Grand Round Lintas Sektor: Ketika KR Bertemu Kemiskinan, Bencana, dan Krisis
MK Integrative Clinical–Social Grand Round — Modul 7
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Deskripsi Modul
Rabu pagi. Ruang Grand Round virtual. Platform Zoom. Pukul 07.30.
Grand Round hari ini dilaksanakan secara daring karena presenter datang dari tiga lokasi berbeda: dr. Rendi dari RS Kabupaten Cianjur, dr. Yuliana dari Dinkes Provinsi Jawa Barat, dan dr. Santi dari tim BNPB yang baru kembali dari lapangan.
Latar belakang: enam minggu setelah gempa bumi Cianjur November 2022 yang menelan lebih dari 600 korban jiwa dan menghancurkan ratusan fasilitas kesehatan.
Dr. Rendi membuka: "Pagi ini saya ingin mempresentasikan tiga kasus dari enam minggu terakhir yang saya sebut 'triple jeopardy' — perempuan hamil yang menghadapi tiga krisis sekaligus: bencana alam yang menghancurkan infrastruktur, kemiskinan yang membuat mereka tidak memiliki cadangan untuk menghadapi krisis, dan sistem kesehatan yang sudah lemah sebelum bencana dan menjadi jauh lebih lemah setelahnya."
Kasus pertama: Ny. Dede, 27 tahun, G2P1A0, 36 minggu. Rumahnya hancur. Mengungsi di tenda dengan tujuh anggota keluarga. Tidak memiliki rekam medis atau kartu JKN yang hilang bersama puing rumahnya. Datang ke pos kesehatan darurat dalam kondisi preeklampsia berat.
Kasus kedua: Ny. Enok, 34 tahun, G4P3A0, 32 minggu. Bidan desanya meninggal dalam gempa. Puskesmas terdekat yang masih berfungsi berjarak dua jam perjalanan di atas puing-puing jalan yang rusak. Tidak ada ANC selama enam minggu terakhir.
Kasus ketiga: Ny. Fitri, 22 tahun, G1P0A0, 38 minggu. Tidak mengalami komplikasi obstetri. Tapi tenda pengungsian tidak memiliki privasi, air bersih sangat terbatas, dan tidak ada tenaga kesehatan perempuan di pos terdekat — sehingga ia menolak pemeriksaan.
"Tiga kasus dengan tiga jenis krisis yang berbeda. Semua terjadi dalam konteks yang sama. Pertanyaan saya: sistem apa yang harus ada agar perempuan hamil dalam bencana tidak menjadi korban dua kali?"
Bencana dan krisis mengekspos dengan sangat jelas kelemahan yang sudah ada dalam sistem KR jauh sebelum krisis terjadi. Perempuan yang sudah rentan menjadi lebih rentan. Sistem yang sudah lemah menjadi tidak berfungsi. Dan keputusan tentang prioritas dalam kondisi sumber daya yang sangat terbatas memperhadapkan semua nilai yang biasanya tersembunyi di balik rutinitas pelayanan normal.
Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
-
1
Menganalisis dampak bencana dan krisis terhadap sistem KR menggunakan kerangka integratif
-
2
Mengidentifikasikan kerentanan berlapis yang membuat perempuan hamil menjadi kelompok paling terdampak dalam bencana
-
3
Menerapkan prinsip Minimum Initial Service Package (MISP) untuk KR dalam situasi darurat
-
4
Merancang sistem KR darurat yang responsif terhadap ketiga dimensi krisis: klinis, sosial, dan sistem
-
5
Menghubungkan respons darurat dengan advokasi kebijakan jangka panjang berbasis pembelajaran dari bencana
Materi Inti
C.1. Triple Jeopardy: Kerentanan Berlapis dalam Bencana
C.1.1. Mengapa Perempuan Hamil adalah Kelompok Paling Rentan dalam Bencana
TRIPLE JEOPARDY FRAMEWORK
JEOPARDY 1 — BENCANA SEBAGAI PENGGANDA RISIKO
- → Bencana tidak menciptakan kerentanan dari nol — ia melipatgandakan kerentanan yang sudah ada
- → Infrastruktur yang sudah lemah sebelum bencana menjadi tidak berfungsi setelahnya
- → Fasilitas yang sudah kekurangan staf kehilangan lebih banyak staf; sistem rujukan yang sudah tidak optimal menjadi tidak ada sama sekali
-
Dampak pada KR: semua hambatan akses yang sudah ada — geografis, finansial, kapasitas — menjadi hambatan yang berlipat
JEOPARDY 2 — KEMISKINAN SEBAGAI PENYUMBAT RESILIENSI
- → Keluarga dengan sumber daya finansial dapat bertahan dari bencana dengan menggunakan tabungan, jaringan keluarga di tempat lain, atau kemampuan menavigasi birokrasi darurat
- → Keluarga miskin tidak memiliki buffer ini: setiap hari pasca-bencana adalah krisis finansial baru di atas krisis infrastruktur
-
Kehilangan kartu JKN dalam bencana: bagi keluarga yang tidak memiliki salinan digital, ini berarti kehilangan akses ke sistem yang seharusnya melindungi mereka
JEOPARDY 3 — SISTEM YANG SUDAH LEMAH MENJADI LEBIH LEMAH
- → Sistem KR yang sudah memiliki kekurangan SDM, peralatan, dan protokol akan kehilangan semua ini dalam bencana
- → Bidan desa yang meninggal, Puskesmas yang hancur, rekam medis yang hilang — semua ini menghancurkan bahkan kapasitas yang minimal
-
Konteks Cianjur: sistem KR yang sudah menghadapi tantangan sebelum gempa tiba-tiba kehilangan sebagian infrastrukturnya sekaligus
TIGA KASUS — TIGA DIMENSI KERENTANAN
NY. DEDE — SISTEM INFORMASI YANG HANCUR
- → Tidak ada rekam medis: tidak ada yang tahu riwayat obstetrinya, hasil pemeriksaan sebelumnya, atau obat-obatan yang pernah diresepkan
- → Tidak ada kartu JKN: mekanisme pembiayaan yang seharusnya melindungi tidak dapat diakses
- → Identifikasi yang salah: dalam kondisi bencana dengan ribuan pengungsi, memastikan identitas pasien yang benar adalah tantangan tersendiri
Lesson: sistem informasi KR yang bergantung pada dokumen fisik di tangan pasien adalah sistem yang tidak resilient terhadap bencana
NY. ENOK — SDM DAN AKSES YANG HILANG
- → Bidan desa meninggal: kehilangan satu-satunya titik kontak terdekat untuk ANC
- → Jalan rusak: hambatan akses yang sudah ada diperparah
- → Enam minggu tanpa ANC di trimester ketiga: risiko yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani
Lesson: sistem KR yang bergantung pada satu individu (bidan tunggal) di satu lokasi tidak resilient; perlu redundansi dan backup plan
NY. FITRI — MARTABAT DAN KEAMANAN DALAM LAYANAN
- → Tidak ada tenaga kesehatan perempuan: hambatan budaya dan privasi yang nyata
- → Tidak ada privasi dalam tenda: kondisi yang tidak layak untuk pemeriksaan obstetri
- → Air bersih sangat terbatas: risiko infeksi persalinan meningkat
Lesson: standar minimum layanan KR dalam bencana bukan hanya tentang ketersediaan tenaga klinis — melainkan mencakup kondisi yang memungkinkan perempuan bersedia mengakses layanan dengan martabat
C.2. Minimum Initial Service Package untuk KR dalam Darurat
C.2.1. Standar Minimum yang Tidak Dapat Dikompromikan
MISP KR DALAM SITUASI DARURAT (UNFPA/SPHERE)
MENGAPA MISP:
- → Dalam kondisi darurat, ada godaan untuk hanya fokus pada kebutuhan yang paling terlihat: makanan, air, tempat tinggal
- → KR sering terlewat dalam respons darurat padahal kebutuhan KR tidak menunggu: perempuan tetap hamil, tetap bersalin, dan tetap mengalami komplikasi obstetri selama bencana
- MISP adalah paket minimum yang harus ada sejak hari pertama respons darurat — sebelum sistem komprehensif dibangun kembali
KOMPONEN MISP KR
KOMPONEN 1 — KOORDINASI
- → Tunjuk coordinator KR dalam tim respons darurat
- → Pastikan KR masuk dalam cluster health coordination
- → Mapping fasilitas KR yang masih berfungsi dan yang tidak berfungsi
KOMPONEN 2 — MENCEGAH KEKERASAN BERBASIS GENDER
- → Kondisi darurat meningkatkan risiko GBV secara signifikan
- → Identifikasikan risiko spesifik: penerangan di toilet, keamanan di tenda, mekanisme pelaporan yang aman
- → Pastikan ada layanan GBV minimal yang tersedia
KOMPONEN 3 — MENCEGAH TRANSMISI HIV
- → Pastikan ketersediaan darah yang aman
- → Pastikan precaution universal dalam semua prosedur klinis
- → ARV untuk perempuan hamil yang sudah dalam terapi
KOMPONEN 4 — MENCEGAH KEMATIAN IBU DAN NEONATAL
Ini yang paling relevan untuk tiga kasus di atas
- → Pastikan ada tenaga terlatih untuk persalinan bersih (minimal clean delivery kit)
- → Pastikan ada sistem rujukan yang berfungsi untuk kasus darurat obstetri
- → Pastikan ada fasilitas yang dapat menangani persalinan dan komplikasi dasar
- → Identifikasikan perempuan hamil dalam kelompok pengungsi dan lakukan triase risiko
KOMPONEN 5 — KONTRASEPSI
- → Pastikan ketersediaan kontrasepsi darurat dan kontrasepsi reguler
- → Kebutuhan KB tidak berhenti karena bencana
APLIKASI MISP UNTUK TIGA KASUS
NY. DEDE (PREEKLAMPSIA BERAT)
MISP komponen 4: harus ada sistem untuk menangani komplikasi obstetri darurat
Solusi darurat: stabilisasi dengan MgSO4 dan antihipertensi yang tersedia di pos kesehatan; rujukan segera ke RS terdekat yang masih berfungsi
Masalah JKN: dalam kondisi darurat, ada mekanisme pelayanan tanpa JKN yang harus diaktifkan; tidak ada pasien yang ditolak karena tidak ada kartu
NY. ENOK (TIDAK ADA ANC ENAM MINGGU)
MISP komponen 4: triase risiko untuk semua perempuan hamil di pengungsian
Solusi darurat: mobile team yang mendatangi lokasi pengungsi untuk skrining risiko minimal; tidak menunggu pasien datang ke pos kesehatan
Kerjasama dengan kader dan tokoh komunitas untuk identifikasi perempuan hamil yang tidak teridentifikasikan sendiri
NY. FITRI (MENOLAK PEMERIKSAAN)
MISP komponen 4: standar minimal layanan yang menghormati martabat
Solusi darurat: rekrutmen segera tenaga kesehatan perempuan dari volunteer atau relawan; pengaturan tenda pemeriksaan dengan privasi minimal yang layak; penyediaan air bersih yang cukup untuk kebersihan perinatal
C.3. Dari Respons Darurat ke Advokasi Kebijakan
C.3.1. Bencana sebagai Lesson Learned untuk Sistem yang Lebih Kuat
PEMBELAJARAN DARI BENCANA UNTUK KEBIJAKAN JANGKA PANJANG
PEMBELAJARAN 1 — DIGITALISASI REKAM MEDIS KR
Kehilangan kartu JKN dan rekam medis dalam bencana mengekspos ketergantungan sistem pada dokumen fisik
Rekam medis digital yang dapat diakses dari manapun adalah investasi resiliensi, bukan hanya efisiensi
Advokasi: mendorong percepatan implementasi rekam medis elektronik yang terintegrasi sebagai prioritas kebijakan berbasis pembelajaran dari bencana
PEMBELAJARAN 2 — REDUNDANSI DALAM PENEMPATAN TENAGA KR
Sistem yang bergantung pada satu bidan di satu desa tidak resilient
Minimal dua tenaga terlatih per area yang dapat saling menutupi saat salah satu tidak dapat bertugas
Advokasi: standar penempatan tenaga KR yang memperhitungkan redundansi sebagai komponen keamanan sistem, bukan kemewahan
PEMBELAJARAN 3 — INTEGRASI MISP DALAM PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA
KR sering tidak masuk dalam rencana penanggulangan bencana daerah
Perempuan hamil tidak teridentifikasi sebagai kelompok rentan yang memerlukan respons khusus dalam rencana evakuasi
Advokasi: memasukkan MISP KR sebagai komponen wajib dalam Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD) di semua kabupaten yang memiliki risiko bencana tinggi
PEMBELAJARAN 4 — SISTEM PEMBIAYAAN DARURAT UNTUK KR
Mekanisme pelayanan tanpa JKN dalam kondisi darurat tidak jelas dan tidak tersistem
Perempuan korban bencana kehilangan JKN mereka bersamaan dengan saat mereka paling membutuhkannya
Advokasi: protokol pelayanan darurat KR tanpa dokumen yang jelas dan diketahui oleh semua fasilitas; mekanisme reimburse yang tidak menyulitkan fasilitas yang melayani korban bencana
JENDELA ADVOKASI PASCA-BENCANA
Bencana menciptakan policy window yang singkat: perhatian publik dan pembuat kebijakan sangat tinggi dalam periode pasca-bencana tapi menurun dengan cepat
Pemimpin KR yang memahami multiple streams Kingdon (MK19): ini adalah momen di mana problem stream sangat visible dan politics stream sangat mendukung
Peluang yang tidak boleh dilewatkan: gunakan data dari respons bencana untuk mendorong reformasi kebijakan yang sudah lama diperlukan tapi tidak mendapat perhatian dalam kondisi normal
Strategi konkret:
- → Dokumentasikan semua kasus dan pembelajaran sejak hari pertama
- → Siapkan policy brief dalam tiga minggu pertama
- → Presentasikan ke pembuat kebijakan saat perhatian masih tinggi
Pertanyaan Diskusi
Thread Dosen — Minggu 7
Pertanyaan 1
Tiga kasus dari Cianjur menunjukkan tiga dimensi kerentanan yang berbeda: sistem informasi yang hancur (Ny. Dede), kehilangan SDM dan akses (Ny. Enok), dan hambatan martabat dan keamanan (Ny. Fitri).
Analisis Empat Lapisan
Dari perspektif analisis empat lapisan Grand Round integratif, lakukan analisis singkat untuk setiap kasus — apa kegagalan di lapisan mana yang paling dominan dan mengapa?
Komponen MISP
MISP KR memberikan standar minimum yang harus tersedia sejak hari pertama bencana. Dalam konteks bencana gempa Cianjur, komponen MISP mana yang paling mungkin tidak terpenuhi dan apa konsekuensinya bagi perempuan hamil?
Protokol Triase Darurat
Rancang protokol triase KR darurat yang dapat diimplementasikan dalam dua puluh empat jam pertama setelah bencana oleh tim yang mungkin tidak semua memiliki latar belakang obstetri — dengan asumsi kondisi komunikasi yang terbatas dan sumber daya yang sangat minimal.
Pertanyaan 2
Bencana Cianjur mengekspos empat kelemahan sistemik: ketergantungan pada dokumen fisik, tidak ada redundansi SDM, tidak ada integrasi MISP dalam perencanaan bencana daerah, dan mekanisme pembiayaan darurat yang tidak jelas.
Policy Window
Menggunakan konsep policy window dari MK19, analisis: apakah periode pasca-bencana Cianjur adalah momen yang tepat untuk mendorong reformasi kebijakan KR — dan berapa lama jendela ini biasanya terbuka sebelum menutup kembali?
Policy Brief
Rancang policy brief satu halaman yang dapat dipresentasikan kepada Gubernur Jawa Barat dalam tiga minggu pertama pasca-bencana — menggunakan data dari tiga kasus ini sebagai basis argumen untuk satu perubahan kebijakan paling kritis.
Diseminasi Pembelajaran
Bagaimana pembelajaran dari respons bencana Cianjur dapat didiseminasikan kepada provinsi lain di Indonesia yang menghadapi risiko bencana serupa — melalui mekanisme apa dan kepada audiens mana?
Rangkuman
Triple jeopardy framework mengidentifikasikan tiga lapisan kerentanan yang saling memperparah dalam bencana: bencana sebagai pengganda risiko yang melipatgandakan hambatan yang sudah ada, kemiskinan sebagai penyumbat resiliensi yang menghilangkan kemampuan keluarga untuk bertahan, dan sistem yang sudah lemah menjadi lebih lemah yang menghancurkan bahkan kapasitas minimal; ketiga kasus dari Cianjur — Ny. Dede dengan sistem informasi yang hancur, Ny. Enok dengan kehilangan SDM dan akses, dan Ny. Fitri dengan hambatan martabat — masing-masing merepresentasikan satu dimensi dari kerentanan berlapis ini.
Minimum Initial Service Package adalah standar minimum KR yang harus tersedia sejak hari pertama respons bencana karena kebutuhan KR tidak menunggu: perempuan tetap hamil, bersalin, dan mengalami komplikasi obstetri selama bencana berlangsung; lima komponen MISP — koordinasi, pencegahan GBV, pencegahan transmisi HIV, pencegahan kematian ibu dan neonatal, dan akses kontrasepsi — harus diimplementasikan secara bersamaan karena kegagalan satu komponen menciptakan kerentanan pada yang lain.
Bencana mengekspos dengan sangat jelas kelemahan yang sudah ada dalam sistem KR jauh sebelum krisis terjadi; empat kelemahan sistemik yang terungkap dari bencana Cianjur — ketergantungan pada dokumen fisik, tidak ada redundansi SDM, tidak ada integrasi MISP dalam perencanaan bencana, dan mekanisme pembiayaan darurat yang tidak jelas — adalah masalah yang sudah ada sebelum gempa dan hanya menjadi sangat visible karena bencana.
Bencana menciptakan policy window yang singkat dan berharga di mana problem stream sangat visible dan politics stream sangat mendukung perubahan; pemimpin KR yang memahami dinamika multiple streams harus memanfaatkan periode pasca-bencana secara strategis: mendokumentasikan semua kasus dan pembelajaran sejak hari pertama, menyiapkan policy brief dalam tiga minggu pertama, dan mempresentasikannya saat perhatian pembuat kebijakan masih tinggi sebelum krisis berikutnya menggeser perhatian.
Pembelajaran dari respons bencana Cianjur menghasilkan empat advokasi kebijakan jangka panjang yang berbasis pada kelemahan sistemik yang terungkap: digitalisasi rekam medis KR sebagai investasi resiliensi, standar penempatan tenaga KR dengan redundansi minimum, integrasi MISP KR sebagai komponen wajib dalam Rencana Penanggulangan Bencana Daerah, dan protokol pelayanan darurat KR tanpa dokumen yang jelas dan diketahui semua fasilitas; semua ini adalah reformasi yang sudah diperlukan sebelum bencana tetapi hanya mendapat legitimasi dan perhatian politik yang cukup setelah bencana mengekspos konsekuensinya.
Referensi
- UNFPA. Minimum Initial Service Package for Reproductive Health in Crisis Situations: A Distance Learning Module. New York: UNFPA; 2011.
- Sphere Association. The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response. 4th ed. Geneva: Sphere; 2018.
- Chi PC, Urdal H, Umeora OUJ. The evolving role of female community health volunteers in improving maternal and newborn health in post-conflict Africa. Global Health Action. 2015;8:28256.
- Casey SE. Evaluations of reproductive health programs in humanitarian settings. Conflict and Health. 2015;9(Suppl 1):S1.
- Meyer SR, Robinson WC, Brolin Ribacke K, Kayba P, Frattini MC, Glass NE. No safe haven: a systematic review of gender-based violence in humanitarian crises. Prehospital and Disaster Medicine. 2019;34(6):624-634.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Penanggulangan Krisis Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
- BNPB. Laporan Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Cianjur 2022. Jakarta: BNPB; 2023.
- WHO. Humanitarian Health Action: Sexual and Reproductive Health. Geneva: WHO; 2020.
- Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Social Science & Medicine. 1994;38(8):1091-1110.
- Kingdon JW. Agendas, Alternatives, and Public Policies. 2nd ed. New York: Longman; 1995.
TUGAS PERSONAL 2 — SESI 2 (MINGGU 7)
Mata Kuliah: Integrative Clinical–Social Grand Round | Semester 4 | Periode 2 | Sesi 2
Identitas Tugas
| Jenis Tugas | Tugas Personal Kedua — Sesi 2 |
| Minggu | Minggu ke-7 |
| Materi | Modul 6–7 |
| Bobot Nilai | 10% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Individual |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-7 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Analisis Kasus Integratif Multidimensi, format Word atau PDF |
| Panjang | 1.200–1.600 kata (tidak termasuk tabel dan referensi) |
| Referensi | Minimal 4 referensi dalam format Vancouver |
PETUNJUK PENGERJAAN
- 1 Tugas ini mengintegrasikan kompetensi Modul 6 (kegagalan sistem rujukan) dan Modul 7 (KR dalam bencana dan krisis) dalam analisis kasus yang mengandung lebih dari satu dimensi kompleksitas
- 2 Peserta didik memilih satu kasus yang mengandung setidaknya dua dimensi kompleksitas sekaligus: kegagalan rujukan DAN determinan sosial yang signifikan, atau kegagalan sistem dalam konteks krisis DAN implikasi kebijakan yang jelas
- 3 Jika tidak memiliki kasus dari pengalaman langsung yang memenuhi kriteria ini, peserta dapat menganalisis kasus hipotetis yang dikonstruksi berdasarkan konteks fasilitas yang dikenal — dengan pernyataan eksplisit bahwa ini adalah kasus yang dikonstruksi
PERTANYAAN TUGAS
Pilih atau konstruksi satu kasus KR yang mengandung setidaknya dua dari tiga dimensi kompleksitas berikut: (A) kegagalan sistem rujukan yang bukan semata kegagalan klinis, (B) determinan sosial yang signifikan seperti kemiskinan, kondisi kerja, relasi kekuasaan gender, atau konteks bencana, atau (C) dilema etika yang memerlukan penggunaan kerangka hak dan prinsip biomedis. Lakukan analisis integratif yang mencakup dua komponen berikut:
Komponen 1 — Analisis Multidimensi (±700 kata + tabel)
1a. Deskripsi kasus dan identifikasi dimensi kompleksitas:
Deskripsikan kasus secara konkret dan identifikasikan secara eksplisit dimensi-dimensi kompleksitas yang hadir. Jelaskan mengapa kasus ini memerlukan analisis yang melampaui dimensi klinis semata.
1b. Analisis Swiss Cheese atau tiga delay:
Pilih satu dari dua kerangka yang paling relevan untuk kasus ini — Swiss Cheese jika kasus melibatkan kegagalan berlapis dalam sistem yang ada, atau tiga delay jika kasus melibatkan hambatan yang mencegah pasien mendapat pertolongan tepat waktu. Dalam format tabel: identifikasikan setiap lapisan pertahanan yang gagal atau setiap delay yang terjadi, determinannya, dan implikasinya.
1c. Analisis satu determinan sosial atau dimensi etika:
Pilih satu determinan sosial atau dilema etika yang paling signifikan dalam kasus ini. Analisis: bagaimana ia berkontribusi pada kegagalan, mengapa ia sering tidak terlihat dari perspektif klinis semata, dan bagaimana sistem seharusnya merespons dimensi ini.
Komponen 2 — Rekomendasi Integratif (±500 kata)
2a. Root cause yang paling fundamental:
Identifikasikan satu root cause yang paling fundamental menggunakan Five Whys — telusuri hingga ke level sistem atau kebijakan, bukan level individual.
2b. Tiga rekomendasi berlapis:
Rumuskan tiga rekomendasi yang merespons root cause tersebut di tiga level berbeda: fasilitas (implementasi 30 hari), sistem (implementasi 90 hari), dan kebijakan (implementasi 6–12 bulan). Setiap rekomendasi: apa, siapa, dan satu indikator keberhasilan.
2c. Refleksi:
Dalam 150–200 kata: apa yang analisis kasus ini ajarkan tentang keterbatasan perspektif klinis murni dalam memahami dan mengatasi masalah KR? Bagaimana kompetensi dari MK sebelumnya yang paling membantu dalam analisis ini?
RUBRIK PENILAIAN
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| 1a — Deskripsi dan Identifikasi Dimensi | Kejelasan identifikasi dimensi kompleksitas; justifikasi mengapa analisis melampaui klinis diperlukan | 15% |
| 1b — Swiss Cheese atau Tiga Delay | Ketepatan pemilihan kerangka; ketajaman identifikasi lapisan atau delay; kualitas analisis determinan | 30% |
| 1c — Determinan Sosial atau Etika | Kedalaman analisis; penjelasan mengapa dimensi ini sering tidak terlihat; kualitas rekomendasi respons sistem | 25% |
| 2a — Root Cause | Kedalaman Five Whys; kemampuan mencapai level sistem atau kebijakan | 15% |
| 2b — Tiga Rekomendasi | Spesifisitas per level; keterhubungan dengan root cause; realisme implementasi | 10% |
| 2c — Refleksi | Kedalaman dan kejujuran refleksi; identifikasi kompetensi MK yang paling relevan | 5% |
Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial