Pembiayaan Inovasi dan Scaling Up Program KR
MK Ekonomi Kesehatan Lanjut & Analisis Pembiayaan Program
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Deskripsi Modul
Senin pagi. Ruang rapat Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah. Pukul 09.15.
Dr. Farhan membuka laptop. Di layar: email dari UNFPA dengan subject line yang tidak biasa. "Congratulations — your ANC quality pilot selected for regional scale-up funding."
Ia membacanya tiga kali.
Program ANC berkualitas yang ia jalankan sebagai pilot di empat kabupaten selama delapan belas bulan terakhir — dengan anggaran terbatas dari realokasi APBD dan dukungan teknis dari WHO — mendapat perhatian dari UNFPA regional. Mereka menawarkan pendanaan sebesar USD 2,3 juta selama tiga tahun untuk scaling up ke dua belas kabupaten berikutnya di Sulawesi.
Di sebelah kanannya: laporan evaluasi pilot yang sudah selesai. Hasilnya positif: cakupan ANC delapan kontak naik dari 28% menjadi 67% di empat kabupaten pilot. Kematian ibu di wilayah pilot turun 31% dalam delapan belas bulan. Biaya per ibu hamil yang mendapat ANC standar: Rp 312.000.
Di sebelah kirinya: catatan dari diskusi dengan Kepala Bappeda minggu lalu. "Pak Dokter, UNFPA mau masuk bagus. Tapi tolong dipikirkan dari awal: kalau tiga tahun pendanaan mereka habis, siapa yang lanjutkan? Kita tidak mau lagi punya program bagus yang mati setelah donor pergi."
Dr. Farhan meletakkan dua dokumen itu berdampingan.
Scaling up bukan hanya tentang memperluas cakupan geografis. Ia tentang memastikan bahwa yang diperluas adalah program yang benar-benar bekerja, dengan model pembiayaan yang berkelanjutan setelah dana awal habis, dan dengan kapasitas sistem yang dapat mendukung skala yang lebih besar.
Jika saya salah dalam perencanaan scaling up ini, saya akan menciptakan ekspektasi di dua belas kabupaten yang tidak dapat saya penuhi tiga tahun dari sekarang.
Scaling up program KR yang berhasil di pilot menjadi program yang berkelanjutan di skala yang lebih besar adalah salah satu tantangan pembiayaan dan manajemen program yang paling kompleks dalam sistem kesehatan. Banyak program yang berhasil di pilot gagal saat di-scale up — bukan karena intervensinya tidak efektif, melainkan karena model pembiayaan yang tidak realistis, biaya yang berbeda antara pilot dan skala penuh, dan ketergantungan pada mekanisme yang tidak dapat direplikasi. Pemimpin KR yang memahami ekonomi scaling up dapat merancang program sejak awal dengan keberlanjutan yang terencana, bukan sebagai afterthought.
Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
-
1
Menganalisis perbedaan biaya antara program pilot dan program pada skala penuh
-
2
Merancang model pembiayaan yang berkelanjutan untuk scaling up program KR
-
3
Mengidentifikasikan sumber pendanaan inovatif yang komplementer dengan APBD dan JKN
-
4
Mengelola transisi dari pendanaan donor ke pendanaan domestik secara terencana
-
5
Mengevaluasi kesiapan finansial dan sistem untuk scaling up program KR
Materi Inti
C.1. Ekonomi Scaling Up: Perbedaan yang Sering Diabaikan
C.1.1. Mengapa Biaya Pilot Tidak Sama dengan Biaya Skala Penuh
PARADOKS SCALING UP
- → Program yang terlihat murah dan efisien di pilot sering jauh lebih mahal per unit saat di-scale up — dan sebaliknya
- → Perbedaan ini bukan karena implementasi yang buruk, melainkan karena dinamika biaya yang berbeda fundamental antara skala kecil dan skala besar
-
Pemimpin KR yang tidak memahami paradoks ini akan membuat proposal scaling up dengan anggaran yang tidak realistis
FAKTOR YANG MEMBUAT BIAYA PILOT LEBIH RENDAH
FAKTOR 1 — PIONEER ENTHUSIASM
- Tim pilot biasanya adalah orang-orang yang paling termotivasi dan berkomitmen — mereka bekerja dengan intensitas yang tidak dapat dipertahankan di skala yang lebih besar dan dengan staf yang lebih beragam motivasinya
- Dalam program ANC Dr. Farhan: tim pilot di empat kabupaten dipilih karena memiliki kepala Puskesmas yang kooperatif dan bidan koordinator yang antusias
-
Di dua belas kabupaten berikutnya: tidak semua akan memiliki kondisi yang sama — beberapa mungkin memiliki kepemimpinan yang lebih lemah atau staf yang lebih resisten
FAKTOR 2 — INTENSIVE SUPPORT YANG TIDAK TERLIHAT DALAM ANGGARAN
- Pilot sering mendapat dukungan teknis intensif yang tidak tercatat sebagai biaya program: kunjungan supervisi WHO yang lebih sering, konsultasi teknis yang mudah diakses, perhatian manajemen yang tidak proporsional
- Biaya dukungan ini nyata tapi sering tidak masuk dalam perhitungan unit cost pilot
-
Saat di-scale up: semua dukungan ini harus dibiayai secara eksplisit atau kualitasnya akan menurun
FAKTOR 3 — FAVORABLE CONDITIONS
- Pilot sering dilaksanakan di lokasi dengan kondisi terbaik — akses yang lebih mudah, infrastruktur yang lebih baik, komunitas yang lebih responsif
- Scaling up ke lokasi yang lebih sulit secara inheren lebih mahal: transportasi lebih mahal, infrastruktur lebih lemah, butuh lebih banyak usaha untuk mencapai outcome yang sama
FAKTOR 4 — ECONOMIES OF SCALE YANG MUNGKIN ADA ATAU TIDAK
- Beberapa komponen memiliki economies of scale saat di-scale up: pengembangan kurikulum pelatihan, materi edukasi, sistem informasi — fixed cost ini dibagi lebih banyak unit
- Tapi komponen lain tidak memiliki economies of scale: biaya pelayanan per ibu hamil tidak turun signifikan hanya karena lebih banyak ibu yang dilayani
-
Kesalahan: mengasumsikan semua komponen menjadi lebih murah saat di-scale up
TIGA JENIS BIAYA YANG BERUBAH SAAT SCALING UP
BIAYA YANG MENURUN (ECONOMIES OF SCALE)
- Pengembangan materi pelatihan dan kurikulum
- Sistem informasi dan infrastruktur digital
- Biaya manajemen dan koordinasi per unit jika manajemen pusat tidak perlu diproporsionalkan
- Pembelian obat dan peralatan dalam jumlah besar (bulk purchasing)
BIAYA YANG TETAP (LINEAR SCALING)
- Biaya pelayanan per ibu hamil: obat, bahan habis pakai, waktu bidan per kunjungan
- Biaya pelatihan per bidan (jika metode pelatihan sama)
- Biaya transportasi per kunjungan supervisi
BIAYA YANG MENINGKAT (DISECONOMIES OF SCALE)
- Koordinasi lintas kabupaten yang lebih banyak: lebih banyak pertemuan, lebih banyak laporan yang harus diintegrasikan
- Manajemen heterogenitas: dua belas kabupaten memiliki karakteristik yang jauh lebih beragam dari empat kabupaten pilot
- Monitoring dan evaluasi: semakin besar skala, semakin mahal untuk memastikan kualitas implementasi yang konsisten
- Menangani resistensi: di lokasi yang tidak terpilih sendiri untuk berpartisipasi, resistensi lebih tinggi dan biaya perubahan lebih besar
CALCULATING FULL COST SCALING UP
AUDIT BIAYA PILOT SECARA LENGKAP
- Identifikasikan SEMUA biaya pilot termasuk yang tidak masuk anggaran resmi: waktu konsultan yang tidak dibayar program, overhead donor yang tidak dihitung, subsidi infrastruktur
- Hitung "true unit cost" pilot yang mencakup semua sumber daya yang benar-benar digunakan
PROYEKSIKAN PERUBAHAN BIAYA
- Komponen mana yang akan turun, tetap, atau naik saat di-scale up?
- Untuk setiap komponen: apa asumsi yang digunakan dan seberapa robust asumsi tersebut?
HITUNG BIAYA TAMBAHAN SKALA
- Biaya sistem: penguatan kapasitas pemerintah untuk mengelola program yang lebih besar
- Biaya adaptasi: modifikasi yang diperlukan untuk konteks yang berbeda di lokasi baru
- Biaya risiko: buffer untuk komplikasi implementasi yang dapat diprediksi
C.2. Model Pembiayaan yang Berkelanjutan
C.2.1. Merancang Keberlanjutan Sejak Hari Pertama
MENGAPA KEBERLANJUTAN FINANSIAL GAGAL
KEGAGALAN 1 — DONOR DEPENDENCY TRAP
- Program yang seluruhnya bergantung pada satu atau dua donor besar tanpa rencana exit yang jelas
- Saat donor pergi: program tidak punya basis finansial domestik yang cukup untuk dilanjutkan
-
Ini adalah kekhawatiran Kepala Bappeda Dr. Farhan: program yang mati setelah donor pergi
KEGAGALAN 2 — UNREALISTIC TRANSITION ASSUMPTIONS
- Asumsi bahwa pemerintah akan mengambil alih seluruh pembiayaan setelah donor pergi — tanpa ada perencanaan konkret dan komitmen anggaran yang tertulis
-
Dalam konteks Indonesia: anggaran daerah yang terbatas dan prosedur perencanaan yang panjang berarti transisi harus direncanakan minimal dua tahun sebelum donor exit
KEGAGALAN 3 — PROGRAM DESIGN YANG TIDAK TERPISAH DARI DONOR SUPPORT
- Desain program yang sangat bergantung pada kapasitas teknis yang disediakan donor — konsultan internasional, sistem M&E yang canggih, peralatan khusus — yang tidak dapat dipertahankan dengan kapasitas pemerintah sendiri
-
Solusi: sejak pilot, desain program dengan standar yang dapat dilanjutkan oleh sistem pemerintah reguler
KOMPONEN MODEL PEMBIAYAAN YANG BERKELANJUTAN
KOMPONEN 1 — DOMESTIC FINANCING ROADMAP
Rencana eksplisit bagaimana proporsi pembiayaan domestik (APBD, JKN, BOK) meningkat setiap tahun sementara proporsi donor menurun
Contoh untuk program Dr. Farhan tiga tahun:
KOMPONEN 2 — INTEGRASI DALAM SISTEM REGULER
Aktivitas program yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem reguler tanpa biaya tambahan:
- Pelatihan ANC masuk dalam program pelatihan rutin Dinkes
- Supervisi ANC menjadi bagian dari supervisi terpadu Puskesmas
- Data ANC dilaporkan melalui sistem informasi yang sudah ada
Integrasi mengurangi biaya tambahan dan meningkatkan keberlanjutan karena program tidak memerlukan infrastruktur paralel yang terpisah
KOMPONEN 3 — POLITICAL COMMITMENT YANG TERDOKUMENTASI
- Pernyataan tertulis dari Gubernur atau Bupati tentang komitmen melanjutkan program setelah donor exit
- Masuk dalam RPJMD atau Renstra Dinkes — dokumen yang lebih sulit diabaikan dari komitmen verbal
- Alokasi anggaran awal yang kecil tapi nyata: menunjukkan komitmen yang bukan hanya kata-kata
KOMPONEN 4 — MULTIPLE FUNDING STREAMS
Tidak bergantung pada satu sumber: kombinasikan APBD, BOK, DAK, JKN, dan donor yang berbeda sehingga kegagalan satu sumber tidak menghentikan program
C.3. Sumber Pendanaan Inovatif untuk Program KR
C.3.1. Melampaui APBD dan JKN
LANDSCAPE PENDANAAN KR DI INDONESIA
PENDANAAN BILATERAL DAN MULTILATERAL
- UNFPA: fokus KR dan KB — mitra yang paling relevan untuk program KR
- WHO: dukungan teknis dan normative guidance lebih dari pendanaan langsung
- USAID/USAID-MOMENTUM: program maternal dan neonatal yang aktif di Indonesia
- Australia DFAT: melalui KOMPAK dan program bilateral lainnya
- Global Fund: tidak langsung untuk KR tapi ada integrasi dengan program HIV pada perempuan
PENDANAAN FILANTROPI DAN SWASTA
- Gates Foundation: pendanaan global tapi melalui mitra implementasi
- HKTI, Yayasan Hati, dan LSM kesehatan lokal: lebih kecil tapi lebih fleksibel dan lebih dekat dengan konteks
- CSR perusahaan: beberapa perusahaan besar memiliki program CSR kesehatan yang dapat dikoordinasikan dengan program pemerintah
- Social impact bonds: masih sangat baru di Indonesia tapi berkembang
PENDANAAN INOVATIF YANG SEDANG BERKEMBANG
RESULTS-BASED FINANCING (RBF)
- Pembayaran kepada penyedia atau pemerintah berdasarkan hasil yang terverifikasi, bukan input yang digunakan
- Contoh dalam KR: kabupaten yang berhasil menurunkan AKI 10% mendapat tambahan dana untuk diinvestasikan kembali ke program KR
- Mendorong inovasi dan efisiensi: penyedia memiliki fleksibilitas untuk memilih cara terbaik mencapai hasil
-
Tantangan di Indonesia: sistem verifikasi yang kuat dan independen diperlukan; risiko gaming data
ADVANCE MARKET COMMITMENTS (AMC)
- Komitmen di muka untuk membeli produk atau layanan tertentu jika tersedia dengan kualitas dan harga tertentu
- Mendorong pengembangan produk atau inovasi yang tidak akan dikembangkan oleh pasar sendiri
-
Relevansi KR: mendorong pengembangan alat diagnostik terjangkau untuk kondisi risiko tinggi kehamilan di daerah terpencil
BLENDED FINANCE
- Kombinasi pendanaan publik dan swasta di mana pendanaan publik atau konsesi (grant, jaminan, bunga rendah) "de-risks" investasi swasta di sektor yang secara komersial kurang menarik
-
Contoh potensial untuk KR: pemerintah memberikan jaminan untuk pinjaman yang digunakan RS swasta di daerah terpencil untuk membangun kapasitas maternal
-
Masih sangat awal untuk konteks KR Indonesia tapi relevan untuk dipahami sebagai opsi masa depan
MENGELOLA HUBUNGAN DENGAN DONOR
PRINSIP HUBUNGAN DONOR YANG PRODUKTIF
ALIGNMENT
- Pastikan agenda donor selaras dengan prioritas nasional — jangan membiarkan donor menentukan agenda program KR yang seharusnya ditentukan oleh kebutuhan populasi
- Donor yang baik akan mendukung alignment ini; yang tidak harus dinegosiasikan secara tegas
HARMONIZATION
- Koordinasikan antar donor untuk menghindari duplikasi dan kesenjangan
- Donor coordination meeting reguler: siapa membiayai apa, di mana, dan bagaimana memastikan pendekatan yang konsisten
-
Pemerintah sebagai pemimpin koordinasi: bukan donor yang memimpin
MUTUAL ACCOUNTABILITY
- Pemerintah harus melaporkan kepada donor tentang penggunaan dana dan hasil yang dicapai
- Tapi donor juga harus bertanggung jawab atas komitmen yang telah dibuat: pencairan tepat waktu, fleksibilitas yang memadai, tidak memaksakan kondisi yang tidak relevan
-
Hubungan yang transaksional dan satu arah menghasilkan program yang tidak berkelanjutan
C.4. Kesiapan Sistem untuk Scaling Up
C.4.1. Lebih dari Sekadar Kesiapan Finansial
FRAMEWORK KESIAPAN SCALING UP — EXPAND NET
EVIDENCE
- Apakah ada evidence yang cukup kuat bahwa program efektif dalam konteks yang akan di-scale up?
- Jika hanya pilot dengan before-after design: apakah kita yakin cukup untuk mengkomit sumber daya skala besar?
-
Untuk Dr. Farhan: 18 bulan data pilot dengan penurunan AKI 31% memberikan confidence yang cukup untuk scaling up, terutama jika didukung evidence dari konteks lain
POLICY ENVIRONMENT
- Apakah ada kebijakan yang mendukung dan tidak ada hambatan regulasi untuk program ini di skala yang lebih besar?
- Dukungan politik: apakah ada commitment dari pengambil keputusan kunci untuk mendukung scaling up?
PARTNERSHIPS
- Siapa yang akan bermitra dalam implementasi di skala yang lebih besar?
- Kapasitas mitra: apakah NGO, Dinkes kabupaten, dan penyedia layanan siap untuk peran yang lebih besar?
NEEDS ASSESSMENT
- Apakah kebutuhan di lokasi baru yang akan di-scale up sudah dipahami dengan baik?
- Konteks baru mungkin memerlukan adaptasi program — ini membutuhkan kebutuhan assessment yang spesifik
ADVOCACY
- Apakah ada komunikasi yang efektif tentang program ke semua stakeholder yang relevan?
- Learning system: apakah ada mekanisme untuk mendokumentasikan dan berbagi pembelajaran dari scaling up?
FINANCIAL READINESS ASSESSMENT
PERTANYAAN KUNCI KESIAPAN FINANSIAL
1.
Berapa total biaya scaling up yang realistis — termasuk semua biaya yang sering tidak terlihat dalam pilot?
2.
Dari mana setiap komponen biaya akan dibiayai — siapa yang membayar apa, dari mekanisme mana?
3.
Apakah ada komitmen yang terdokumentasi dari semua sumber pendanaan yang direncanakan?
4.
Apa rencana jika satu sumber pendanaan tidak terealisasi?
5.
Bagaimana rencana transisi dari pendanaan donor ke domestik dari tahun ke tahun?
6.
Apakah kapasitas keuangan pemerintah untuk mengelola aliran dana yang lebih besar sudah dipersiapkan?
KASUS DR. FARHAN — MERESPONS EMAIL UNFPA
LAKUKAN FULL COST ANALYSIS
- Sebelum menyetujui apapun: hitung true cost pilot yang mencakup semua biaya yang tidak masuk anggaran resmi
- Proyeksikan biaya scaling up ke dua belas kabupaten dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang akan membuat biaya berbeda dari pilot
DISKUSI DENGAN BAPPEDA SEBELUM MENERIMA
- Kepala Bappeda sudah menyatakan kekhawatirannya: sampaikan rencana scaling up dan diskusikan komitmen APBD yang diperlukan dari tahun pertama
-
Dapatkan komitmen tertulis — dalam bentuk dokumen perencanaan resmi, bukan janji verbal
NEGOSIASIKAN DESAIN DENGAN UNFPA
- Pastikan desain program yang didanai UNFPA kompatibel dengan keberlanjutan jangka panjang: tidak bergantung pada kapasitas teknis yang hanya disediakan UNFPA
- Minta fleksibilitas untuk mengadaptasi program sesuai konteks kabupaten baru
- Pastikan ada komponen capacity building yang mentransfer kapasitas ke pemerintah daerah, bukan hanya mengandalkan konsultan donor
RANCANG EXIT STRATEGY SEJAK AWAL
- Dokumen exit strategy sebagai bagian dari proposal kepada UNFPA: bagaimana program akan dilanjutkan setelah tiga tahun pendanaan UNFPA
-
Milestone untuk transisi: pada akhir tahun 1, tahun 2, dan tahun 3, proporsi pembiayaan domestik harus sudah mencapai berapa?
Pertanyaan Diskusi
Thread Dosen — Minggu 6
Pertanyaan 1
Dr. Farhan memiliki data pilot yang menunjukkan unit cost Rp 312.000 per ibu hamil yang mendapat ANC standar. Kepala Bappeda akan bertanya berapa anggaran yang diperlukan untuk scaling up ke dua belas kabupaten.
Perbedaan Biaya Pilot vs Skala Penuh
Identifikasikan setidaknya empat komponen biaya yang kemungkinan besar berbeda antara biaya pilot dan biaya skala penuh — mana yang akan turun, tetap, atau naik — dan estimasikan arah serta besaran perubahannya menggunakan alasan yang dapat dipertahankan.
Biaya Sistem yang Sering Diabaikan
Selain biaya langsung program, biaya sistem apa yang harus dianggarkan untuk scaling up yang sering diabaikan dalam proposal scaling up — dan bagaimana kegagalan menganggarkan komponen ini menjelaskan banyak kegagalan scaling up program kesehatan di Indonesia?
Komunikasi kepada Kepala Bappeda
Jika unit cost per ibu hamil di skala penuh ternyata 40% lebih tinggi dari pilot, bagaimana Dr. Farhan mengkomunikasikan ini kepada Kepala Bappeda tanpa kehilangan kepercayaannya — dan argumen ekonomi apa yang dapat menjelaskan bahwa biaya yang lebih tinggi di skala penuh masih justified?
Pertanyaan 2
Kepala Bappeda mengkhawatirkan keberlanjutan program setelah dana UNFPA habis. Dr. Farhan perlu merancang model pembiayaan yang mengatasi kekhawatiran ini.
Domestic Financing Roadmap
Rancang domestic financing roadmap tiga tahun yang menunjukkan bagaimana proporsi APBD, BOK, JKN, dan UNFPA berubah dari tahun ke tahun — dengan justifikasi mengapa masing-masing sumber dapat berkontribusi dalam proporsi yang direncanakan.
Prinsip Hubungan Donor
Dari semua prinsip hubungan donor yang produktif (alignment, harmonization, mutual accountability), mana yang paling kritis untuk Dr. Farhan negosiasikan dengan UNFPA sejak awal — dan klausul konkret apa yang harus masuk dalam perjanjian kerjasama dengan UNFPA untuk melindungi kepentingan jangka panjang program KR?
Mekanisme Kontingensi
Jika tiga tahun dari sekarang UNFPA memutuskan untuk tidak memperpanjang dukungan secara mendadak, mekanisme apa yang harus sudah ada sejak awal untuk memastikan program tidak kolaps — dan bagaimana membangun mekanisme ini tanpa terlihat tidak percaya kepada UNFPA?
Rangkuman
Biaya program pilot tidak dapat secara langsung digunakan untuk memproyeksikan biaya scaling up karena dinamika biaya yang berbeda secara fundamental: beberapa komponen menurun karena economies of scale seperti pengembangan materi dan sistem informasi, beberapa tetap linear seperti biaya pelayanan per ibu hamil, dan beberapa meningkat karena diseconomies of scale seperti koordinasi yang lebih kompleks dan manajemen heterogenitas yang lebih tinggi; pioneer enthusiasm, intensive support yang tidak terlihat dalam anggaran, dan favorable conditions di lokasi pilot adalah tiga faktor yang paling sering membuat biaya pilot underestimate biaya skala penuh.
Model pembiayaan yang berkelanjutan harus dirancang sejak hari pertama program — bukan sebagai afterthought setelah donor sudah berkomitmen; empat komponen yang tidak dapat ditinggalkan adalah domestic financing roadmap yang menunjukkan transisi eksplisit dari pendanaan donor ke domestik, integrasi aktivitas program dalam sistem reguler yang mengurangi kebutuhan infrastruktur paralel, political commitment yang terdokumentasi dalam dokumen perencanaan resmi bukan hanya janji verbal, dan multiple funding streams yang memastikan kegagalan satu sumber tidak menghentikan program.
Landscape pendanaan KR di Indonesia melampaui APBD dan JKN dan mencakup pendanaan bilateral dan multilateral dari UNFPA, USAID-MOMENTUM, dan DFAT Australia, pendanaan filantropi dari Gates Foundation dan LSM lokal, CSR perusahaan, serta mekanisme inovatif yang sedang berkembang seperti Results-Based Financing yang membayar berdasarkan hasil terverifikasi, Advance Market Commitments yang mendorong pengembangan produk, dan Blended Finance yang mengkombinasikan pendanaan publik dan swasta; pemimpin KR yang memahami landscape ini memiliki fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam merancang model pembiayaan yang berkelanjutan.
Hubungan dengan donor yang produktif memerlukan tiga prinsip yang diimplementasikan secara bersamaan: alignment yang memastikan agenda donor selaras dengan prioritas nasional bukan sebaliknya, harmonization yang mengkoordinasikan antar donor untuk menghindari duplikasi, dan mutual accountability yang memastikan pemerintah melaporkan kepada donor tentang hasil sambil donor juga bertanggung jawab atas komitmen pencairan dan fleksibilitas; pemerintah harus memposisikan diri sebagai pemimpin koordinasi, bukan sebagai penerima pasif agenda donor.
Kesiapan sistem untuk scaling up melampaui kesiapan finansial dan mencakup keenam dimensi dalam framework EXPAND NET: evidence yang cukup kuat untuk mengkomit sumber daya skala besar, policy environment yang mendukung, partnerships yang memiliki kapasitas untuk peran yang lebih besar, advocacy yang efektif kepada semua stakeholder, dan needs assessment yang memahami konteks lokasi baru; financial readiness assessment yang menjawab enam pertanyaan kunci tentang sumber pembiayaan, komitmen yang terdokumentasi, rencana kontingensi, dan kapasitas pengelolaan keuangan adalah prasyarat sebelum mengkonfirmasi komitmen kepada donor manapun.
Referensi
- Mangham LJ, Hanson K. Scaling up in international health: what are the key issues? Health Policy and Planning. 2010;25(2):85-96.
- Simmons R, Fajans P, Ghiron L (eds). Scaling Up Health Service Delivery: From Pilot Innovations to Policies and Programmes. Geneva: WHO; 2007.
- Barder O. A Policymaker's Guide to Results-Based Financing. Washington DC: Center for Global Development; 2011.
- Preker AS, Langenbrunner JC (eds). Spending Wisely: Buying Health Services for the Poor. Washington DC: World Bank; 2005.
- Tran NT, Nguyen CT, Ho YN, Khong TY, Oo S. Strengthening routine health information systems in the Asia Pacific through sustained engagement and innovation. Bulletin of the World Health Organization. 2021;99(5):381-381A.
- Paina L, Peters DH. Understanding pathways for scaling up health interventions in low- and middle-income countries. Health Policy and Planning. 2012;27(5):365-373.
- World Bank. Innovations in Health Service Delivery: The Corporatization of Public Hospitals. Washington DC: World Bank; 2003.
- WHO. Country Financing Policies — Sustainability of Health Programmes After Donor Withdrawal. Geneva: WHO; 2018.
- Fritsche G, Soeters R, Meessen B. Performance-Based Financing Toolkit. Washington DC: World Bank; 2014.
- Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial