematian ibu dicegah per tahun, atau 1.672 tahun hidup produktif yang dipertahankan setiap tahunnya. Dengan pendekatan human capital yang konservatif, nilai ekonomi dari setiap tahun hidup produktif yang dipertahankan adalah Rp 45–75 juta. Artinya, return ekonomi dari investasi ini adalah Rp 75–125 miliar per tahun — dari total investasi lima tahun Rp 187 miliar yang kami ajukan."

Gubernur menaruh penanya. Kepala Bappeda membuka laptopnya.

"Lanjutkan, Dokter."

Sepuluh modul perjalanan dalam MK ini bermuara pada satu momen: ketika pemimpin KR berdiri di depan pengambil keputusan dan harus meyakinkan mereka bahwa investasi dalam kesehatan ibu adalah keputusan yang cerdas secara ekonomi, adil secara sosial, dan accountable secara institusional. Kompetensi ekonomi kesehatan bukan tujuan itu sendiri — ia adalah alat yang memungkinkan pemimpin KR mengubah prioritas yang tersembunyi menjadi kebijakan yang nyata, anggaran yang cair, dan perempuan yang selamat.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Mengintegrasikan seluruh kompetensi ekonomi kesehatan sebagai satu kesatuan yang kohesif dalam kepemimpinan KR

  2. 2

    Menerapkan analisis ekonomi kesehatan secara adaptif dalam berbagai konteks peran Subsp.Obginsos

  3. 3

    Mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang membuat analisis ekonomi efektif atau tidak efektif dalam mempengaruhi kebijakan

  4. 4

    Merumuskan agenda pengembangan kompetensi ekonomi kesehatan pribadi yang berkelanjutan

  5. 5

    Berkontribusi pada penguatan budaya pengambilan keputusan berbasis bukti dalam sistem KR Indonesia

C

Materi Inti

C.1. Sintesis Sepuluh Modul sebagai Satu Sistem Kompetensi

C.1.1. Rantai Kompetensi dari Fondasi ke Advokasi

SEPULUH MODUL SEBAGAI SATU RANTAI YANG KOHESIF

MODUL 1 — FONDASI:
  • → Memahami mengapa pasar kesehatan gagal dan mengapa intervensi publik justified
  • Kompetensi kunci: menggunakan bahasa kegagalan pasar, DALY, dan human capital untuk membangun argumen dasar investasi KR
  • Koneksi ke rantai: tanpa fondasi ini, analisis berikutnya tidak memiliki justifikasi yang dapat dipertahankan
MODUL 2 — ANALISIS BIAYA:
  • → Menghitung biaya yang sesungguhnya dan membandingkan program
  • Kompetensi kunci: klasifikasi biaya, unit cost, ICER, CEA/CUA/CBA
  • Koneksi ke rantai: data biaya yang akurat adalah input yang tidak dapat digantikan dalam semua analisis selanjutnya
MODUL 3 — JKN:
  • → Memahami bagaimana sistem pembayaran yang ada menciptakan insentif yang menentukan perilaku penyedia
  • Kompetensi kunci: kapitasi vs. INA-CBGs, gap perlindungan, analisis insentif
  • Koneksi ke rantai: tanpa memahami JKN, perencanaan program KR mengabaikan konteks pembiayaan terbesar yang ada
MODUL 4 — PERENCANAAN:
  • → Menerjemahkan analisis ke dokumen perencanaan yang diakui sistem pemerintah
  • Kompetensi kunci: RBP, ABB, siklus APBD, advokasi Musrenbang
  • Koneksi ke rantai: analisis yang tidak masuk dalam dokumen perencanaan tidak mengubah alokasi
MODUL 5 — EVALUASI DAN NILAI:
  • → Menilai apakah program berhasil dan mempertimbangkan nilai yang tidak dapat direduksi ke angka
  • Kompetensi kunci: desain evaluasi, atribusi, equity-efficiency trade-off, evidence-informed decision making
  • Koneksi ke rantai: tanpa evaluasi, alokasi berikutnya tidak belajar dari yang sebelumnya
MODUL 6 — SCALING UP:
  • → Memastikan program yang berhasil di pilot dapat diperluas dengan model yang berkelanjutan
  • Kompetensi kunci: ekonomi scaling up, domestic financing roadmap, sumber inovatif
  • Koneksi ke rantai: program yang tidak dapat di-scale up hanya pilot yang tidak mengubah sistem
MODUL 7 — EKUITAS:
  • → Memastikan analisis ekonomi tidak mengabaikan mereka yang paling membutuhkan
  • Kompetensi kunci: tiga dimensi ekuitas, pengeluaran katastrofik, mekanisme perlindungan finansial
  • Koneksi ke rantai: program yang efisien secara rata-rata tapi tidak adil secara distribusional gagal dalam misinya
MODUL 8 — TATA KELOLA:
  • → Memastikan sumber daya digunakan dengan integritas dan dapat dipertanggungjawabkan
  • Kompetensi kunci: empat pilar tata kelola, pemetaan risiko, sistem dokumentasi, budaya akuntabilitas
  • Koneksi ke rantai: analisis yang bagus dan program yang dirancang dengan baik gagal jika tidak ada tata kelola yang memastikan implementasi yang jujur
MODUL 9 — GLOBAL:
  • → Memposisikan program KR dalam arsitektur pembiayaan global dan memanfaatkannya secara strategis
  • Kompetensi kunci: landscape donor, Paris Declaration, posisi Indonesia sebagai LMIC
  • Koneksi ke rantai: pemimpin yang tidak memahami konteks global tidak dapat memanfaatkan sumber daya internasional secara optimal atau menghindari jebakan ketergantungan
MODUL 10 — SINTESIS:
  • → Melihat semua kompetensi sebagai sistem yang kohesif dan menerapkannya secara adaptif
  • Kompetensi kunci: integrasi, adaptasi kontekstual, pengembangan diri sebagai pemimpin

C.2. Analisis Momen Dr. Farhan di Hadapan Gubernur

C.2.1. Ketika Semua Kompetensi Berkonvergensi

MENGAPA MOMEN INI BERHASIL

ELEMEN 1 — DIMULAI DENGAN IMPACT, BUKAN INPUT:
  • → Dr. Farhan tidak membuka dengan "program ini butuh Rp 187 miliar" — ia membuka dengan "setiap tahun 4.000 tahun hidup produktif hilang dari provinsi ini"
  • → Ini adalah prinsip dari Modul 1 dan 4: framing yang relevan untuk audiens Gubernur adalah dampak dan return, bukan program dan kegiatan
ELEMEN 2 — ANGKA YANG KONKRET DAN DAPAT DIVERIFIKASI:
  • → 156 per 100.000 KH — data AKI yang nyata
  • → 70.000 kelahiran per tahun — data statistik vital yang nyata
  • → 109 kematian per tahun — bukan perkiraan yang dilebih-lebihkan
  • → Return ekonomi Rp 75–125 miliar per tahun — range, bukan angka tunggal yang menyembunyikan ketidakpastian
  • → Kompetensi dari Modul 2: unit cost dan analisis biaya yang solid; dari Modul 5: menyatakan range dan ketidakpastian secara jujur
ELEMEN 3 — INVESTASI, BUKAN PENGELUARAN:
  • → "Return ekonomi dari investasi ini adalah Rp 75–125 miliar per tahun dari total investasi lima tahun Rp 187 miliar"
  • → Framing ini mengubah program KR dari "biaya kesehatan" menjadi "investasi dengan return yang terukur"
  • → Kompetensi dari Modul 1: human capital approach dan CBA
ELEMEN 4 — DOKUMEN YANG ADA DI MEJA, BUKAN HANYA DI LAYAR:
  • → Dokumen dua belas halaman yang dapat dibaca, dibawa pulang, dikonsultasikan dengan staf
  • → Produk dari TK1 hingga TK4 yang sudah dibangun secara bertahap

APA YANG BISA SALAH — DAN BAGAIMANA MENGATASINYA

RISIKO 1 — ANGKA DIPERTANYAKAN:
  • → Gubernur atau Kepala Bappeda yang skeptis akan bertanya: "dari mana angka return Rp 75–125 miliar ini?"
  • Persiapan: semua asumsi terdokumentasi dan dapat dijelaskan — GDP per kapita yang digunakan, diskon rate, sumber data AKI
  • Kejujuran: "ini adalah estimasi dengan asumsi-asumsi ini yang dapat diperdebatkan, tapi bahkan dengan asumsi yang lebih konservatif, return-nya masih positif"
RISIKO 2 — "KITA SUDAH PUNYA PROGRAM YANG SAMA":
  • → "Bukankah BOK sudah membiayai program KIA?"
  • Persiapan: peta gap yang jelas — apa yang BOK sudah biayai dan apa yang masih tidak terpenuhi; data utilisasi aktual vs. standar
RISIKO 3 — "BAGAIMANA KITA TAHU INI AKAN BERHASIL?":
  • → Pertanyaan atribusi dari Modul 5
  • Persiapan: data pilot yang kuat; bukti dari konteks serupa; komponen evaluasi yang dirancang untuk menjawab pertanyaan ini
RISIKO 4 — "SETELAH DONOR PERGI, SIAPA YANG LANJUTKAN?":
  • → Pertanyaan keberlanjutan dari Modul 6
  • Persiapan: domestic financing roadmap yang sudah ada di dokumen; komitmen anggaran awal yang tertulis

C.3. Penerapan Adaptif dalam Berbagai Peran

C.3.1. Kompetensi Ekonomi Kesehatan untuk Berbagai Konteks Subsp.Obginsos

EMPAT KONTEKS PENERAPAN YANG BERBEDA

KONTEKS 1 — KEPALA DINAS ATAU PEJABAT PEMERINTAH:
  • → Semua kompetensi digunakan secara penuh: dari analisis biaya untuk proposal anggaran, JKN untuk kebijakan tarif, perencanaan untuk RPJMD, evaluasi untuk akuntabilitas, scaling up untuk program provinsi, ekuitas untuk keadilan layanan, tata kelola untuk integritas, hingga donor untuk sumber tambahan
  • Kompetensi paling kritis: advokasi anggaran, perencanaan berbasis bukti, dan tata kelola keuangan
KONTEKS 2 — DIREKTUR MEDIS ATAU KEPALA INSTALASI:
  • → Fokus pada: analisis biaya per unit layanan untuk negosiasi tarif dengan BPJS; cost-effectiveness untuk justifikasi peralatan atau tenaga; tata kelola untuk akuntabilitas klaim JKN; ekuitas untuk memastikan layanan merata
  • Kompetensi paling kritis: analisis JKN dan tata kelola klaim
KONTEKS 3 — PENELITI DAN AKADEMISI:
  • → Fokus pada: desain evaluasi ekonomi yang valid; analisis DALY dan CEA/CUA; evaluasi program yang menghasilkan evidence untuk kebijakan; analisis ekuitas menggunakan concentration index
  • Kompetensi paling kritis: metodologi evaluasi ekonomi dan komunikasi temuan kepada pembuat kebijakan
KONTEKS 4 — ADVOKAT KEBIJAKAN:
  • → Fokus pada: menggunakan data ekonomi kesehatan untuk advokasi; framing argumen dalam bahasa yang relevan untuk pembuat kebijakan; memahami arsitektur global untuk mendorong komitmen internasional
  • Kompetensi paling kritis: komunikasi berbasis bukti dan pemahaman proses kebijakan

KONDISI YANG MEMBUAT ANALISIS EKONOMI EFEKTIF

KONDISI 1 — ADA RUANG DISKUSI YANG TERBUKA:
  • → Analisis ekonomi efektif hanya jika pengambil keputusan bersedia mendengar argumen berbasis data
  • → Dalam kondisi di mana keputusan sudah ditentukan oleh pertimbangan politik sebelum analisis dilakukan: analisis menjadi dekorasi bukan input
  • → Membangun kondisi ini adalah pekerjaan jangka panjang: membangun kepercayaan, kredibilitas, dan hubungan dengan pengambil keputusan sebelum momen kritis
KONDISI 2 — DATA YANG CUKUP DAN DAPAT DIPERCAYA:
  • → Argumen ekonomi yang bergantung pada data yang tidak dapat diverifikasi lebih merusak kredibilitas dari tidak membuat argumen ekonomi sama sekali
  • → Investasi dalam sistem informasi yang menghasilkan data yang dapat dipercaya adalah prasyarat, bukan pilihan
KONDISI 3 — PEMIMPIN YANG MEMILIKI KREDIBILITAS KLINIS DAN EKONOMI:
  • → Dr. Farhan didengarkan oleh Gubernur sebagian karena ia adalah dokter spesialis yang dipercaya secara klinis — yang kemudian berbicara dalam bahasa ekonomi
  • → Subsp.Obginsos yang mengintegrasikan kompetensi klinis dengan kompetensi ekonomi kesehatan memiliki posisi unik: kredibilitas dari dua dunia sekaligus
KONDISI 4 — TIMING YANG TEPAT:
  • → Argumen terbaik yang disampaikan di waktu yang salah tidak akan mengubah keputusan
  • → Memahami siklus APBD dan momen penyusunan RPJMD adalah tentang timing strategis: menyiapkan argumen tepat sebelum jendela keputusan terbuka

C.4. Agenda Pengembangan Diri Berkelanjutan

C.4.1. Dari Kompetensi ke Kapasitas

KOMPETENSI VS. KAPASITAS EKONOMI KESEHATAN

KOMPETENSI:
  • → Memahami konsep: DALY, ICER, kapitasi, equity audit
  • → Dapat melakukan analisis: menghitung unit cost, membuat CEA, mendesain RBP
  • → Dibangun melalui pendidikan formal seperti MK ini
KAPASITAS:
  • → Menerapkan kompetensi secara efektif dalam situasi nyata yang kompleks, dengan data yang tidak sempurna, dalam tekanan waktu dan politik
  • → Dibangun melalui pengalaman, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan
  • → Tidak otomatis dari kompetensi: memerlukan investasi aktif

EMPAT DIMENSI PENGEMBANGAN DIRI

DIMENSI 1 — PRAKTIK ANALITIK YANG BERKELANJUTAN:
  • → Setiap keputusan alokasi yang dibuat adalah kesempatan untuk mempraktikkan ekonomi kesehatan: "apa opportunity cost dari keputusan ini? Apa evidence efektivitasnya? Siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang tidak?"
  • → Jurnal analitik: mendokumentasikan keputusan ekonomi kritis, asumsi yang digunakan, dan apa yang terjadi kemudian
DIMENSI 2 — LITERASI DATA YANG TERUS DIPERBARUI:
  • → Data KR Indonesia berubah: profil epidemiologi, kebijakan JKN, tarif INA-CBGs, sumber donor yang tersedia
  • → Pemimpin yang tidak memperbarui pemahaman datanya akan membuat argumen berbasis data yang sudah tidak relevan
  • → Sumber pembaruan: laporan NHA Indonesia, laporan BPJS tahunan, RPJMN terbaru, update UNFPA dan WHO
DIMENSI 3 — JARINGAN DENGAN EKONOM KESEHATAN:
  • → Subsp.Obginsos yang memiliki jaringan dengan ekonom kesehatan dan peneliti kebijakan memiliki akses ke analisis yang lebih mendalam untuk keputusan yang paling kritis
  • → Forum: Indonesian Health Economics Association (INAHEA), seminar kebijakan kesehatan, jaringan alumni program ini
  • → Kolaborasi: pemimpin KR yang bekerja sama dengan akademisi untuk evaluasi program menghasilkan evidence yang lebih kuat dari yang bekerja sendiri
DIMENSI 4 — BERKONTRIBUSI PADA SISTEM YANG LEBIH BAIK:
  • → Tanggung jawab Subsp.Obginsos melampaui institusi sendiri: mendorong budaya pengambilan keputusan berbasis bukti ekonomi di sistem KR Indonesia yang lebih luas
  • → Tiga kontribusi: menjadi model pemimpin yang menggunakan analisis ekonomi secara jujur; mengajarkan kompetensi ini kepada generasi berikutnya; mengadvokasi perubahan sistemik dalam cara program KR direncanakan dan dievaluasi

PERTANYAAN AKHIR

  • → Dr. Farhan keluar dari ruang Gubernur dua jam kemudian dengan satu kalimat yang ditunggu: "Masukkan dalam RPJMD sebagai program prioritas. Koordinasikan dengan Bappeda untuk plafon anggaran."
  • → Tapi momen itu tidak dimulai di ruang Gubernur — ia dimulai delapan bulan sebelumnya ketika Dr. Farhan duduk berhadapan dengan Kepala Bappeda yang meminta "bahasa ekonomi dalam dua minggu" dan ia memutuskan untuk benar-benar menguasai kompetensi itu
  • → Pertanyaan terakhir yang tidak memiliki jawaban tunggal: dalam sistem KR Indonesia yang kompleks dan sering tidak adil — apa yang akan Anda lakukan dengan kompetensi ini?
D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 10

1

Pertanyaan 1

Dr. Farhan berhasil meyakinkan Gubernur dalam dua puluh menit menggunakan argumen ekonomi yang kuat.

Analisis Menggunakan Sepuluh Modul

Analisis momen ini menggunakan perspektif semua sepuluh modul MK ini: kompetensi mana yang paling menentukan keberhasilan — bukan semua, tapi dua atau tiga yang paling kritis dengan argumen berbasis narasi yang ada?

Risiko Implementasi

Keberhasilan ini rentan jika tidak diikuti implementasi yang solid. Identifikasikan tiga risiko ekonomi yang paling mungkin mengancam keberhasilan program dalam dua tahun pertama — dan bagaimana kompetensi dari modul yang relevan dapat digunakan untuk mengantisipasinya?

Ketidaksempurnaan Aplikasi Nyata

Apa yang TIDAK dilakukan Dr. Farhan dalam momen ini yang seharusnya dilakukan — dan apa yang dapat kita pelajari dari ketidaksempurnaan yang inheren dalam aplikasi nyata kompetensi ekonomi kesehatan?

2

Pertanyaan 2

Bayangkan Anda mulai menjabat bulan depan sebagai Kepala Bidang KIA, Direktur Medis, atau kepala unit KR apapun.

Penilaian Kompetensi Diri

Dari seluruh kompetensi ekonomi kesehatan yang dibangun dalam MK ini, dua mana yang paling kuat dalam diri Anda saat ini dan dua mana yang paling memerlukan pengembangan — berikan evidence dari pengalaman nyata yang mendukung penilaian ini?

Agenda Dua Belas Bulan Pertama

Rancang agenda tindakan dua belas bulan pertama yang menggunakan kompetensi ekonomi kesehatan secara nyata — bukan rencana program, melainkan tindakan spesifik yang mengubah cara keputusan pembiayaan dibuat di unit yang Anda pimpin?

Indikator Keberhasilan Satu Tahun

Satu tahun dari sekarang, tanda-tanda konkret apa yang akan Anda gunakan untuk menilai bahwa kompetensi ekonomi kesehatan Anda telah benar-benar mengubah kualitas keputusan alokasi dalam program KR yang Anda pimpin — bukan hanya bahwa Anda lebih mahir dalam analisis, tapi bahwa analisis tersebut menghasilkan alokasi yang lebih efisien, lebih adil, dan lebih akuntabel?

E

Rangkuman

1

Sepuluh modul MK ini membentuk satu rantai kompetensi yang kohesif yang dimulai dari fondasi mengapa intervensi publik dalam KR justified secara ekonomi, bergerak melalui teknik analisis biaya dan evaluasi, memahami konteks pembiayaan JKN yang mendominasi sistem, menguasai perencanaan dan advokasi anggaran dalam sistem pemerintahan, mengelola scaling up dan ekuitas, memastikan akuntabilitas, hingga memposisikan program dalam arsitektur global; kegagalan di satu mata rantai — paling sering di modul 3 (tidak memahami insentif JKN), modul 4 (tidak masuk siklus perencanaan yang tepat), atau modul 7 (mengabaikan ekuitas) — cukup untuk membuat analisis yang bagus tidak pernah mengubah alokasi nyata

2

Keberhasilan Dr. Farhan di hadapan Gubernur tidak dimulai di ruang Gubernur tetapi delapan bulan sebelumnya ketika ia memutuskan untuk benar-benar menguasai bahasa ekonomi; momen advokasi yang berhasil mengintegrasikan empat elemen sekaligus: dimulai dengan impact bukan input yang menggerakkan pengambil keputusan, angka yang konkret dan dapat diverifikasi yang mencerminkan kejujuran tentang ketidakpastian, framing sebagai investasi bukan pengeluaran yang mengubah posisi program KR, dan dokumen yang ada secara fisik sebagai produk kerja yang dapat dipertanggungjawabkan

3

Penerapan kompetensi ekonomi kesehatan bervariasi berdasarkan peran: Kepala Dinas menggunakan semua kompetensi secara penuh dengan advokasi anggaran dan tata kelola sebagai yang paling kritis, Direktur Medis berfokus pada JKN dan tata kelola klaim, peneliti berfokus pada metodologi evaluasi dan komunikasi temuan, serta advokat kebijakan berfokus pada framing berbasis bukti dan timing strategis; satu hal yang sama untuk semua peran adalah bahwa kompetensi ekonomi kesehatan tidak berdiri sendiri — ia paling kuat saat dikombinasikan dengan kredibilitas klinis yang dibangun melalui bertahun-tahun pelayanan

4

Empat kondisi yang membuat analisis ekonomi efektif dalam mempengaruhi kebijakan KR adalah: ruang diskusi yang terbuka di mana keputusan belum ditentukan sebelum analisis dilakukan, data yang cukup dan dapat dipercaya tanpa mana argumen menjadi bumerang, pemimpin yang memiliki kredibilitas di dua dunia klinis dan ekonomi sekaligus, serta timing yang tepat yang memerlukan pemahaman mendalam tentang siklus keputusan pemerintah; membangun ketiga kondisi pertama adalah pekerjaan jangka panjang yang dimulai jauh sebelum momen advokasi kritis tiba

5

Agenda pengembangan diri yang berkelanjutan bergerak dari kompetensi yang dibangun melalui pendidikan formal menuju kapasitas yang dibangun melalui pengalaman, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan; empat dimensi pengembangan yang tidak dapat ditinggalkan adalah praktik analitik dalam setiap keputusan alokasi nyata, literasi data yang terus diperbarui seiring perubahan kebijakan dan konteks, jaringan dengan ekonom kesehatan dan peneliti kebijakan, serta kontribusi aktif pada budaya pengambilan keputusan berbasis bukti ekonomi dalam sistem KR Indonesia yang lebih luas

F

Referensi

  1. Drummond MF, Sculpher MJ, Claxton K, Stoddart GL, Torrance GW. Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.
  2. Jamison DT, Summers LH, Alleyne G, et al. Global health 2035: a world converging within a generation. The Lancet. 2013;382(9908):1898-1955.
  3. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives. The Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
  4. Savedoff WD, de Ferranti D, Smith AL, Fan V. Political and economic aspects of the transition to universal health coverage. The Lancet. 2012;380(9845):924-932.
  5. Wagstaff A, Doorslaer EV. Equity in health care finance and delivery. In: Handbook of Health Economics. Amsterdam: Elsevier; 2000:1803-1862.
  6. Mills A. Health care systems in low- and middle-income countries. New England Journal of Medicine. 2014;370(6):552-557.
  7. Brownson RC, Fielding JE, Maylahn CM. Evidence-based public health: a fundamental concept for public health practice. Annual Review of Public Health. 2009;30:175-201.
  8. WHO. Positioning Health in the Post-2015 Development Agenda. Geneva: WHO; 2012.
  9. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020–2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
  10. Bappenas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020–2024. Jakarta: Bappenas; 2020.
Minggu ke-10 100 poin

QUIZ 2 — SESI 2 (MINGGU 10)

Mata Kuliah: Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program | Semester 4 | Periode 2 | Sesi 2

Petunjuk Teknis

Jenis Penilaian Quiz Kedua — Sesi 2
Minggu Minggu ke-10
Cakupan Modul 6–10
Jumlah Soal 10 soal pilihan ganda
Bobot per Soal 10 poin
Total Nilai 100 poin
Waktu 30 menit
Sifat Tutup buku, dikerjakan secara individual
SOAL

1. Program ANC pilot di empat kabupaten memiliki unit cost Rp 312.000 per ibu hamil. Saat akan di-scale up ke dua belas kabupaten baru, komponen biaya yang paling mungkin MENINGKAT per unit adalah:

A. Biaya pengembangan materi pelatihan yang sudah dibuat saat pilot

B. Biaya koordinasi dan manajemen program karena heterogenitas lokasi yang lebih besar

C. Biaya sistem informasi yang dibagi lebih banyak kabupaten

D. Biaya pengadaan obat dalam jumlah yang lebih besar karena bulk purchasing

2. Domestic financing roadmap yang dirancang untuk program KR dengan dukungan UNFPA menunjukkan: Tahun 1 (UNFPA 80%, APBD 20%), Tahun 2 (UNFPA 50%, APBD 35%, BOK 15%), Tahun 3 (UNFPA 20%, APBD 50%, BOK 20%, JKN 10%). Prinsip Paris Declaration yang paling langsung diwujudkan oleh roadmap ini adalah:

A. Harmonization antara UNFPA dan pemerintah Indonesia

B. Ownership — pemerintah secara progresif mengambil alih kepemimpinan pembiayaan program

C. Managing for results — fokus pada outcome bukan input

D. Mutual accountability — UNFPA melaporkan kepada pemerintah Indonesia

3. Ibu Selvi datang ANC pertama kali pada usia kehamilan 34 minggu karena harus membayar ojek Rp 50.000 pulang pergi ke Puskesmas setiap kunjungan. Keluarganya berpenghasilan sekitar Rp 700.000 per bulan. Analisis pengeluaran katastrofik yang benar adalah:

A. Rp 50.000 tidak katastrofik karena di bawah threshold Rp 1 juta

B. Rp 50.000 per kunjungan adalah 7% dari pendapatan bulanan — mendekati threshold katastrofik 10% untuk satu kunjungan saja

C. Pengeluaran katastrofik hanya berlaku untuk biaya medis langsung, bukan transportasi

D. Tidak relevan karena Ibu Selvi bisa memilih tidak pergi ke Puskesmas

4. Sebuah analisis benefit incidence menunjukkan bahwa program ANC gratis di Puskesmas lebih banyak dimanfaatkan oleh perempuan dari kuintil pendapatan menengah ke atas dibanding yang termiskin. Penjelasan paling sistemik untuk fenomena ini adalah:

A. Perempuan miskin tidak peduli dengan kesehatan kehamilan mereka

B. Hambatan non-finansial seperti jarak, waktu, dan informasi yang tidak terdistribusi merata memungkinkan yang lebih mampu menikmati lebih banyak subsidi yang secara formal tersedia untuk semua

C. Program ANC di Puskesmas secara eksplisit menargetkan perempuan menengah ke atas

D. Perempuan miskin lebih memilih dukun beranak karena kepercayaan budaya

5. Sebuah program KR dengan dana UNFPA USD 2,3 juta diimplementasikan melalui konsultan internasional sebagai implementing partner. Estimasi bahwa hanya 40% dari total komitmen yang sampai ke fasilitas layanan mencerminkan:

A. Korupsi oleh konsultan internasional yang memanfaatkan uang program

B. Overhead yang normal dan tidak dapat dikurangi dalam implementasi program kesehatan

C. Tingginya biaya intermediasi melalui implementing partners termasuk overhead administrasi donor, honorarium konsultan, lokakarya, dan perjalanan yang mengurangi dana yang langsung mendukung layanan

D. Salah perhitungan oleh konsultan Kenya yang terlalu pesimistis

6. Dalam audit program KIA, Inspektorat menemukan: daftar hadir pelatihan ada tapi tidak ada bukti transfer uang harian ke rekening peserta. Temuan ini paling tepat diklasifikasikan sebagai:

A. Temuan kerugian negara yang memerlukan pengembalian dana segera

B. Temuan administrasi yang dapat diselesaikan dengan melengkapi dokumentasi transfer jika transfer memang terjadi

C. Temuan sistemik yang menunjukkan kelemahan prosedur pengadaan

D. Temuan pidana yang memerlukan pelaporan ke Kejaksaan

7. Seorang Kepala Bidang KIA mengadvokasi program pencegahan fistula obstetri kepada Bappeda. Program ini sangat cost-effective (cost per DALY averted sangat rendah) tapi menjangkau hanya 2.000 perempuan paling rentan di daerah terpencil. Program alternatif adalah peningkatan cakupan ANC universal yang menjangkau 100.000 ibu hamil dengan cost per DALY averted yang lebih tinggi. Ketegangan yang paling tepat menggambarkan dilema ini adalah:

A. Efisiensi teknis vs. efisiensi alokasi

B. Prevention vs. treatment dalam anggaran kesehatan

C. Efisiensi alokasi (program fistula lebih cost-effective per unit) vs. ekuitas populasi (program ANC menjangkau lebih banyak)

D. Short-term vs. long-term investment dalam sistem KR

8. Indonesia semakin diposisikan sebagai lower-middle income country yang akan mengalami pengurangan bantuan donor dalam 5–10 tahun. Implikasi paling strategis untuk program KR daerah adalah:

A. Menolak semua bantuan donor sekarang karena akan menciptakan ketergantungan

B. Memaksimalkan bantuan donor sebanyak mungkin sebelum window opportunity menutup tanpa mempedulikan keberlanjutan

C. Merancang program dengan self-reliance sebagai tujuan eksplisit sejak awal — menggunakan bantuan donor untuk membangun kapasitas domestik, bukan menggantikannya

D. Fokus hanya pada program yang dapat dibiayai APBD saja karena itulah yang paling sustainable

9. Dr. Farhan berhasil meyakinkan Gubernur dengan membuka presentasi menggunakan angka kematian ibu, tahun hidup produktif yang hilang, dan return ekonomi yang diestimasi. Dari perspektif ekonomi kesehatan, komponen yang paling kritis dalam argumen ini yang membuatnya dapat dipertahankan adalah:

A. Angka AKI yang dramatis yang menggerakkan emosi Gubernur

B. Estimasi return ekonomi yang sangat besar sehingga tidak dapat diabaikan

C. Transparansi tentang range estimasi dan asumsi yang digunakan yang membuat angka dapat diverifikasi

D. Dokumen fisik dua belas halaman yang membuat program terlihat serius

10. Dari seluruh kompetensi ekonomi kesehatan dalam MK ini, yang paling mendasar karena tanpanya semua kompetensi lain tidak dapat dibangun di atasnya adalah:

A. Kemampuan melakukan CEA dan CUA yang akurat secara teknis

B. Pemahaman tentang arsitektur pembiayaan global dan cara mengakses donor internasional

C. Pemahaman tentang kegagalan pasar kesehatan yang menjustifikasi intervensi publik dan menyediakan argumen dasar untuk setiap analisis selanjutnya

D. Kemampuan membaca dan menginterpretasikan laporan keuangan program KR

KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN

(Dokumen Dosen — Tidak Didistribusikan kepada Peserta Didik)

Jawaban 1: B

Pembahasan: Saat scaling up ke lebih banyak lokasi dengan karakteristik yang lebih beragam, koordinasi dan manajemen program secara inheren lebih kompleks dan mahal per unit — ini adalah diseconomies of scale dalam koordinasi. A, C, dan D adalah komponen yang justru menunjukkan economies of scale saat skala bertambah: materi pelatihan yang sudah dikembangkan fixed cost-nya sudah tertanggung di pilot dan biaya per unit turun saat dibagi lebih banyak kabupaten; sistem informasi serupa; bulk purchasing obat menghasilkan harga yang lebih murah per unit. Heterogenitas lokasi baru yang berbeda dari pilot adalah penyebab utama diseconomies of scale yang paling sering diabaikan dalam proyeksi biaya scaling up.

Jawaban 2: B

Pembahasan: Roadmap yang menunjukkan proporsi APBD dan JKN yang meningkat sementara UNFPA menurun adalah manifestasi langsung dari prinsip Ownership dalam Paris Declaration — pemerintah Indonesia secara progresif mengambil alih kepemimpinan dan pembiayaan program yang semula didominasi donor. A salah karena harmonization berkaitan dengan koordinasi antar donor, bukan transisi pembiayaan. C tentang managing for results tidak langsung tercermin dalam roadmap pembiayaan. D salah karena mutual accountability adalah tentang akuntabilitas dua arah antara donor dan penerima, bukan tentang siapa yang membayar lebih banyak.

Jawaban 3: B

Pembahasan: Rp 50.000 untuk satu kunjungan ANC dari pendapatan bulanan Rp 700.000 adalah 7,1% — mendekati threshold pengeluaran katastrofik 10% dari total pengeluaran. Untuk ANC sepuluh kontak, total transportasi Rp 500.000 adalah 71% dari pendapatan bulanan — jelas katastrofik. A salah karena threshold katastrofik dihitung sebagai proporsi dari pendapatan, bukan nilai absolut. C salah karena biaya transportasi adalah bagian dari biaya tidak langsung yang sangat relevan dalam analisis perlindungan finansial, khususnya dari perspektif masyarakat. D salah karena pilihan untuk tidak pergi adalah konsekuensi dari pengeluaran katastrofik — bukan argumen bahwa hambatannya tidak nyata.

Jawaban 4: B

Pembahasan: Benefit incidence yang tidak adil dalam program yang secara formal universal terjadi bukan karena diskriminasi eksplisit melainkan karena hambatan non-finansial yang tidak merata: perempuan yang tinggal lebih jauh, yang kurang tahu haknya, yang harus minta izin suami, yang kehilangan pendapatan lebih besar untuk satu kunjungan — semua ini secara sistemik membuat perempuan miskin menggunakan subsidi yang tersedia lebih sedikit. A, C, dan D mengandung asumsi yang tidak berdasar dan tidak sejalan dengan pemahaman sistemik tentang hambatan akses kesehatan.

Jawaban 5: C

Pembahasan: Estimasi bahwa hanya 40% dari komitmen donor sampai ke fasilitas layanan mencerminkan struktur pembiayaan bantuan internasional yang memiliki multiple layers of overhead: administrasi kantor donor pusat (5–15%), biaya konsultan internasional yang sering sangat tinggi (20–40%), lokakarya dan perjalanan yang tidak proporsional (10–20%), dan overhead implementing partner. Ini bukan korupsi (A) melainkan struktur biaya yang inheren dalam mekanisme project aid. B salah karena overhead ini tidak "normal dan tidak dapat dikurangi" — ada pilihan mekanisme yang lebih efisien seperti budget support atau national implementation. D salah karena estimasi konsultan Kenya didukung oleh penelitian yang tersedia.

Jawaban 6: B

Pembahasan: Absennya bukti transfer uang harian adalah masalah dokumentasi — temuan administrasi — bukan otomatis bukti kerugian negara jika transfer memang terjadi tapi dokumennya tidak ada. Langkah pertama adalah merekonstruksi apakah transfer terjadi melalui rekening bank atau bukti lain. Jika transfer terjadi tapi tidak terdokumentasi: temuan administrasi yang diselesaikan dengan melengkapi dokumentasi. Jika transfer tidak terjadi: baru berpotensi menjadi kerugian negara. A, C, dan D mengambil kesimpulan yang terlalu jauh tanpa investigasi lebih lanjut yang merupakan langkah yang benar sebelum mengklasifikasikan.

Jawaban 7: C

Pembahasan: Program fistula obstetri yang sangat cost-effective tapi menjangkau sedikit perempuan vs. program ANC universal yang kurang cost-effective tapi menjangkau jauh lebih banyak adalah contoh klasik ketegangan antara efisiensi alokasi dan ekuitas populasi. Program fistula lebih efisien per DALY averted tapi menjangkau kelompok yang sangat kecil; program ANC kurang efisien per unit tapi manfaatnya lebih merata di populasi yang lebih besar. A salah karena ini bukan tentang teknis vs. alokasi. B mungkin ada dimensinya tapi tidak menangkap ketegangan utama. D tidak tepat karena keduanya adalah investasi, bukan konsumsi vs. investasi.

Jawaban 8: C

Pembahasan: Menghadapi window of opportunity yang menyempit untuk bantuan donor, strategi yang paling tepat adalah menggunakan bantuan donor secara strategis untuk membangun kapasitas domestik — bukan menolak sepenuhnya (A yang mengabaikan sumber daya berharga yang masih tersedia) atau memaksimalkan tanpa memikirkan keberlanjutan (B yang menciptakan aid dependency). D terlalu restriktif dan mengabaikan peran donor dalam membantu transisi. C mengoptimalkan manfaat dari bantuan yang masih tersedia sambil membangun fondasi kemandirian yang sesungguhnya — sesuai dengan prinsip ownership dan alignment Paris Declaration.

Jawaban 9: C

Pembahasan: Yang membuat argumen Dr. Farhan dapat dipertahankan — bukan hanya persuasif di momen itu — adalah transparansi tentang range estimasi (Rp 75–125 miliar, bukan satu angka pasti) dan keterbukaan tentang asumsi yang digunakan. Ini mencerminkan prinsip dari Modul 5: analisis yang jujur tentang ketidakpastian lebih kredibel jangka panjang dari analisis yang terlihat terlalu pasti. A benar bahwa angka dramatis menggerakkan perhatian tapi bukan yang membuat argumen dapat dipertahankan. B tentang besarnya return mungkin persuasif tapi tanpa transparansi asumsi tidak dapat dipertahankan di hadapan scrutiny lebih lanjut. D adalah faktor pendukung tapi bukan yang paling kritis.

Jawaban 10: C

Pembahasan: Pemahaman tentang kegagalan pasar kesehatan adalah fondasi yang menjustifikasi mengapa pemerintah harus mengintervensi di sektor kesehatan — tanpa ini, semua argumen tentang investasi publik dalam KR tidak memiliki landasan teoritis yang dapat dipertahankan. Ini adalah Modul 1 yang secara eksplisit diposisikan sebagai fondasi rantai kompetensi seluruh MK. A adalah kompetensi teknis yang penting tapi bersifat instrumental. B adalah kompetensi strategis yang berharga tapi bukan yang paling mendasar. D adalah kompetensi operasional yang diperlukan untuk tata kelola tapi bukan fondasi dari seluruh kerangka analisis.

Minggu ke-11 Bobot 30%

EXAMINATION — MINGGU 11

Mata Kuliah: Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program (4 SKS) | Semester 4 | Periode 2

Petunjuk Teknis

Jenis Penilaian Ujian Akhir Mata Kuliah
Minggu Minggu ke-11
Cakupan Modul 1–10 (keseluruhan MK18)
Bobot 30% dari nilai akhir mata kuliah
Waktu 180 menit (3 jam)
Sifat Open notes — catatan dan ringkasan boleh dibawa; internet dan komunikasi dengan peserta lain tidak diperbolehkan
Format Tiga soal esai analitik — semua wajib dikerjakan
Panjang jawaban Soal 1: 600–800 kata; Soal 2: 700–900 kata; Soal 3: 800–1.000 kata
Petunjuk Menjawab:
  • • Jawaban dinilai berdasarkan kualitas analisis, koherensi argumen, dan ketepatan penggunaan kerangka konseptual
  • • Penggunaan data dan contoh konkret dari pengalaman kerja sangat didorong
  • • Kutip kerangka konseptual yang relevan secara eksplisit tanpa perlu referensi formal
SOAL 1 — Analisis Pembiayaan JKN dan Insentif (30 poin)
Skenario:

Anda baru dilantik sebagai Kepala Bidang KIA Dinkes Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara. Data yang Anda terima:

  • • AKI: 287/100.000 KH — di atas rata-rata provinsi 198
  • • SC rate di RSUD: 44% — jauh di atas standar WHO 15–19%
  • • Rata-rata kontak ANC per ibu hamil: 3,8 dari standar 10 kontak
  • • Coverage JKN: 71% — termasuk PBI 48% dan non-PBI 23%
  • • Satu dokter spesialis ObGyn berkontribusi 58% dari seluruh SC
  • • Dana BOK Puskesmas: terealisasi 89% tapi laporan kinerja ANC hanya menunjukkan 38% kontak ANC sesuai standar

(a)

Gunakan analisis insentif JKN untuk menjelaskan dua dari tiga anomali ini secara sistematis: SC rate 44%, rata-rata kontak ANC 3,8, dan realisasi BOK 89% dengan kualitas ANC hanya 38%. Untuk setiap anomali yang dipilih, jelaskan mekanisme ekonomi spesifik dari sistem pembayaran yang mendorong perilaku ini — bukan kegagalan individual.

(b)

Gap perlindungan JKN mana yang paling signifikan untuk perempuan hamil di Kolaka Timur berdasarkan data yang tersedia? Gunakan tiga kategori gap (coverage, benefit, access) dan estimasikan dampak terhadap akses layanan KR untuk perempuan yang paling rentan.

(c)

Rancang dua intervensi reformasi insentif yang realistis untuk diterapkan dalam 12 bulan pertama jabatan — satu untuk mengatasi SC rate yang tidak berindikasi dan satu untuk meningkatkan kualitas ANC. Setiap intervensi harus: spesifik tentang mekanisme insentif yang diubah, realistis dalam kewenangan Kepala Bidang KIA kabupaten, dan disertai satu indikator yang menunjukkan apakah reformasi berhasil.

SOAL 2 — Evaluasi Ekonomi dan Pengambilan Keputusan (35 poin)
Skenario:

Kepala Dinas meminta Anda menganalisis dua program yang sedang berjalan untuk memutuskan mana yang diprioritaskan dalam pemangkasan anggaran 25%:

Program A — Kelas Ibu Hamil:

  • • Anggaran: Rp 3,2 miliar/tahun
  • • Menjangkau: 28.000 ibu hamil di 42 kecamatan
  • • Data kinerja: cakupan kelas meningkat dari 31% ke 67% dalam dua tahun
  • • Evaluasi: before-after design, tidak ada kelompok kontrol
  • • Catatan kepala Puskesmas: "ibu yang ikut kelas lebih patuh ANC dan lebih siap menghadapi persalinan"

Program B — Bidan Desa Terpencil:

  • • Anggaran: Rp 7,8 miliar/tahun untuk 65 bidan di daerah terpencil
  • • Menjangkau: 18.000 ibu hamil di 65 desa terpencil
  • • Data kinerja: di desa dengan bidan: ANC K4 74%, persalinan di faskes 68%. Di desa tanpa bidan: ANC K4 31%, persalinan di faskes 29%
  • • Evaluasi: perbandingan cross-sectional antar desa — desa dengan bidan vs. tanpa bidan
  • • Unit cost: Rp 433.000 per ibu vs. Rp 114.000 di Program A

(a)

Lakukan analisis cost-effectiveness komparatif sederhana untuk kedua program menggunakan data yang tersedia. Untuk setiap program, hitat unit cost per ibu hamil dan identifikasikan keterbatasan metodologis evaluasi yang ada yang mempengaruhi kepercayaan terhadap estimasi efektivitasnya.

(b)

Dari perspektif ekuitas, analisis distribusional dari kedua program ini: program mana yang lebih menjangkau perempuan yang paling membutuhkan, dan bagaimana pertimbangan ekuitas ini harus ditimbang dalam keputusan pemangkasan anggaran?

(c)

Kepala Dinas meminta rekomendasi final Anda. Berikan rekomendasi yang mencakup: mana yang diprioritaskan dipertahankan dan mengapa, bagaimana pemangkasan 25% diimplementasikan pada program yang dikurangi tanpa mengorbankan populasi paling rentan, dan apa yang perlu diinvestasikan segera untuk memperkuat basis evidence agar keputusan serupa di masa depan dapat dibuat dengan lebih solid.

SOAL 3 — Strategi Pembiayaan dan Sintesis (35 poin)
Skenario:

Tiga hal terjadi bersamaan dalam satu bulan:

  1. 1. WHO menerbitkan studi baru yang menunjukkan bahwa program community midwifery outreach dengan design yang mirip Program B di atas memiliki cost per DALY averted Rp 48 juta — jauh di bawah threshold cost-effective untuk Indonesia
  2. 2. USAID-MOMENTUM menawarkan dana USD 1,8 juta untuk tiga tahun untuk program scaling up bidan desa ke 40 desa tambahan — dengan syarat menggunakan implementing partner NGO internasional yang mengambil overhead 35% dari total dana
  3. 3. Inspektorat menemukan bahwa dalam Program B tahun lalu, tiga dari 65 bidan yang terdaftar dalam sistem tidak dapat ditemukan saat spot check — mereka ada di daftar gaji tapi tidak bertugas di desa yang ditetapkan

(a)

Studi WHO yang baru memperkuat argumen untuk Program B. Tapi sebelum menggunakan temuan ini untuk advokasi, evaluasi kualitas evidence secara kritis: apa yang harus Anda ketahui tentang konteks studi tersebut sebelum mengklaimnya relevan untuk Kolaka Timur? Gunakan kerangka evaluasi evidence dari Modul 5.

(b)

Tawaran USAID-MOMENTUM menghadirkan dilema. Lakukan analisis yang mencakup: berapa "effective aid" yang sampai ke program jika overhead 35% diambil NGO, apakah ini sesuai dengan prinsip Paris Declaration, dan apa syarat negosiasi konkret yang harus Anda ajukan kepada USAID sebelum menerima tawaran ini untuk memastikan keberlanjutan setelah tiga tahun?

(c)

Temuan Inspektorat adalah krisis tata kelola yang terjadi di tengah upaya advokasi scaling up. Bagaimana Anda mengelola ketiga hal ini secara bersamaan — temuan audit yang mengancam kredibilitas program, tawaran donor yang memerlukan respons segera, dan studi baru yang mendukung program — sebagai pemimpin KR yang harus jujur, strategis, dan tetap berfokus pada kesehatan perempuan yang paling membutuhkan? Rancang langkah-langkah konkret dalam 60 hari ke depan.

RUBRIK PENILAIAN EXAMINATION

Soal Komponen Bobot
Soal 1 (30 poin) (a) Ketajaman analisis insentif JKN untuk dua anomali yang dipilih 12 poin
(b) Kualitas analisis tiga kategori gap JKN dan dampak distribusional 10 poin
(c) Spesifisitas dan realisme dua intervensi reformasi insentif 8 poin
Soal 2 (35 poin) (a) Kualitas analisis CEA komparatif dan kejujuran tentang keterbatasan metodologis 12 poin
(b) Kedalaman analisis distribusional ekuitas dan cara menimbangnya dalam keputusan 11 poin
(c) Soliditas rekomendasi final termasuk cara pemangkasan yang melindungi populasi rentan 12 poin
Soal 3 (35 poin) (a) Kualitas evaluasi kritis evidence WHO sebelum diklaim relevan 11 poin
(b) Ketajaman analisis effective aid dan kualitas syarat negosiasi USAID 12 poin
(c) Kematangan manajemen tiga krisis bersamaan — kejujuran, strategi, dan fokus pada pasien 12 poin

Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial