Semester 4 Periode 2 4 SKS Sesi 1

Analisis Biaya dan Cost-Effectiveness dalam Program KR

MK Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program — Modul 2

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Minggu ketiga. Ruang kerja Dr. Farhan. Pukul 20.30.

Di mejanya: tiga dokumen yang harus ia selesaikan sebelum Jumat.

Dokumen pertama: proposal teknis program ANC Plus — paket ANC sepuluh kontak dengan pemeriksaan laboratorium lengkap dan konseling gizi intensif — yang diajukan oleh tim KIA kepada Kemenkes untuk mendapat dana DAK. Perkiraan biaya: Rp 285.000 per ibu hamil per paket.

Dokumen kedua: evaluasi program serupa yang sudah berjalan dua tahun di Provinsi Sulawesi Selatan. Data menunjukkan cakupan ANC meningkat dari 67% menjadi 81%, tapi tidak ada data tentang perubahan AKI.

Dokumen ketiga: memo dari Kepala Dinas yang mempertanyakan apakah Rp 285.000 per ibu hamil ini "worth it" dibandingkan dengan menggunakan anggaran yang sama untuk memperluas jampersal ke lebih banyak kabupaten.

Dr. Farhan membuka kalkulator di laptopnya. Lalu menutupnya.

Kalkulator tidak cukup untuk menjawab pertanyaan ini. Yang dibutuhkan adalah metodologi analisis biaya yang benar — dan kemampuan menginterpretasikan hasilnya dengan jujur, termasuk ketidakpastiannya.

Ia membuka dokumen baru dan mengetik satu kalimat: Pertanyaan yang harus dijawab: apakah program ANC Plus cost-effective dibandingkan dengan alternatif terbaik yang tersedia untuk anggaran yang sama?

Untuk menjawab ini, saya perlu memahami biaya yang sesungguhnya, bukan hanya biaya yang terlihat.

Analisis biaya dan cost-effectiveness adalah kompetensi teknis yang paling sering diperlukan oleh pemimpin KR dalam advokasi anggaran, desain program, dan evaluasi investasi. Ia bukan hanya tentang menghitung angka — melainkan tentang memahami jenis biaya yang relevan, cara mengukurnya dengan benar, cara membandingkan program yang menghasilkan outcome yang berbeda, dan cara mengkomunikasikan hasil analisis beserta ketidakpastiannya kepada pengambil keputusan yang tidak memiliki latar belakang teknis ekonomi kesehatan.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan jenis-jenis biaya yang relevan dalam analisis program KR

  2. 2

    Melakukan analisis biaya sederhana untuk program KR menggunakan pendekatan yang tepat

  3. 3

    Menjelaskan perbedaan antara Cost-Effectiveness Analysis, Cost-Utility Analysis, dan Cost-Benefit Analysis

  4. 4

    Menginterpretasikan hasil analisis cost-effectiveness secara kritis termasuk keterbatasannya

  5. 5

    Menggunakan hasil analisis biaya untuk mendukung keputusan alokasi sumber daya dalam program KR

C

Materi Inti

C.1. Klasifikasi Biaya dalam Program KR

C.1.1. Melampaui Biaya yang Terlihat

MENGAPA KLASIFIKASI BIAYA PENTING

→ Program KR yang terlihat murah di atas kertas sering menjadi mahal dalam implementasi karena biaya tersembunyi tidak diperhitungkan

→ Sebaliknya: program yang terlihat mahal mungkin jauh lebih cost-effective dari yang murah jika biaya total diperhitungkan dengan benar

→ Keputusan alokasi anggaran yang didasarkan pada biaya yang tidak lengkap adalah keputusan yang tidak dapat dipertahankan secara ekonomi

KLASIFIKASI 1 — BERDASARKAN PERSPEKTIF

PERSPEKTIF SISTEM KESEHATAN:
  • → Hanya biaya yang ditanggung oleh sistem kesehatan: gaji staf, obat, peralatan, infrastruktur, overhead administrasi
  • → Paling umum digunakan dalam analisis program pemerintah
  • → Keterbatasan: mengabaikan biaya yang ditanggung pasien dan keluarga
PERSPEKTIF PENYEDIA:
  • → Biaya yang ditanggung fasilitas kesehatan secara spesifik: biaya operasional Puskesmas atau RSUD untuk program tertentu
  • → Berguna untuk: tarif, reimbursement, perencanaan anggaran fasilitas
PERSPEKTIF PASIEN DAN KELUARGA:
  • Biaya langsung non-medis: transportasi, penginapan, makanan selama perawatan
  • Biaya tidak langsung: pendapatan yang hilang karena tidak bekerja selama sakit atau menemani pasien
  • Sangat relevan untuk program KR yang menargetkan perempuan miskin: biaya transportasi ke Puskesmas mungkin menjadi hambatan akses yang lebih besar dari biaya medis itu sendiri
PERSPEKTIF MASYARAKAT (SOCIETAL PERSPECTIVE):
  • Semua biaya terlepas dari siapa yang menanggung: sistem kesehatan + pasien + keluarga + pemberi kerja + masyarakat
  • Paling komprehensif dan paling relevan untuk keputusan kebijakan publik
  • → Paling sulit diukur karena memerlukan data dari berbagai sumber

KLASIFIKASI 2 — BERDASARKAN SIFAT

BIAYA LANGSUNG MEDIS:
  • → Obat dan bahan habis pakai
  • → Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
  • → Jasa pelayanan tenaga kesehatan
  • → Biaya rawat inap
  • → Peralatan medis (dihitung sebagai biaya tahunan melalui depresiasi)
BIAYA LANGSUNG NON-MEDIS:
  • → Transportasi pasien ke fasilitas
  • → Penginapan pendamping
  • → Makanan selama rawat inap (di luar yang disediakan fasilitas)
  • Untuk KR di daerah terpencil: biaya transportasi sering melebihi biaya medis langsung
BIAYA TIDAK LANGSUNG:
  • → Kehilangan produktivitas karena sakit: pendapatan yang tidak diperoleh selama tidak bekerja
  • → Kehilangan produktivitas caregiver: pendamping yang tidak bekerja untuk merawat pasien
  • → Untuk kematian ibu: kehilangan produktivitas seumur hidup (human capital approach)
BIAYA INTANGIBLE:
  • → Nyeri, penderitaan, penurunan kualitas hidup yang tidak dapat diukur langsung dalam satuan uang
  • → Diakui dalam Cost-Utility Analysis melalui utility weights

KLASIFIKASI 3 — FIXED VS. VARIABLE

BIAYA TETAP (FIXED COSTS):

Tidak berubah dengan volume output dalam jangka pendek

  • → Contoh KR: gaji staf tetap, depresiasi gedung dan peralatan, biaya listrik minimum
  • Implikasi: program yang sudah memiliki infrastruktur yang ada (fixed costs sudah terbayar) memiliki incremental cost yang jauh lebih rendah untuk menambah layanan
BIAYA VARIABEL (VARIABLE COSTS):

Berubah proporsional dengan volume output

  • → Contoh KR: obat per pasien, bahan habis pakai per pemeriksaan, reagen laboratorium per sampel
  • Biaya per unit output yang relevan untuk keputusan marginal: apakah kita menambah satu pasien lagi?
AVERAGE COST VS. MARGINAL COST:
  • Average cost: total biaya dibagi total output
  • Marginal cost: tambahan biaya untuk menghasilkan satu unit output tambahan
  • Untuk keputusan ekspansi program: marginal cost lebih relevan dari average cost
  • Contoh: program ANC di Puskesmas yang sudah ada — marginal cost untuk menambah satu ibu hamil lagi hanya biaya variable; fixed cost sudah tertanggung

C.2. Metode Analisis Ekonomi Program KR

C.2.1. Tiga Pendekatan Utama dan Kapan Menggunakannya

COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS (CEA)

DEFINISI:
  • → Membandingkan biaya program dengan outcome klinis yang diukur dalam unit natural: kematian dicegah, kasus terdeteksi, ANC contact yang diberikan
  • → Hasil: Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) = perbedaan biaya / perbedaan efektivitas
  • → Interpretasi ICER: berapa biaya tambahan untuk mendapatkan satu unit outcome tambahan dibandingkan dengan alternatif
CONTOH DALAM KR:

Program A (ANC standar): biaya Rp 150.000 per ibu, cakupan ANC K4 65%

Program B (ANC Plus): biaya Rp 285.000 per ibu, cakupan ANC K4 81%

ICER = (285.000 - 150.000) / (0,81 - 0,65) = 135.000 / 0,16 = Rp 843.750 per persentase poin peningkatan cakupan ANC

Pertanyaan: apakah Rp 843.750 per persentase poin peningkatan cakupan yang worth it? — tidak dapat dijawab tanpa threshold atau alternatif pembanding

KETERBATASAN CEA:
  • → Tidak dapat membandingkan program dengan outcome yang berbeda: tidak bisa membandingkan program ANC dengan program imunisasi menggunakan CEA dengan outcome yang berbeda
  • → Tidak memperhitungkan kualitas hidup: dua program yang sama-sama mencegah satu kematian dianggap setara meskipun satu menghasilkan survivor yang disabilitas berat

COST-UTILITY ANALYSIS (CUA)

DEFINISI:
  • → Membandingkan biaya dengan outcome yang diukur dalam QALY (Quality-Adjusted Life Years) atau DALY averted
  • → Memungkinkan perbandingan antar program yang berbeda domain outcome-nya
  • → Hasil: Cost per QALY gained atau Cost per DALY averted
QALY VS. DALY:

QALY:

mengukur manfaat intervensi — tahun hidup yang didapat dan kualitasnya (0 = kematian, 1 = hidup sehat sempurna)

DALY:

mengukur beban penyakit yang dicegah — semakin banyak DALY averted, semakin besar manfaat program

Dalam praktik: Cost per DALY averted lebih umum digunakan di negara berkembang karena data DALY lebih tersedia dari data QALY

THRESHOLD COST-EFFECTIVENESS:

Berapa cost per DALY averted yang "dapat diterima"?

WHO threshold yang pernah digunakan (sudah banyak dikritik tapi masih sering dipakai sebagai referensi):

< 1x GDP per kapita: highly cost-effective

1-3x GDP per kapita: cost-effective

> 3x GDP per kapita: tidak cost-effective

GDP per kapita Indonesia 2024: sekitar USD 4.900 atau Rp 75 juta

Implikasi: program KR dengan cost per DALY averted di bawah Rp 75 juta adalah highly cost-effective dalam konteks Indonesia

COST-BENEFIT ANALYSIS (CBA)

DEFINISI:
  • → Mengkonversikan semua biaya dan manfaat ke dalam satuan uang — memungkinkan pernyataan Net Present Value (NPV) atau Benefit-Cost Ratio
  • → Manfaat kesehatan dimoneterisasi: kehilangan produktivitas yang dicegah, penghematan biaya pengobatan masa depan, nilai statistikal kehidupan
  • → Hasil: apakah manfaat program melebihi biayanya dalam satuan uang yang sama?
KEKUATAN CBA:
  • → Dapat membandingkan program kesehatan dengan investasi di sektor lain (infrastruktur, pendidikan) — relevan untuk alokasi anggaran lintas sektor di Bappeda
  • → Jawaban yang intuitif bagi pengambil keputusan: "untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan, program ini menghasilkan manfaat senilai Rp 4,2"
KETERBATASAN CBA:
  • → Monetisasi kehidupan manusia adalah isu etis yang kompleks
  • → Metode nilai statistikal kehidupan yang berbeda menghasilkan angka yang sangat berbeda
  • → Distribusional: CBA cenderung menguntungkan program untuk kelompok berpendapatan tinggi karena "nilai" produktivitas mereka lebih tinggi

MEMILIH METODE YANG TEPAT

GUNAKAN CEA JIKA:
  • → Membandingkan program dalam domain yang sama (semua program KR) dengan outcome yang dapat diukur dalam unit natural yang sama
  • → Audiens yang familiar dengan outcome klinis dan dapat menilai nilai dari unit outcome
GUNAKAN CUA JIKA:
  • → Perlu membandingkan program di berbagai domain penyakit atau intervensi
  • → Kualitas hidup adalah outcome penting yang perlu diperhitungkan
  • → Audiens yang familiar dengan konsep DALY atau QALY
GUNAKAN CBA JIKA:
  • → Perlu membandingkan dengan investasi non-kesehatan
  • → Pengambil keputusan Bappeda atau Kementerian Keuangan yang memerlukan argumen dalam satuan uang
  • → Ada data yang cukup untuk monetisasi yang defensible

C.3. Melakukan Analisis Biaya yang Benar

C.3.1. Dari Konsep ke Praktik

LANGKAH-LANGKAH ANALISIS BIAYA PROGRAM KR

LANGKAH 1 — DEFINISIKAN PERSPEKTIF DAN RUANG LINGKUP:
  • → Dari perspektif siapa analisis dilakukan?
  • → Biaya apa saja yang masuk dalam ruang lingkup?
  • → Periode waktu yang dianalisis?
  • Keputusan ini menentukan semua langkah berikutnya dan harus dinyatakan secara eksplisit dalam laporan
LANGKAH 2 — IDENTIFIKASIKAN SEMUA INPUT:
  • → Buat daftar komprehensif semua sumber daya yang digunakan program: SDM, obat, peralatan, infrastruktur, overhead, transportasi, pelatihan
  • → Jangan melewatkan input yang "tidak dibayar": waktu sukarela, infrastruktur yang dipinjam, overhead yang dibagi dengan program lain
  • → Shared costs: jika satu staf menjalankan beberapa program, biaya SDM harus dialokasikan secara proporsional
LANGKAH 3 — UKUR KUANTITAS INPUT:
  • → Berapa unit dari setiap input yang digunakan?
  • → Data sumber: laporan keuangan, log aktivitas, wawancara staf, observasi langsung
  • → Untuk SDM: persentase waktu yang digunakan untuk program ini × gaji total (termasuk tunjangan dan benefit)
LANGKAH 4 — VALUASI INPUT:
  • → Berapa harga setiap unit input?
  • → Gunakan harga pasar jika tersedia: harga obat, tarif laboratorium
  • → Untuk SDM: gaji termasuk semua benefit dan overhead
  • → Untuk infrastruktur: biaya depresiasi atau biaya oportunitas (berapa yang bisa didapat jika ruangan disewakan)
  • → Untuk input yang tidak punya harga pasar jelas: gunakan shadow pricing atau willingness-to-pay
LANGKAH 5 — HITUNG TOTAL DAN UNIT COSTS:
  • Total cost = Σ (kuantitas × harga) untuk semua input
  • Unit cost = total cost / jumlah unit output
  • → Output yang tepat tergantung pada pertanyaan analisis:
    • • Cost per ibu hamil yang dilayani
    • • Cost per ANC contact
    • • Cost per kematian ibu dicegah
    • • Cost per DALY averted
LANGKAH 6 — ANALISIS SENSITIVITAS:
  • → Asumsi mana yang paling mempengaruhi hasil?
  • → Jika asumsi itu berubah dalam rentang yang realistis, bagaimana hasilnya berubah?
  • → Analisis sensitivitas yang jujur menunjukkan robustness kesimpulan dan area ketidakpastian yang penting untuk pengambil keputusan
  • "Hasil analisis ini robust terhadap variasi dalam asumsi biaya SDM ±20%, tapi sangat sensitif terhadap asumsi efektivitas program — jika cakupan aktual 10% lebih rendah dari target, ICER naik 50%"

KESALAHAN UMUM DALAM ANALISIS BIAYA KR

KESALAHAN 1 — HANYA MENGHITUNG BIAYA VARIABEL:
  • → Mengabaikan biaya tetap yang sudah ada: gaji staf tetap, overhead gedung
  • → Menghasilkan underestimasi biaya program baru yang terlihat murah tapi memerlukan infrastruktur yang mahal
KESALAHAN 2 — MENGABAIKAN BIAYA PASIEN:
  • → Program yang "gratis" dari perspektif sistem kesehatan masih memiliki biaya tinggi bagi pasien: transportasi, waktu yang hilang, penginapan
  • → Analisis yang mengabaikan biaya pasien tidak dapat menjelaskan mengapa program gratis masih tidak digunakan oleh perempuan yang paling membutuhkan
KESALAHAN 3 — CONFUSION ANTARA BIAYA DAN ANGGARAN:
  • Anggaran: jumlah uang yang dialokasikan
  • Biaya aktual: sumber daya yang benar-benar digunakan
  • → Keduanya bisa sangat berbeda: anggaran yang tidak terserap bukan berarti program murah; anggaran yang terserap habis bukan berarti semua biaya sudah diperhitungkan
KESALAHAN 4 — MENGABAIKAN TIME VALUE OF MONEY:
  • → Biaya yang terjadi sekarang tidak sama nilainya dengan biaya yang sama di masa depan
  • Discounting: mengkonversikan biaya dan manfaat masa depan ke nilai sekarang menggunakan discount rate (biasanya 3-5% untuk analisis kesehatan)
  • → Penting untuk program jangka panjang: investasi infrastruktur yang mahal sekarang untuk manfaat selama 20 tahun

C.4. Menginterpretasikan dan Mengkomunikasikan Hasil

C.4.1. Kejujuran tentang Ketidakpastian

INCREMENTAL COST-EFFECTIVENESS RATIO (ICER) — INTERPRETASI YANG BENAR

  • → ICER bukan angka mutlak yang "benar" atau "salah" — ia adalah perbandingan relatif yang bermakna hanya jika ada threshold atau alternatif pembanding yang jelas
  • → ICER yang sama dapat menghasilkan keputusan berbeda tergantung:
    • • Berapa threshold yang digunakan
    • • Apa alternatif terbaik yang tersedia
    • • Apakah ada pertimbangan ekuitas yang mengesampingkan efisiensi

COST-EFFECTIVENESS PLANE — ALAT VISUALISASI

KUADRAN I (KANAN ATAS):

Lebih mahal DAN lebih efektif

Perlu threshold: apakah tambahan efektivitas worth tambahan biaya?

Di sini ANC Plus vs. ANC standar

KUADRAN II (KANAN BAWAH):

Lebih murah DAN lebih efektif

DOMINANT: selalu pilih alternatif ini

Jarang dalam praktik tapi ada: program yang lebih sederhana kadang lebih efektif dari yang kompleks

KUADRAN III (KIRI BAWAH):

Lebih murah DAN kurang efektif

Perlu threshold: apakah penghematan biaya worth kehilangan efektivitas?

KUADRAN IV (KIRI ATAS):

Lebih mahal DAN kurang efektif

DOMINATED: jangan pilih alternatif ini kecuali ada pertimbangan non-ekonomi yang sangat kuat

MENGKOMUNIKASIKAN HASIL KEPADA NON-EKONOM

KEPADA PENGAMBIL KEPUTUSAN ANGGARAN (BAPPEDA):
  • → Mulai dengan pertanyaan kebijakan, bukan metodologi
  • "Program ANC Plus memerlukan tambahan investasi Rp X per ibu hamil dibandingkan program standar. Untuk investasi ini, kita mendapatkan peningkatan cakupan sebesar Y persen poin yang diproyeksikan mencegah Z kematian ibu per tahun."

  • → Sertakan rangkuman ketidakpastian: "angka ini bergantung pada asumsi efektivitas yang masih memerlukan validasi dari data lokal"
KEPADA MANAJER PROGRAM:
  • → Fokus pada implikasi operasional: biaya komponen mana yang paling besar dan paling dapat dikurangi tanpa mengorbankan efektivitas?
  • → Unit cost per layanan sebagai benchmark kinerja: apakah kita lebih mahal atau lebih murah dari fasilitas sejenis?
KEPADA PEMBUAT KEBIJAKAN KLINIS:
  • → Hubungkan ke outcome klinis yang familiar: berapa kematian ibu yang dapat dicegah dengan anggaran ini?
  • "untuk setiap dua puluh ibu hamil tambahan yang kita jangkau dengan program Plus, kita mencegah satu kematian ibu"

KASUS DR. FARHAN — MENJAWAB PERTANYAAN KEPALA DINAS

PERTANYAAN: Apakah ANC Plus worth it dibandingkan memperluas jampersal?

Kerangka jawaban:

Identifikasikan dengan jelas: ini bukan pertanyaan teknis semata — ini adalah pertanyaan tentang prioritas dalam konteks keterbatasan anggaran

Langkah 1:

hitung cost per outcome yang dapat dibandingkan untuk kedua program (bukan hanya cost per ibu hamil, tapi cost per kematian ibu dicegah atau cost per DALY averted)

Langkah 2:

identifikasikan populasi target yang berbeda: ANC Plus menyasar kualitas pelayanan bagi semua ibu; jampersal menyasar akses keuangan bagi yang tidak terlindungi JKN

Langkah 3:

analisis apakah ini benar-benar trade-off atau apakah keduanya dapat berjalan bersama dengan desain program yang tepat

Jawaban jujur:

"kita memerlukan data lokal yang lebih baik untuk membuat perbandingan yang defensible, tapi berdasarkan evidence yang tersedia, ini adalah estimasi terbaik kita dan ini yang perlu dikonfirmasi"

D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 2

1

Pertanyaan 1

Dr. Farhan memiliki data berikut: Program ANC standar — biaya Rp 150.000 per ibu hamil, cakupan ANC K4 65%. Program ANC Plus — biaya Rp 285.000 per ibu hamil, cakupan ANC K4 81%. Ia ingin mempresentasikan analisis cost-effectiveness kepada Kepala Dinas.

Hitung ICER

Hitung ICER Program ANC Plus vs. ANC standar dan interpretasikan hasilnya — apakah angka ICER yang Anda dapatkan cukup untuk membuat keputusan? Apa yang masih kurang?

Perbandingan Anggaran

Kepala Dinas bertanya: "Kalau kita gunakan anggaran yang sama, lebih baik ANC Plus untuk seratus ribu ibu, atau ANC standar untuk dua ratus ribu ibu?" Bagaimana Dr. Farhan menjawab pertanyaan ini menggunakan kerangka analisis biaya yang benar?

Biaya Tersembunyi

Identifikasikan tiga biaya yang kemungkinan tidak masuk dalam perhitungan Rp 285.000 per ibu hamil — dan bagaimana memasukkannya mengubah kesimpulan analisis?

2

Pertanyaan 2

Anda diminta mengevaluasi tiga program KR yang sedang berjalan di provinsi Anda untuk memutuskan mana yang diprioritaskan dalam pemangkasan anggaran 20%:

(1) Program kelas ibu hamil — biaya Rp 2,8 miliar/tahun, menjangkau 40.000 ibu, evidence efektivitas sedang

(2) Program bidan desa — biaya Rp 8,5 miliar/tahun, menjangkau 120.000 ibu di daerah terpencil, evidence efektivitas kuat tapi mahal per kontak

(3) Program telemedicine konsultasi obstetri — biaya Rp 1,2 miliar/tahun, menjangkau 8.000 ibu risiko tinggi, evidence efektivitas sangat kuat untuk populasi tertentu

Metode Analisis

Metode analisis ekonomi mana yang paling tepat untuk membandingkan ketiga program ini — CEA, CUA, atau CBA — dan mengapa?

Pertimbangan Non-Ekonomi

Selain efisiensi, pertimbangan apa lagi yang harus masuk dalam keputusan pemangkasan anggaran untuk program KR — dan bagaimana pertimbangan tersebut dapat mengubah urutan prioritas yang dihasilkan oleh analisis ekonomi murni?

Rekomendasi Pemangkasan

Jika terpaksa harus memilih satu program untuk dipangkas 50%, mana yang akan Anda rekomendasikan dan dengan argumen apa — ekonomis maupun non-ekonomis?

E

Rangkuman

1

Klasifikasi biaya yang tepat adalah prasyarat analisis yang valid: biaya harus diklasifikasikan berdasarkan perspektif analisis — sistem kesehatan, penyedia, pasien, atau masyarakat — karena pilihan perspektif menentukan biaya apa yang masuk hitungan; berdasarkan sifatnya — langsung medis, langsung non-medis, tidak langsung, dan intangible; serta berdasarkan perilakunya terhadap volume output — fixed dan variable; program KR yang terlihat murah dari perspektif sistem kesehatan sering memiliki biaya total yang jauh lebih tinggi jika biaya transportasi, waktu, dan produktivitas pasien diperhitungkan

2

Tiga metode analisis ekonomi program kesehatan melayani pertanyaan yang berbeda dan dipilih berdasarkan konteks: CEA membandingkan biaya dengan outcome klinis dalam unit natural dan tepat untuk membandingkan program dalam domain yang sama; CUA menggunakan DALY atau QALY sebagai unit outcome sehingga memungkinkan perbandingan lintas program berbeda domain; CBA mengkonversikan semua biaya dan manfaat ke satuan uang sehingga dapat dibandingkan dengan investasi non-kesehatan; pemimpin KR yang memahami ketiga metode dan keterbatasannya dapat memilih yang tepat untuk audiens dan pertanyaan kebijakan yang dihadapi

3

Analisis biaya yang benar mengikuti enam langkah yang tidak dapat dilompati: mendefinisikan perspektif dan ruang lingkup, mengidentifikasikan semua input termasuk yang tidak dibayar, mengukur kuantitas input, memvaluasi input pada harga yang sesuai, menghitung total dan unit costs, dan melakukan analisis sensitivitas yang jujur tentang asumsi mana yang paling mempengaruhi hasil; empat kesalahan paling umum yang menghasilkan analisis yang tidak valid adalah hanya menghitung biaya variabel, mengabaikan biaya pasien, mengkonfusikan biaya dengan anggaran, dan mengabaikan time value of money

4

ICER — Incremental Cost-Effectiveness Ratio — adalah hasil utama CEA yang mengungkap berapa biaya tambahan untuk mendapatkan satu unit outcome tambahan dibandingkan alternatif; interpretasi ICER memerlukan threshold atau alternatif pembanding yang eksplisit karena angka ICER yang sama dapat menghasilkan keputusan berbeda tergantung konteks; cost-effectiveness plane dengan empat kuadran memberikan visualisasi yang membantu pengambil keputusan memahami posisi relatif program: hanya kuadran dominant (lebih murah dan lebih efektif) yang tidak memerlukan threshold, sementara tiga kuadran lain selalu memerlukan pertimbangan nilai eksplisit

5

Mengkomunikasikan hasil analisis biaya kepada berbagai audiens memerlukan adaptasi bahasa yang berbeda tanpa mengubah substansi: pengambil keputusan anggaran di Bappeda memerlukan framing dalam satuan uang dan manfaat yang terukur, manajer program memerlukan implikasi operasional untuk efisiensi, dan pembuat kebijakan klinis memerlukan terjemahan ke outcome klinis yang familiar; kejujuran tentang ketidakpastian dan keterbatasan asumsi adalah komponen yang tidak boleh dihilangkan dalam komunikasi kepada audiens manapun — analisis yang terlihat lebih pasti dari yang sesungguhnya akan kehilangan kredibilitas saat asumsinya dipertanyakan

F

Referensi

  1. Drummond MF, Sculpher MJ, Claxton K, Stoddart GL, Torrance GW. Methods for the Economic Evaluation of Health Care Programmes. 4th ed. Oxford: Oxford University Press; 2015.
  2. Gold MR, Siegel JE, Russell LB, Weinstein MC (eds). Cost-Effectiveness in Health and Medicine. New York: Oxford University Press; 1996.
  3. Husereau D, Drummond M, Petrou S, et al. Consolidated Health Economic Evaluation Reporting Standards (CHEERS) 2022 explanation and elaboration: a report of the ISPOR CHEERS II Good Practices Task Force. Value in Health. 2022;25(1):10-31.
  4. Mangham LJ, Hanson K. Scaling up in international health: what are the key issues? Health Policy and Planning. 2010;25(2):85-96.
  5. Adam T, Evans DB, Murray CJL. Econometric estimation of country-specific hospital costs. Cost Effectiveness and Resource Allocation. 2003;1(1):3.
  6. Wilkinson T, Sculpher MJ, Claxton K, et al. The International Decision Support Initiative reference case for economic evaluation: an aid to thought. Value in Health. 2016;19(8):921-928.
  7. WHO-CHOICE. Choosing Interventions that are Cost-Effective. Geneva: WHO; 2014.
  8. Jamison DT, Breman JG, Measham AR, et al (eds). Disease Control Priorities in Developing Countries. 2nd ed. Washington DC: World Bank and Oxford University Press; 2006.
  9. Badan Pusat Statistik. Produk Domestik Bruto Indonesia. Jakarta: BPS; 2024.
  10. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Analisis Biaya Program Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.
Minggu ke-2 Bobot 10%

TUGAS PERSONAL 1 — SESI 1 (MINGGU 2)

Mata Kuliah: Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program | Semester 4 | Periode 2 | Sesi 1

Identitas Tugas

Jenis Tugas Tugas Personal Pertama — Sesi 1
Minggu Minggu ke-2
Materi Modul 1–2
Bobot Nilai 10% dari nilai akhir mata kuliah
Pengerjaan Individual
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-2 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Luaran Analisis Biaya Mini Program KR, format Word atau PDF
Panjang 1.200–1.600 kata (tidak termasuk tabel dan referensi)
Referensi Minimal 4 referensi dalam format Vancouver
PETUNJUK PENGERJAAN
  1. 1. Tugas ini menggabungkan kerangka konseptual Modul 1 (fondasi ekonomi kesehatan) dan Modul 2 (analisis biaya dan cost-effectiveness) dalam analisis program KR nyata
  2. 2. Peserta didik menggunakan data dari fasilitas atau program yang dikenal — estimasi yang jujur dan transparan tentang ketidakpastiannya lebih dihargai dari angka yang terlihat presisi tapi tidak berdasar
  3. 3. Tujuan tugas bukan menghasilkan analisis yang sempurna secara teknis, melainkan mendemonstrasikan kemampuan berpikir sistematis tentang biaya dan nilai program KR
PERTANYAAN TUGAS

Pilih satu program atau intervensi KR yang sedang atau pernah berjalan di fasilitas yang Anda kenal — ANC, persalinan aman, KB, atau program lainnya. Lakukan analisis biaya mini yang mencakup dua komponen berikut:

Komponen 1 — Analisis Biaya Program (±700 kata + tabel)

1a. Deskripsi program:

Deskripsikan program yang dipilih secara singkat: tujuan, populasi sasaran, aktivitas utama, dan skala (jumlah yang dilayani per tahun).

1b. Identifikasi dan klasifikasi biaya:

Sajikan dalam tabel klasifikasi biaya program menggunakan dua dimensi:

  • • Berdasarkan sifat: langsung medis, langsung non-medis, tidak langsung
  • • Berdasarkan perilaku: tetap (fixed) dan variabel

Untuk setiap komponen biaya: estimasi jumlah, satuan, harga per satuan, dan total. Gunakan data aktual jika tersedia; jika tidak, gunakan estimasi yang didukung alasan yang dijelaskan.

1c. Hitung unit cost:

Berdasarkan tabel di atas, hitung:

  • • Total biaya program per tahun
  • • Unit cost per ibu yang dilayani
  • • Unit cost per kontak layanan (jika relevan)

Nyatakan secara eksplisit biaya apa yang kemungkinan tidak masuk dalam perhitungan dan mengapa — serta bagaimana hal ini mempengaruhi validitas angka unit cost yang dihasilkan.

Komponen 2 — Interpretasi dan Implikasi Kebijakan (±500 kata)

2a. Interpretasi hasil:

Berdasarkan unit cost yang dihitung, apa yang dapat dan tidak dapat disimpulkan? Apakah program ini terlihat cost-effective, mahal, atau tidak dapat dinilai karena keterbatasan data?

2b. Perbandingan atau benchmark:

Jika tersedia, bandingkan unit cost yang dihitung dengan program serupa di fasilitas atau wilayah lain. Jika tidak tersedia, identifikasikan benchmark yang relevan yang seharusnya dicari dan mengapa perbandingan itu penting.

2c. Satu rekomendasi berbasis bukti:

Berdasarkan analisis biaya ini, rumuskan satu rekomendasi konkret tentang program — apakah ada komponen biaya yang dapat dikurangi tanpa mengorbankan efektivitas? Apakah ada input yang kurang diinvestasikan yang mungkin meningkatkan efektivitas secara cost-effective? Rekomendasi harus spesifik dan berbasis data dari analisis, bukan generalisasi.

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
1a — Deskripsi Program Kejelasan dan relevansi deskripsi; spesifisitas populasi dan aktivitas 10%
1b — Identifikasi dan Klasifikasi Biaya Kelengkapan identifikasi biaya termasuk yang sering terlewat; ketepatan klasifikasi; kualitas estimasi dan transparansi asumsi 40%
1c — Unit Cost Ketepatan perhitungan; kejujuran tentang biaya yang tidak masuk dan implikasinya 20%
2a — Interpretasi Ketajaman interpretasi termasuk keterbatasan yang diakui 15%
2b — Benchmark Relevansi benchmark yang dipilih atau diidentifikasikan 5%
2c — Rekomendasi Spesifisitas dan keterhubungan rekomendasi dengan data analisis 10%

Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial